MULANYA KAMI BERSEMBILAN.Kami pergi saat masih muda, nyaris terlalu muda untuk mengingat. Nyaris. Katanya, saat itu tanah berguncang dan langit dipenuhi cahaya serta ledakan. Peristiwa itu terjadi kala kedua bulan saling berhadapan di cakrawala selama dua minggu. Itu adalah musim perayaan, dan awalnya ledakan itu disangka kembang api. Padahal bukan. Angin sepoi-sepoi yang hangat bertiup dari arah perairan. Aku selalu diberitahu bahwa waktu itu cuacanya hangat. Ada angin sepoi-sepoi. Aku tidak pernah mengerti kenapa itu penting. Yang aku ingat jelas pada hari itu hanyalah wajah nenekku. Dia kalut dan sedih. Dia menangis. Kakekku berdiri tepat di samping nenekku. Aku ingat bagaimana kacamatanya memantulkan cahaya dari langit. Ada pelukan. Ada kata-kata yang mereka ucapkan. Aku tidak ingat apa yang mereka katakan. Dan kenangan itu benar-benar menghantuiku. Perlu waktu satu tahun untuk sampai di sini. Aku berumur lima tahun saat kami tiba. Kami beradaptasi dengan tempat ini. Dan kelak, saat Lorien sudah bisa ditinggali lagi, kami akan kembali. Kami bersembilan harus berpencar dan menjalani hidup kami masing- masing. Entah berapa lama. Sampai sekarang kami masih tidak tahu. Mereka semua tidak tahu di mana aku berada. Aku juga tidak tahu di mana mereka, atau seperti apa tampang mereka sekarang. Ini cara kami melindungi diri. Semua sesuai dengan mantra pelindung yang diberikan saat kami pergi. Mantra pelindung itu menjamin bahwa kami hanya bisa dibunuh sesuai dengan nomor urut kami, asalkan kami tetap terpisah. Jika kami bertemu, mantra pelindung itu terpatahkan. Jika salah satu dari kami ditemukan dan dibunuh, akan muncul bekas luka berbentuk goresan di sekeliling pergelangan kanan kami yang masih hidup. Dan di pergelangan kaki kiri terdapat tanda melingkar kecil yang serupa dengan jimat yang kami semua kenakan. Tanda yang terbentuk saat kami dikenai mantra Loric. Goresan melingkar itu adalah bagian lain dari mantra pelindung. Suatu sistem peringatan sehingga kami tahu keadaan masing-masing, dan agar kami tahu kapan mereka akan memburu kami. Goresan luka pertama muncul saat aku masih sembilan tahun. Goresan itu membuatku terbangun, membakar dagingku. Saat itu kami tinggal di Arizona, sebuah kota kecil di perbatasan dekat Meksiko. Aku terbangun menjerit di tengah malam, kesakitan, ketakutan saat goresan itu membakar dagingku. Itu tanda pertama bahwa kaum Mogadorian telah menemukan kami di Bumi ini. Itu tanda pertama bahwa kami dalam bahaya. Sebelum goresan itu muncul, aku hampir meyakinkan diriku sendiri bahwa ingatanku salah, dan bahwa apa yang Henri katakan kepadaku hanyalah kebohongan. Aku ingin menjadi anak normal yang menjalani kehidupan normal. Namun kemudian aku tahu, tak disangsikan lagi, bahwa aku tidak normal. Kami pindah ke Minnesota keesokan harinya. Goresan kedua muncul saat aku berusia dua belas tahun. Saat itu aku berada di sekolah, di Colorado, menjadi salah satu peserta kompetisi mengeja. Begitu merasakan sakitnya, aku langsung tahu apa yang terjadi pada Nomor Dua. Sakitnya sangat menyiksa, tapi saat itu aku bisa menahannya. Aku ingin tetap berdiri di panggung, tapi panasnya membuat kaus kakiku terbakar. Guru yang memimpin acara itu menyemprotku dengan pemadam api dan membawaku ke rumah sakit. Dokter di UGD menemukan goresan pertama dan memanggil polisi. Saat Henri tiba, mereka mengancam untuk menahannya atas tuduhan penganiayaan anak. Tapi karena Henri tidak ada di dekatku saat goresan kedua muncul, mereka terpaksa melepasnya. Kami masuk ke mobil dan pergi, kali ini ke Maine. Kami meninggalkan semua benda yang kami miliki kecuali Peti Loric yang selalu Henri bawa saat pindah. Sudah dua puluh satu kali hingga kini. Goresan ketiga muncul sejam yang lalu. Aku sedang duduk di perahu ponton, milik orangtua anak terpopuler di sekolahku yang dia gunakan untuk berpesta tanpa sepengetahuan orangtuanya. Aku belum pernah diundang ke pesta apa pun. Aku selalu sendirian, karena aku tahu kami bisa pergi kapan pun. Tapi selama dua tahun ini tidak ada kejadian apa-apa. Henri tidak melihat apa pun di berita yang dapat mengarahkan para Mogadorian ke salah satu dari kami, atau peristiwa apa pun yang patut membuat kami waspada. Jadi aku memiliki beberapa teman. Salah satu temanku memperkenalkanku kepada anak yang berpesta ini. Semua orang bertemu di dermaga. Ada tiga kotak pendingin berisi minuman, musik, gadis-gadis yang kutaksir dari kejauhan tapi belum pernah kuajak bicara walaupun sebenarnya aku mau. Kami bertolak dari dermaga dan berlayar sejauh delapan ratus meter ke Teluk Meksiko. Saat itu aku sedang duduk di tepi perahu ponton dengan kaki di air, bicara dengan seorang gadis manis bernama Tara yang berambut gelap dan bermata biru. Kemudian aku merasakannya. Air di sekitar kakiku mulai menggelegak. Kakiku mulai berpijar saat goresan itu muncul. Simbol Lorien ketiga. Peringatan ketiga. Tara menjerit dan orang-orang mulai berkerumun di sekitarku. Aku tahu aku tidak bisa menjelaskannya. Dan aku tahu kami harus pergi secepatnya. Keadaan semakin gawat. Mereka telah menemukan Nomor Tiga, entah di mana dia berada. Dan Nomor Tiga sudah mati. Jadi aku menenangkan Tara, mencium pipinya, mengatakan bahwa aku senang bertemu dengannya, serta mendoakan agar ia berumur panjang dan hidup bahagia. Aku menceburkan diri di samping perahu dan mulai berenang secepat yang aku bisa, di bawah air— kecuali satu kali saat mengambil napas—hingga mencapai pantai. Aku berlari di tepi jalan besar, di trotoar, dengan kecepatan yang sama dengan mobil. Saat tiba di rumah, Henri berada di antara berbagai pemindai dan monitor yang dia gunakan untuk memeriksa berita di seluruh dunia serta aktivitas polisi di lingkungan kami. Tanpa perlu kujelaskan, dia langsung tahu. Namun dia tetap menyingkap kaki celanaku yang basah untuk melihat bekas luka itu. Mulanya kami bersembilan. Tiga hilang, mati. Tinggallah kami berenam. Mereka memburu kami. Mereka tak akan berhenti hingga selesai membunuh kami semua. Aku Nomor Empat. Berikutnya adalah giliranku. AKU BERDIRI DI HALAMAN DAN MENATAP KE ARAH rumah. Rumah panggung dari kayu, berdiri sekitar tiga meter dari tanah, dengan cat warna merah muda cerah mirip hiasan kue. Sebuah pohon palem melambai di depannya. Di bagian belakang terdapat sebuah dermaga sepanjang delapan belas meter mengarah ke arah Teluk Meksiko. Jika rumah itu berdiri sekitar dua kilometer ke sebelah selatan, dermaga itu pasti ada di Samudra Atlantik. Henri berjalan keluar rumah sambil membawa kardus-kardus terakhir, sebagian tidak pernah dibuka sejak terakhir kali kami pindah. Ia mengunci pintu, lalu meninggalkan kuncinya di dalam lubang pos di samping pintu. Saat ini pukul dua pagi. Henri memakai celana pendek cokelat muda dan kaus polo hitam. Kulitnya sangat kecokelatan, dengan wajah yang belum dicukur dan tampak muram. Dia juga merasa sedih karena harus pergi. Henri memasukkan kardus terakhir ke belakang truk, bersama dengan barang- barang kami yang lain. “Yang terakhir,” katanya. Aku mengangguk. Kami berdiri dan menatap rumah itu sambil mendengar angin berdesir melewati daun- daun palem. Aku memegang sekantong seledri di tangan. “Aku akan merindukan tempat ini,” kataku. “Lebih dari tempat lainnya.” “Aku juga.” “Saatnya membakar?” “Ya. Kau mau melakukannya, atau kau mau aku yang melakukannya?” “Biar aku saja.” Henri mengeluarkan dompet dan melemparkannya ke tanah. Aku mengeluarkan dompetku dan melakukan hal yang sama. Henri berjalan ke truk kami dan kembali dengan paspor, akta kelahiran, kartu jaminan sosial, buku cek, kartu kredit dan kartu bank, dan melemparkannya ke tanah. Semua dokumen dan hal- hal yang berkaitan dengan identitas kami ada di sini. Semuanya palsu. Aku mengambil kaleng bensin kecil yang kami simpan sebagai cadangan dari truk. Aku menyiramkan bensin ke tumpukan kecil itu. Namaku saat ini adalah Daniel Jones. Ceritanya aku besar di California dan pindah ke sini karena pekerjaan ayahku, seorang pemrogram komputer. Sebentar lagi Daniel Jones hilang. Aku menyalakan korek api dan melemparkannya. Tumpukan itu mulai menyala. Sekali lagi, salah satu kehidupanku hilang. Seperti yang biasa kami lakukan, Henri dan aku berdiri memandangi api itu. Dah, Daniel, pikirku, senang mengenalmu. Saat api padam, Henri menatapku. “Kita harus pergi.” “Aku tahu.” “Kepulauan ini tidak aman. Sulit untuk pergi dari tempat ini dengan cepat, sangat sulit untuk melarikan diri. Kita bodoh sekali datang kemari.” Aku mengangguk. Dia benar, dan aku tahu itu. Tapi aku masih enggan pergi. Kami datang kemari karena keinginanku. Dan untuk pertama kalinya, Henri membiarkanku memilih tujuan kami. Kami tinggal di sini selama sembilan bulan. Tempat yang paling lama kami tinggali sejak meninggalkan Lorien. Aku akan merindukan matahari dan kehangatan tempat ini. Aku akan merindukan cecak yang menatap dari dinding setiap pagi saat aku sarapan. Walaupun sebenarnya ada jutaan cecak di Florida selatan, aku berani bersumpah bahwa cecak yang satu ini mengikutiku ke sekolah dan tampaknya selalu ada di mana pun aku berada. Aku akan merindukan hujan badai yang seolah datang dari antah berantah. Aku akan merindukan keheningan dan kedamaian di pagi hari sebelum burung-burung laut tiba. Aku akan merindukan lumba-lumba yang terkadang mencari makan saat matahari tenggelam. Aku bahkan akan merindukan bau belerang dari rumput laut yang membusuk di tepi pantai, serta bagaimana bau itu memenuhi rumah dan menembus mimpi saat kami tidur. “Singkirkan seledri itu. Aku tunggu di truk,” kata Henri. “Sudah waktunya.” Aku masuk ke rerimbunan pohon di sebelah kanan truk. Di sana ada tiga ekor rusa Key, jenis rusa langka yang ad adi Florida, sedang menanti. Aku mengeluarkan isi kantong seledri itu di kaki mereka, lalu berjongkok dan membelai rusa-rusa itu. Mereka membiarkanku karena sudah tidak gugup dengan kehadiranku. Salah satu rusa mengangkat kepala dan memandangku. Mata hitam yang kosong menatapku. Rasanya rusa itu seperti menyampaikan sesuatu kepadaku. Bulu kudukku meremang. Rusa itu menunduk dan melanjutkan makan. “Selamat tinggal, teman-teman kecil,” kataku. Kemudian aku berjalan ke arah truk dan naik. Melalui kaca spion, kami memandang rumah itu Aku mengambil atlas dan memandangnya. Aku bosan dengan rumah baru.” jawabku. Atlas itu sudah digambari dengan garis dari dan ke semua tempat yang pernah kami tinggali. Di sana kami makan meatloaf. sekolah baru. Mr. menggunakan nama baru kami. Kami berhenti di tempat pemberhentian truk.’” Satu setengah kilometer kemudian kami meninggalkan pulau dan menyeberang melintasi jembatan. Henri membuat dokumen-dokumen baru di laptopnya. juga macaroni and cheese. “Menurutmu nama ‘John Smith’ bagus nggak?” tanyaku. Aku bertanya- tanya apa yang terjadi di pesta itu tanpa kehadiranku. Aku tahu bahwa plat mobil Ohio yang bertuliskan THE HEART OF IT ALL ― PUSAT SEGALANYA. Apa yang mereka katakan mengenai caraku pergi. bensin. aku memikirkan sapi dan jagung serta orang-orang yang baik.” Aku tersenyum. Sinar bulan memantul di atas gelombang air sehingga puncaknya tampak putih. atau Smith. tapi kurasa sebentar lagi aku akan mengetahuinya. Akhirnya Henri berbelok ke jalan utama dan rumah itu pun hilang. Ia akan mencetak dokumen-dokumen itu begitu kami tiba. video. Kami memiliki atlas. Henri telah membuat garis baru dari Florida menuju Ohio. “Kurasa ada beberapa. Sebelum mencapai jalan raya. Aku bukan sedih karena meninggalkan Florida. Air tampak tenang. Sejak tiba di planet ini. Henri kembali ke truk. “Tak ada nama yang lebih biasa daripada itu. Ini hari Sabtu.mengecil. