Peresepan Obat Pada Pasien Lansia

June 9, 2018 | Author: nuzmaanbia | Category: N/A


Comments



Description

Peresepan Obat Pada Pasien LansiaRACIKAN UTAMA - Edisi Januari 2009 (Vol.8 No.6) Keluhan pada lansia seringkali atipikal sehingga sulit dimengerti. Kelainan pada satu sistem organ bisa jadi sebenarnya akibat kelainan pada sistem organ yang lain. Sayangnya, pengelompokan dosis obat hanya sebatas usia dewasa saja. Ada satu kelompok yang terlupakan, yaitu lansia. Usia lanjut merupakan kelompok yang mesti mendapatkan perhatian khusus dalam berbagai hal, termasuk soal kesehatan. Populasi mereka yang berusia lebih dari 65 tahun sekitar 75%. Sekitar 25% diantaranya, sudah mengalami penurunan kualitas dalam aktvitas yang sifatnya instrumental seperti bertransportasi, belanja, memasak, memakai telepon, meminum obat sendiri dan sebagainya. Selain itu, terdapat juga penurunan kualitas dalam aktivitas sehari-hari seperti mandi, memakai baju, makan, buang air. Keluhan kesehatan pada lansia seringkali atipikal sehingga sulit dimengerti. Kelainan pada satu sistem organ bisa jadi sebenarnya akibat kelainan pada sistem organ yang lain. Tak heran bila pelayanan kesehatan pada lansia membutuhkan perubahan yang signifikan dalam pendekatan medis dibandingkan pasien usia muda. Penyakit-penyakit pada lansia umumnya merupakan stadium awal yang sangat mudah menimbulkan gejala akibat mekanisme homeostatik tubuh yang sudah terganggu. Berbagai penyakit yang umum terjadi pada lansia antara lain demensia, kepribadian dependent, imobilitas, depresi, hipertensi, stroke, kanker, osteoporosis, inkontinensia urin, penurunan berat badan dan malnutrisi, gangguan pendengaran dan penglihatan dan sebagainya. Jadi, wajar pasien lansia sangat membutuhkan pendekatan khusus dan perhatian lebih matang terutama saat merencanakan terapi farmakologis. Memahami tujuan pasien berobat akan membantu dokter agar fokus pada inti permasalahan dan tujuan terapi pada pasien lansia. Perubahan Farmakokinetik dan Farmakodinamik Pengetahuan yang mesti diketahui dalam memberikan pengobatan ialah pengetahuan mengenai farmakokinetik dan farmakodinamik obat dalam tubuh. Hal tersebut biasanya berkaitan dengan usia pasien yang dikelompokkan menjadi bayi, balita, anak-anak dan remaja/dewasa. Pengelompokkan itu bertujuan untuk mempermudah dokter dalam mengukur tingkat farmakokinetik dan farmakodinamik obat dalam tubuh seseorang sehingga obat yang diberikan pada pasien menjadi efektif untuk penyembuhan dan tidak memiliki efek samping/ toksisitas. Biasanya dalam kemasan obat yang beredar di pasaran saat ini, sudah dicantumkan dosis pemberian normal. Akan tetapi, sayangnya dalam kemasan obat tersebut baik di Indonesia maupun di negara lain, pengelompokkan dosis hanya sebatas hingga usia dewasa saja, melupakan satu kelompok terakhir yakni lansia. Akibatnya pasien lansia ini walaupun diberikan obat dalam dosis normal seperti dosis orang dewasa malah dapat berefek toksisitas. Oleh karena itu, dalam artikel ini topik yang akan dibahas ialah peresepan pada pasien lansia. Bertambahnya usia akan menyebabkan perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik. Perubahan ini akan menyebabkan gangguan pada metabolisme obat terutama akibat penurunan fungsi ginjal (filtrasi glomerulus dan sekresi tubuli) dan penurunan bersihan hepatik. Penurunan filtrasi glomerulus sekitar 30% pada usia 65 tahun. Perubahan farmakokinetik lainnya adalah penurunan aktivitas enzim mikrosom, berkurangnya kadar albumin plasma (sehingga dapat meningkatkan kadar obat bebas), pengurangan berat badan dan cairan tubuh serta penambahan lemak tubuh (sehingga dapat mengubah distribusi obat), berkurangnya perfusi hepatik karena penuaan, dan berkurangnya absorpsi aktif. Hasil dari semua perubahan ini adalah kadar obat yang lebih tinggi dan bertahan lebih lama dalam darah dan jaringan. Waktu paruh obat dapat meningkat sampai 50%. Perubahan faktor-faktor farmakodinamik yakni peningkatan sensitivitas reseptor, terutama reseptor di otak (terhadap obat-obat yang bekerja sentral) dan penurunan mekanisme homeostatik, misalnya homeostatik kardiovaskular (terhadap obat-obat antihipertensi). Selain faktor perubahan-perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik, adanya berbagai penyakit pada usia lanjut juga dapat berpengaruh pada konsumsi obat tertentu. Pasien lansia dengan kondisi kronis multiple seringkali mendapatkan banyak obat termasuk obat yang tidak diresepkan (seperti vitamin, dan obat jual bebas lainnya). Pemakaian banyak obat tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya interaksi obat. Akibatnya seringkali terjadi respon yang berlebihan atau efek toksik serta berbagai efek samping. Prinsip umum peresepan obat pada lansia, yaitu: pertama, obat hanya diberikan apabila ada indikasi yang tepat. Bila diperlukan efek plasebo, berikan plasebo sesungguhnya (yang tidak mengandung bahan aktif). Kedua, pilih obat yang memberikan rasio manfaat-risiko paling menguntungkan bagi pasien lansia (misalnya bila diperlukan hipnotik, jangan digunakan barbiturate) dan tidak berinteraksi dengan obat lain atau penyakit lain pada pasien yang bersangkutan. Ketiga, mulailah dengan dosis separuh lebih sedikit dari dosis yang biasa diberikan kepada pasien dewasa muda. Selanjutnya dosis obat disesuaikan berdasarkan respon klinik pasien dan bila perlu dengan memonitor kadar obat dalam plasma pasien. Dosis penunjang yang tepat pada umumnya lebih rendah daripada dosis untuk pasien dewasa muda. Keempat, berikan regimen dosis yang sederhana (yang ideal 1x sehari) dan sediaan obat yang mudah ditelan (sebaiknya sirop atau tablet yang dilarutkan dalam air) untuk memelihara kepatuhan pasien. Kelima, periksa secara berkala semua obat yang dimakan pasien dan hentikan obat yang tidak diperlukan lagi. Besarnya dosis dapat diperkirakan dari berat badan pasien, indeks terapi obat dan cara eliminasi obat. Untuk obat-obat yang eliminasi utamanya melalui ekskresi ginjal (misalnya digoksin, aminoglikosida dan klorpropamid) besarnya penurunan dosis dapat diperhitungkan berdasarkan besarnya penurunan bersihan kreatinin pasien. Sedangkan untuk obat-obat lain, besarnya penurunan dosis hanya dikira-kira saja berdasarkan educated guess. Beberapa contoh obat yang mesti diperhatikan Digoksin. Obat ini dapat menyebabkan respon intoksikasi akibat filtrasi glomerulus yang berkurang, penurunan berat badan (indeks massa tubuh) terhadap distribusi obat, adanya gangguan elektrolit pada lansia dan penyakit kardiovaskular yang lanjut. Antihipertensi (terutama penghambat adrenergik). Efek toksisitas obat ini dapat mengakibatkan sinkope akibat hipotensi postural dan insufisiensi koroner karena penurunan mekanisme homeostatik kardiovaskular pada lansia. Diuretik (tiazid, furosemid). Efek toksisitas pada obat ini dapat mengakibatkan hipotensi, hipokalemia, hipovolemia, hiperglikemia dan hiperurikemia. Efek tersebut berkaitan dengan berat badan pada pasien lansia yang sudah sangat berkurang, penurunan fungsi ginjal dan penurunan mekanisme homeostatik kardiovaskular. Obat-obat glaukoma seperti beta bloker topikal dan asetazolamid dapat mengakibatkan efek samping sistemik seperti bradikardi, asma dan gagal jantung. Sementara anti emetik seperti metoklopramid dan proklorperazin dapat mengakibatkan drug-induced parkinsonism. Antikoagulan. Efek toksisitas obat ini dapat menyebabkan perdarahan akibat penurunan respon homeostatik vaskular pada pasien lansia. Barbiturat dapat menyebabkan kebingungan mental (gelisah sampai psikosis). Diazepam, nitrazepam dan flurazepam dapat meningkatkan depresi pada Susunan Saraf Pusat (SSP). Fenotiazin dapat menyebabkan hipotensi postural, hipotermia dan reaksi koreiform. Triheksifenidil dapat menyebabkan kebingungan mental, halusinasi, konstipasi dan retensi urin. Respon berlebihan pada obat ini terjadi akibat peningkatan sensitivitas otak terhadap obat-obat tersebut, penurunan metabolisme obat-obat tersebut di hepar serta penurunan eliminasi obat. Isoniazidjuga termasuk obat yang dimetabolisme di hati. Oleh karena itu harus diwaspadai pula sebab dapat mengakibatkan hepatotoksisitas. Obat lainnya yang harus diperhatikan antara lain antibiotik seperti penisilin dalam dosis besar, aminoglikosida, streptomisin dan tetrasiklin, klorpropamid serta simetidin. Streptomisin yang berlebihan dalam tubuh akan memberikan respon berupa ototoksisitas, sementara klorpropamid akan mengakibatkan hipoglikemia. Semua obat ini dikaitkan dengan penurunan fungsi ginjal pada lansia sehingga sulit diekskresi melalui ginjal. (Tiar) http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=1056 farmacia-artikel 230212 11.07 PEMBERIAN OBAT 09FEB OLEH : RIMA MARHAMAH,SKep.NS - Pemberian obat yang aman dan akurat merupakan salah satu tugas terpenting perawat. - Obat adalah alat utama terapi yang digunakan dokter untuk mengobati klien yang memiliki kesehatan - Perawat bertanggung jawab memehami kerja obat dan efek samping yang ditimbulkan, memberikan obat dengan tepat,memantau respons klien, dan membantu klien menggunakannya dengan benar dan berdasarkan pengetahuan. - Perawat harus memahami masalah klien saat ini dan sebelumnya - Pertimbangan perawat penting dalam pemberian obat yang tepat dan aman. NOMENKLATUR DAN BENTUK OBAT Obat atau medikasi adalah zat yang digunakan dalam diagnosis , terapi,penyembuhan, penurunan atau pencegahan penyakit. NAMA Sebuah obat memiliki empat nama berbeda. - Nama kimia memberi gambaran pasti komposisi obat. - Nama generic diberikan oleh pabrik yang pertama kali memproduksi obat tersebut - Nama resmi obat adalah nama obat yang terdaftar dalam publikasi resmi - Nama dagang,nama merek,atau nama pabrik adalah nama yang digunakan pabrik dalam memasarkan obat. Sebuah obat generic dapat memiliki nama dagang yang berbeda. Nama dagang memiliki symbol ® disebelah kanan atas nama obat, yang mengindikasikan bahwa obat terdaftar. KLASIFIKASI - Klasifikasi obat mengindikasikan efek pada system tubuh, gejala yang dihilangkan, atau efek yang diinginkan - Setiap golongan berisi obat yang diprogramkan untuk jenis masalah kesehatan yang sama - Komposisi fisik dan kimia obat dalam satu golongan tidak selalu sama - Perawat harus mengetahui karakteristik umum obat dalam setiap golongan - Setiap golongan obat memiliki implikasi keperawatan untuk pemberian dan pemantauan yang tepat - Implikasi keperawatan untuk semua obat dalam suatu golongan memandu perawat dalam memberikan perawatan yang aman dan efektif. BENTUK OBAT - Obat tersedia dalam berbagai bentuk atau preparat, bentuk obat menentukan rute pemberian obat. - Komposisi obat dibuat untuk meningkatkan absorbsi dan metabolisme di dalam tubuh. - Ada beberapa bentuk obat misalnya tablet, kapsul, eliksir dan supositoria. Ketika memberi obat, perawat harus yakin bahwa ia memberikan obat dalam bentuk yang benar. UNDANG-UNDANG DAN STANDAR OBAT STANDAR OBAT Dokter, Perawat dan ahli Farmasi menggunakan standar obat untuk memastikan klien menerima obat yang alami dalam dosis yang aman dan efektif. Standar yang diterima masyarakat harus memenuhi criteria berikut : 1. Kemurnian. Pabrik harus memenuhi standar kemurnian untuk tipe dan konsentrasi zat lain yang diperbolehkan dalam produksi obat. 2. Potensi. Konsentrasi obat aktif dalam preparat obat memengaruhi kekuatan atau potensi obat. 3. Bioavailability. Kemampuan obat untuk lepas dari bentuk dosisnya dan melarut, diabsorbsi , dan diangkut tubuh ketempat kerjanya disebut bioavailability. 4. Kemanjuran. Pemeriksaan laboratorium yang terinci dapat membantu menentukan efektivitas obat. 5. Keamanan. Semua obat harus terus dievaluasi untuk menentukan efek samping obat tersebut. UNDANG-UNDANG DAN KONTROL - Perawat harus mengetahui peraturan yang memengaruhi penatalaksanaan pengobatan di area praktik mereka. - Sebelum menerima tanggung jawab dalam memberi obat intravena, perawat harus berhati-hati terhadap kebijakan administrative yang berlaku di institusi tempat perawat tersebut bekerja. Karena suntikan intravena dapat menimbulkan efek samping yang serius, perawat yang melaksanakan fungsi ini harus berkualitas, telah mengikuti dan memiliki pendidikan dan pengalaman terkait. - Perawat bertanggung jawab mengikuti ketentuan hokum saat memberikan zat terkontrol (obat yang memengaruhi pikiran atau perilaku), yang hanya dapat dikeluarkan jika diresepkan. Pelanggaran terhadap Controlled Substances Act dihukum dengan dikenakan denda, dipenjarakan dan ijinnya sebagai perawat dicabut. Rumah sakit dan institusi perawatan kesehatan lain memiliki kebijakan tentang penyimpanan dan pendistribusian zat terkontrol yang benar, termasuk narkotik. PENGGUNAAN OBAT NONTERAPEUTIK - Meskipun ada control hukum, beberapa orang menggunakan obat bukan untuk tujuan yang benar. Penggunaan obat secara tidak bijaksana menimbulkan masalah kesehatan yang serius bagi pengguna, keluarga dan masyarakat. Masalah penyalahgunaan obat tidak terbatas hanya pada heroin, kokain dan obat keras lain. - Perawat memiliki kewajiban etis dan hukum untuk memahami masalah individu yang menyalahgunakan obat atau mengalami ketergantungan obat, perawat harus menyadari nilai dan sikap mereka sendiri terhadap penggunaan secara sengaja zat yang berpotensi berbahaya. - Kadang-kadang timbul masalah dimana professional kesehatan keliru menggunakan obat. Stres di tempat kerja, masalah pribadi dan keinginan kuat untuk bekerja dengan baik adalah beberapa factor yang dapat membuat perawat bergantung kepada obat. Pedoman Pemberian dan Kontrol Narkotik yang Aman - Simpan semua narkotik di dalam lemari atau kotak yang aman dan terkunci - Perawat bertanggung jawab membawa perangkat kunci. - Pergantian jadwal dinas harus benar-benar dilakukan untuk perhitungan jumlah obat narkotik yang pekerjaan atau rekreasi yang penting tidak dilakukan atau berkurang akibat penggunaan zat.Sebuah obat tidak menciptakan suatu fungsi didalam jaringan tubuh atau organ. menggunakan zat.Toleransi terhadap zat nyata.Meluangkan banyak waktu untuk mendapatkan. psikologis atau fisik yang tetap atau berulang. dan disertai tanda tangan oleh perawat yang bertanggung jawab pada saat itu. disekolah atau dirumah.Terus menggunakan zat walaupun ia sadar dirinya memiliki masalah social. . .Aktivitas social. tetapi tidak berhasil .Kembali menggunakan zat yang mengakibatkan kegagalan dalam memenuhi kewajiban peran utama di tempat bekerja. . . maka saksi tersebut yang mencatatnya.Zat seringkali dikonsumsi dalam jumlah lebih besar selama periode waktu yang lebih panjang daripada yang diinginkan individu tersebut. mempercepat . disekolah atau dirumah.Obat bekerja menghasilkan efek teraupetik yang bermanfaat . efek zat tidak timbul.Adanya saksi sewaktu salah satu perawat memberikan narkotik kepada klien. .Keinginan kuat satu kali atau lebih berupaya mengurangi atau mengontrol penggunaan zat.Gejala intoksikasi atau putus zat sering muncul ketika klien diharapkan dapat memenuhi kewajiban peran utamaditempat kerja. .Gunakan catatan inventaris khusus setiap kali narkotik dikeluarkan . waktu pemberian dan dosisi obat serta tanda tangan perawat yang mengeluarkan obat.Terlibat kembali dalam masalah hokum . tanggal. SIFAT KERJA OBAT . . dan bila ada sisa dosis.Tetap menggunakan zat walaupun terus memiliki masalah interpersonal atau social yang diakibatkan atau diperburuk oleh efek zat Ketergantungan Sedikitnya tiga dari pernyataan berikut terjadi dalam periode 12 bulan : . . tetapi mengubah fungsi fisiologis. Istilah yang dikaitkan dengan Penggunaan Obat Nonterapeutik Penyalahgunaan Pola maladaptive penggunaan zat diindikasikan oleh setidaknya salah satu hal berikut dalam periode 12 bulan : . semakin meningkatkan jumlah zat untuk mencapai intoksikasi atau efek yang diinginkan.tersisa .Kembali menggunakan zat dalam situasi yang membahayakan secara fisik .Apabila perhitungan jumlah narkotik tidak sesuai segera laporkan .Format menjelaskan perhitungan akurat narkotik yang digunakan dan sisanya. atau menjadi pulih dari efek zat.Catatan digunakan untuk mendokumentasi nama klien. yang diakibatkan atau diperburuk oleh penggunaan zat .Obat dapat melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain. meningkatkan fungsi sel. . atau pada penggunaan berlanjut dalam jumlah sama. Otot memiliki suplai darah yang lebih banyak daripada jaringan subkutan (SC).Rute pemberian obat. bergantung pada struktur fisik jaringan.hormone tiroid atau estrogen) Mekanisme Kerja . kecepatan absorpsi secara keseluruhan melambat.Tempat reseptor berinteraksi dengan obat karena memiliki bentuk kimia yang sama. Obat-obatan misalnya gas anastesi umum. harus masuk kedalam sirkulasi sistemik untuk menghasilkan efek yang terapeutik. lebih mudah diabsorpsi daripada tablet atau kapsul. Bentuk dosis padat harus dipecah terlebih dahulu untuk memajankan zat kimia pada sekresi lambung dan usus halus. setelah sifat sel berubah.Mekanisme kerja obat yang paling umum ialah terikat pada tempat reseptor sel. kecuali obat yang digunakan secara topical untuk memperoleh efek local.( insulin. Karena obat yang diberikan peroral harus melewati system pencernaan untuk diabsorpsi. . berinteraksi dengan membrane sel. Membran mukosa dan saluran napas mempercepat absorpsi akibat vaskularitas yang tinggi pada mukosa dan permukaan kapiler alveolar.Obat menghasilkan kerja dengan mengubah cairan tubuh atau membrane sel atau dengan berinteraksi dengan tempat reseptor . yang diberikan peroral setelah diingesti sangat bergantung pada bentuk atau preparat obat tersebut.Absorpsi obat parenteral yang diberikan bergantung pada suplai darah dalam jaringan . Obat yang bersifat basa tidak terabsorpsi sebelum mencapai usus halus. Obat yang asam melewati mukosa lambung dengan cepat. . sehingga absorpsi menjadi lambat. obat yang diberikan per intramuskuler (melalui otot) diabsorpsi lebih cepat daripada obat yang disuntikkan lewat per .Jel aluminium hidroksida obat mengubah zat kimia suatu cairan tubuh (khususnya dengan menetralisir kadar asam lambung). . dimetabolisme. mencapai tempat kerjanya. ketika ikatan terjadi maka efek terapeutik dirasakan Farmakokinetik Adalah ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh.Obat dan reseptor saling berikatan kuat. dan mengobservasi respons klien. Injeksi Intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat karena dengan rute ini obat dengan cepat masuk kedalam sirkulasi sistemik.Kondisi di tempat absorpsi mempengaruhi kemudahan obat masuk kedalam sirkulasi sistemik.Daya larut obat. Dokter dan Perawat menggunakan pengetahuan farmakokinetiknya ketika memberikan obat. Absorpsi Adalah cara molekul obat masuk kedalam darah. .atau memperlambat proses kerja sel .Reseptor melokalisasi efek obat . . dan keluar dari tubuh. . obat mengeluarkan pengaruhnya. Larutan dan suspensi.Adanya edema pada membrane mukosa memperlambat absorpsi obat karena obat membutuhkan waktu yang lama untuk berdifusi kedalam pembuluh darah . Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat antara lain : . yang tersedia dalam bentuk cair. Kebanyakn obat. menilai resiko perubahan kerja obat. Kulit relative tidak dapat ditembus zat kimia. memilih rute pemberian obat.Obat dapat menggantikan zat tubuh yang hilang. memiliki pengaruh yang berbeda pada absorpsi obat. dan kecepatan aliran darah kesebuah jaringan.Obat lebih mudah keluar dari ruang interstisial kedalam ruang intravaskuler daripada di antara kompartemen tubuh. misalnya pada klien lansia. .Beberapa makanan dan antacid membuat obat berikatan membentuk kompleks yang tidak dapat melewati lapisan saluran cerna. jika diberikan diantara waktu makan. . .Apabila perfusi jaringan klien buruk. misalnya pada kasus syok sirkulasi . contoh susu menghambat absorpsi zat besi dan tetrasiklin. Saat lambung terisi makanan.Kecepatan dan luas absorpsi juga dapat dipengaruhi oleh makanan. rute pemberian obat yang terbaik adalah melalui intravena. absorpsi subkutan yang lambat lebih dipilih karena menghasilkan efek yang dapat bertahan lama. akan terjadi vasodilatasi yang meningkatkan distribusi obat. dan efek obat yang dihasilkan makin kuat. sehingga absorpsi obat melambat. Perubahan komposisi tubuh dapat mempengaruhi distribusi obat secara bermakna. DISTRIBUSI . misalnya albumin. .Semakin kecil berat badan klien.Pembuluh darah dapat ditembus oleh kebanyakan zat yang dapat larut.Infeksi system saraf pusat perlu ditangani dengan antibiotic yang langsung disuntikkan ke ruang subarakhnoid di medulla spinalis. isi lambung secara perlahan diangkut keduodenum. .subkutan. . IKATAN PROTEIN . obat didistribusikan di dalam tubuh kejaringan dan organ tubuh dan akhirnya ketempat kerja obat tersebut. .Obat oral lebih mudah diabsorpsi.Kebanyakan obat diberikan berdasarkan berat dan komposisi tubuh dewasa. Contoh. Beberapa obat hancur akibat peningkatan keasaman isi lambung dan pencernaan protein selama makan. DINAMIKA SIRKULASI .Ada hubungan langsung antara jumlah obat yang diberikan dan jumlah jaringan tubuh tempat obat didistribusikan.Derajat kekuatan ikatan obat dengan protein serum. memengaruhi distribusi obat. semakin besar konsentrasi obat di dalam jaringan tubuhnya. misalnya zat besi dapat mengiritasi saluran cerna dan harus diberikan bersama makanan atau segera setelah makan. tingkat vasodilatasi atau vasokonstriksi local.Setelah diabsorpsi. . kecuali oleh partikel obat yang besar atau berikatan dengan protein serum . . .Pada beberapa kasus .konfusi) akibat perubahan permeabilitas barier darah otak karena masuknya obat larut-lemak kedalam otak lebih mudah.Konsentrasi sebuah obat pada sebuah tempat tertentu bergantung pada jumlah pembuluh darah dalam jaringan. Laju dan luas distribusi bergantung pada sifat fisik dan kimia obat dan struktur fisiologis individu yang menggunakannya BERAT DAN KOMPOSISI BADAN .Pemberian obat intravena menghasilkan absorpsi yang paling cepat . jika klien melakukan kompres hangat pada tempat suntikan intra muskuler. Klien lansia dapat menderita efek samping (mis. Perlambatan metabolisme yang dihasilkan membuat obat terakumulasi di dalam