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “Segalanya”. Orang biasa memiliki foto.1. “Yeah. Aku bosan memikirkan nama baru setiap enam bulan. Dia terkekeh. “Kau mau nama itu?” “Kurasa. Di sebelah kiri teluk. kami memiliki atlas.S. yang akan membawa kami ke arah utara. mungkin tidak akan ada lagi yang memikirkanku. salah satu dari sedikit hal yang menurut Henri jauh lebih baik daripada apa yang kami makan di Lorien. tapi aku tidak menangis. Dia membeli beberapa kaleng soda dan sebungkus keripik. tapi atlas ini adalah satu- satunya benda yang berisi sejarah hidup kami. aku melihat atlas yang Henri simpan di antara bangku pengemudi dan bangku penumpang. atau mungkin beberapa minggu. Aku tidak akan pernah lagi berbicara dengan salah satu dari mereka. Aku merasa ingin menangis. Kami tahu seharusnya kami menyingkirkan atlas itu.” Aku mengangguk. ada banyak garis yang menyilangi seluruh Amerika Serikat. Aku bertanya-tanya kapan akhirnya kami bisa berhenti lari. Andai aku bisa mengucapkan kata-kata perpisahan. Dia keluar dari tempat itu dan mengarahkan truk ke jalan U. “Kau pikir ada orang di Ohio?” aku bercanda. dan jurnal atau buku harian. Saat ini. Dan mereka tidak akan pernah tahu apa aku ini atau mengapa aku pergi. Setelah beberapa bulan. tapi dengan dua nama berbeda. Di sebelah kanan samudra. dan ponsel baru. KAMI BERHENTI UNTUK MEMBELI MAKANAN. kurasa aku suka ‘John Smith. Air mengalir di bawah kami. tapi aku bosan melarikan diri. Saat kami makan. Mungkin ini tidak seburuk yang kupikir. Pada dasarnya ini air yang sama. Aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang-orang yang kukenal di sini. Apa yang akan mereka katakan pada hari Senin saat aku tidak ada di sekolah. Dan mungkin nanti kita beruntung dan menemukan mobil serta TV juga di sana. Aku akan berkata senang bertemu denganmu. Henri menepi untuk mengisi bensin. Ia meraih atlas. Smith. Lalu tiba-tiba . Aku belum pernah menggunakan nama John. Saat ia mengisi bensin. Ketika berpikir mengenai Ohio. tempat perang dan kematian itu nyata. tanpa banyak tanya.” Henri tersenyum. dan membuat mereka menjadi abu. Salah satunya mengenakan kaus bertuliskan WE DO IT BETTER IN TUSCALOOSA. Aku paling suka permainan di ruang angkasa dan perang melawan alien. perjalanan itu memakan waktu tiga puluh jam. Kami melewati papan tanda yang bertuliskan: SELAMAT DATANG DI PARADISE. Henri pikir itu aneh dan dia selalu berusaha mengecilkan hatiku. satu ke New Mexico. Ini tentang keselamatan hidup bangsa kita. Kau diburu oleh seluruh bangsa pembunuh kejam. Itu kota yang kami tuju. melawan para Mogadorian. “Kau yakin dengan John Smith?” tanyanya. “Kau dapat ide itu dari mana?” Henri tersenyum dan member isyarat ke arah dua orang perempuan yang duduk beberapa meja dari kami. kenapa?” “Karena ini bukan tentang kau. Dia bilang kita seharusnya hidup di dunia nyata. Kau Nomor Empat. “Dan itu tujuan kita berikutnya. Beberapa menit kemudian kami melihat sekumpulan cahaya. “Apa kau sudah melihat goresanmu hari ini?” “Belum. yang hampir sepenuhnya lenyap. aku bisa menguasai sebagian besar permainan itu dengan cepat. Setelah menamatkan game terakhirku. satu permainan kutaklukan dalam waktu satu hari.234 “Wow. Aku ingin menemukan satu tempat dan tinggal di tempat itu seterusnya. Kau yang berikutnya. pergi ke sekolah yang sama selama lebih dari beberapa bulan. Aku mulai melakukan itu di Florida. Selain saat istirahat dan membuat dokumen-dokumen baru.saja kami akan menjadi orang yang kami ciptakan itu. “Masih jauh?” “Hampir sampai. Rasanya hebat. “Menurutmu ini paradise ‒ . hanya pepohonan sejauh mata memandang. Jam di dasbor menunjukkan 7:58.” kataku. menggosok mata. tapi ada cahaya pucat di barat. “Yeah.” “Oh. Kami melewati pertanian dengan kuda dan ternak. di pedesaan. tapi kuharap kita tinggal di Ohio untuk waktu yang lama. Kita pergi begitu ada pertanda bahaya. mati―kesempatan kita berkurang. dan setelah itu.” Henri tampak merenung. aku merasa hampir normal. Katanya ia harus menelepon empat kali―satu ke South Dakota. Tempat yang sepi sehingga kami tidak menarik perhatian. Di luar gelap.” kata Henri. bukan pura-pura. Aku menghabiskan sebagian besar waktu dengan tidur atau bermain video game. dan mungkin memiliki kehidupan yang sesungguhnya. Karena refleksku. OHIO JUMLAH PENDUDUK 5.” kata Henri. Aku menguap. ya? Kau suka Ohio?” “Aku suka dengan gagasan memiliki teman. tujuh. memotong-motong mereka. Aku bosan duduk di truk. Aku berpura-pura berada di Lorien. lalu padang tandus. Seminggu sekali Henri menjelajahi Internet selama enam. Ini tepat seperti yang Henri inginkan.” “Kau lahir di Tuscaloosa. para Garde. aku menengadah. Keduanya tampak seksi. “Mungkin kedengaran aneh. satu ke Arkansas―hingga akhirnya berhasil mendapatkan rumah kontrakan di tempat yang kami tuju. Dan ini tentang menjagamu agar tetap hidup. dapat langsung ditempati. Dan untuk pertama kalinya sejak kita tiba di Bumi. atau delapan jam untuk memperbaharui daftar rumah sewaan di negara ini yang memenuhi kriterianya: terasing. Paling lama.” Aku tertawa. Alabama. “Tempat ini lebih kecil daripada tempat tinggal kita di Montana. Setiap kali salah satu dari kita mati―setiap kali salah satu dari kalian.” Henri menyetir sepanjang waktu. Pasti sudah lama sejak terakhir kali rumput dipotong. “Mobil siapa itu?” tanyaku.” “Ah. Dia mengenakan setelan bisnis dan memegang papan kecil serta map. sebuah kotak surat berwarna perak yang sudah berkarat dengan huruf-huruf hitam di salah satu sisinya dan berbunyi 17 OLD MILL RD. Kemudian kami melewati lading yang baru dipanen―yang mungkin penuh dengan jagung pada musim panas―dan melintasi hutan lebat sejauh kira-kira satu setengah kilometer. walaupun seperti biasanya sebenarnya aku tergoda untuk menjawab “Empat. Dia berjalan ke arah kami dan menjabat tangan Henri. menganggukkan kepala ke arah SUV hitam di depan kami. rumah itu tampak mengerikan. Kami tertawa karena kami harap tidak ada orang lain dengan pedang yang akan muncul di tempat ini. atau diusir.” jawab Henri. Kami memandang patung itu dan tertawa. Saya mencoba menghubungi Anda tadi.” kata Henri sambil berbelok masuk. “Mr. saya benci jika itu terjadi.” kataku. Baterainya habis dalam perjalanan kemari. Rumah itu hanya satu lantai. Henri kemudian menjalankan mobil mengitari bundaran itu.” kata perempuan itu. Aku keluar dari truk. Dekorasi Halloween tergantung di jendela sebagian besar dari rumah-rumah itu. ke luar kota. atau melarikan diri.” Saat Henri menandatangani kontrak. Saat kami melewatinya. Kami mengarah ke barat. agen dari Paradise Realty. Lalu seorang wanita pirang seusia Henri dan berpakaian rapi keluar dari pintu. “Bagaimana menurutmu?” tanya Henri. di balik tumbuhan lebat.” Rumah itu dinaungi pepohonan. “Nama saya Annie Hart. Dalam kegelapan. sistem navigasi GPS di dasbor member tahu kami untuk berbelok. Aku mengambil tas dari truk dan berdiri sambil memegangnya. “Rumah terdekat jaraknya 3 kilometer. “Tampak seperti Paradise. Atapnya ditutupi oleh sirap hitam yang tampak bengkok dan rapuh. Salah satu jendela depan rusak. satu tempat cuci mobil. Perempuan itu tersenyum. perempuan itu bertanya berapa usiaku.surga―bagi siapa?” “Sapi. Kami berkendara sejauh enam setengah kilometer lalu belok kiri memasuki jalan berkerikil. Lalu dia mengatakan bahwa dia memiliki seorang anak perempuan seusiaku yang . Kita sudah bicara di telepon. Terbuat dari kayu. Perempuan itu menanyakan namaku dan aku memberitahunya.” “Oh. Kami berjalan bersama. tapi tampaknya telepon genggam Anda dimatikan. Di bagian tengahnya berdiri sebuah patung orang yang sedang duduk di atas kuda sambil memegang pedang. Rumah-rumah terbuat dari kayu dan berjarak sekitar sepuluh meter antara satu dengan lainnya. Lalu kami menemukannya. Blackberry digantungkan di bagian pinggang roknya. benar. Rumput liar tumbuh di sepanjang jalan berkerikil. Halaman depannya sendiri panjang dan tampak berantakan. Henri menghentikan truk dan mematikannya. dan satu tempat pemakaman. Kursi-kursi reyot bergelimpangan di atas tiga anak tangga yang mengarah ke beranda kecil. Henri berhenti. mungkin? Orang-orangan sawah?” Kami melewati satu pom bensin tua. seolah siapa pun yang dulu tinggal di sana ketakutan hingga pergi. Smith?” “Ya. Trotoar membentang di depan pekarangan yang mengarah ke pintu depan. yang dipenuhi kubangan air berwarna kuning kecokelatan. Mesin masih berdetak dan aku bisa merasakan panasnya. “Mungkin milik si agen properti. Lalu rumah- rumah mulai terlihat. Bundaran lalu lintas berada di tengah kota. Sebagian besar cat putihnya sudah mengelupas. Ada perapian di ujung sana.” teriak Henri dari ruang tamu. Kadang aku mempertanyakan strategi kami dalam memilih kota kecil karena sulit. panjang. aku bisa mencetak semua dokumen barumu. Sekolah baruku berjarak lima kilometer dari rumah. Penampilannya juga tidak mengesankan. Perabotan yang tidak ditutupi kain diselimuti lapisan debu tebal dan serangga mati. kami langsung mengosongkan truk. rutinitas yang sama. Hart berdiri di pintu bersama Henri. Tulisannya BERNIE KOSAR. SEKOLAH BARU LAGI. Aku masuk dan melemparkan tasku ke atas tempat tidur di kamar yang kecil. . dua komputer bertenaga besar. Di kamar itu ada sebuah poster besar yang sudah pudar. sebagian besar perabotan ditutupi kain putih.” IDENTITAS BARU LAGI. CLEVELAND BROWNS. itu pasti menyenangkan. Kemudian kami bertiga masuk ke dalam rumah. “Tidak ada saluran Internet sampai besok pagi. Kain kasa di jendela tampak rapuh jika disentuh dan tembok rumah itu ditutupi oleh papan tripleks murah. Perempuan itu sangat ramah. Henri mulai memasang kamera dan menyalakan monitor. dan Peti Loric berukir rumit yang selalu kami bawa ke mana pun kami pergi―atau dengan membawa sejumlah barang―biasanya komputer cadangan dan peralatan Henri. Tapi jika kau mau pergi ke sekolah besok. Lalu kami mengangkut semua peralatan ke ruang bawah tanah.bersekolah di SMA di tempat itu. Tapi aku tahu alasan Henri: mereka juga tidak mungkin tidak menarik perhatian. Hart. Ruang tamunya besar dan berbentuk persegi. terletak di bagian depan rumah. Lukisan dinding berupa sosok seorang bajak laut sedang menggigit pisau menutupi tembok luar di samping pintu depan. Henri akan memasangnya di sana sehingga tidak terlihat tamu. Henri membawa Peti Loric ke kamarnya. dan tampaknya akan diremukkan oleh seorang lelaki raksasa berseragam hitam dan emas.” “Jika aku tinggal apakah itu artinya aku harus membantumu membersihkan dan merapikan tempat ini?” “Ya. Setelah Mrs. Mrs. Setelah semua barang dimasukkan. satu dapur berukuran sedang dengan lantai keramik berwarna hijau limau. kami biasanya bepergian dengan tanpa membawa banyak barang―maksudnya hanya baju di badan. walaupun pakaian kami di Florida hanya sedikit yang sesuai dengan kehidupan di Ohio. yang dia gunakan untuk membuat garis pertahanan dan mencari berita serta peristiwa yang mungkin berkaitan dengan kami di web. “Kemari dan ucapkan selamat jalan kepada Mrs. Hart pergi. Aku tak ingat sudah berapa banyak selama bertahun-tahun ini. dan beratap rendah. Dalam poster itu tampak seorang pemain American football dengan seragam oranye cerah. untuk tidak menarik perhatian. Di dalam.” kataku. dan jelas sangat suka mengobrol. dan empat kamera. empat TV monitor. Sekolah itu lebih kecil daripada sekolah-sekolah lain yang pernah kumasuki. Henri mengantarku pada pagi hari. QUARTERBACK. Aku tersenyum dan berkata ya. hanya satu lantai. Tergantung seberapa cepat kami meninggalkan suatu tempat. Ia sedang melemparkan bola. Lima belas? Dua puluh? Selalu kota kecil. sekolah kecil. Henri menyerahkan kontrak itu kembali. Kali ini kami membawa Peti Loric. Ada dua kamar tidur. Dia berkata bahwa aku harus menemui anaknya di sekolah. bersahabat. Kami juga membawa sejumlah pakaian. serta satu kamar mandi. laptop Henri. Anak baru menarik perhatian.” “Kalau begitu aku ke sekolah. “Kalau begitu sebaiknya malam ini kau tidur yang nyenyak. mungkin kami bisa berteman. berjalan dari satu kelompok ke kelompok lain.” “Jangan terlihat menonjol atau terlalu menarik perhatian.” “Aku tahu. tersenyum.” jawabku. Kekuatan Pusakamu bisa muncul kapan saja. Mukaku memerah. Jadi ia menamakan dirinya Henri. Tapi aku .” “Aku tahu. serta para pecandu yang berkerumun di pinggiran. Gadis itu berjalan ke arahku.” “Kapan saja. selalu siap sedia. belum pernah ada gadis cantik yang melambai dan tersenyum kepadaku seolah kami berteman. Nak.” katanya. dan selalu menggunakan nama itu. Ada. Dua orang anak yang sedang membahas PR matematika. ya. Mereka berkerumun sesuai dengan kelompok masing-masing. Kaus kaki ganti dan pakaian dalam hangat. atau jika kau kehilangan kendali terhadap otot-ototmu atau mulai mendengar suara-suara walaupun tidak ada orang yang berbicara. dan mata biru muda. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan. Orang seusianya lebih sulit beradaptasi. Aku bertanya-tanya mengapa lalu menengok ke belakang untuk melihat apa ada orang di belakangku. Tidak ada yang keberatan dipotretnya.” katanya. Ia mengenakan kaus NASA hitam dan jins.” “Dan jangan sakiti siapa pun. Gadis itu melihatku.” “Yang terpenting. “Ponselku di sini. tidak ada yang lain. aku cuma seekor lalat di dinding.” Aku berjalan menuju gedung sekolah. GPS genggam. Aku tersenyum ke Henri. “Kupergi ‘tuk taklukan sekolah. Itu berarti dia empat puluh tahun saat kami tiba. Seorang anak ceking berkacamata tebal berdiri sendiri. Kau jauh lebih kuat daripada mereka. Pisau berbentuk pena. Aku langsung merasa gugup. Siap untuk pergi kapan saja. anak marching band dengan alat musiknya. banyak anak yang nongkrong dan berkerumun di luar.” “Semua itu harus selalu kau bawa. Dia masih berbicara dengan aksen Loric yang kental dan karenanya sering disangka sebagai orang Prancis. “Dan waspada terhadap segala tanda- tanda. Berat badannya pastilah tidak lebih dari lima puluh kilogram. Jas hujan. Aku melihat seorang gadis yang sedang memotret.” “Sip. Itu alibi yang bagus. John.“Jadi sekarang kau bajak laut?” kata Henri dari sampingku. tulang pipi tinggi. Ia tampak sangat cantik dengan rambut pirang lurus panjang. atau jika badanmu bergetar keras. kau harus menelepon. “Ini bukan pertama kalinya aku jadi murid baru. Pokoknya kau harus menyembunyikannya dan langsung telepon aku.” Aku menepuk ransel. Para olahragawan dan pemandu sorak. Selain itu. apalagi berbicara dengan gadis seperti itu.” Henri menarik napas panjang. Hati-hati.” ulangnya. Ia memiliki teleskop genggam dan sedang mengamati langit yang tertutup awan. cukup untuk lima hari. tersenyum.” “Jangan tunjukkan bahwa kau pintar. Apa pun itu. “Baik-baik. “Jika jarimu mulai menghilang. tak memedulikan sekitarnya. Tampaknya semua orang mengenal gadis itu dan menyapanya. Henri. “Sepertinya. kulit gading.” “Tak akan. dan melambai. Aku menoleh kembali. Aku belum pernah melihat seorang gadis yang sangat cantik. Seperti kebanyakan SMA. Henri berusia lima puluh tahun.” kataku. Itu akan membuat mereka membencimu. Apa isi ranselmu?” “Buah dan kacang keringan.” “Aku di sini saat sekolah bubar. Ia hanya mengganti nama belakangnya agar sama dengan nama belakangku. atau jika kau mulai melayang. anak pintar berkacamata dengan buku pelajaran dan BlackBerry. tungkai dan dada berwarna putih. “Aku tahu kau anak baru.” “Yeah. Ini benar-benar perasaan terbaik yang pernah kurasakan. walaupun sebenarnya aku bisa. anjing itu mundur. mungkin. mengambil foto itu. Tampaknya selama ini dia hidup sebatang kara. Panas banget.” Gadis itu tertawa. Cuma berusaha melindungi lensa kameramu. berusaha menarik perhatian.” goda gadis itu. Si anjing menggosokkan badannya di kakiku. Dia menurunkan kameranya dan tersenyum. Saat gadis itu mulai memotret. Aku biasanya tidak mengizinkan siapa pun memotretku. aku akan mendapat masalah besar. dan tubuh langsing berwarna hitam. deh. Si gadis merasa bahwa tingkahnya manis dan menyuruhku berlutut agar bisa memotretku bersama si anjing. “Seumur-umur belum pernah melihatnya. dia mengangkat kamera dan mulai memotret. .” Aku tersenyum lebar dan dia memotret. sesuatu mengenai siku belakangku. “Senyum itu harusnya memperlihatkan gigi. Dia bilang mungkin kau mulai bersekolah hari ini. Kami berpisah dan aku menatapnya pergi. seekor anjing berlari menghampiriku. Jika Henri tahu saat ini aku dipotret. aku sudah bertemu ibumu. semuanya mengenakan jaket tim. Anjing jenis beagle dengan telinga terkulai berwarna kecokelatan. jadi aku kasih tahu. “Itu bukan senyum betulan. Salah satu dari mereka memelototi dan memukulku dengan ranselnya saat lewat. “Wow. Henri sangat marah.” kataku. kan?” Si gadis mengulurkan tangannya. Saat si gadis mencoba memotret lagi. Akhirnya si gadis menyerah dan memotretku lagi. Hal seperti itu pernah terjadi dua kali. Anjing itu kurus dan kotor.” “Tampaknya anjing itu menyukaimu.” “Apa kau tak mau bersalaman denganku?” Sarah masih mengulurkan tangannya. Kau satu-satunya anak baru yang muncul hari ini.” Sarah melepaskan tanganku. “Yeah. Dia baik. Ayo senyum. “Kau kenal anjing itu?” tanya si gadis. Sekelompok pemain football. Aku hanya tidak suka penindas. “Yeah. tipis. Sarah memberitahuku bahwa itu bel peringatan. “Bisa saja kalau kau cemberut seperti itu. “Apa?” “Tanganmu panas. atau di surat kabar. “Jangan malu. Saat gadis itu berada di dekatku.” Aku tersenyum.” Bel berdering di kejauhan.” “Kurasa tidak. dan aku harus bertemu denganmu. Aku berbalik. karena memang dilatih untuk waspada. dong.” katanya. Aku mengangkat tangan menutupi wajah. Jika foto itu muncul di Internet. Saat si gadis memotret. “Kok tahu?” “Aku Sarah Hart. Aku sangat gugup sehingga merasa seolah akan meledak. Anjing itu duduk sekitar sepuluh meter dari kami dan memandangi kami. Aku bisa merasakan leherku panas dan tanganku menghangat. berjalan ke arahku.juga waspada. anjing itu menjauh. Kau John. Kami memiliki waktu lima menit untuk masuk kelas. Wajahku bisa membuatnya pecah. dan menghancurkannya. Lalu si anak berkaus NASA berjalan menjajariku. Tapi aku tidak bisa apa-apa―gadis itu sangat cantik dan menawan. Sesaat kemudian.” katanya. sepertinya kau ini demam atau semacamnya. aku akan mudah ditemukan. Ibuku agen properti. Aku tersenyum dan menjabat tangannya. “Mungkin darahmu panas.” “Nggak.” Aku tertawa. mendengking. Aku tahu aku tidak akan melakukan apa pun. Aku yakin dia sengaja maka kuikuti mereka. “Apa?” tanyaku. Tapi kemudian Sarah berhenti dari cheerleader dan mencampakkan Mark. “Sayang sekali. Dia berbicara sangat panjang. “Kami memenangi kejuaraan olahraga Pioneer Conference. Mr.” jawabku. atau kemampuan untuk terbang. Mr. Harris sambil melemparkan pandangan ke arah rak dinding. Aku itu Garde. Mr. sedangkan yang lain bertugas mempertahankan planet. tapi aku selalu berkata begitu agar tidak mencurigakan. Mark belum bisa merelakannya. Harris mengangguk. Dulu dia mengencani Sarah. Harris. Aku punya asma. Dia ingin tinggal di kota kecil yang sunyi untuk menyelesaikan tulisannya. Aku memilih sejumlah kelas dan memasukkannya ke dalam daftar pelajaranku. saat Sarah masih jadi cheerleader. padahal kami belum pernah ke Santa Fe. Dia meraih dan menarik dua lembar kertas dari lemari arsip di samping meja kerjanya lalu memberikan kertas-kertas itu kepadaku. Kebohongan sederhana agar tetap tidak terlacak. Mark sendiri bintang tim football. Henri itu Cêpan. Harris mengangguk dan mengedipkan mata. Jadi. Di atas rak itu terdapat piala football yang bertuliskan tanggal pada tahun lalu. Kertas kedua berisi daftar mata pelajaran pilihan yang bisa kupilih. mulai dari kemampuan untuk menjadi tidak terlihat hingga kemampuan membaca pikiran. Di Lorien ada dua jenis warga. “Tampaknya kau pemuda yang kuat. Warga yang memiliki Pusaka disebut Garde. Kemudian aku mengembalikan kedua kertas itu. Ayahnya sheriff kota. Matanya kecil dan bulat. atau New Mexico.” kata Mr. Sebenarnya Henri itu Penjagaku. “Itu sebabnya kulitmu cokelat. “Jadi di Santa Fe kamu itu kelas dua?” tanyanya. *** Kepala sekolahku bernama Mr. atau petir. Yang pertama adalah warga yang memiliki Pusaka. atau bahasa Buminya waliku. mereka disebut Cêpan atau Penjaga. Yang kedua adalah warga yang tidak memiliki kekuatan. “Apa pekerjaan ayahmu?” “Ayahku penulis. Bintang di sini. angin. hampir berdempetan.” jawabku. Dia menyeringai ke arahku dari seberang meja sehingga matanya tampak semakin kecil. Aku mengangguk dan menjawab ya. masih duduk di tempat yang sama.” Henri bukan ayahku. menatapku. Dia. Apa kau ingin ikut tim olahraga di sini?” “Andai saja aku bisa. “Itu Mark James.” katanya dengan berseri-seri karena bangga. Bel berbunyi .” Anak itu bergegas pergi. hingga kemampuan mengendalikan kekuatan alam seperti api. Dan kenapa kau ke Ohio?” “Karena pekerjaan ayahku. Kertas pertama berisi daftar pelajaranku dengan beberapa tempat kosong. Pak. Perutnya buncit. atau kekuatan―yang banyak sekali macamnya. Cêpan dan Garde―yang satu bertugas menjalankan planet. membahas setiap halaman buku panduan siswa hingga rincian terkecil. ini alasan standarku agar terhindar dari situasi yang dapat mengungkapkan kekuatan dan kecepatanku. hanya ada sedikit rambut panjang di bagian belakang dan samping kepalanya. Kami selalu mencari atlet untuk tim football. Aku berbalik dan melihat si anjing masih di situ. Cêpan membantu kami memahami sejarah planet dan juga bagaimana mengembangkan kekuatan kami.” “Makasih. Ia gemuk dan kepalanya hampir botak. sebaiknya kau jangan terlibat. Aku berjalan ke kantor kepala sekolah untuk mendaftar kelas dan mulai belajar. ini cerita standar kami. Harris memberikan semacam orientasi. Aku berjalan menuju bangkuku. tepat ke arah Mark James yang duduk di sebuah meja bersama Sarah Hart.” “Bagus! Dan dari mana asalmu?” “Fl―. Aku balas memandang mereka sebelum menatap Mrs. Saat itu aku merasa agak gugup dan ada rasa pusing yang merayapiku. Kelas itu berbentuk persegi. Dia tersenyum lebar. Harris bertanya apakah aku memiliki pertanyaan. kurang lebih berisi dua puluh lima orang yang duduk di meja persegi seukuran meja dapur. Aku kehilangan keseimbangan.” kataku. Burton berusia sekitar enam puluh tahun. kami meninggalkan kantor dan berjalan menyusuri lorong. Burton kembali ke mejanya. masing-masing tiga murid di setiap meja. Rambut keritingnya mulai beruban. Murid baru Anda ada di sini. Saat akhirnya selesai. Beliau guru yang hebat. Dia juga memiliki cambang yang dipangkas rapi di wajahnya. tapi tidak ada yang menampakkan aslinya secepat ini.satu kali. Mrs.” kata Mr. “Bagus. Mr. lalu satu kali lagi. Mr. ditandatangani oleh gubernur sendiri. Rambut Mark hitam.” “Nah. Aku menghitungnya saat kami berjalan. Telapak tanganku berkeringat dan wajahku terasa panas. Dia mengulurkan tangan. Harris membuka pintu dan melongok ke dalam kelas. tapi tetap tegak.” “Hebat. Aku biasanya beranggapan kita semua ini keluarga dekat. Aku tidak menjawab dan memelototi Mark.” aku mulai menjawab. Karena gugup aku hampir menjawab “Daniel Jones.” “Anak-anak. Mr. si jagoan. Alis tebal . tapi langsung berhenti. kita sampai. Harris berjuang membebaskan diri dari kursinya. Di seluruh bangunan sekolah ini pasti hanya ada dua puluh ruang kelas atau malah kurang. Mrs. Loker-loker berjejer di dinding. Harris. Burton pernah memenangi penghargaan negara bagian. Mrs. Burton antusias. bagus sekali! Silakan masuk. si penindas. mengenakan sweater wol merah muda dan kacamata plastik berwarna merah rantai mengelilingi lehernya. “Siapa namamu?” tanya Mrs. Pastinya ini bukan karena sebentar lagi aku memasuki kelas pertamaku di sini. salah satu guru terbaik kami. “Santa Fe. Di dalam perutku seolah ada kupu-kupu. Mrs. Mrs. Udara dipenuhi bau cat segar dan produk pembersih. Aku sudah sangat sering melakukannya sehingga tidak merasa gugup lagi.” Aku menarik napas dalam dan berkata. Aku tidak mengerti kenapa.” “Oh. Aku lega karena ia tidak bertanya lebih lanjut. dan kau sudah memilih kelas astronomi dengan Mrs. Setiap sekolah memiliki satu. Burton mempersilakanku duduk di bangku kosong di tengah ruangan di antara dua orang murid lain. Burton. apa pun sebutannya. Selamat datang. Kuharap wajahku tidak merah. Sebagian besar loker dihiasi spanduk dukungan bagi tim football. “Mrs. Burton. Kaki kananku gemetar. Masih ada setengah jam di jam pelajaran kedua. Burton. maaf mengganggu. mari beri sambutan hangat untuknya.” kataku. penuh dengan minyak rambut. Aku menjabat tangannya. Setelah Mr. “John Smith. Semua mata memandangku. dan ditata sedemikian rupa sehingga mencuat tegak ke segala penjuru. Sepatunya berbunyi di atas lantai yang baru digosok. Aku menarik napas dalam dan mencoba menyingkirkan perasaan itu. Mr. Ruangan dipenuhi tawa terkekeh. Harris menutup pintu. Aku jawab tidak. Burton. Saat aku lewat. “Ada apa?” tanyanya. “Kami senang menerimamu.” “Terima kasih. Harris membuka pintu dan aku masuk ke dalam.” Semua orang bertepuk tangan. Burton berbalik. Mark menjulurkan kaki untuk menjegalku.” jawab Mrs. Mata kami saling terkunci sampai akhirnya dia mendesah dan memalingkan muka. Aku hanya perlu berinteraksi secukupnya dengan mereka agar tetap misterius tanpa membuat diriku tampak aneh dan menonjol. beringsut di kursinya. Burton berdiri di depan kelas.” kataku. Setelah beberapa saat. Tanganku terasa lebih hangat. “Jadi?” Mark mencengkeram meja dengan kuat tapi tetap diam.” Aku tahu bahwa aku harus mengikuti nasihat Henri dan mengabaikan apa yang baru terjadi. Sarah menoleh ke belakang.” kataku mengejek lalu berjalan ke bangkuku. Jika dia mencoba kabur dengan naik mobil. Hari ini aku melakukannya dengan sangat buruk. Aku menoleh ke belakang melihatnya. Aku melihat tempat dudukku. Burton dan memandang murid-murid lain. Mark James duduk tiga meja di depanku. lalu balas menatapku. Sekelompok orang baru. “Tidak ada. tapi langsung mengabaikannya. berbaur dengan lingkungan dan hidup di bawah baying-bayang. lalu menatap Mark kembali. Aku ingin balas tersenyum tapi yang kulakukan hanya diam. Pendengaranku jauh lebih baik daripada pendengaran manusia jika aku memusatkan perhatian. Kami pintar melakukan itu. Namun kenyataan bahwa Sarah pernah berkencan dengan Mark dan sekarang duduk dengannya membuatku bertanya-tanya. Burton di belakangku. Tapi aku merasa agak kurang waspada dan gelisah. Sebagian besar dari mereka masih menatapku saat aku duduk di antara gadis berambut merah dengan wajah berbintik-bintik dan pemuda kegemukan yang ternganga memandangku. Perutku masih terasa berdenyar-denyar seakan ada kupu-kupu beterbangan di dalam. Kami saling melotot. Namun di samping keinginan berlebihan itu. Dia tampak agak bingung. aku akan menjaga jarak dengan mereka. . Seluruh kelas menyuarakan erangan mencemooh. Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya pelan-pelan. aku bisa menyusul mobilnya dan melemparkannya ke atas pohon. Sarah tersenyum hangat ke arahku. aku sudah melontarkan pertanyaan itu. seperti yang biasa kulakukan di masa lalu. dan kakiku masih gemetaran mengganggu. Mark berbisik sekali lagi kepada Sarah. Setelah itu dia menjelaskan mengapa ada cincin yang mengelilingi Saturnus dan bahwa cincin itu sebagian besar terdiri atas debu dan partikel es. Sebelum sempat berpikir dua kali. kata-kata Henri bergema di benakku: “Jangan terlihat menonjol atau terlalu menarik perhatian. Namun aku begitu bingung melihat senyuman Sarah sehingga tidak berusaha mendengarkan kata-kata Mark. Aku bisa melemparkannya ke negara bagian tetangga. Mrs. Seperti biasa. aku berhenti mendengarkan Mrs. Murid-murid lain tidak tahu harus bereaksi bagaimana. di atas tulisan tahun. Aku benar-benar bisa mematahkannya menjadi dua jika mau.” “Ada apa?” tanya Mrs.di atas sepasang mata hitam. tiga meja dari sana. Ia tampak tenang. “Kau menjulurkan kaki saat aku lewat. “Apa kau menginginkan sesuatu?” Mark memalingkan muka dan memandang sekeliling ruangan. “Maksudmu?” tanyanya. Ia menoleh ke belakang sekali dan melihatku lalu membisikkan sesuatu ke telinga Sarah. Dari jaket football-nya aku tahu bahwa dia murid kelas tiga dan namanya tertera. Andai tadi aku mendengar apa yang Mark katakan. Dan kau menubrukku di luar. Aku kembali menatap Mark. Aku pikir kau mungkin menginginkan sesuatu. “Sudah kuduga. dengan huruf sambung yang disulam dengan benang emas. tapi Sarah menggelengkan kepalanya dan mendorong Mark menjauh. “Ada apa. heran. Begitu ia menyentuhku. Tapi apa yang mungkin terjadi? Kami tidak bisa dibunuh secara acak. Sebentar lagi kelas berakhir. Awalnya aku takut ada sesuatu yang terjadi pada salah satu dari kami. memandangi Sarah sambil berharap itu akan membuat pikiranku teralihkan. Dua delapan. Lalu seseorang mendorongku. Aku membuka tanganku. Aku menarik napas dalam sekali lagi. Aku langsung berdiri dan keluar kelas. Tapi jika sesuatu terjadi. Lima menit berlalu. Aku terlalu pusing untuk mengetikkan kata- kata lain. Mrs. Aku memandangnya. Aku mengeluarkan ponsel dari tas dan mengirimkan pesan berbunyi KESINN. Aku merasa seperti akan pingsan. lalu membukanya kembali. . Jagoan?” Aku terdorong beberapa langkah lalu menatap balik. tiga sembilan. tersenyum ke arahku. aku pasti merasakannya pada goresan di pergelangan kakiku. lokerku ada di kananku. Rasanya seolah sesuatu akan meledak di tanganku. lima delapan. Jika aku bisa keluar dari sini. padahal aku ingin mengetik KE SINI. Aku mulai menghitung detik demi detik: enam puluh. Kau melihat anak baru bicara denganku dan kau langsung berantem dengannya. “Nggak begitu jago tanpa guru.” jawabku. Sarah melangkah ke depan Mark. Beruntung sekali. “Ada masalah?” tanyanya. bergegas melewati murid-murid lain. Delapan. Bel berbunyi. Telapak kiriku berwarna merah terang. lima sembilan. Aku melirik jam di dinding. dua tujuh. “Yang benar saja. Empat puluh. Aku menggelengkan kepala saat sadar bahwa tas dan ponselku tertinggal di kelas karena terburu-buru keluar. ya?” Kakiku terlalu goyah. Dan tanganku seakan terbakar. Lalu napasku tercekat. Mark mendorongku lagi. “Ini nggak ada hubungannya denganmu. Aku mengeluarkan jadwal pelajaran dari saku belakang dan mengecek nomor lokerku. Tanganku sangat panas dan gemetar. Mark berdiri di sana. Tapi apakah itu berarti mereka bisa disakiti dengan cara lain? Apakah tangan kanan seseorang dipotong? Aku tidak bisa mengetahuinya. Kepalaku berputar. Sekarang tanganku terasa geli seolah jarum-jarum kecil ditusukkan ke dalam telapak tanganku. Apa pun yang kualami sekarang justru terjadi pada saat yang salah. Telapak tanganku berkeringat dan mulai memanas. takjub.” kata Mark. Setelah beberapa saat. Aku berkonsentrasi menghitung. Paku yang diletakkan di atas kompor dan dipanaskan hingga berpijar. Sarah menunduk untuk membantuku. tanganku terasa terbakar dan kepalaku seolah disambar petir. aku bisa mencari ruangan kosong dan menelepon Henri lalu bertanya apa yang terjadi. Aku mengepalkan tangan. Aku berhenti dan menyandarkan kepala di pintu logam lokerku. Pandanganku mengabur.” katanya. Pasti ini kemunculan Pusaka pertamaku. Lalu aku sadar. empat belas. Aku merasa pusing.Aku membuka dan menutup tanganku. “Jangan ganggu dia. Aku tersandung kakiku sendiri dan jatuh. kemudian sepuluh. Aku mengepalkan tangan.” Aku berusaha berdiri. Itu akibat mantra pelindung. Aku terus berjalan di lorong dan tidak tahu harus ke mana. Burton masih berbicara tapi aku tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku membuka mata dan menatap ke depan. Aku mengepalkan tangan dan meletakkannya di pangkuan. Ini salah satu alasan kenapa kita putus. Aku bisa merasakan seseorang mengikutiku. tangan kananku masih bersinar. kakiku goyah. “Nggak. Memandang Sarah malah membuatnya semakin parah. Sekarang jarum-jarum itu terasa seperti paku. tujuh. Ada sinar yang keluar dari telapak tanganku. sinar itu tampak semakin terang. Lima belas. Aku membuka mata dan melihat pijaran di tanganku menyebabkan seluruh ruangan terang benderang. Aku memandang kedua tanganku. “Apa perlu kupanggilkan ambulans?” “Tidak!” Henri masuk ke kamar gelap dan menutup pintu. namun cahaya terus memancar dari sela- sela jariku. “Semua baik-baik saja?” tanya Mr. Satu-satunya suara di muka bumi yang ingin kudengar. yang berpotongan dengan pintu masuk utama sekolah. Cahaya di tangan kananku begitu terang sedangkan yang di tangan kiriku berkelap-kelip redup seolah sedang mengumpulkan keberanian. Aku berayun ke depan dan ke belakang di lantai. Sejak pertama kali melihat cahayanya. Suara Henri. Untung ada kuncinya. menandakan jam pelajaran berikut dimulai. Di belakangku terdengar Mark berteriak kepadaku. Aku mengepalkan tangan. Apa yang akan mereka pikirkan mengenai cahaya di tanganku? Tidak mungkin disembunyikan. yang termasuk lokasi berbagai ruangan di sekolah. Aku berada di kamar gelap. Aku berlari menuju ruangan itu secepat yang kubisa.” jawab Henri. Lalu Henri mengeluarkan sarung tangan kulit untuk berkebun . Aku tiba di ujung lorong. Satu menit? Sepuluh menit? Bel bordering. Kuharap dia sedang ke sini. Aku membuka pintu pertama yang kutemukan dan menutupnya. nanti. Harris.” desahnya.AKU MERANGKAK KE PINTU DAN MEMBUKA KUNCINYA. terpujilah Lorien. Aku terus berayun dengan mata dipejamkan rapat-rapat. tapi terlalu pusing sehingga terjatuh kembali ke lantai. tapi aku merasa seperti akan pingsan. Namun pintu itu dikunci dan tidak ada yang bisa masuk ke dalam. Aku dibanjiri rasa lega. ruangan marching band. Telapak kananku bersinar terang. dan Sarah berteriak kepada Mark. Aku membuka tanganku. Kepalaku berputar dan tanganku terbakar. cahayanya mulai mengumpul. Suara- suara teredam yang tidak bisa kupahami. mencoba menghalangi cahayanya. Aku duduk di lantai. “Segalanya baik-baik saja. Telapak kiriku berkelap- kelip redup dan panasnya tak tertahankan. Namun aku tidak tahu bahwa aku harus mengalami ini. Tangan kananku masih berpijar dan berdenyut. Aku begitu senang melihatnya sehingga ingin meloncat dan memeluknya. Aku memang mencoba melakukan itu. yang langsung aku putar. “Ahh. Pintu berayun terbuka. tampaknya tadi ia membereskan bagian luar rumah. Aku menutup mata dan memeluk diriku. Harris yang berdiri di belakang Henri. tanganku selalu kukepalkan. Pita negatif film bergantungan. Henri tersenyum lebar. Pintu terus diketuk. dan mengurus Mark. Wajahnya bersinar bagai mercusuar. Ia menunduk memandang tanganku. dan ruangan seni ada di ujung lorong ini. Aku mulai panik. Lalu pintu itu mulai berguncang. Pintu bergetar beberapa kali. Tolong tinggalkan kami sebentar. auditorium. Aku mengingat orientasi Mr. Aku akan berterima kasih kepada Sarah. Sekarang aku hanya perlu mencari ruangan dengan kunci di pintu. Aku tahu semua orang akan berpikir bahwa aku pengecut karena melarikan diri. Aku bisa mendengar orang berbicara di luar. Jika aku tidak salah ingat. keringat membakar mataku. Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu.” terdengar sebuah suara. Kedua tanganku terasa sakit luar biasa. Aku harap Henri di sini. Aku tahu bahwa Pusakaku akan muncul. Henri mengenakan pakaian berkebun dan berlumuran kotoran. Aku jatuh ke lantai. seluruh tubuhku sakit.Aku berbalik dan mulai berlari ke arah yang berlawanan dari kelas astronomi. Bagaimana aku menjelaskannya? “John? Buka pintunya―ini aku. “Dasar orang aneh. Aku menyeka keringat dari kening dan mengikuti Henri keluar dari kamar gelap. dia imut. Mr. “Beruntung sekali aku tadi sedang sibuk bekerja di halaman.” kata Henri kepada Mr. Untungnya Sarah tidak ada di antara mereka. Tapi kenapa pakai cahaya?” “Nanti kita bahas di truk. Selama dua puluh langkah terakhir. satu langkah demi satu langkah. aku mengalungkan lenganku di bahu Henri lagi. “Kau bilang tujuh belas?” “Ya. Harris masih berdiri di lorong.” Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya.” Aku mengalungkan lengan kananku di atas bahu Henri. Walaupun bel kedua sudah berbunyi. Henri menahan pintu itu agar terbuka untukku.” jawab Henri.” “Apa dia sekolah di sini?” “Kuharap begitu. Mr.” Henri menutup pintu dan berjalan kembali ke gedung sekolah. Henri membuka pintu truk dan aku beringsut naik ke dalam.dari saku belakangnya. yang diparkir di depan. Aku berusaha berjalan sendiri ke truknya.” “Kita ke truk.” “Seharusnya kau terus membawanya. tapi kenapa ini?” “Pusaka pertamamu. “Mr. aku masih bisa mendengar suara orang-orang di lorong. setelah itu aku akan mengambilnya. Aku mencengkeram lengannya untuk bersandar. “Kau harus berjalan tegak dan senormal mungkin. Pakai ini. Kekeliruan kecil bisa berakhir pada kesalahan besar. Pintu keluar sekolah masih tiga puluh meter lagi. “Di mana?” “Kutinggalkan di kelas. Sekitar dua puluh orang masih berkerumun di lorong. lalu kembali menatapku. segalanya baik-baik saja. yang cukup membantu jika ingin berkonsentrasi saat keadaan di sekeliling ribut dan kacau. “Kepala sekolahmu suka ikut campur. Orang-orang berbisik.” “Menurutmu ngapain dia di kamar gelap sampai mukanya merah begitu?” celetuk seseorang dan semua tertawa. Satu langkah terasa bagai sepuluh langkah. tapi akhirnya kami sampai di pintu. “Asmanya kambuh. Sebagian besar membawa kamera di leher. Henri menyokongku dengan mengalungkan lengan kirinya di pinggangku.” Aku menarik napas dalam-dalam. Harris sambil berjalan melewatinya.” kataku. Maaf. Aku duduk tegak dan . “Ayo.” kataku.” “Nomor berapa?” “Tujuh belas. Jadi aku menulikan diri dan berjalan pelan di belakang Henri.” Henri membantuku berdiri. masih gemetar. Aku masih bisa merasakan keringat di keningku. Aku mencoba mengumpulkan sisa kekuatanku untuk mengatasi perjalanan panjang keluar sekolah. “Aku harus mengambil tas sebelum kita pergi. Aku berjalan semantap yang kubisa. Aku goyah.” “Iya. aku tahu. Seperti kami bisa menajamkan pendengaran. “Aku paham apa yang terjadi. Berarti banyak sekali langkah. menanti agar bisa masuk ke dalam kamar gelap untuk kelas fotografi. Smith? Apa keadaan baik-baik saja?” “Ya. kami juga bisa menulikan diri. parah. Aku duduk membungkuk dan mencoba memelankan napasku. Beri kami waktu tiga puluh detik.” “Aku tahu. Kau bisa jalan?” “Kurasa bisa. Harris membuka pintu dan menjulurkan kepala ke dalam.” Aku memakai sarung tangan yang langsung menyembunyikan cahaya dari tanganku. Kita tidak boleh melakukan kekeliruan sedikit pun. setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan kepintaran dan bersembunyi sebagai pertahanan melawan Mogadorian. Dia tidak pernah memberitahuku apa yang ada di dalam peti itu. hanya saja lebih terang. Dia berjalan mengelilingi truk. Aku anak baru. kain penutup perabotan sudah disingkirkan dan sebagian perabotan malah sudah dibersihkan. Aku memasang sarung tangan kembali dan menatap Henri. “Sialan. “Kau belum bisa memahaminya. Henri balas menatapku. “Segera. “Sebaiknya pakai sarung tangan itu sampai kita tiba di rumah. “Sama-sama. selanjutnya apa? Apa ini berarti aku bisa menembakkan laser dari tanganku atau apa?” Henri menyeringai. Cahaya di tangan kananku mulai berkumpul membentuk sorotan seperti senter.” Aku tertawa. Tangan kiriku masih berkelap-kelip redup. “Ha?” tanyaku. Henri keluar dari sekolah sambil membawa tasku. Aku meletakkan tas di atas meja di ruang tamu dan membukanya. “Penantian yang sangat lama. Rasa panasnya mulai berkurang.” katanya. Di dalam.” Lalu aku teringat sesuatu yang hampir membuatku terlonjak dari tempat duduk. kata-kata semacam itu bukan salah satunya.” Henri mengeluarkan telepon genggamnya dari saku . apakah aku harus berbalik dan menyorotkan cahaya ke mata mereka? Memangnya itu bakal bikin mereka takut padaku atau semacamnya?” “Sabar. membuka pintu. dan melemparkan tasku ke kursi. Dan Henri selalu merahasiakannya. kau baru satu setengah jam di sekolah. mataku agar berair. Gelombang frustrasi menyapuku. Mungkin dia yang ambil. aku langsung tahu bahwa tadi Henri sibuk bekerja.” katanya lagi. akhirnya Pusaka pertamaku muncul. Tunggu sampai kita di rumah.” Setelah kami keluar dari halaman sekolah. tapi bukan itu. Saat kami tiba di rumah. “Apa?” “Ponselku hilang.” “Namanya juga SMA. Kok bisa-bisanya kau sudah cekcok dengan orang? Harusnya kau tahu apa yang kau lakukan. Gampang. pikirku. Peti kayu dengan ukiran rumit itu menghantuiku seumur hidup. Dari segala hal yang Henri pelajari dan kuasai selama ini di Bumi. Peti itu juga tidak mungkin dibuka. Peti itu dikunci menggunakan gembok yang tidak memiliki lubang kunci. “Terima kasih. “Yeah. “Jadi.” kataku. tentunya tanpa hasil. dengan simbol Loric di sisi- sisinya. aku tahu karena sudah berkali-kali mencoba.” “Lalu apa yang harus kulakukan dengan cahaya? Kalau aku dikejar. aku tersenyum. Ia tersenyum bangga.” “Di mana?” “Pagi ini aku cekcok sedikit dengan anak bernama Mark James.” “John. Tiga kursi di beranda depan sudah disingkirkan dan semua jendela sudah dibuka.” kata Henri. “Apa ini berarti kita akhirnya bisa membuka Peti itu?” Henri mengangguk dan tersenyum. tadi aku bilang itu. “Benar-benar penantian yang lama banget.” kataku. Peti itu adalah sebuah kotak yang tampak rapuh. Wajahku lebih merah daripada yang kukira. Setelah bertahun- tahun menanti. “Penantian yang lama.menurunkan pelindung matahari agar bisa bercermin.” Henri berbelok ke jalan yang menuju rumah kami.” “Keren!” kataku. Tapi walaupun merasa sakit dan lelah. “Pasti bagus sekali kalau begitu. Akhirnya. “Menunggu kemunculan Pusakamu.” kata Henri. aku melepaskan sarung tangan dan mengamati tanganku.” aku membetulkannya. ’” “Bukan apa-apa. Aku tidak tahu mengapa dia masih bisa berdiri. “Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada yang kukenal. lelaki atau perempuan. Kepindahan kami yang terlalu sering membuatku lelah. Nanti kita bicara. Pusaka pertamamu muncul.” Henri memandang berkeliling rumah dan mendesah. Tanganku masih sama seperti sebelumnya. Aku muak selalu menengok ke belakang untuk melihat apakah aku dibuntuti. Dia juga tampak loyo seolah bakal pingsan kapan saja karena lelah. “Tidur mungkin bagus bagiku. aku mencoba membayangkan siapa mereka. “Ini bukan saatnya bertindak ceroboh. Hanya perselisihan kecil.dan memutar nomorku. Tanganku masih ditutupi sarung tangan. kau tampak lelah setengah mati. “Tak ada. Rambutnya berantakan. Henri biasa menggunakan nada seperti itu saat merenungkan langkah selanjutnya. Matahari ada di balik pepohonan dan angin segar bertiup pelan. Tidurlah. Jelas bukan masalah yang cukup besar sehingga kita harus pindah ke Idaho. Itu nggak bisa disebut ‘berbaur. atau ke mana pun. “Aku sedang tidak bisa berpikir jernih.” “Banyak yang harus kita bicarakan. Mungkin ponselku terjatuh saat aku memasukkannya ke tas.” Henri menyipitkan mata dan merenungkan apa yang baru dia saksikan. Aku meraih ke bawah dan merasakan tiga goresan di pergelangan kaki kananku. Dan sekarang tidak mungkin untuk berbaur atau tinggal di satu tempat selama beberapa waktu. Dia berusaha memutuskan apakah kesalahan itu cukup besar sehingga kami harus pergi. “Henri.” “Kau di sekolah selama satu setengah jam. atau Kansas.” “Tangan si murid baru tidak menyala di setiap sekolah. Mungkin aku bisa menemukannya di bagian barang hilang.” Aku mendesah. di mana mereka tinggal. kau hampir berkelahi.” “Aku belum pernah melihat kau selelah ini. “Tiap hari perbedaan pendapat selalu terjadi di sekolah mana pun. lebih merah daripada saat mengantarku ke sekolah tadi pagi. dan memberi mereka nomor. Aku berjalan keluar dan mondar-mandir di halaman sebentar. Saat meraba goresan di pergelangan kakiku. Aku tidak mungkin memiliki teman atau setidaknya merasa berhasil menyesuaikan diri. Lalu ia menutup telepon genggamnya. Tiga lingkaran mewakili tiga yang mati. Kami terikat satu sama lain bukan hanya karena kami satu bangsa.” katanya. Aku mencoba mengingat anak-anak lain yang saat itu satu pesawat denganku. Terakhir kali Henri tidur saat di Florida. dan kau meninggalkan tas di kelas. dua hari lalu. Sebagian diriku yang lain merasa hancur. “Apa ada yang melihat tanganmu?” Aku menatap Henri.” kataku.” Henri mengangguk. hanya sebagian diriku yang senang karena Pusaka pertamaku akhirnya muncul setelah bertahun-tahun menanti dengan tidak sabar. Sebenarnya.” katanya. Aku jamin mereka tidak akan melacak kita hanya karena seorang murid sok jago menindas murid baru. walaupun aku tahu kejadiannya bukan begitu. Kita putuskan nanti setelah kau bangun. Aku melepaskan sarung tangan dan memasukkannya ke saku belakangku. Aku muak dengan nama-nama palsu dan berbagai kebohongan. Aku berpikir . “Dimatikan. berapa usia mereka saat mereka meninggal. tapi lebih dari itu.” *** Henri pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Tidurlah beberapa jam. “Pastinya.” Henri memelototiku. Matanya merah. “Tak ada. seperti biasanya.” katanya sambil mengedipkan mata. Jam tangannya menunjukkan pukul 11:36. biasanya saat orangtua mereka berusia dua puluh lima dan tiga puluh lima. “Sinar di tanganku. Kau pasti bisa mengontrol cahaya itu sebentar lagi. Aku tahu dia sedang memeriksa berita-berita.” “Kuharap begitu. “Kau tahu apa yang kau miliki?” tanya Henri. “Namanya Lumen. Lagi pula. pasti mereka tidak seceroboh itu. Angka harapan hidup para Loric adalah sekitar dua ratus tahun. “Kau ingat kakek dan nenekmu?” tanyanya. Itu menggangguku. Aku keluar dari kamar.” “Jadi yang lain apa?” Henri berjalan ke kamarnya dan kembali sambil membawa pemantik. AKU MASUK LALU BERBARING DI ATAS KASUR di kamarku. matahari sudah pindah ke atas pepohonan.” “Ada yang penting?” tanyaku. Tapi kami selalu berada di depan mereka karena kami selalu pindah. tapi aku tahu bahwa itulah alasan mengapa kami masih tetap hidup. Saat aku membuka mata kembali. Dan di pergelangan kaki satunya ada bekas luka lain. pasti mereka mempercepat pencarian. Walaupun aku muak dengan pelarian ini. Aku mengangkat telapak tanganku. “Hanya sebentar. jika itu salah satu dari kita.” Aku tertawa. Bekas luka penanda saat kami dimantrai dengan mantra pelindung Loric secara tergesa-gesa sebelum meninggalkan Lorien. jauh lebih lama daripada manusia.” “Lumen itu lebih daripada sekadar cahaya. Jika kami berhenti. Kami jarang sekali bertemu orangtua kami hingga berusia dua puluh lima tahun. Mengerikan rasanya mengetahui bahwa akulah yang berikut. Ada yang lain?” “Tak ada. Kami di Ohio baru setengah hari dan sudah begitu banyak yang terjadi. Henri mengangkat bahu. Mereka pasti tahu bahwa kami semakin kuat. Tapi aku masih tak tahu apa gunanya. “Aku yakin yang lima belas tahun itu bukan orang kita. Internet sudah bisa digunakan dan aku belum memeriksa berita sejak di Florida. mencari informasi atau cerita yang bisa memberi petunjuk mengenai keberadaan yang lain. bahwa Pusaka kami telah muncul. Henri duduk di meja dapur dengan laptop terbuka. Cap yang mengikat kami semua. para orangtua terus mengasah Pusaka mereka. Ia menutup komputernya dan meletakkan tangan di meja. Selamat setelah jatuh dari lantai empat bukan hal luar biasa. Dan karena berikutnya giliranku. “Bisa tidur?” tanyaku. Sementara itu. saat kami telah memiliki anak sendiri. “Seorang bocah empat belas tahun di Afrika jatuh dari jendela lantai empat dan tak terluka sedikit pun. para sepuh atau kakek neneklah yang membesarkan anak-anak itu. Ada bocah lima belas tahun di Bangladesh yang mengaku sebagai sang Messiah. Peristiwa pagi tadi membuatku lelah.” Henri terkekeh. mereka akan menemukan kami. Kakek dan nenek adalah orang yang membesarkan kami. Seperti apa rasanya jika nasib seluruh bangsa kami tidak digantungkan pada keselamatan kami yang hanya sedikit ini. Dijamin. . Lalu saat anak-anak lahir. Aku tersenyum dan duduk di depan Henri. Aku membiarkan mataku menutup. karena penyamaran kita akan terbongkar jika cahaya ini tidak segera padam. Seperti apa rasanya jika kami semua tidak menghadapi musuh yang berniat menghabisi kami. Keduanya lebih redup dibandingkan terakhir kali aku melihatnya.seperti apa rasanya bertemu dan bergaul dengan mereka. Seperti apa rasanya jika kami semua masih di Lorien. melarikan diri. “Sedikit. Kenapa?” “Karena kakekmu memiliki Pusaka yang sama.” “Aku tidak ingat tangannya pernah bersinar,” kataku. Henri mengangkat bahu. “Mungkin tidak ada alasan untuk menggunakannya.” “Luar biasa,” kataku sinis. “Kedengarannya ini Pusaka yang luar biasa untuk dimiliki. Pusaka yang tidak akan pernah kugunakan.” Henri menggelengkan kepalanya. “Kemarikan tanganmu.” Aku memberikan tangan kananku. Henri menyalakan pemantik dan menggerakkannya hingga api menyentuh jariku. Aku langsung menarik tanganku. “Apa yang kau lakukan?” “Percayalah kepadaku,” katanya. Aku memberikan tanganku kembali kepada Henri. Henri menahan tanganku dan menyalakan pemantik lagi. Ia menatap mataku. Lalu ia tersenyum. Aku memandang ke bawah dan melihat lidah api di ujung jari tengahku. Aku tidak merasakan apa pun. Namun naluriku menyebabkan aku menyentakkan tangan dan menariknya. Aku menggosok jariku. Rasanya tidak berbeda. “Kau merasakannya?” tanya Henri. “Nggak.” “Kemarikan tanganmu,” kata Henri. “Dan beritahu aku jika kau merasakan sesuatu.” Dia mulai dari ujung jariku lagi lalu menggerakkan api dengan sangat pelan ke punggung tanganku. Aku merasa agak geli di tempat lidah api itu menyentuh kulitku, hanya itu. Namun saat api itu mencapai pergelangan tangan, aku mulai merasa terbakar. Aku menarik tanganku. “Aw!” “Lumen,” kata Henri. “Kau akan menjadi