tubuh.Ketika molekul obat terikat pada albumin.Lansia mengalami penurunan kadar albumin dalam aliran darah.Sebagian besar biotransformasi berlangsung di bawah pengaruh enzim yang mendetoksifikasi.Kebanyakan obat terikat pada protein dalam tingkatan tertentu. Obat yang tidak berikatan atau “bebas” adalah bentuk aktif obat . kulit dapat mengalami iritasi .Hati sangat penting karena strukturnya yang khusus mengoksidasi dan mengubah banyak zat toksik .Penurunan fungsi hati yang terjadi seiring penuaan atau disertai penyakit hati mempengaruhi kecepatan eliminasi obat dari tubuh.Kelenjar eksokrin mengekskresi obat larut lemak. apabila fungsi ginjal menurun. obat dimetabolisasi menjadi bentuk tidak aktif. atau keduanya.Setelah dimetabolisme. sehingga lebih mudah di eksresi . Efek Terapeutik . toksisitas obat.Apabila ginjal tidak dapat mengeluarkan obat secara adekuat dosis obat perlu dikurangi .Apabila obat keluar melalui kelenjar mamae.Faktor-faktor yang meningkatkan peristaltic. akibatnya klien lebih berisiko mengalami toksisitas obat. . . .Saluran cerna adalah jalur lain eksresi obat.Setelah mencapai tempat kerjanya. kemungkinan disebabkan oleh perubahan fungsi hati. mengurai (memecah). resiko pada bayi yang menerima obat dan resiko pada ibu yang tidak mendapatkan obat harus dipertimbangkan dengan cermat. ketika obat keluar melalui kelenjar keringat.Ginjal adalah organ utama eksresi obat. walaupun paru-paru. akibatnya lansia dapat berisiko mengalami peningkatan aktivitas obat. obat tidak dapat menghasilkan aktivitas farmakologis.Hati mengurai banyak zat kimia berbahaya sebelum didistribusi ke jaringan . hati.. obat keluar dari tubuh melalui ginjal. yang merupakan perubahan yang umum terjadi dalam penuaan. usus dan kelenjar eksokrin.Apabila asupan cairan yang normal dipertahankan. . . mempercepat eksresi obat melalui feses. Setelah zat kimia masuk kedalam usus melalui saluran empedu. risiko toksisitas meningkat . sedangkan factor-faktor yang memperlambat misalnya tidak melakukan aktivitas atau diet yang tidak tepat akan memperpanjang efek obat. obat akan dieliminasi dengan tepat.Kebanyakan biotransformasi berlangsung di dalam hati. zat tersebut diabsorpsi kembali oleh usus . Banyak obat masuk kedalam sirkulasi hati untuk dipecah oleh hati dan dieksresi kedalam empedu. misalnya laksatif dan enema. darah dan usus juga memetabolisasi obat. Eksresi . dan melepas zat kimia aktif secara biologis. .Perawat membantu klien melakukan praktik hygiene yang baik untuk meningkatkan kebersihan dan intergritas kulit . . Metabolisme . bayi yang disusui dapat mengabsorpsi zat kimia obat tersebut. ginjal. Reaksi alergi adalah respons lain yang tidak dapat diperkirakan terhadap obat . ruam. misalnya reaksi idiosinkratik. contoh. mengi berat dan sesak napas.Dari seluruh reaksi obat 5 % sampai 10% merupakan reaksi alergi.Satu dosis obat dapat menimbulkan efek toksik pada beberapa klien . . yang meliputi klien bereaksi berlebihan.Pengobatan tunggal dapat menghasilkan banyak efek yang terapeutik.Alergi obat dapat bersifat ringan atau berat. . terjadi interaksi obat .Obat dapat menyebabkan timbulnya efek yang tidak diperkirakan. efek samping ini mungkin tidak berbahaya atau bahkan menimbulkan cidera. Dalam hal ini obat atau zat kimia bekerja sebagai antigen. pruritus.rhinitis . Reaksi Alergi .Contoh seorang anak yang menerima antihistamin menjadi sangat gelisah atau sangat gembira.. perawat memberi kodein fosfat untuk menciptakan efek analgesic dan memberi teofilin untuk mendilatasi bronkiolus pernapasan yang menyempit .Setiap obat yang diprogramkan memiliki efek terapeutik yang diinginkan.Reaksi alergi yang berat atau reaksi anafilaksis di tandai oleh konstriksi (pengecilan) otot bronkiolus.Sebuah obat diperkirakan akan menimbulkan efek sekunder yang tidak diinginkan.Apabila suatu obat memodifikasi kerja obat yang lain. atau metabolitnya. . edema faring dan laring.Gejala alergi bervariasi.Umumnya efek toksik terjadi setelah klien meminum obat berdosis tinggi dalam jangka waktu lama .Gejala alergi yang umum antara lain adalah urtikaria. bukan mengantuk.Apabila obat diberikan secara berulang kepada klien. Interaksi Obat . . . . namun digoksin dapat mengakibatkan disaritmia jantung yang dapat menyebabkan kematian.Klien yang memiliki riwayat alergi terhadap obat tertentu harus menghindari penggunaan berulang obat tersebut. Reaksi Idiosinkratik .Efek terapeutik merupakan respon fisiologis obat yang diharapkan atau yang diperkirakan timbul. bergantung pada individu dan obat.Jumlah obat yang berlebihan didalam tubuh dapat menimbulkan efek yang mematikan. . ia akan mengalami respons alergi terhadap obat. Efek Toksik . Efek Samping . .Contoh penggunaan obat kodein fosfat dapat membuat seorang klien mengalami konstipasi ini dianggap tidak berbahaya. bergantung pada kerja obat. memicu pelepasan antibody. tidak bereaksi atau bereaksi tidak normal terhadap obat . zat pengawet obat.Klien juga dapat mengalami hipotensi berat. Interaksi obat selalu diharapkan.Hormon dan obat saling bersaing dalam biotransformasi karena kedua senyawa tersebut terurai dalam .Pola metabolic dalam keluarga seringkali sama. akibatnya anggota keluarga sensitive terhadap suatu obat.Apabila dua obat diberikan secara bersamaan. kerja fisiologis kombinasi kedua obat tersebut lebih besar daripada efek obat bila diberikan terpisah. konsentrasi puncak dicapai dengan cepat.Cara ideal yang digunakan untuk mempertahankan kadar obat yang terapeutik ialah melakukan penginfusan intravena secara kontinu.Dengan efek sinergis. Variabel fisiologis . perawat dapat mengantipasi efek suatu obat : 1. factor genetic menentukan apakah enzim yang terbentuk secara alami ada untuk membantu penguraian obat. yakni waktu yang diperlukan proses eksresi untuk menurunkan konsentrasi serum sampai setengahnya. kedua obat tersebut dapat memiliki efek yang sinergis atau adiktif . Contoh. Setelah mencapai puncak. seringkali seorang dokter memprogramkan terapi obat guna mendapatkan keuntungan terapeutik. Durasi kerja obat : Lama waktu obat terdapat dalam konsentrasi yang cukup besar untuk menghasilkan suatu respons 4.Pada penginfusan obat intravena. Plateau : Konsentrasi serum darah dicapai dan dipertahankan setelah dosis obat yang sama kembali diberikan .Interaksi obat umumnya terjadi pada individu yang menggunakan beberapa obat . Respons Dosis Obat . yang bekerja bersama menjaga tekanan darah pada kadar yang diinginkan. tetapi kadar serum juga mulai turun dengan cepat .Konsentrasi serum tertinggi obat biasanya dicapai sesaat sebelum obat terakhir diabsorpsi.Semua obat memiliki waktu paruh serum. eksresi dan distribusi yang berlanjut . 2. .Dosis berulang diperlukan untuk mencapai konsentrasi terapeutik konstan suatu obat karena sebagian obat selalu dibuang (diekskresi). klien yang menderita hipertensi berat dapat menerima kombinasi terapi obat. Faktor Yang Mempengaruhi Kerja Obat 1. Ketika absorpsi berhenti .Perbedaan hormonal antara pria dan wanita mengubah metabolisme obat tertentu . Dengan mengetahui interval waktu kerja obat.Tujuan suatu obat deprogram ialah untuk mencapai kadar darah yang konstan dalam rentang terapeutik yang aman . Awitan kerja obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai suatu respons muncul setelah obat diberikan 2. .hanya metabolisme. Perbedaan Genetik .Susunan genetic mempengaruhi biotransformasi obat ..Klien dan perawat harus mengikuti penjadwalan dosis yang teratur dan mematuhinya untuk menentukan dosis dan interval waktu pemberian dosis. konsentrasi serum turun bertahap . misalnya diuretic dan vasodilator. Kerja puncak obat : Waktu yang dibutuhkan obat sampai konsentrasi efektif tertinggi dicapai 3. proses metabolic yang sama .Sejumlah perubahan fisiologis yang menyertai penuaan memengaruhi respons terhadap terapi obat. .Usia berdampak langsung pada kerja obat . Pengaruh Kerja Obat Pada Lanjut Usia . Klien hipertensi diberi vasodilator untuk mengontrol tekanan darahnya. Cuaca dingin cenderung meningkatkan vasokonstriksi. dosis perlu dikurangi karena suhu yang tinggi meningkatkan efek obat.Radiasi ion menghasilkan efek yang sama dengan mengubah kecepatan aktivitas enzim .3.Sebuah obat dapat digunakan untuk mengatasi rasa tidak aman. klien bergantung . pada situasi ini. .Sikap seseorang terhadap obat berakar dari pengalaman sebelumnya atau pengaruh keluarga.Stres fisik dan emosi yang berat . dan diberi obat analgesic memperoleh efek pereda nyeri lebih kecil disbanding klien yang dirawat di ruang biasa 4. . Faktor psikologis . anakanak yang sering melihat orang tuanya minum obat akan cepat terpengaruh dengan kebiasaan orang tuanya tersebut. Pada cuaca panas.Klien yang dirawat di isolasi .Panas dan dingin . sehingga dosis perlu ditambah. Kondisi Lingkungan . Ekonomis .Lebih murah 2.Obat yang diberikan dibawah lidah tidak boleh ditelan . .Rute ini cocok dan nyaman bagi klien . mudah di absorpsi .Perilaku perawat saat memberikan obat dapat berdampak secara signifikan pada respons klien terhadap pengobatan.Klien juga diperingatkan untuk tidak mengunyah atau menelan obat atau minum air bersama obat .Klien harus diajarkan untuk menempatkan dosis obat secara bergantian di pipi kanan dan kiri supaya mukosa tidak iritasi . 5. efek yang diharapkan tidak akan dicapai .Interaksi obat dan nutrient dapat mengubah kerja obat atau efek nutrient. Pemberian Bukal .Jarang membuat klien cemas .Obat diberikan melalui mulut dan ditelan .Perawat sering terlibat dalam menentukan rute pemberian obat yang terbaik dengan berkolaborasi dengan dokter. Contoh.Menahan konsumsi nutrient tertentu dapat menjamin efek terapeutik obat RUTE PEMBERIAN OBAT .Klien membutuhkan nutrisi tambahan ketika mengonsumsi obat yang menurunkan efek nutrisi .Dapat menimbulkan efek local atau sistemik .Obat bukal bereaksi secara local pada mukosa atau secara sistemik ketika obat ditelan dalam saliva. rasa marah dan sikap bermusuhan dapat menimbulkan reaksi yang diinginkan terhadap obat. Sebaliknya jika klien kesal terhadap kondisi fisik mereka. misalnya vitamin. Pemberian Sublingual .pada obat sebagai media koping dalam kehidupan.Klien tidak boleh minum sampai seluruh obat larut. Minyak mineral menurunkan absorpsi vitamin larut lemak . vitamin K (terkandung dalam sayuran hijau berdaun).Rute bukal dilakukan dengan menempatkan obat padat di membrane mukosa pipi sampai obat larut . setelah diletakkan di bawah lidah dan kemudian larut. merupakan nutrient yang melawan efek warfarin natrium (Coumadin). Sublingual .Paling mudah dan paling umum digunakan . Pemberian Oral . Bukal. 3. Diet . Rute Oral 1. laksatif dll.Pilihan rute pemberian obat bergantung pada kandungan obat dan efek yang diinginkan juga kondisi fisik dan mental klien .Bila ditelan.Obat seringkali memberi rasa aman. Penggunaan secara teratur obat tanpa resep atau obat yang dijual bebas. Keuntungan Pemberian Obat Rute Oral. .Dirancang supaya. mengurangi efeknya pada mekanisme pembekuan darah. Memungkinkan pengantaran obat saat klien dalam kondisi kritis atau terapi jangka panjang . metode ini paling sering digunakan pada bayi. rute IV lebih dipilih Kerugian atau kontraindikasi . motilitas menurun dan reaksi bedah bagian saluran cerna . Intraoseosa. injeksi kedalam drmis tepat dibawah epidermis 3. Rute Parenteral . pemberian parenteral meliputi empat tipe utama injeksi berikut : 1.Obat oral tidak dapat diberikan kepada klien yang terpasang pengisap lambung dan dikontraindikasikan pada klien yang akan menjalani pembedahan atau tes tertentu .Kerugian atau kontraindikasi . Intravena (IV). mengubah warna gigi atau mengecup rasa yang tidak enak. Intratekal. Epidural. Intramuskular (IM). Pemberian intratekal seringkali berhubungan dengan pemberian obat jangka panjang melalui kateter yang dipasang melalui pembedahan 3. .Rute ini menimbulkan rasa cemas yang cukup besar pada banyak klien khususnya anak-anak. injeksi kedalam otot tubuh.Klien berulang kali disuntik . sehingga tidak mampu menelan atau mempertahankan dibawah lidah .Klien tidak sadar atau bingung.Adalah memberikan obat dengan menginjeksinya kedalam jaringan tubuh. obat diberikan di dalam ruang epidural via kateter yang telah dipasang oleh perawat anestesi atau ahli anestesi.Rute SC. striktur (penyempitan) esophagus. suntikan kedalam vena Keuntungan dari rute parenteral : . sering digunakan pada kondisi . dimana perawat memiliki tanggung jawab . lesi pada mulut.Obat oral dapat mengiritasi lapisan saluran cerna. injeksi kedalam jaringan tepat dibawah lapisan dermis kulit 2.Risiko kerusakan jaringan pada injeksi SC . Teknik pemberian obat ini paling sering digunakan untuk memberikan analgesic pasca operasi 2.Jika perfusi perifer buruk.Absorbsi lebih cepat . Intradermal (ID). 4.Rute ini dihindari bila klien mengalami perubahan fungsi saluran cerna.Resiko infeksi dan obat mahal . obat intratekal diberikan melalui sebuah kateter yang telah dipasang kedalam ruang subarakhnoid atau kedalam salah satu ventrikel otak.Digunakan jika rute oral di kontraindikasikan .Rute IM dan IV berbahaya karena absorpsinya cepat . dan Intradermal dihindari pada klien yang cenderung mengalami perdarahan . klien yang mengalami gangguan neuromuscular. Berikut adalah pemberian obat yang canggih. Beerapa obat diberikan kedalam rongga tubuh selain empat tipe yang tertera diatas. IM.Rute oral dikontraindikasikan pada klien yang tidak mampu menelan (mis. Subcutan(SC). 1. metode pemberian obat ini dilakukan dengan memasukkan obat langsung kedalam sumsum tulang.Beberapa obat dihancurkan oleh sekresi lambung . Intrapleura. meminta klien berkumur. obat diberikan melalui dinding dada langsung kedalam ruang pleura 6. Biasanya metode ini hanya dilakukan oleh dokter.Efek dari obat yang disemprotkan antara lain vasokonstriksi jalan napas .Dapat diberikan sekurang-kurangnya 24 jam sampai tujuh hari . sehingga perawat dapat memberikan obat. disini obat diabsorpsi kedalam sirkulasi. Kemoterapi dan antibiotic biasanya diberikan dengan cara ini 5. biasanya diabsorpsi lebih cepat.Metode pengantaran obat ini menjamin klien menerima kadar obat secara kontinu dalam darahnya. dan memasukkan cairan kedalam kandung kemih dan rectum) 4. kandung kemih. Intraarteri. merendam bagian tubuh dalam larutan. pada metode ini obat dimasukkan langsung kedalam arteri.Inhalasi oral paling sering digunakan untuk menghantar obat ke sel target atau organisme di parenkim paru . Intraperitoneal. 4. seperti yang terjadi pada pemberian obat dalam bentuk oral atau injeksi . atau selang dipasang kedalam trakea . Infusi intraarteri umum dilakukan pada klien yang di dalam arterinya terdapat bekuan 7. memasukkan tetes telinga. atau rectum dengan obat cair) 5. Intrakardiak.Menimbulkan efek local . atau menyediakan air mandi yang dicampur obat .Obat diinhalasi melalui hidung menggunakan sebuah alat yang menghantar obat . vagina. jika kulit klien tipis.Obat lain yang diberikan dengan cara ini antara lain anestesi local. bukan kadar yang terputus-putus. obat diberikan kedalam rongga peritoneum.kedaruratan dan akses IV yang tidak dapat dilakukan.Obat yang diberikan melalui kulit dan membrane mukosa . Penyemprotan (contoh. menempatkan supositoria pada rectum atau vagina. Pemberian cairan secara langsung (contoh.Efek sistemik timbul. memasang balutan yang lembab. uap atau bubuk yang masuk kesaluran udara diparu . obat berbentuk inhaler dan disemprotkan lewat oral (aerosol. konsentrasi obat tinggi.Saluran napas bagian dalam memungkinkan area permukaan yang luas untuk absorpsi obat . telinga. memasukkan obat kedalam hidung dan tenggorok) Inhalasi . dokter menginserasi jarum intraoseosa kedalam tulang tibia. mengusap tenggorok) 2.Dapat menimbulkan efek local . atau jika obat bersentuhan dengan kulit dalam jangka waktu lama .Obat selalu dihantar oleh alat yang dipegang ditangan klien. injeksi langsung kedalam jaringan jantung dan intraartikular. injeksi obat kedalam sebuah sendi.Perawat menggunakan metode dibawah ini dalam pemberian obat pada membrane mukosa : 1. Insersi obat kedalam rongga tubuh (contoh. Instilasi (pemasukan lambat) cairan kedalam rongga tubuh (contoh. tetes hidung. .Obat dapat diberikan melalui pasase nasal. seperti oksigen dan anastesi umum menghasilkan efek sistemik umum A. Irigasi (mencuci bersih) rongga tubuh (contoh.Obat. Pemberian Topikal . atau menginsersi paket obat kedalam vagina) 3. pasase oral. Inhalasi Oral . membilas mata.Obat juga dapat diberikan pada membrane mukosa. steroid dan oksigen B. Inhalasi Nasal .Pemberian topical dilakukan dengan mengoleskannya disuatu daerah kulit. Perawat yang turut dalam melakukan resusitasi secara khusus dilatih untuk memberikan obat dengan cara ini.Masalah kesehatan jangka panjang.Perawat dapat merencanakan penjadwalan dosis obat yang lebih efektif dan menganjurkan klien menghindari makanan yang dapat berinteraksi dengan obat. . adalah cakram obat yang paling sering digunakan Proses Keperawatan dan Obat A.Apabila klien memiliki riwayat alergi terhadap obat. yang membutuhkan pengobatan.Alergi terhadap makan juga harus didokumentasikan. memberi perawat informasi tentang tipe obat yang sedang klien gunakan . setelah tiroidektomi. efek samping dan implikasi keperawatan dalam pemberian dan pengawasan obat. Pengkajian 1. Data Obat . .Riwayat pembedahan klien dapat mengindikasikan obat yang digunakan.. . Riwayat Diet . Intraokuler .Cakram dapat tetap didalam mata klien selama satu minggu . contoh adalah kerang.tujuan.Pemberian dilakukan dengan menginsersi obat berbentuk cakram.Cakram diinsersi kedalam mata klien.Perawat mengkaji informasi tentang setiap obat. 4.Memberi indikasi atau kontraindikasi terhadap terapi obat . seorang klien membutuhkan hormone . misalnya diabetes atau arthritis.rute pemberian.Pilokarpin. . khususnya pada bayi atau lansia Pemberian Melalui Endotrakea atau Trakea .Obat mata berbentuk cakram ini memiliki dua lapisan lunak luar yang didalamnya terdapat obat.dosis normal. contoh. sangat mirip lensa kontak .Teknik yang digunakan klien pada pemberian obat inhalasi oral perlu dipantau.Riwayat diet memberi keterangan tentang pola makan dan pilihan makan klien.Metered Dose Inhalers (MDI) memfasilitasi pengantaran obat ke parenkim paru . kedalam mata klien . . termasuk kerja. karena banyak obat mengandung unsure yang terkandung dalam sumber makanan.Dalam situasi kedaruratan. yang mirip sebuah lensa kontak. Riwayat Medis . Riwayat Alergi .Dari riwayat ini. perawat dapat meminta supaya klien dapat diresepkan obat yang rutin digunakannya 2. beberapa obat darurat dapat diberikan melalui selang yang telah ditempatkan kedalam trakea klien. jika klien tidak terpasang selang intravena. obat yang digunakan untuk mengobati glaucoma. perawat harus menginformasikan anggota tim kesehatan lain .Apabila klien alergi terhadap kerang maka klien akan sensitive terhadap suatu produk yang mengandung yodium 3.Penyakit atau gangguan membuat klien berisiko terkena efek samping yang merugikan . dan cara mengingat jadwal obat .kemungkinan ia tidak dapat menelan tablet. sebagai berikut : a. 6. B. Apakah ada hal lain yang tidak dipahami tentang obat ? . 8. Misalnya seorang klien mengakui lupa minum obat satu kali. Kondisi Klien Terkini . perawat sebaiknya juga memeriksa sumber yang dapat klien manfaatkan untuk membeli obat 9. ada bukti bahwa obat tidak menghilangkan gejala. Kebutuhan Pembelajaran Klien . teknik pemberian obat yang benar.Status fisik dan mental klien yang berkesinambungan dapat menentukan apakah obat sebaiknya diberikan dan cara pemberian obat . perawat perlu mengobservasi perilaku klien yang mendukung bukti ketergantuingan obat.5.Klien sering enggan mengungkapkan perasaannya tentang obat. kemampuannya dalam menggunakan obat secara mandiri.Perawat mungkin perlu menjelaskan kerja dan tujuan obat. perawat perlu mengajukan beberapa pertanyaan.Pengkajian memberi data tentang kondisi klien.Apabila tingkat kepatuhan klien rendah. semua ini dapat digunakan untuk menentukan masalah actual atau potensial pada terapi obat .Untuk mengkaji sikap klien. Diagnosa Keperawatan . Apakah obat pernah dihentikan ? e. Bagaimana dan kapan obat tersebut digunakan ? c. Pengetahuan Klien Dan Pemahaman Tentang Terapi Obat . Apa efek samping yang pernah timbul ? d. dan pola penggunaan obat.Untuk mengkaji pengetahuan klien tentang obat.Contoh perawat memeriksa tekanan darah sebelum memberi obat antihipertensi. Persepsi Klien Atau Masalah Koordinasi . 7. Apa guna obat tersebut ? b. khususnya jika ia mengalami ketergantungan obat .Mengelompokkan batasan karakteristik untuk menegakkan diagnosa keperawatan yang akurat.Klien yang fungsi persepsi dan koordinasinya terbatas kemungkinan sulit menggunakan obat secara mandiri . perawat menetapkan instruksi yang klien perlukan .Perawat harus mengkaji kemampuan klien dalam mempersiapkan dosis dan menggunakan obat dengan benar.apabila klien mual.Apabila klien diresepkan obat baru. instruksi tertentu harus diberikan.Sikap klien terhadap obat menunjukkan tingkat ketergantungannya pada obat . efek samping yang akan timbul. ada bukti bahwa klien tidak mengalami kemajuan. Semua ini menunjukkan klien tidak patuh . Sikap klien Terhadap Penggunaan Obat .Dengan mengkaji tingkat pengetahuan klien tentang sebuah obat. Kurang informasi dan pengalaman . Gangguan menelan yang berhubungan dengan : .terhadap program pengobatan . Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan .Terapi obat yang kompleks .Kerusakan neuromuskuler .Sumber ekonomi yang terbatas .Pola interaksi yang berubah atau terancam 6.Pengaruh budaya 3.Nyeri dan ketidaknyamanan 4. Kurang pengetahuan tentang terapi obat yang berhubungan dengan .Pandangan kabur 5. Contoh Diagnosa Keperawatan Nanda untuk Terapi Obat 1.Pengetahuan yang kurang. .Status social ekonomi yang berubah atau terancam . Penatalaksanaan program terapeutik tidak efektif berhubungan dengan : .Keterbatasan kognitif .Status kesehatan yang berubah atau terancam . perawat harus berpikir kritis dalam menginterpretasi data pengkajian supaya dapat menegakkan diagnosa yang benar.Kesadaran yang terbatas 7.Keyakinan tentang kesehatan . Ketidakpatuhan terhadap terapi obat yang berhubungan dengan : .Penurunan kekuatan .Untuk mengatasi ketidakpatuhan.Iritasi rongga mulut .Tidak mengenal sumber informasi 2. Ansietas yang berhubungan dengan . Perubahan sensori / persepsi yang berhubungan dengan . . Efek terapeutik obat yang diprogramkan dicapai dengan aman sementara kenyamanan klien tetap dipertahankan 3. Tidak ada komplikasi yang timbul akibat rute pemberian obat yang digunakan 2.Perawat dapat merencanakan penggunaan obat secara mandiri. Baik seorang klien mencoba menggunakan obat secara mandiri maupun perawat bertanggung jawab memberikan obat tersebut.Perawat mengatur aktivitas perawatan untuk memastikan bahwa teknik pemberian obat aman. nama.jika klien rencana dipulangkan. kamar. D. perawat mengajarkan klien tentang obat yang digunakannya .Perawat menulis program dokter dengan lengkap . keluarga dan masyarakat. dan nomor tem[pat tidur klien. Perencanaan . Pemberian obat secara mandiri dilakukan dengan aman.Intervensi dilakukan dengan menyiapkan obat secara cermat.Tergesa-gesa dalam memberikan obat dapat memicu terjadinya kesalahan .Program yang ditranskripsi meliputi nama. dosis dan .Perawat juga dapat merencanakan untuk menggunakan waktu selama memberikan obat. Implementasi 1.memberikannya dengan benar. untuk klien . sasaran yang harus dicapai : 1. Transkripsi yang benar dan mengkomunikasikan program .Contoh Proses Diagnosa Keperawatan untuk Terapi Obat C. dan memberi penyuluhan . Klien dan keluarga memahami terapi obat 4.Intervensi keperawatan berfokus pada pemberian obat yang aman dan efektif . keduanya harus diajarkan kepada klien yang baru didiagnosis diabetes. misalnya klien menolak atau ada kontraindikasi terhadap obat tersebut. rute pemberian obat.Apabila obat tersebut tidak diberikan. .Ketika mengukur obat cair.Prosedur perhitungan obat dilakukan dengan sistematis untuk memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan .Perawat mendokumentasikan obat yang diberikan. misalnya mengkaji denyut nadi. 2. perawat harus yakin bahwa nama. .Penyuluhan tentang obat adalah salah satu tipe penyuluhan kesehatan diberikan oleh perawat . tekanan darah.Informasi yang diberikan perawat adalah tentang tujuan pengobatan. dosis dan symbol obat dapat dibaca .Penyuluhan kepada klien adalah peran perawat yang sangat penting . waktu dan frekuensi pemberian. perawat menggunakan wadah pengukur yang standar . perawat perlu melakukan pengkajian. memperhatikan kalkulasi dengan cermat. Buang obat yang sudah kadaluarsa . Kalkulasi Dan Perhitungan dosis yang Akurat . maka informasi ini dimasukkan kedalam catatan pengobatan. dikhawatirkan terjadi pemberian obat ganda .Perawat terdaftar membandingkan semua program yang ditranskripsi dengan program yang asli untuk memastikan keakuratan dan kelengkapannya . dosis. tanggal. dan menghindari gangguan dari aktivitas keperawatan lain 3.Ketika mentranskripsi resep. dalam catatan perawat. .Perawat wajib melingkari dan menandatangani (inisial) waktu pemberian obat yang diprogramkan pada catatan obat. perawat menuliskan alasan obat tersebut tidak diberikan. 5. Peningkatan Kesehatan Melalui Penyuluhan Klien . ketika suatu dosis terlewat. Mencatat Pemberian Obat .waktu pemberian obat. 4. Pastikan label dapat dibaca c. kerja obat. dan efeknya.Ketika mempersiapkan obat. akan berakibat fatal terhadap klien .Pencatatan sebuah obat terdiri dari nama. memerlukan obat sepanjang hidupnya.Perawat menggunakan teknik aseptic dan prosedur yang benar ketika menangani dan memberikan obat . serta rute pemberian obat. tanda tangan dokter. perawat mengajarkan klien cara memantau terapi dan melakukan injeksi insulin secara mandiri. komplikasi diabetes diperkecil dengan diet dan latihan fisik.Komponen resep obat : Nama lengkap klien. . dosis.Apabila seorang klien menolak sebuah obat atau sedang menjalani pemeriksaan atau prosedur yang membuat sebuah dosis terlewat.Informasi yang salah tentang pemberian obat. nama obat.Klien harus mempelajari pedoman dasar berikut supaya dapat menggunakan obat dengan aman di rumah : a. perawat menghitung setiap dosis. dan waktu pemberian obat yang sebenarnya .Ketika obat tertentu diberikan. Simpan setiap obat di dalam wadah aslinya yang berlabel.Perawat harus menyalin kembali setiap transkripsi yang tercoret atau yang tidak terbaca . b. temperature dll. . rute pemberian.Klien Diabetes. Pemberian Dosis Yang Benar . Selalu dihabiskan obat yang diresepkan e. inflamasi.Perawat memantau respons klien terhadap obat secara berkesinambungan . Menerima obat yang dilabel dengan aman tanpa merasa tidak nyaman sesuai degan lima benar pemberian obat f. Mendapat nasihat yang benar berkenaan dengan sifat suatu terapi obat yang pernah muncul dan memberi persetujuan untuk penggunaannya e. nyeri setyempat.Perubahan kondisi klien dapat secara fisiologis berhubungan dengan status kesehatan . Evaluasi . . Langkah evaluasi untuk menentukan bahwa tidak ada komplikasi yang terkait dengan rute pemberian obat : 1. Langkah Evaluasi untuk menentukan apakah terapeutik obat yang diprogramkan telah dicapai dengan aman : 1. Mengobservasi adanya memar. Mempertahankan Hak Klien . Mengevaluasi klien selama 30 menit setelah diberi obat untuk mengetahui adanya gejala ketidaknyamanan. dan efek potensial yang tidak diinginkan b. pembengkakan dan nyeri tekan setempat. atau interaksi obat 2. dan efek samping yang . obat hipertensi/penurunan tekanan darah) Langkah Evaluasi untuk mempertahankan keamanan dan kenyamanan klien : 1. Tidak menerima obat yang tidak perlu. Meminta perawat atau dokter berkualitas untuk mengkaji riwayat obat. Menginspeksi tempat IV untuk mengetahui adanya flebitis. tanpa memperhatikan konsejuensinya c. seorang klien memiliki hak untuk : a. Langkah Evaluasi untuk memahami terapi obat : 1. Menolak sebuah obat. kerja obat. atau perdarahan di tempat injeksi 2. Simpan obat yang perlu didinginkan di lemari pendingin 6. Jangan berikan obat yang diresepkan kepada anggota keluarga atau teman g. Menerima terapi pendukung yang diperlukan terkait dengan terapi obat yang dijalani g.Tujuan pemberian obat yang aman dan efektif dicapai melalui evaluasi cermat teknik dan respons klien terhadap terapi dan kemampuan klien mengemban tanggung jawab merawat diri sendiri. dan diare pada klien 4. Menanyakan klien tentang adanya rasa baal atau rasa kesemutan di tempat injeksi 3.Perawat harus mengetahui kerja terapeutik dan efek samping yang umum muncul dari setiap obat .Perawat harus mewaspadai reaksi yang akan timbul ketika klien mengonsumsi beberapa obat. termasuk mual. Memantau efek samping atau toksik yang potensial. E. Mengetahui nama. jadwal pemberian obat. termasuk demam. termasuk alergi d. reaksi alergi. Buang obat kedalam sebuah bak cuci piring atau ke toilet f. tujuan.d. Mengkaji adanya gangguan saluran cerna. kerja.Karena adanya risiko potensial yang berhubungan dengan pemberian obat. Memantau respons klien terhadap obat (contoh. Menanyakan klien apakah ia mengalami respons yang biasa timbul akibat penggunaan obat 2. muntah. dosis. Meminta klien menjelaskan tujuan. Langkah penting dalam pemberian obat dengan aman adalah meyakinkan bahwa obat tersebut . perawat yang memberikan obat bertanggung jawab terhadap efek obat. Pada saat sejumlah obat yang diprogramkan dipindahkan dari wadahnya c. Benar Dosis .mungkin 2. 2. Mengobservasi klien saat mempersiapkan dosis obat yang diprogramkan 2. yaitu : a. Benar Klien . upayakan untuk tidak mengembalikan obat ke wadah aslinya atau memindahkan obat tersebut ke wadah lain. .Perawat menggunakan ”lima benar” pemberian obat untuk menjamin pemberian obat yang aman. ↔ Benar obat ↔ Benar dosis ↔ Benar Klien ↔ Benar rute pemberian ↔ Benar waktu 1.Persiapan dan pemberian obat harus dilakukan dengan akurat oleh perawat . perawat membandingkan etiket obat atau format pencatatan unit dosis dengan instruksi yang ditulis dokter.Apabila sebuah obat harus disediakan dari volume atau kekuatan obat yang lebih besar atau lebih kecil dari yang dibutuhkan atau jika seorang dokter memprogramkan suatu sistem perhitumgan obat yang berbeda dari yang disediakan oleh ahli farmasi.Membandingkan label pada wadah obat dengan format atau etiket obat .Apabila klien menolak obat. Sebelum memindahkan wadah obat dari laci atau lemari b.Gelas ukur.Perawat melakukan ini sebanyak tiga kali.Upayakan untuk tidak menyiapkan obat dari wadah tidak bertanda atau wadah yang labelnya tidak terbaca.Sistem unit – dosis distribusi obat meminimalkan kesalahan karena kebanyakan obat tersedia dalam dosis yang sesuai . resiko kesalahan meningkat . Benar Obat . Mengobservasi klien yang memberi dosis obat yang diprogramkan.Jika terjadi kesalahan. spuit dan sendok yang dirancang khusus dapat digunakan untuk menghitung obat dengan akurat.Apabila obat pertama kali diprogramkan.Perawat hanya memberikan obat yang dipersiapkannya . . 3. Meminta klien menjelaskan waktu setiap obat digunakan selama sehari Langkah Evaluasi untuk menentukan kemampuan klien menggunakan obat secara mandiri dan aman : 1. . PEMBERIAN OBAT . Sebelum mengembalikan wadah obat ketempat penyimpanan . Beberapa obat memerlukan penilaian klinis perawat dalam menentukan waktu pemberian obat yang tepat. harus ditulis obat apa yang telah diberikan kepada klien.Setiap institusi memiliki rekomendasi jadwal waktu untuk obat yang harus diberikan dengan interval sering . perawat sebaiknya tidak menyebut suatu nama dan berasumsi bahwa respons klien menunjukkan bahwa klien adalah orang yang benar. sebaiknya pemberian obat ditunda sampai suatu waktu dimana klien dapat memperoleh manfaat optimal obat . dan pemberian obat . efek samping yang . obat tidak diberikan selam klien terjaga. KESALAHAN PENGOBATAN .Perawat bertanggung jawab dalam memberikan obat terhadap banyak klien .Untuk mengidentifikasi klien dengan tepat.Ketika menanyakan nama klien.Apabila perawat menunggu sampai nyeri klien menjadi parah maka efek analgesik mungkin tidak cukup.diberikan pada klien yang benar . Perbedaannya.Untuk klien yang sulit mengingat waktu minum obat. perawat mengonsultasikannya kepada dokter . Benar Waktu . hal ini akan membantu mengurangi kesalahan pengobatan.Sistem penyaluran obat di rumah sakit harus dirancang supaya ada sebuah sistem pemeriksaan dan keseimbangan. atau meminta klien untuk menyebutkan namanya sewaktu perawat memberikan obat.Perawat harus mengetahui alasan sebuah obat di programkan untuk waktu tertentu dalam satu hari dan apakah jadwal tersebut dapat diubah . . Benar Rute . jika perawat menyadari bahwa sebuah prosedur dapat mengganggu tidur klien. .Kesalahan pengobatan dapat dilakukan oleh setiap individu yang terlibat dalam pembuatan resp. 5. sebaiknya perawat meminta klien menyebutkan nama lengkapnya. Pada catatan status klien.Contoh dua obat diberikan.Tujuan diberikan obat q8h dalam hitungan jam adalah mempertahankan kadar terapeutik obat. 4. Obat tidurpun harus diberikan menjelang klien tidur. Kedua obat diberikan tiga kali dalam 24 jam .Kesalahan