tahan api dan panas. Tanganmu sudah tahan api secara alami, tapi kita harus melatih bagian tubuhmu yang lain.” Senyum melebar di wajahku. “Tahan api dan panas,” kataku. “Jadi aku nggak akan bisa terbakar?” “Nantinya, ya.” “Keren!” “Bukan Pusaka yang buruk, kan?” “Jelas,” aku setuju. “Lalu bagaimana dengan sinar ini? Apa sinar ini bakal padam?” “Pasti. Mungkin setelah tidur malam yang nyenyak, saat kau lupa bahwa tanganmu bersinar,” jawab Henri. “Tapi sementara waktu kau harus hati-hati agar tidak terlalu emosi. Ketidakseimbangan emosi akan menyebabkan tanganmu bersinar lagi, misalnya jika kau terlalu gugup, marah, atau sedih.” “Berapa lama?” “Sampai kau belajar mengendalikannya.” Henri menutup mata dan menggosok wajah dengan kedua tangan. “Ngomong-ngomong, aku mau coba tidur lagi. Kita akan membahas latihanmu beberapa jam lagi.” Setelah Henri pergi aku tinggal di meja dapur, membuka dan menutup tangan, menarik napas dalam-dalam dan mencoba menenangkan semua perasaanku agar cahaya itu meredup. Tentu saja tidak berhasil. Seisi rumah masih berantakan, kecuali di beberapa bagian yang Henri bereskan saat aku di sekolah. Aku tahu bahwa Henri lebih suka untuk pergi, tapi dia masih bisa dibujuk untuk tinggal. Mungkin jika dia bangun dan mendapati rumah bersih dan rapi, dia setuju jika kami tinggal. Aku mulai membereskan kamarku. Aku membersihkan debu, mengelap jendela, menyapu lantai. Saat semuanya bersih, aku memasang seprai lalu meletakkan bantal dan selimut di tempat tidur. Setelah itu aku menggantung dan melipat pakaianku. Lemari pakaianku tua dan rapuh, tapi aku tetap memasukkan barang ke dalamnya. Setelah itu, aku meletakkan beberapa buku milikku di atasnya. Dan bereslah. Kamar sudah bersih. Semua barang yang kumiliki sudah disimpan rapi. Aku pergi ke dapur, menyingkirkan piring dan mengelap konter. Setidaknya ada yang kulakukan sehingga bisa melupakan tanganku, walaupun saat bersih-bersih itu aku memikirkan Mark James. Untuk pertama kalinya aku berani melawan orang. Aku selalu ingin melakukan itu. Namun aku tidak pernah melakukannya karena ingin menuruti nasihat Henri untuk tidak menarik perhatian. Aku selalu mencoba menunda tindakan lain sebisa mungkin. Tapi hari ini beda. Ada rasa puas saat balas mendorong ketika ada orang yang mendorong kita. Lalu ada masalah dengan ponselku, yang dicuri. Tentu saja kami bisa mendapatkan yang baru dengan mudah, tapi di mana letak keadilan kalau aku membiarkan ponselku diambil begitu saja?AKU BANGUN SEBELUM ALARM BERBUNYI. RUMAH terasa dingin dan sepi. Aku mengeluarkan tangan dari bawah selimut. Keduanya tampak normal, tidak ada sinar, tidak ada cahaya. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke ruang tamu. Henri ada di meja dapur, membaca surat kabar lokal sambil minum kopi. “Pagi,” katanya. “Bagaimana perasaanmu?” “Luar biasa,” jawabku. Aku menyiapkan semangkuk sereal dan duduk di depannya. “Apa rencanamu hari ini?” tanyaku. “Mengurus rumah. Uang kita menipis. Aku berniat untuk mengambil uang dari bank.” Lorien adalah (atau dulunya, tergantung bagaimana kau memandangnya) sebuah planet yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu sumber daya alamnya adalah permata dan logam berharga. Saat kami pergi, setiap Cêpan mendapatkan satu karung penuh intan, zamrud, dan batu mirah delima untuk dijual saat tiba di Bumi. Henri menjual permata-permata itu dan menyimpan uangnya dalam sebuah rekening bank di luar negeri. Aku tidak tahu berapa jumlahnya dan juga tidak pernah bertanya. Tapi aku tahu jumlahnya cukup untuk menyokong hidup kami paling tidak sampai sepuluh turunan. Henri mengambil uang dari bank setidak-tidaknya setahun sekali. “Tapi entahlah,” lanjutnya. “Aku tak ingin berada terlalu jauh kalau-kalau terjadi sesuatu hari ini.” Karena tidak ingin memperbesar masalah kemarin, aku menepis keraguannya. “Aku akan baik-baik saja. Pergilah.” Aku memandang ke luar jendela. Fajar merekah, menyirami segala hal dengan cahaya pucat. Truk kami diselimuti embun. Sudah lama kami tidak mengalami musim dingin. Aku bahkan tidak memiliki jaket dan sebagian besar sweater-ku sudah kekecilan. “Sepertinya dingin,” kataku. “Mungkin kita bisa pergi membeli pakaian dalam waktu dekat.” Henri mengangguk. “Aku berpikir tentang itu semalam. Itu sebabnya mengapa aku perlu ke bank.” “Pergilah,” kataku. “Hari ini tidak akan terjadi apa- apa.” Aku menghabiskan serealku, memasukkan mangkuk ke bak cuci piring, lalu mandi. Sepuluh menit kemudian aku sudah berpakaian, celana jins dan kaus hangat hitam dengan lengan digulung hingga siku. Aku menatap cermin lalu menunduk memandang tanganku. Aku merasa tenang. Sebaiknya tetap begitu. Dalam perjalanan ke sekolah, Henri memberikan sepasang sarung tangan kepadaku. “Pastikan kau menyimpan ini sepanjang waktu. Kita tak pernah tahu.” Aku memasukkan sarung tangan itu ke saku belakang. “Rasanya aku tak memerlukan sarung tangan. Aku merasa cukup baik.” Saat tiba di sekolah, ada barisan bus di depan kami. Henri menepi di samping gedung sekolah. “Aku tak suka kau tak punya ponsel,” katanya. “Banyak hal buruk yang bisa terjadi.” “Jangan khawatir. Ponselku bakal kembali.” Henri mendesah dan menggelengkan kepala. “Jangan melakukan hal bodoh. Aku tunggu di sini seusai sekolah.” “Tak akan,” jawabku. Lalu aku keluar dari truk. Henri pergi. Di dalam, lorong dipenuhi berbagai kegiatan. Para murid mondar-mandir di dekat loker, mengobrol, tertawa. Sebagian kecil melihatku dan berbisik. Aku tidak tahu apakah itu karena hampir berkelahi atau karena kejadian di kamar gelap. Tampaknya mereka berbisik-bisik mengenai keduanya. Ini sekolah kecil. Di sekolah kecil semua orang tahu segalanya. Saat tiba di pintu masuk utama, aku berbelok dan membuka lokerku. Kosong. Aku punya waktu lima belas menit sebelum pelajaran musik untuk kelas dua dimulai. Aku berjalan ke kelas itu, untuk memastikan letaknya, lalu pergi ke kantor sekolah. Sang sekretaris tersenyum saat aku masuk. “Hai,” kataku. “Aku kehilangan ponsel kemarin. Apakah ada yang melapor ke penitipan barang hilang?” Ia menggelengkan kepala. “Maaf, tapi rasanya tak ada ponsel yang diserahkan kemari.” “Terima kasih,” kataku. Saat kembali ke lorong, aku tidak melihat Mark. Aku memilih satu arah lalu berjalan ke arah itu. Orang- orang masih memandang dan berbisik, tapi aku tidak peduli. Aku melihat Mark lima belas meter di depanku. Aku merasakan adrenalin menyerbu. Aku menunduk memandang tanganku. Normal. Aku khawatir tanganku menyala, dan rasa khawatir itu mungkin bisa membuat tanganku menyala. Mark sedang bersandar di sebuah loker dengan tangan bersilang di dada, di tengah sekelompok anak, lima laki-laki dan dua perempuan. Mereka semua mengobrol dan tertawa. Sarah duduk di ambang jendela sekitar lima meter dari situ. Sarah tampak berbinar hari itu, dengan rambut pirang diekor kuda serta rok dan sweater abu-abu. Ia sedang membaca buku. Namun Sarah menengadah saat aku berjalan ke arah Mark dan teman-temannya. Aku berhenti tepat di luar kerumunan itu, menatap Mark, dan menunggu. Dia baru menyadari kehadiranku setelah lima detik. “Mau apa kau?” tanyanya. “Kau tahu aku mau apa.” Mata kami saling terkunci. Kerumunan di sekitar kami membengkak menjadi sepuluh orang, lalu dua puluh. Sarah berdiri dan berjalan ke tepi kerumunan. Mark mengenakan jaket football-nya. Rambut hitamnya ditata dengan saksama sehingga ia tampak seperti langsung berpakaian begitu bangun tidur. Mark menjauhi loker dan berjalan ke arahku. Saat jarak kami tinggal beberapa senti lagi, dia berhenti. Dada kami hampir bersentuhan dan aroma cologne- nya yang tajam memenuhi rongga hidungku. Tingginya mungkin sekitar 185 sentimeter, beberapa senti lebih tinggi dariku. Besar tubuh kami sama. Tapi dia tidak tahu bahwa kemampuanku berbeda dengan kemampuannya. Aku lebih cepat dan juga jauh lebih kuat daripada Mark. Pikiran itu menyebabkan seringai percaya diri muncul di wajahku. “Menurutmu hari ini kau bisa tinggal di sekolah sedikit lebih lama? Atau kau bakal kabur lagi seperti seorang pengecut?” Kerumunan itu terkekeh. “Kita lihat saja nanti.” “Yeah, kita lihat saja nanti,” katanya sambil bergerak semakin mendekatiku. “Kembalikan ponselku,” kataku. “Aku tidak menyimpan ponselmu.” Aku menggelengkan kepala. “Ada dua orang yang Aku tidak memiliki ponsel dan Henri ke bank. Aku menggelengkan kepala muak dan menerima nasib. Aku menggelengkan kepala. Aku terlalu gugup dan tidak mendengar apa yang guru katakan. Aku sadar bahwa aku harus berhenti mengurusi Mark. lalu ke arah sarung tanganku. Aku yakin dalam sepuluh menit jam pelajaran pertama seluruh sekolah akan tahu apa yang terjadi. Biarkan ia memikirkan jawabannya. ia tidak memperhatikan sarung tanganku. Tangan kananku sedikit bersinar.” aku berbohong. “Ini peringatan buatmu. aku mengangkat tepi sarung tangan kanan dan mengintip telapak tanganku. memusatkan perhatian untuk bernapas dengan pelan. Kedua tanganku hangat.” Aku berbalik dan pergi.” kata Sarah kepadanya. tapi untungnya tangan kiriku masih normal. Semua orang menatapku saat aku masuk. dan kalau memang iya? Kau mau apa?” Sekarang mungkin ada tiga puluh orang yang mengelilingi kami. Henri dan aku akan membeli yang baru malam ini. Karena berusaha tampak keren. Jagoan? Aku dengar tim lari lintas alam sedang cari anggota baru. menatap mata birunya yang membuatku merasa malu dan canggung . Dia boleh memiliki ponselku. “Yeah. Semenit kemudian sinar itu masih ada di sana. Aku berjalan di lorong tanpa terburu-buru. Percuma berusaha berbaur. “Atau apa?” teriak Mark di belakangku. Aku masih memakai sarung tangan. Aku menutup mata dan mendesah. Aku memandang Sarah saat lewat. Aku tidak menanggapinya. Tapi aku tetap tampak seperti orang bodoh. Tidak kusangka Pusaka bisa begitu sensitif.” “Jangan bersikap berengsek. Tidak ada yang berbicara denganku. Bernapas pelan. Aku keluar dari kamar mandi dan berjalan menyusuri lorong kosong menuju kelasku. Tangan kananku masih bersinar. Aku tampak bodoh sekali seperti jika aku memakai sepatu badut dan celana kuning. aku mengumpulkan barang-barangku. Aku ini alien. Aku sendirian dengan kebodohanku dan tidak memiliki orang lain untuk disalahkan kecuali diriku sendiri. Mark duduk di tempat yang sama seperti hari sebelumnya dan Sarah duduk di samping Mark. “Apa kabar. *** Aku duduk di tengah ruangan. Keningku berkeringat. Kenapa aku begitu gugup? Karena situasi yang tidak dapat diramalkan? Kenyataan bahwa ini pertama kalinya aku mengonfrontasi orang lain? Takut tanganku bercahaya? Mungkin ketiganya. Aku tetap di dalam toilet. dan memanggul tas di bahuku. Tak ada gunanya menyembunyikan sarung tangan itu. aku tahu bahwa tebakanku benar. memasukkannya ke tas. dan mengunci pintu di belakangku.” kataku. Saat masuk ke kelas berikut. Aku tampak seperti orang bodoh. Dia menang. Aku mengeluarkan sarung tangan dari saku belakang lalu mengenakannya. Aku diam di dalam toilet. Masih bersinar. Kubuka telapak tanganku. Aku bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa manusia impikan. masuk ke toilet kosong. Akhirnya bel pelajaran pertama berbunyi dan kamar mandi itu kosong. Orang-orang berseliweran di kamar mandi. bukan marah. Mark menyeringai mencemooh ke arahku. Aku pergi ke kamar mandi. “Waktumu hanya hingga akhir hari ini. Saat keluar dari kelas itu. Tanganku terkepal dan aku sadar bahwa sebenarnya aku gugup. Aku memiliki kekuatan super dan masih banyak lagi yang akan muncul. Aku mencoba mengosongkan pikiran tapi tidak berhasil. Sarung tangan berkebun dari kulit. Saat bel berbunyi. Dari caranya mengerutkan dahi. menunggu.melihat kau mengambilnya. sayangnya. Anak itu mengeluarkan buku catatan yang penuh diagram rasi bintang dan planet. Aku menarik napas dalam dan menyingkap bagian pergelangan sarung tangan kanan.serta menyebabkan pipiku menghangat. Sama dengan yang ada di film-film. Ia mengenakan kaus hitam lain dengan logo NASA di tengah. kekurangan pangan―juga pernah Lorien hadapi. celana tentara. lalu aku memalingkan muka. Bumi termasuk salah satunya. Perlahan namun pasti mereka berkomitmen agar Planet Lorien dapat terus dihuni. Di bagian bawah setiap gambar. Dan. . Lorien adalah salah satu dari delapan belas planet di jagat raya yang dapat dihuni. Aku merasa tenang kembali. Pada suatu ketika. Setiap masalah yang Bumi hadapi saat ini―polusi. Dia melihatku dan tidak mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa dia memandangiku. dan menolongnya. Ini terjadi jauh sebelum kami memiliki kemampuan untuk menjelajahi jagat raya. atas penghormatan mereka terhadap planet itu. Karena itu penghuni Lorien harus melakukan sesuatu untuk bertahan hidup. Sinarnya padam! Aku tersenyum dan melepas kedua sarung tangan itu. Dengan adanya evolusi. Kembali normal. dua puluh lima ribu tahun yang lalu. Aku harus tetap tenang sampai semua selesai. penghuni Lorien tertentu―para Garde―mulai memiliki kekuatan untuk melindungi planet itu. dan tidak berurusan lebih jauh dengan Mark. seratus kali lebih tua daripada Bumi. Aku membuka mata dan memandang jam. Hampir sepanjang pelajaran anak di sampingku membuat gambar yang tampaknya merupakan penafsirannya mengenai seperti apa makhluk Mars itu. jadi aku berjalan ke kursi paling belakang. Ia duduk membungkuk di kursinya. Mrs. Saat Mrs. Mrs. tapi Mrs. aku melihat belakang kepala Mark. Burton mematikan lampu dan menyalakan video. Lorien. Mogadore juga termasuk. Aku tetap tenang. “Kenapa kau memakai sarung tangan?” Aku membuka mulut untuk menjawab. Semua murid masuk ke dalam kelas. dengan mata berwarna merah kecokelatan yang tampak semakin besar akibat kacamatanya. yaitu dengan cara mengubah cara hidup mereka. Burton menyalakan lampu kembali. Aku punya enam jam pelajaran lagi pada hari itu. Dia menyadari bahwa aku memperhatikannya. Tubuh kecil dengan kepala. Gambaran planet- planet yang berotasi di layar di depan kelas mengingatkanku kepada Lorien. setelah ribuan tahun. Aku menutup mata dan membiarkan diriku mengingat. Burton sudah mulai mengajar. Lorien tampaknya menghadiahi para leluhurku atas tindakan mereka. Lalu dia menegakkan tubuh dan melemparkan kertas kecil ke Sarah. benar- benar lupa dengan tanganku. tangan. Pelajaran hampir selesai. Itu membuatku tersenyum. Pada akhirnya Planet Lorien mulai pulih kembali. Lorien mulai sekarat. Ia mengangkat bahu. Dia memiliki rambut berwarna pirang seperti pasir dan berantakan. menulis. Sarah menjentikkan kertas itu kembali tanpa membacanya. dia menulis namanya dengan huruf-huruf kecil: SAM GOODE. *** Setengah hari pertama lewat tanpa insiden. dan mata besar. Lorien adalah sebuah planet tua. atau polutan. “Pa kabar?” tanyaku. zat kimia beracun. pemanasan global. Mereka tidak menggunakan benda-benda berbahaya seperti senjata api dan bom. Kursi yang kududuki kemarin sudah terisi. Anak yang memperingatkanku soal Mark kemarin duduk di sampingku. dan sepasang sepatu tenis Nike. overpopulasi. Burton menjelaskan mengenai 61 satelit yang mengelilingi Saturnus. “Sarung tanganmu ke mana?” “Aku lepas.Saat makan siang aku mengisi nampanku dengan makanan biasa. Kevin berdiri dan memandangku. Saat aku membersihkan diri. Wajahku memberengut. lalu Henri dan aku bisa pergi sore ini jika itu yang harus terjadi. Ada kumpulan-kumpulan rambut kemerahan yang tumbuh di pipi dan dagunya. lalu aku menginjaknya dan berjalan ke arah Mark. “Apa benar kau akan berkelahi dengan Mark sepulang sekolah?” tanyanya. Kevin masih meringkuk di lantai memegangi sela pahanya. “Bukan masalahmu. Seluruh kantin hening. Anak-anak.” Sam muncul entah dari mana. Tujuh orang duduk di meja Mark James. Sebagian memercikiku.” “Pasti. Seratus pasang mata menatapku. anak dari kelas astronomi. Tapi tidak mungkin aku membiarkan ini begitu saja. tapi anehnya tanganku tidak bersinar. Potongan- potongan daging yang besar sudah hilang. “Tidak. Dia berbadan besar dengan perawakan seperti penyerang. James. Aku menyentakkan lututku tepat ke selangkangannya.” katanya. mereka tidak akan pernah membiarkanmu. duduk di depanku. Aku berdiri dan mengelap pipi dengan serbet. tapi tiba-tiba sebuah bakso besar―yang aku yakin diarahkan kepadaku―muncul begitu saja dan menghantam kepala Sam. “Jangan. “Kirim dia ke kepala sekolah!” “Diam. Ketujuh-tujuhnya berdiri saat aku mendekat.” “Memangnya kau bisa?” katanya. seseorang menarikku dari belakang. Saat sedang menyantap sepotong pizza. “Hadapi aku dulu sebelum kau menghadapinya. Kalian berempat harus pergi. “Cukup.” Dia mengangkat bahu dan melanjutkan makan. Semenit kemudian dia bertanya. lalu duduk di meja kosong di ujung ruangan.” “Lihat apa yang dia lakukan pada Kevin. Aku berbalik dengan tangan dikepal. “Bangun. tampaknya dia ingin menumbuhkan janggut. Rambut dan bahunya berlumuran potongan daging dan saus spageti. Masalah tadi pagi sudah selesai … yang ini belum. dia juga mengenakan jaket football. Saat mencapai Mark. “Sudah kuperingatkan. Napasnya tercekat lalu dia terguling. Cowok itu menyilangkan lengan dan menghalangi jalanku. kalau kau tidak mau menyingkir.” “Mereka salah. tapi sisa sausnya masih ada. Membuat wajahnya tampak kotor.” “Tapi orang-orang bilang begitu. “Ada masalah?” tanya salah satu dari mereka. Tanganku boleh saja bersinar seterang matahari. Aku tidak tahu mengapa dia ada di situ. Dia mencoba membersihkan rambut dan bahunya.” kata Sam.” Dia membuka mulut untuk menjawab. Johnson. Mukanya merah sekali. bakso kedua terbang dan mengenaiku tepat di pipi. semuanya laki-laki. Tanganku sudah nggak dingin lagi. siap lari jika melihat cahaya setitik. Suara Oooh terdengar di seluruh kantin.” Aku mulai berjalan.” kataku. Apa ini karena situasi yang mendesak. tapi pada detik terakhir aku sadar orang itu ternyata si pelayan kantin.” kataku. gemetar dan masih . Seperti yang lain. siap untuk diayunkan. Seluruh kantin terkesiap. “Jika kau melawan. Sam Goode. Mr. Saat itu aku tidak peduli dengan tanganku. sehingga aku bisa mendekati Mark sebelum sempat merasa gugup? Aku tak tahu. lalu memandang Kevin yang masih di lantai. Aku menunduk menatap tanganku.” kata Mark. amarah menguasaiku. Aku menggeleng. Jangan kira aku tidak melihatmu melempar bakso itu. sulit bernapas. “Kami hanya makan siang. Harris. lalu menghela napas berat.” katanya tersenyum. Otot-otot rahang Mr. “Apa kau perlu ke perawat?” “Aku akan baik-baik saja.” Mr. Bayangkan. begitu juga dengan Mr. “Terima kasih. Mark bicara.” Sam berbicara. Harris kepadaku.” “Aku percaya kepadamu. Aku lebih suka mengurus masalah itu sendiri.” kata si penjaga kantin. Harris mendesah. Aku melihatnya. menarik serbet dari kemeja lalu melemparkannya ke dalam keranjang sampah. “Akan kubalas. yang wajahnya masih merah. Aku menunduk memandang tanganku. Harris. Dia pikir aku pelakunya. “Kalian berdua. “Jadi siapa yang mau mulai?” tanya sang Kepala Sekolah. lupakanlah soal insiden di kantin tadi.” “Hati-hati dengan bahasamu.” kataku. “Jadi siapa yang melempar bakso?” tanya Mr. Sam memandangku heran. Mr. Aku tidak mengatakan apa pun. lalu berpaling ke Kevin. Aku tahu Sam tidak melihatnya karena dia memunggungi Mark waktu bakso pertama dilempar. Aku tidak ingin berurusan dengan Mark melalui Mr. Tapi aku kagum karena dia berani berkata begitu.” Aku memandang Sam. Lalu saat bakso kedua dilempar. Aku dituduh melakukan sesuatu yang tidak aku lakukan.” kata Kevin. Mr. “Yang benar saja. Kita sudah lama berusaha mendapatkan kesempatan wawancara ini. karena memihakku walaupun tahu itu bisa menimbulkan masalah antara dirinya dan Mark serta teman- temannya. Sulit berkonsentrasi dengan situasi sialan macam begini. dia sibuk membersihkan diri. Harris mengangkat tangan frustrasi. Dia mendorong makan siangnya ke tepi meja dengan punggung tangan. jadi dia menendang Kevin di anunya. Aku menarik napas dalam untuk menenangkan diri. Mr. Kemarahanku sudah tak terkira. “Jadi.” katanya. Aku diam. Mark.” Mark memohon. “Tapi itu benar. kesal dengan seluruh kejadian itu.” kataku. “Mark yang melemparnya. kenapa kalian semua ada di sini?” “Itu pertanyaan bagus. “Ayolah. “Maaf mengganggu. halaman utama Gazette. dan meninggalkan kami berempat di dalam.” kata Mr. Dia mencengkeram bahu anak lelaki di sampingnya agar bisa berdiri. Aku tidak ada waktu untuk mengurusi omong kosong macam ini. mengangguk. menutup pintu kantor. dan hari Jumat ada pertandingan. Harris mengangguk. Mr. Harris. . “Besok aku ada wawancara dengan Gazette.” kata Kepala Sekolah. Harris. Mr. Harris menegang. Kami berempat berjalan ke kantor kepala sekolah. terdengar jengkel. Johnson pergi.” kata Mark. Aku tak mau repot-repot membersihkannya. Johnson. “Aku tidak tahu. yang masih berusaha bernapas dengan benar.” “Jaga mulutmu!” bentak Mr. Ada kekacauan kecil saat makan siang. Dia memandang Kevin. Harris duduk di mejanya. untuk jaga- jaga. Aku masih merengut. Masih padam. konsentrasi. masih dilumuri makanan. “Kau baik-baik saja?” Kevin. Mereka mungkin akan menempatkan kita di halaman utama. jauh dari kantor kepala sekolah. Johnson. Mr. “Seseorang menimpuknya dengan bakso. Setelah keheningan selama sepuluh detik. Aku yakin anak-anak ini mau menjelaskan. Aku memasukkan tangan ke celana jinsku. menikmati makan siang yang dipanaskan dengan microwave dengan serbet diselipkan ke kerah kemeja. Mark memberengut memandang Sam. masih mendidih. Harris merah dan aku tahu tak ada gunanya berdebat. Sam. kau menyerang Kevin. Lalu Mr. Harris menatap Sam tajam.” kataku kepada Sam. Sarah melihat noda saus spageti yang sudah mengering di bajuku. menyanyi bukanlah salah satunya. “Siapa yang peduli seberapa banyak! John.” katanya. Sarah masuk dan duduk di sampingku. Dia mungkin gadis tercantik yang pernah kulihat. Sarah memandangku.” jawabku. Sam balas menatap tanpa mengalihkan pandangannya.” *** Pelajaran tata boga berlangsung setelah makan siang―bukan karena aku suka memasak. walaupun aku memiliki banyak kekuatan dan kemampuan yang dianggap luar biasa di Bumi.” Kami meninggalkan kantor kepala sekolah. “Bukan salahmu. Seluruh bagian dalam tubuhku terasa seolah menjadi bubur. Harris memandangku. sekali lagi menatap Sam tajam. lalu mengulurkan tangan dan menarik saus yang mengering dari rambutku. Dia cuma anak cewek. Apa benar kau melihat Mark melempar bakso itu?” Mata Sam menyipit. “Aku tak mau lagi melihat kalian berdua di sini. “Kalian boleh pergi. “Kenapa kau tidak mengatakan soal ponselmu kepadanya?” tanya Sam. Kita bisa melupakan masalah itu. “Ya. kan?” “Mauku sih nggak. Lagi pula.“Terima kasih. Tapi aku tidak ingin berdebat dengan Sarah. “Aku tak sabar menantinya.” katanya. Dia tidak mengalihkan pandangan. pikirku. tapi karena pilihannya hanya ini atau paduan suara. “Mulai sekarang Mark akan mengawasimu. “Dan hati-hati. “Katakan. Harris menghantamkan tinjunya ke meja. “Aku tidak percaya kepadamu.” kata Mark. Aku mengambil pensil dan memutar-mutarnya dengan tangan kanan sementara tangan kiriku mencengkeram bagian tepi buku catatanku. bukan satu. Hanya berengsek. Paham?” Wajah Mr. Ruangan itu kecil. dia berbicara dengan begitu yakin sehingga aku hampir meragukan diriku.” katanya.” “Kalian berdua nggak akan benar-benar berkelahi. “Hai. Dia selalu berusaha menunjukkan bahwa dirinya jagoan. ini yang akan kita lakukan.” Kepala Sekolah menggeleng.” Mr. Dan karena itu. Lagi pula.” Pastinya. Tenang.” Mr.” “Tanda-tanda orang tak percaya diri. Harris. “Karena dia tidak peduli. Tepat sebelum bel berbunyi. “Hai. . Jadi aku masuk ke kelas tata boga dan duduk. “Ada dua bakso yang dilempar. Tolong jangan biarkan tanganku bersinar. Jantungku berdebar.” “Bagus. Sarah mengangguk. “Mark kadang memang menyebalkan. Aku ingin kebenaran. “Maaf karena Mark bersikap berengsek terhadapmu.” kataku. “Dia bukannya tak percaya diri. “Jadi sebuah bakso dilempar―” “Dua.” Mereka pergi.” kataku. Aku mengangkat bahu.” Darah mengalir ke wajahku dan bahuku menjadi kaku. Dia cuma ingin bisa makan siang secepatnya. Mata dibalas mata. Nah. Sam.” sela Sam. “Apa?!” tanya Mr. Aku mengintip telapak tanganku dan bernapas lega saat melihatnya masih normal.” jawabku. kalian berdua boleh pergi. “Ya. dan mengenakannya.” Dia mengaduk adonan. Kami gantian memakan hingga piring itu kosong. “Sebenarnya apa yang terjadi? Aku khawatir. “Yah.” kataku. Sebagian besar makan dengan dua piring. kami keluar dari ruangan itu bersama-sama. Aku tidak ingin Sarah melihat kelemahan dalam diriku.” katanya sambil menarik tali dan mengikat celemekku. Benshoff berjalan ke dapur kami untuk memeriksa pekerjaan kami. merasa menyesal karena harus berbohong. Dia memegang tanganku sedetik lebih lama daripada seharusnya. Aku jadi sakit perut karena kekenyangan. Ia menuangkan banyak sekali sirup maple di atasnya dan memberikan garpu kepadaku. tempat cuci piring.” “Apa kau percaya jika kubilang bahwa aku ini alien?” “Yang benar saja. kemarin aku terserang asma.” . “Aku nggak peduli apa kata orang. namun aku melakukannya terlalu keras dan tidak ada yang masuk ke dalam mangkuk. Saat bel berbunyi. tapi aku membantu Sarah menghabiskan semua. Benshoff. “Lumayan. memasangkan Sarah dan aku. Lalu entah kenapa. Aku sama sekali tidak lapar. kau nggak jelek untuk seorang murid kelas dua. tapi aku tidak melakukannya. Aku mengulurkan tangan dan memotong setusuk pancake.” Dia menatap mataku.