pengobatan adalah suatu kejadian yang dapat membuat klien menerima obat yang salah atau tidak mendapat terapi obat yang tepat . perawat harus segera mengingatkan dokter.Perawat mengkaji tingkat nyeri klien untuk menentukan tingkat ketidaknyamanan . .Klien yang menggunakan obat secara mandiri di rumah harus diperingatkan untuk tidak pernah memberi obatnya kepada anggota keluarga atau teman.Perawat sebaiknya tidak menyembunyikan kesalahan pengobatan. penyaluran. pemberitahuan kepada dokter.Bila rute pemberian obat bukan cara yang direkomendasikan. perawat dapat membuat bagan yang memuat daftar waktu pemberian setiap obat. atau laporan pemberian obat yang dicocokkan dengan nama atau no rekam medik klien. . . persiapan. perawat memeriksa kartu.Apabila sebuah instruksi obat tidak menerangkan rute pemberian obat. transkripsi. satu q8h (setiap 8 jam) dan yang lain tid (3 kali sehari). format. Perawat bertanggung jawab melengkapi laporan yang menjelaskan sifat insiden tersebut . . dan upaya yang dilakukan untuk menetralkan obat.Laporan insiden bukan pengakuan tentang suatu kesalahan atau menjadi dasar untuk memberi hukuman dan bukan merupakan bagian catatan medis klien yang sah. Laporan ini merupakan analisis objektif tentang apa yang terjadi dan merupakan penatalaksanaan risiko yang dilakukan institusi untuk memantau kejadian semacam ini. Laporan kejadian membantu komite interdisiplin mengidentifikasi kesalahan dan menyelesaikan masalah sistem di rumah sakit yang mengakibatkan terjadinya kesalahan. .klien alami sebagai respons terhadap kesalahan pengobatan. Cara Mencegah Kesalahan Pemberian Obat . perawatan diperlukan yang suportif. .. .Supaya anak kooperatif.Usia. walaupun telah dijelaskan dan didorong mungkin perlu dipaksa secara fisik. area permukaan tubuh.Anak kecil yang menolak bekerjasama dan terus menolak . dan mengekresi obat pada anak berbeda-beda. yang sesuai dengan tingkat pemahaman anak .Pengetahuan tentang perkembangan klien membantu perawat mengantisipasi respons klien terhadap terapi obat. . A. .PERTIMBANGAN KHUSUS PEMBERIAN OBAT PADA KELOMPOK USIA TERTENTU .Orang tua adalah sumber yang berharga dalam mempelajari cara terbaik pemberian obat pada anak . Bayi dan Anak . apabila hal ini terjadi.Semua anak memerlukan persiapan psikologis khusus sebelum menerima obat. lakukan dengan cepat dan hati-hati.Tingkat perkembangan klien adalah faktor yang menentukan cara perawat memberikan obat.Perawat menjelaskan prosedur kepada anak. sehingga perhatian khusus perlu diberikan dalam menyiapkan obat untuk anak. menggunakan kata-kata yang pendek dan bahasa yang sederhana.Dosis untuk anak lebih rendah daripada dosis pada dewasa. dan kemampuan mengabsorbsi.Obat biasanya tidak disiapkan dan dikemas dalam rentang dosis yang standarisasi untuk anak. . berat badan. . . 3. misalnya nyeri. Apabila ini terjadi.Jika anak dan orang tuanya dapat dilibatkan.Bentuk cair lebih aman ditelan untuk mencegah aspirasi . Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia. insomnia dan ketidakmampuan mencerna. mengidentifikasi pola penggunaan obat pada lansia : 1.Perawat memberi injeksi dengan cepat dan tidak bertengkar dengan anak. faktor tingkah laku dan ekonomi juga mempengaruhi penggunaan obat pada lansia .Apabila mencampur obat dengan perencah (rasa). konstipasi. Obat Oral .Setelah obat diberikan. Harus ada seseorang untuk merestrein anak. Otot pada bayi dan anak kecil belum berkembang . Penggunaan obat yang salah .Menurut Ebersole dan Hess (1994). sendok. jika diperlukan.Perawat bersikap sangat hati-hati saat menyeleksi tempat injeksi IM.Mengalihkan perhatian anak dengan bercakap-cakap dan menggunakan mainan dapat menurunkan persepsi nyeri. perawat dapat memberi pujian kepada anak atau menawarkan hadiah kecil. gunakan dalam jumlah kecil .Jangan pernah memberikan anak pilihan untuk tidak meminum obatnya .Perawat yang memberi obat kepada lansia harus mencermati lima pola penggunaan obat oleh klien lansia . obat yang dijual bebas digunakan oleh 75 % lansia untuk meredakan gejala 4.2994) . Obat yang dijual bebas .Jus.Ijinkan anak menetapkan pilihan . Lansia .Pemberian obat pada lansia juga membutuhkan pertimbangan khusus . . Tips Pemberian Obat Pada Anak 1. ..Hess. ada risiko interaksi obat dengan obat lain dan makanan. dan spuit oral (tanpa jarum) akan bermanfaat. Lansia seringkali berupaya mencari pereda gangguan yang mereka alami dengan menggunakan preparat yang dijual bebas. Polifarmasi.Minuman berkarbornasi yang dituang ketas serutan es halus mengurangi mual .Individu berusia lebih dari 65 tahun merupakan pengguna obat terbanyak (Eberson. . perawat kemungkinan akan lebih berhasil dalam memberikan obat. Injeksi . 2. klien juga memiliki risiko lebih besar untuk mengalami reaksi yang merugikan terhadap pengobatan. obat-obatan rakyat dan jamu-jamuan. 2. artinya klien menggunakan banyak obat. misalnya sirup atau madu. minuman ringan atau jus yang dibekukan dapat ditawarkan setelah sebuah obat ditelan . yang diprogramkan atau tidak.Perawat selalu membangunkan anak yang sedang tidur sebelum menginjeksinya .Anak dapat menjadi tidak kooperatif dan tidak bisa diprediksi. B. sebagai upaya mengatasi beberapa gangguan secara bersamaan. Meresepkan obat sendiri. cangkir plastik.Perubahan fisiologis penuaan.Pada saat memberikan obat cair.Spuit plastik sekali pakai adalah alat yang paling akurat untuk menyiapkan dosis cairan. khususnya spuit berukuran kurang dari 10 ml . Kebanyakan tablet dan kapsul harus diberikan bersama cairan dalam jumlah yang adekuat. Ketidakpatuhan. kudapan menjelang tidur.Klien yang menelan dengan lambat sebaiknya tidak dipaksa untuk minum banyak cairan setiap kali menelan. minta dokter menggantinya dengan obat cair .Jika tablet atau kapsul dibuka terlebih dahulu dan dicampur dengan air .Paling mudah diberikan.Cara pemberian obat yang paling aman .Posisi duduk atau berbaring miring akan mencegah akumulasi obat cair atau padat di belakang tenggorok . kecuali klien ada gangguan fungsi cerna dan tidak mampu menelan .Kaji riwayat pengobatan lengkap. menurunkan berat badan. diartikan penggunaan obat yang salah secara disengaja.Apabila klien sulit menelan tablet. pemahaman klien tentang obat yang digunakan .Jangan secara rutin memberi analgesik setiap empat jam .Apabila klien mengalami kesulitan menelan kapsul atau tablet berukuran besar. . . meliputi : obata-obatan yang lalu.Anjurkan klien minum sedikit cairan sebelum minum obat oral . latihan fisik. alergi terhadap apapun. . perawat harus menunda pemberian sisa obat sampai klien dapat bernapas dengan mudah . misalnya supositoria.Pada saat memberikan obat oral. 75% diantaranya tidak mematuhi program pengobatan secara sengaja dengan mengubah dosis obat karena obat dirasa tidak efektif atau efek samping obat membuat lansia tidak nyaman.Ajarkan alternatif pengobatan. obat-obatan saat ini.Untuk klien yang terpasang selang nasogastrik. obat-obatan cair lebih dipilih . Prinsip Gerontologis Untuk Pemberian Obat .Atur jarak pemberian obat oral . misalnya diet yang sesuai.5.Apabila klien mulai batuk ketika minum obat.Dorong klien minum paling sedikit 150 sampai 180 cc cairan setelah minum obatnya . Dari semua populasi lansia. bentuk obat lain dapat dipertimbangkan. perawat harus melindungi klien dari kemungkinan aspirasi . PEMBERIAN OBAT ORAL . Spuit dibungkus terpisah.Spuit Luer-lok memerlukan jarum khusus.Pemberian injeksi merupakan prosedur invasif yang harus dilakukan dengan menggunakan tekhnik steril . dengan atau tanpa jarum steril dalam sebuah bungkus kertas atau wadah . IM. bergantng pada kecepatan absorbsi obat . sekali pakai yang tidak mahal dan mudah dimanipulasi . yang melilit naik ke ujung spuit dan terkunci aman di tempat. ID dan IV .Beberapa Langkah Pemberian Obat Oral PEMBERIAN INJEKSI .Rute yang diberikan perawat adalah rute SC.Efek obat yang diberikan secara parenteral dapat berkembang dengan cepat. Spuit . .Spuit terdiri dari tabung berbentuk silinder dengan bagian ujung didesain tepat berpasangan dengan jarum hipodermis dan alat pengisap yang tepat menempati rongga spuit.Spuit nonLuer-lok. memerlukan jarum yang dapat langsung terpasang ke ujung spuit .Setelah jarum menembus kulit.Kebanyakan institusi pelayanan kesehatan menggunakan spuit plastik. muncul resiko infeksi . desain ini mencegah jarum terlepas karena kurang hati-hati . Peralatan 1.Secara umum diklasifikasikan sebagai Luer-lok atau non Luer-lok .Setiap tipe injeksi membutuhkan keterampilan yang tertentu untuk menjamin obat mencapai lokasi yang tepat .Perawat mengobservasi respons klien dengan ketat. sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman akibat injeksi SC dan IM . Usap dari tengah dan bergerak keluar dalam jarak dua inci.Untuk mencegah kontaminasi larutan.Untuk injeksi IM atau IV tidak lazim dipakai spuit yang berukuran lebih dari 5 ml . yang tepat terpasang pada ujung sebuah spuit. Satu skala dibagi menjadi ukuran-ukuran kecil dan skala lain menjadi sepersepuluh mililiter. . misal jarum berukuran 25 . . Jarum . sisi luar ampul atau vial. jangan sentuh badan pengisap atau bagian dalam karet.5 sampai 60 ml .Lakukan gerakan mengusap dan melingkar ketika membersihkan luka menggunakan swab antiseptik. cuci kulit yang kotor karena kotoran.Bevel yang panjang lebih tajam. panjang batang jarum dan ukuran atau diameter jarum .Injeksi SC membutuhkan jarum yang diameternya lebih kecil. yang terhubung dengan bagian pusat dan bevel yakni bagian ujung yang miring.Untuk mencegah kontaminasi jarum. bergantung pada viskositas obat . Unit Injeksi Sekali Pakai .Panjang jarum bervariasi dari 1/4 sampai 5 inci . isap obat dari ampul dengan cepat.Untuk menyiapkan kulit. jangan biarkan ampul dalam keadaan terbuka . .Untuk mencegah kontaminasi spuit . dari 0.plastik yang kaku. semakin besar ukuran diameternya .Perawat mengisi spuit dengan melakukan aspirasi. spuit tuberkulin digunakan untuk menyiapkan dosis yang kecil dan tepat untuk bayi dan anak kecil.Injeksi IM biasanya memerlukan jarum berukuran 19 sampai 23.Spuit terdiri dari berbagai ukuran. .Spuit hipodermik memiliki dua skala pada badan spuit.Untuk injeksi ID membutuhkan jarum berukuran 26 Langkah – Langkah Mencegah Infeksi Selama Injeksi . kemiringan bevel. 2.Jarum memiliki tiga bagian : hub.Kebanyakan jarum terbuat dari stenless steel dan hanya digunakan satu kali. Jaga ujung spuit tetap tertutup penutup atau jarum .Panjang jarum yang dipilih berdasarkan ukuran dan berat klien serta tipe jaringan tubuh yang akan diinjeksi .Semakin kecil ukuran jarum.Seorang anak atau dewasa yang kurus umumnya memerlukan jarum yang lebih pendek (biasanya 1 sampai 1 ½ inci).Setiap jarum memiliki tiga karakteristik utama.Spuit tuberkulin memiliki badan yang panjang dan tipis dengan jarum tipis yang sebelumnya telah dipasang. untuk injeksi IM dan jarum yang lebih pendek (biasanya 3/8 sampai 5/8 inci ) untuk injeksi SC . menarik pengisap keluar sementara ujung jarum tetap terendam didalam larutan yang disediakan.Seleksi ukuran jarum bergantung pada viskositas cairan yang akan disuntikkan atau diinfuskan . cegah jarum menyentuh daerah yang terkontaminasi (mis. batang jarum (shaft). . drainase atau feses dengan sabun dan air lalu keringkan. . permukaan luar tutup jarum dll) . Perawat dapat memegang bagian luar badan spuit dan pegangan pengisap. Obat yang tidak stabil dalam larutan dikemas dalam bentuk kering .Ampul terbuat dari bahan gelas dengan bagian leher mengecil.Jarum kembali diinsersi untuk mengisap obat yang larut..Sistem ini didesain untuk menurunkan peluang terjadinya cedera tertusuk jarum.Lebel vial menerangkan larutan (pelarut) yang digunakan untuk melarutkan obat dan jumlah pelarut yang diperlukan untuk menyiapkan konsentrasi obat yang diinginkan . perawat perlu menggunakan jarum penyaring Menyiapkan Injeksi Dari Vial .Perawat memasukkan peluru kedalam sistem tersebut.Perawat mendorong pengisap untuk mengeluarkan obat seperti pada spuit reguler . vial dikocok atau digulir perlahan diantara tangan .Jika didalam vial terdapat ruang hampa udara. kemudian menginjeksi volume udara kedalam vial B .Perawat menginjeksi udara kedalam vial A sambil memastikan jarum tidak menyentuh larutan . . Mencampur obat dari dua vial . mengamankannya (sesuai petunjuk kemasan) dan memeriksa adanya gelembung pada spuit . dari 1 ml sampai 10 ml atau lebih . sekali pakai dan sebelumnya sudah diisi. dosis tunggal yang telah diisi tersedia untuk banyak obat .Sistem injeksi Tubex dan Carpuject memanfaatkan mekanisme plastik yang dapat dipakai kembali. Mencampur Obat 1. jika digunakan sesuai dengan anjuran pabrik Menyiapkan Injeksi Dari Sebuah Ampul .Spuit sekali pakai .Vial merupakan sebuah sistem tertutup.Sebuah lingkaran berwarna disekeliling leher ampul mengindikasikan tempat ampul dapat dipecah dengan mudah . dan udara harus diinjeksi kedalam vial supaya larutan mudah diisap .Vial berisi larutan dan atau bentuk obat yang kering .Ampul berisi obat dosis tunggal dalam bentuk cairan dan tersedia dalam beberapa ukuran.Untuk mengaspirasi obat kedalam spuit.Hanya satu spuit dibutuhkan untuk mencampur obat dari dua vial .Perawat mengambil sebuah spuit dan mengaspirasi volume udara yang ekuivalen dengan dosis obat pertama (vial A) .Tutup logam atau plastik melindungi penyekat sampai vial siap digunakan .Perawat menarik jarum.Perawat harus berhati-hati mengecek obat dan konsentrasinya karena semua spuit yang diisi tampak miring . mengisap udara yang ekuivalen dengan dosis obat kedua (vial B).Supaya obat bubuk larut.Vial merupakan wadah gelas berisi obat dosis tunggal atau multidosis yang memiliki penyekat karet dibagian atasnya . maka akan mempersulit pengisapan larutan . yang memiliki unit jarum – peluru steril.Salin normal dan aquades steril adalah larutan yang biasa digunakan untuk melarutkan obat . yang harus dipatahkan supaya memungkinkan akses ke obat . setiap vial harus digulir diantara kedua tangan selama sekurang-kurangnya satu menit. hanya insulin reguler yang digunakan untuk sliding scale . berhati-hati supaya tidak mendorong pengisap spuit dan mengeluarkan obat didalam spuit kedalam vial . ..Kebanyakan klien penderita diabetes perlu belajar untuk menginjeksi insulinnya secara mandiri . akan terbentuk busa dan gelembung udara yang membuat partikel insulin terperangkap dan mengubah dosis . tetapi perlu didinginkan selama jangka waktu yang lebih lama . hal ini akan menangguhkan kembali pem. .Perawat memasang jarum baru yang steril pada spuit dan menginsersinya kedalam vial A.Perawat mula-mula menyiapkan obat dari vial dan kemudian . puncak dan durasi kerja yang berbeda-beda .Obat tidak boleh langsung diberikan. .Sebelum mencampur tipe insulin yang berbeda.sedang dan lama. dokter memprogramkan dosis insulin yang berbeda berdasarkan kadar glukosa darah klien .Perawat kemudian mengisap jumlah obat yang diinginkan dari vial A kedalam spuit Beberapa prinsip ketika mencampur obat dari dua vial : . dengan menggunakan spuit dan jarum yang sama.berian insulin modifikasi dan membantu menghangatkan obat. Pada saat ini obat dari vial A belum mengontaminasi vial B .Insulin reguler yang tidak dimodifikasi merupakan larutan jernih yang dapat diberikan secara subcutan atau intravena .Mencampur obat dari sebuah ampul dan sebuah vial merupakan hal yang sederhana karena tidak perlu menambahkan udara untuk mengisap obat dari sebuah ampul.Insulin adalah hormon yang digunakan untuk mengobati Diabetes .Perawat segera mengisap obat yang dibutuhkan dario vial B kedalam spuit.Obat harus diberikan melalui injeksi karena obat tersebut merupakan protein dan. Mencampur obat dari satu vial dan satu ampul . .Tipe lain insulin merupakan larutan keruh akibat adanya tambahan protein yang memperlambat absorbsi.Jangan mengontaminasi satu obat dengan obat lain .2 U untuk nilai glukosa 200 – 240 .Insulin diprogramkan dalam dosis tertentu pada waktu yang telah ditetapkan atau berdasarkan sliding scale (skala perhitungan dimana angka dapat digeser sesuai keadaan). setiap tipe memiliki awitan.Seorang klien penderita diabetes memerlukan lebih dari satu tipe insulin .Insulin dapat disimpan dengan aman selama sekitar satu bulan pada temperatur ruangan. Bila dikocok. harus dibiarkan sampai suhunya sama dengan suhu ruangan.Pastikan bahwa dosis yang terakhir akurat .Pertahankan teknik aseptik 2. teknik ini mencegah kontaminasi larutan dari jarum Meyiapkan Insulin . isap obat dari ampul. kerja tipe insulin modifikasi yang lebih lambat ini hanya dapat diberikan persubcutan.Contoh program Insulin Sliding Scale Berikan insulin reguler per SC . vial insulin tidak boleh dikocok. dengan demikian akandicerna dan dihancurkan dalam saluran cerna.Dengan program sliding scale .Insulin diklasifikasi berdasarkan kecepatan kerjanya yang terdiri dari kerja cepat.Kadar glukosa darah seorang klien dikontrol secara berkesinambungan selama periode 24 jam . Untuk glukosa ≥ 300 hubungi dokter . dapat menyebabkan kerusakan syaraf atau tulang selama insersi jarum . Pijat-pijat tempat injeksi dengan lembut selama bebrapa detik. Dengan sebuah spuit dan jarum. Pegang spuit dengan mantap selama jarum berada dalam jaringan 8. injeksi udara yang setara dengan dosis insulin yang akan diisap kedalam vial berisi insulin bukan modifikasi (insulin reguler) ( vial jernih). Atur posisi senyaman mungkin untuk mengurangi ketegangan otot 3. sebelum jarum diinsersi 5. kemudian isap dosis yang benar 4. Insersi jarum dengan perlahan dan cepat untuk meminimalkan menarik jaringan 7. dan kerja insu. Usahakan untuk selalu menyiapkan insulin bukan modifikasi (reguler) lebih dahulu.lin reguler menurun 7. buang gelembung udara dari spuit dengan hati-hati 5.Kegagalan dalam memilih tempat injeksi yang tepat. Berikan campuran insulin dalam lima menit setelah disiapkan. hal ini mencegah penambahan insulin modifikasi ke vial insulin reguler Melakukan Injeksi . karena dengan bertambahnya usia akan men .Dosis yang berbeda-beda tersebut dapat diberikan dalam satu hari Beberapa langkah menyiapkan insulin dari dua vial : 1.Karakteristik jaringan mempengaruhi absorbsi obat dan awitan kerja obat . tetapi sesuai 2. Insulin reguler berikatan dengan insulin yang modifikasi (NPH). Pindahkan spuit dari insulin yang reguler.Menginjeksi obat dalam volume yang terlalu besar di tempat yang dipilih dapat menimbulkan nyeri hebat dan dapat mengakibatkan kerusakan jaringan setempat Beberapa upaya untuk meminimalkan rasa tidak nyaman pada waktu penyuntikan : 1. Gunakan jarum yang tajam dan memiliki bevel dan panjang serta ukurannya paling kecil.. Pindahkan spuit dari vial berisi insulin modifikasi 3. jika injeksi diberikan tidak tepat . kecuali dikontraindikasikan Saturday. Dengan spuit yang sama.Sebelum menyuntikkan sebuah obat. 06 October 2007 04:56 Perlu Perhatian Khusus<br />Peresepan Obat Pada Lansia Ragam Peresepan obat pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu masalah yang penting. Kembali ke vial berisi insulin modifikasi (NPH) kemudian isap dosis yang benar 6. jangan menyentuhkan ujung jarum kedalam larutan 2.4 U untuk nilai glukosa 241 – 250 . Alihkan perhatian klien 6.Konsekuensi yang serius dapat terjadi.6 U untuk nilai glukosa 251 – 300 . Kompres tempat injeksi dengan es untuk menciptakan anastesi lokal. Pilih tempat injeksi yang tepat dengan menggunakan penanda anatomis tubuh 4. injeksi udara yang setara dengan dosisinsulin yang akan diisap kedalam vial yang berisi insulin modifikasi (NPH) / vial yang keruh. volume obat yang akan diberikan harus diketahui terlebih dahulu . * Distribusi obat : dipengaruhi oleh jumlah darah yang dipompakan jantung keseluruh tubuh per menit (curah jantung). Meresepkan obat secara berlebihan (over drug prescribing) : hal ini terjadi jika dosis. * Penyerapan obat : beberapa hal yang menghambat penyerapan obat pada lansia adalah berkurangnya permukaan lapisan atas us penyakit-penyakit tertentu. peresepan obat pada lansia berkisar sepertiga dari semua peresepan dan separuh dari obat yang dibeli ta sedikit satu jenis obat. obat yang larut dalam lemak. yaitu : 1. distribusi. Farmakokinetik. curah jantung berkurang yang menyebabkan berkurangnya obat yang terikat dengan reseptor yang terda Demikian juga terjadi perubahan komposisi tubuh (berkurangnya cairan dan bertambahnya lemak tubuh) serta berkurangnya massa Mengenai kelarutan obat. toksisitas obat. ada yang larut dalam air dan ada yang larut dalam lemak. Dengan semakin meningkatnya jumlah lansia maka masalah peresepan obat pada lansia akan menjadi masalah yang sangat perlu Peresepan Obat Yang Rasional Menurut World Health Organization (1985) bahwa yang termasuk dalam peresepkan obat yang rasional adalah jika penderita yang m sesuai dengan kebutuhan pasien. metabolisme dan pengeluaran obat. akibat berkurangnya gerakan saluran cerna menyebabkan lebih lama obat didapati saluran c sedikit terganggu. maka di dalam meningkatkan mutu pengobatan terhadap pasien perlulah diperhatikan halDi bawah ini diuraikan beberapa bentuk peresepan obat yang tidak rasional pada lansia. karena dengan bertambahnya usia akan men Pemakaian obat yang banyak (polifarmasi). sedangkan sama. Masalah Dalam Peresepan Obat Beberapa masalah yang sering timbul dalam peresepan obat pada lansia adalah sebagai berikut : I. Meresepkan obat dengan boros (extravagantly drug prescribing) : hal ini terjadi karena meresepkan obat yang mahal.Peresepan obat pada lanjut usia (lansia) merupakan salah satu masalah yang penting. Akibat kurangnya cairan tubuh maka obat yang meningkat dan takarannya perlu dikurangi. interaksi. Meresepkan obat yang salah (incorrect drug prescribing) : hal ini terjadi akibat menggunakan obat untuk hal-hal yang tidak merup bersamaan. Meresepkan obat lebih dari satu jenis (multiple drugs prescribing/polypharmacy): hal ini dapat terjadi pada pemberian dua jenis at pula disini berupa pemberian obat terhadap segala gejala dan tanda-tanda yang timbul. Termasuk juga disini berupa pemberian obat-obat yang hanya mengurangi gejala-gejala dan tanda-tanda tanpa memperhatik 2. Sebaliknya. 3. akibat pertambahan lemak tubuh menyebabkan volume distribusi meningkat. dan penyakit iatrogenik. Dari data yang diperoleh. lama pemberian. lebih ketidakpatuhan menggunakan obat sesuai dengan aturan pemakaiannya (inadherence). sehingga me menyebabkan bertambah sedikit obat yang terikat dengan albumin dan bertambah banyak obat dalam bentuk bebas di dalam serum . jumlah/jenis obat yang dire diperlukan untuk pengobatan penyakitnya. Meresepkan obat yang kurang (under drug prescribing) : hal ini dapat terjadi jika obat yang seharusnya diperlukan tidak diberikan dengan yang sebenarnya diperlukan. Sebaliknya. Yang meliputi penyerapan. serta biaya yang serendah mungkin yang dikeluarkan pasien maupun masyarakat untuk mempero Sehubungan dengan hal tersebut di atas. tanpa memberikan obat yang dapat mengat 5. kelarutan oba Akibat bertambahnya usia. lebih sering terjadi efek samping. 4. dengan mutu dan keamanan yang terjamin. serta evaluasi kembali obat-obat yang telah d * Jangan tambahkan obat untuk mengatasi efek samping obat lain yang digunakan. sedapat mungkin hindarilah polifarmasi. Efek samping.id/index2. Ketidakpatuhan menggunakan obat menurut aturan pemakaian. * Etiket/label yang digunakan pada obat yang tepat.php?option=com_content&do_pdf=1&id=5065 11. Adapun lansia yang berisiko tinggi menderita penyakit atau masalah kesehatan sebagai akibat penggunaan obat.Pirma Siburian Sp PD) http://www.*Metabolisme : berkurangnya kecepatan metabolisme pada lansia karena berkurangnya aliran darah ke hati dan fungsi hepatosit se *Pengeluaran: berkurangnya fungsi ginjal untuk mengeluarkan obat dari tubuh pada lansia disebabkan berkurangnya fungsi glomeru tinggi di dalam tubuh. yaitu : 1. II. (dr. toksisitas obat dan penyakit iatrogenik (penyakit yang disebabkan obat yang digunakan) didapati hubung toksisitas obat dan penyakit iatrogenik.co. Dalam sebaiknya obat yang menimbulkan efek samping tadi dihentikan dan jangan ditambahkan obat lain untuk mengatasi efek samping te Ketidakpatuhan menggunakan obat menurut aturan pemakaian menjadi meningkat dengan bertambah banyaknya jenis obat dan ke Peresepan Obat Yang Dianjurkan Sehubungan dengan berbagai masalah yang telah diuraikan di atas. Masalah-masalah khusus. go slow. terutama gangguan fungsi ginjal.49 PEMBERIAN OBAT . but use enough. * Jika ingin mengganti atau mengkombinasi obat untuk suatu diagnosis. memegang peranan untuk timbulnya efek samping obat. 4. 3. * Keluarga dan pengasuh perlu dilibatkan dalam pemberian obat. * Pengobatan sesuai diagnosis dan hindari pengobatan berdasarkan gejala dan tanda. Oleh karena itu. * Start low. Takaran obat : akibat perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik pada lansia maka takaran obat perlu diberikan serendah mu titrasi secara perlahanlahan setiap 7-14 hari sampai tercapai efek penyembuhan yang optimal (start low. go slow. untuk mengurangi kejadian terhadap masalah-masalah tersebu * Gunakan obat seminimal mungkin dan regimen dosis sesederhana mungkin. * Biaya obat yang terjangkau. kurangi jenis obat. k 2. yaitu : berusia lebi lebih penyakit kronik yang sedang aktif. * Gunakan obat yang mempunyai efek samping minimal. sehingga mudah terjadi efek samping dan toksisitas obat. III. Polifarmasi: lansia cenderung mengalami polifarmasi karena penyakitnya yang lebih dari satu jenis (multipatologi). hendaknya dosis maksimal tercapai dulu dan kurangi jumlah * Bentuk sediaan obat yang digunakan yang tepat. dan diagnosis digunakan untuk jangka waktu yang lama (480 hari atau lebih dalam 2 tahun). Farmakodinamik Perubahan ini berupa gangguan kepekaan target organ terhadap obat yang dikonsumsi pada lansia yang menyebabkan meningkat disebabkan gangguan pengikatan obat dengan reseptor dan berkurangnya jumlah reseptor. but use enough ). Beberapa masalah khusus perlu diperhatikan di dalam meresepkan obat pada lansia. interaksi.waspada. • Obat dpt menggantikan zat tubuh yg hilang ex. Mis. Ex : – Aspirin Bufferin . or estrogen. insulin. UNDANG-UNDANG & STANDAR OBAT — Di kanada. penyembuhan. Kemanjuran 5. Keamanan SIFAT KERJA OBAT Obat bekerja menghasilkan efek terapeutik yg bermanfaat. penurunan atau pencegahan penyakit. • Nama Sebuah obat dpt m’miliki empat nama yg berbeda Nama kimia M’beri gambaran pasti komposisi obat. tiroid. Curative Menyembuhkan kondisi or suatu penyakit ssex: Penicilline utk infeksi • • • • • . hormon. Potensi 3. diberika per oral diberikan per intra vena. Ex : Asetilsalisilat – Aspirin • • • Nama Generik Diberikan oleh pabrik yg pertama kali m’produksi obat tsb sblm m’dapatkan izin. Bioavailability 4. Paliative Mengurangi gejala penyakit ttp tdk b’pengaruh thdp penyakit itu sendiri ex: Morphin sulfat or Aspirin utk nyeri 2. EFEK OBAT 1. Ex : Aspirin & Verapamil Hidroklorida • Nama dagang.Tinggalkan komentarGo to comments NOMENKLATUR & BENTUK OBAT Obat atau medikasi adalah zat yg digunakan dalam diagnosis. meningkatkan fungsi sel or mempercepat / memperlambat proses kerja sel. kapsul. British Pharmacopoeia (BP) menetapkan standar: 1. Bentuk obat t’sedia dlm bbrp bentuk. Obat dpt melindungi sel dari pengaruh agens kimia lain. Kapsul Larutan Komposisi obat dibuat utk meningkatkan absorbsi & metabolisme didlm tubuh. mis. terapi. Sebuah obat tdk menciptakan suatu fungsi di dlm jaringan ttp mengubah fungsi fisiologis. Tablet.Verapamil Hidroklorida Calan & Isoptin • Bentuk obat o Bentuk obat menentukan rute pemberian obat. eliksir & supositoria. Kemurnian 2. Efek Terapeutik 1. nama merek / nama pabrik Nama yg digunakan pabrik dlm memasarkan obat. Latrogenic disease Penyakit yg disebabkan oleh pemberian obat yg tidak tepat ex: malformasi pada janin krn pemberian obat selama hamil. Faktor2 yg mempengaruhi absorbsi obat adalah : . Restorative Mengembalikan kesehatan tubuh ex: vitamin & suplement mineral 1. 1. Toleransi obat seseorang yg mempunyai toleransi respon yg rendah thdp suatu obat shg dosis obat tsb hrs ditingkatkan utk mendapatkan efek terapeutik. Interaksi obat Suatu obat yg diberikan sebelum. • Absorbsi Suatu proses dimana obat memasuki aliran darah. Toksisitas obat Pengaruh obat yg berlebihan pada suatu organisme or jaringan. Tanda & gejala yg sering muncul adalah kemerahan pada kulit. 1. Supportive Mendukung fungsi tubuh sampai penatalaksaan lain or respon tubuh ditangani ex: Norepinephrine Bitartrate utk tekanan darah rendah & aspirin utk suhu tubuh tinggi. 1. rhinitis. gangguan metabolisme or eksresi obat ex: terjadinya depresi pada pernafasan krn akumulasi morphine sulfat 1. disebabkan krn overdosis. angioedema. Efek samping atau efek sekunder atau efek yg tdk diharapkan dari suatu obat ex: digitalis utk meningkatkan kekuatan kontraksi myocardium dpt menimbulkan nausea & vomitus. nausea. mencapai tempat kerjanya. Farmakokinetik adalah suatu ilmu tentang cara obat masuk kedalam tubuh. dyspnea serta diare. Alergi obat Suatu reaksi imunologi thdp obat.3. dimetabolisme & keluar dari tubuh. 4. insulin utk diabetes mellitus 5. Substitutive Menggantikan cairan or substansi yg ada dlm tubuh ex: Thyroxine utk hyperthryroidism. mengeluarkan air mata. wheezing. Absorbsi merupakan langkah pertama obat msk ke dlm tubuh. Efek idiosyncratic Suatu efek yg tdk diharapkan or tdk biasanya bisa berupa respon yg rendah or respon yg berlebihan thdp obat. pruritus. Chemoterapeutik Merusak sel-sel maligna ex: Busulfan utk leukemia 6. Absorbsi tergantung dari cara pemberian obat. 1. 1. vomitus. bersamaan or setelah suatu obat diberikan & menimbulkan efek kedua-duanya. Berat badan 2. Area tubuh yg suplai darahnya rendah maka akan mendapatkan suplai obat lbh lambat. 1. Makanan Kadar asam lambung Rute / cara pemberian obat Ada / tidaknya pemberian 1. Sebagian besar terjadi dihati dimana enzim2 hati melakukan detoksifikasi. Waktu pemberian Pemberian secara oral lbh cepat diserap jika lambung sedang kosong. Benar dosis 6. Pada saat masuk ke dalam pembuluh darah maka dibawa ke organ . air serta hormonal. Faktor genetik 2. Biotransformasi Disebut jg detoksifikasi yaitu suatu proses dimana obat di konversi ke bentuk yg kurang aktif.• o o o o obat2 lain. Etnis & kebudayaan PEMBERIAN OBAT ( 6 BENAR ) 1. 1. pernafasan. hati. Jenis kelamin Respon obat dipengaruhi oleh kandungan lemak. 1. Distribusi Proses transformasi dari tempat absorbsi ke tempat aksi. keringat. Benar waktu 5. saliva & air susu. 1. FAKTOR2 YG MEMPENGARUHI AKSI OBAT 1. Benar pendokumentasian KESALAHAN PENGOBATAN . Umur Anak & bayi serta lansia mempunyai responsive yg lbh tinggi thdp obat shg diberikan dosis yg lbh rendah. Faktor psychologis Reaksi obat yg dirasakan tergantung dari kepercayaan thdp obat tsb. Produk dari proses ini disebut metabolik. Lingkungan Berhubungan dgn perilaku yg ditampilkan & mood pasien. Berat badan wanita lbh kurang dibandingkan laki2 & wanita mempunyai lemak serta kadar air yg lebih banyak shg bbrp obat cepat diabsorbsi pada wanita. Benar cara 4. Eksresi Suatu proses dimana metabolik dikeluarkan dari tubuh. Sakit & penyakit Obat2an berhubungan dgn sirkulasi hati & funsi ginjal. 1. 1. Sebagian besar dilakukan melalui ginjal & ada jg melalui feses. 1. ginjal & otak. 1. Benar klien 2. Benar obat 3. Bayi dan Anak o Usia. Polifarmasi Klien menggunakan banyak obat. 1. insomnia & ketidakmampuan mencerna. . o 2. Penggunaan yg tidak teratur & penggunaan yg dikontraindikasikan. Lee. Jangan beri obat yg diprogramkan dgn nama pendek or singkatan tidak resmi 7. BB. 5. sebagai upaya mengatasi bbrp gangguan secara bersamaan. Penggunaan yg kurang. Penggunaan obat yg salah Berlebihan. Lansia mengeksresi obat pada anak2 berbeda-beda. yg diprogramkan or tidak. o Pemberian obat pada lansia jg membutuhkan pertimbangan khusus. 2. disamping perubahan fisiologis penuaan. Dosis utk anak lbh rendah daripada dosis pada orang dewasa shg perhatian khusus perlu diberikan dlm menyiapkan obat utk anak. Jangan berupaya mengartikan tulisan yg tidak dapat dibaca 8. 1994) Cara mencegah kesalahan pemberian obat : 1. 1.misalnya nyeri. faktor tingkah laku & ekonomi jg mempengaruhi penggunaan obat pada lansia. Baca label obat dgn teliti Waspadai obat2an bernama sama Cermati angka di belakang koma Pertanyakan peningkatan dosis yg tiba2 & berlebihan Konsultasikan kepada sumbernya jika suatu obat baru or obat yg tidak lazim diprogramkan. 1. memetabolisasi & 1. konstipasi. Perawat yg memberi obat kepada lansia harus mencermati 5 pola penggunaan obat o oleh klien lansia sebagaimana yg diidentifikasi Ebersole & Hess (1994) : 1.Kesalahan pengobatan adalah suatu kejadian yg dapat membuat klien menerima obat yg salah or tidak mendapat terapi obat yg tepat (Edgar. Meresepkan obat sendiri Berbagai gejala dapat dialami oleh klien lansia. area permukaan tubuh & kemampuan mengabsorbsi. 4. Cousins. 6. PERTIMBANGAN KHUSUS PEMBERIAN OBAT 1. Obat yg dijual bebas Obat yg dijual bebas digunakan oleh 75 % lansia utk meredakan gejala. Ketidakpatuhan Penggunaan obat yg salah secara disengaja. Minta klien menyebutkan nama lengkapnya. 3. 1. Cermati nama yg tertera pada tanda pengenal.
Copyright © 2026 DOKUMEN.SITE Inc.