“Makasih. “Sini. Sarah memandangku dan tersenyum. Ada sepuluh bagian dapur yang berbeda. “Bisa tolong ikatkan ini?” tanyanya. aku mengenakan celemekku dan mulai mengikatnya sendiri. Sarah berjalan ke salah satunya. lengkap dengan lemari es. Beberapa helai rambut turun ke wajahnya. “Seperti itu. Lalu Sarah mencuci piring dan aku mengeringkannya. Minatku bangkit karena dia merasa perlu menjelaskan itu kepadaku.” Kami membuat empat pancake. Mrs.” Sarah tersenyum. mengambil celemek dari laci. Tentu saja semua itu berkat Sarah karena aku sendiri tidak tahu apa yang kulakukan. Mrs. Seharusnya hari pertamaku di sekolah lebih baik daripada kemarin.” katanya sambil tertawa. “Kau tahu. Dapur itu tiga kali lebih besar daripada ruang kelas tadi.” kataku. “Aku punya penyakit asma yang sangat parah.” Aku mencoba memecahkan telur pertama. “Kami nggak pacaran lho. Dia meletakkan telur baru di tanganku.” katanya sambil menyikutku.” “Makasih. lemari makan. Aku sangat ingin mengulurkan tangan dan menyampirkan helaian rambut itu ke belakang telinganya. “Nggak buruk. “Menurutmu gimana Ohio?” tanya Sarah. Aku melihat murid-murid lain. dan kau sendiri juga nggak jelek untuk seorang―apa pun kau itu. Sarah menumpuk semuanya di atas satu piring. “Apa yang sebenarnya terjadi?” Aku tertawa. Aku salah mengikatnya dan harus mengikat ulang. “Makasih. terutama kelemahan yang tidak benar. Kami melewati pintu di bagian belakang ruangan itu yang mengarah ke dapur. Sarah mendesah. Sarah tertawa. Setelah celemek Sarah terikat.” kataku sambil mengunyah. Setelah sepuluh menit mendengarkan cara membuat pancake―aku tidak mendengar apa pun―sang guru. aku senang kau sudah sehat.” “Masa?” Sarah menggelengkan kepala. “Aku minta maaf atas apa yang terjadi. Aku bisa merasakan bentuk pinggangnya dengan jari- jariku. Sejauh ini cukup bagus. memegang tanganku dan menunjukkan bagaimana cara memecahkan telur menggunakan pinggiran mangkuk. dan oven. ” kataku. Dia mengeluarkan ponselku lalu memberikannya kepadaku.” kataku sambil mengangkat ponselku. lihat aku.” Sarah memutar matanya. “Maunya sih nggak.” kataku. “Hai. “Mark tahu?” “Nggak. he?” “Pastinya. tidak bisa berhenti tersenyum. Sarah memperhatikan nomornya. Lagi pula. Sarah mengangkat bahu. Saat aku keluar.” “Tidak berkelahi?” “Nggak juga sih. *** Setelah pelajaran kesembilan. “Apa aku perlu tahu apa maksudnya?” “Mungkin tidak. dan keluar dari gedung sekolah. Ponselku kembali. membuatku terkejut. apa kau masih mau bertingkah sok jago?” tanyanya. Dia kan tidak kenal aku. “Bukan pancake. kau harus janji tidak akan berkelahi. Tanganku masih normal. “Anak laki-laki dan perkelahian mereka. tanpa mencari Mark.” “Bukan pancake lagi kan? Aku masih merasa bakal meledak. Aku pergi ke lokerku dan mengeluarkan buku-buku yang tidak kuperlukan dari tas.” “Semoga sisa harimu menyenangkan.” kataku sambil menunjuk bajuku. Dia ternganga. “Yah. “Hari yang indah?” tanyanya. Tapi aku tidak protes. masih tersenyum.” terdengar suara. Dia melirik ke belakang lalu memandangku kembali. Yah.” kata Sarah.” aku berbohong. lalu dia berbalik dan bergegas pergi. tapi aku tidak melakukannya. Aku berhenti di lokerku.” “Oke.” kata Mark. aku berjalan pelan ke lokerku. Aku berpikir untuk mengenakan sarung tangan untuk jaga-jaga. Aku mengemudi sekitar satu setengah jam ke Columbus setelah . “Bagus.” “Apa tanganmu menyala hari ini?” “Nggak.” “Bagus. Sarah melirik ke belakang lagi lalu merogoh kantong depan tasnya dengan cepat. sejarah Amerika. menyusuri lorong.” Kami berjalan tanpa berbicara selama beberapa langkah.” jawabku.” Henri menatapku curiga. “Nah. Sarah. Sampai besok. HENRI MEMARKIRKAN MOBIL TEPAT DI TEMPAT yang dia janjikan tadi. “Kurasa nggak. Aku berpikir untuk pergi dari sekolah diam-diam. kan?” “Aku ingin ponselku kembali. “Aku ada sesuatu untukmu. Aku berjalan melewatinya.” katanya. Jadi. “Sama-sama. “Kau nggak bakal berkelahi betulan dengan Mark seusai sekolah nanti.“Aku kelas tiga. sebaiknya kau nggak berkelahi. Mark James dan delapan temannya menghadangku di lobi. Aku tidak percaya Sarah mau melakukan sejauh itu untuk membantuku. Aku melompat masuk ke dalam truk. Aku memandanginya sepanjang lorong itu. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku akan dicap pengecut untuk selamanya.” “Terima kasih. Aku menarik napas panjang dan menutup pintu loker. Tapi kalau aku memberikan ini kepadamu.” Sarah tertawa gugup. “Nggak jelek. Lalu aku berdiri di sana dan merasakan rasa gugup mulai merayapiku. “Bagaimana harimu?” Henri mengemudi menyusuri jalan untuk mobil yang mengelilingi sekolah. “Bagaimana caramu mendapatkan ini?” Sarah mengangkat bahu. Dan lihat apa yang kutemukan. “Berhasil melalui hari ini. Kakak kelas.” Henri mengangguk setuju. Apa isinya?” “Warisanmu. “Jadi siapa nama gadis itu?” “Hm?” tanyaku.” Aku mengangguk senang.” Henri mengangguk. “Kurasa aku lebih ingin membuka peti ini daripada mengetahui apa yang ada di dalamnya.” kataku. “Tekankan telapak tanganmu di .” Aku tersenyum ke arah Henri. Cêpan tua ini punya banyak pacar. “Jangan begitu. temanku.” kataku. Aku memegang gembok dan mencoba membukanya secara paksa seperti yang dulu sering kulakukan. lalu kita bisa menguncinya lagi dan melupakan apa yang ada di dalam. 45 senti kali 45 senti. aku bisa menunjukkan bagaimana cara membuka Peti itu. Dia ada di dua kelas yang kuikuti.” “Yang benar saja. Pernikahan biasanya lebih didasarkan pada janji dan komitmen. Bila kami jatuh cinta. Kegembiraan merasukiku. Aku berjalan ke arah Peti dan meraih gemboknya. Sudah sepuluh tahun berlalu. *** Saat tiba di rumah. itu untuk selamanya. “Pasti ada yang menyebabkanmu tersenyum-senyum seperti orang sinting.” kata Henri pelan. Jangan main rahasia-rahasiaan lagi.” Henri berbelok ke jalan raya. dan tidak ada hubungannya dengan hukum.” Henri berjalan ke pintu depan. Peti Loric bertengger di meja dapur. dan bukan karena alasan lain. “Jadi. dan aku tidak bisa membukanya tanpamu. Biasanya alasannya cewek. “Kau memperhatikan rupanya. bagaimana kita membukanya? Nggak ada lubang kunci. Warisanku?” “Warisan itu adalah sesuatu yang diberikan kepada Garde ketika mereka dilahirkan untuk digunakan oleh Penjaganya saat Pusaka Garde itu muncul. “Oh. “Kau tidak bisa membukanya tanpaku.” “Ayolah. lho.” Kaum Loric menganut monogami. “Namanya Sarah Hart.” Henri melepaskan gembok itu dari tanganku.” “Mudah. dulu di Lorien.” Aku mengangguk. menjulurkan kepala ke luar. “Cerdas. lalu menutup dan mengunci pintu. Ukurannya sebesar oven microwave.” “Yeah.” “Kenapa Columbus?” “Di sana banyak bank besar.” “Kok tahu?” “John. Lalu kami diam sepanjang perjalanan ke rumah. Henri sudah menikah selama dua puluh tahun sebelum akhirnya pergi denganku. Ayolah. “Jadi apa isinya?” “Warisanmu. “Jadi siapa dia?” tanya Henri.” kataku. Cerdas pula. “Cantik?” “Jelas.” “Aku tahu. ya? Yah. Tapi ingat. “Aku sudah lama menanti hal seperti ini.” Jawaban main-mainnya membuatku frustrasi. Pernikahan biasanya berlangsung pada usia dua puluh lima. Dia anak agen properti yang menyewakan rumah kepadamu.mengantarmu. “Di Lorien nggak ada yang punya banyak pacar. kurang lebih. Aku tak mau menimbulkan kecurigaan karena mengambil uang yang jumlahnya lebih besar daripada jumlah seluruh uang di kota ini. kemudian kembali ke dapur. tapi aku tahu ia masih merindukan istrinya setiap hari.” kata Henri. hampir persegi. “Gembok ini hanya terbuka saat kita bersama. Tentu saja tidak ada hasilnya. dan hanya setelah Pusaka pertamamu muncul.” “Apa maksudmu. kita mungkin terpaksa pergi mendadak. Henri. “Hangat. Aku berbaring telentang di atas meja kopi dari kayu. Entah bagaimana. “Peti ini dilindungi oleh mantra Loric. kau bisa membukanya sendiri. dan masih banyak Pusaka lain yang akan muncul diikuti dengan kekuatan utamaku (kekuatan yang memungkinkanku bertarung)―yah. “Bisa kita mulai?” tanya Henri. Satu detik berlalu. berpusar ke arah dalam seperti sebuah gelombang. Henri. dan tahu bahwa tanganku tahan panas dan api. “Bagus. Kecuali jika aku mati. Sinarnya lebih terang daripada kemarin. Aku mengangkatnya untuk melihat lebih jelas. Saat itu. Aku bergairah dengan semua perkembangan baru ini. “Pasti. Henri membuka peti dan mengambil sebuah batu yang panjangnya kira-kira 15 senti dan tebalnya kira-kira 5 senti. Aku menggelengkan kepala dan duduk. aku bisa merasakan pohon-pohon itu bergoyang dan . Henri akan menyalakan api di bawah kedua tanganku. Memang. “Kau harus terus menutup matamu.” kataku.” katanya. hanya sesekali terdengar jendela berderak ditiup angin. Duduklah di sofa. bagian luarnya bening. seperti yang diperintahkan Henri. Napasku pelan dan mantap. rasanya luar biasa keren dan menggairahkan. “Keren!” kataku. Kabut di bagian tengah berputar.” “Gunanya?” “Pegang.” katanya.” katanya. Begitu tanganku menyentuh kristal itu. Tiba-tiba gembok itu terbuka. Sentuhanmu mengaktifkannya. Tanganku menjuntai di kedua sisinya.” “Percayalah padaku.samping gembok itu. Kau bisa melindasnya dengan mesin gilas dan peti ini tidak akan penyok. Jika Pusakamu bukan Lumen. “Belum. Aku juga bisa merasakan liontin di leherku memanas.” kataku. Namun saat ini―memegang kristal berisi sesuatu yang tampak seperti bola asap di bagian tengah.” Aku mendengarkan suara angin bertiup melewati pepohonan di luar. bersama-sama. ada saat-saat ketika aku berharap kekuatanku tidak akan pernah muncul.” Aku menatap kristal itu. “Masih ada hal-hal yang belum boleh kau lihat karena kau belum siap. kedua telapak tanganku bersinar. Hanya kita berdua yang bisa membukanya. Itu artinya kau siap.” Aku mencoba mengangkat bagian atas peti itu. Batu itu berbentuk persegi panjang dan sangat halus.” “Yah. tapi Henri mengulurkan tangan menghentikanku. Tidak bisa dirusak.” “Lalu apa?” Henri menekankan telapak tangannya di sisi lain gembok dan menyambungkan jarinya dengan jariku. “Dengarkan angin. Tapi karena Pusakamu itu Lumen. yang terjadi justru sebaliknya. “Apa ini?” tanyaku. seperti kau.” kata Henri sambil menyerahkan Kristal itu kepadaku. “Apa yang terjadi dengan benda ini?” “Kristal itu terikat dengan Pusakamu. Mungkin akan ada rasa terbakar di lenganmu saat aku membawa kristal ke atasnya. “Kristal Loric. Rumah begitu sunyi. terutama agar kami bisa tinggal di satu tempat dan hidup normal. Abaikan sebisa mungkin. memandangi asap yang berputar dan bersinar. Aku menganggukkan kepala dengan cepat.” katanya. Aku tidak bisa menghapus senyum dari wajahku.” “Ayolah.” *** Hari semakin dingin. Ia mengunci peti lagi dan membawa batu itu kepadaku. tapi bagian tengahnya seperti berkabut. Aku menurut. kristal itulah yang akan bersinar. “kuharap itu tak terjadi. Batu itu menghangat. Seumur hidup aku menanti kemunculan kekuatanku dengan tidak sabar. Tapi kita tetap tersembunyi.” Aku tidak mengerti apa maksud Henri. Pergilah ke mana kau perlu pergi. ketika planet mengendalikan kehidupan makhluk- makhluknya. Kita akan . ada yang memiliki lengan pendek dan tubuh gemuk. Di kejauhan.” Aku terbang ke atas lalu ke bawah. John. Saat kita panik. Saat membuka mata.” kudengar suara entah dari mana.” Aku terbang ke depan menuju kembang api. Angin hangat bertiup lembut membelai rambutku. perang akan pecah. Aku melayang di atas salah satunya. Kembang api meroket ke langit lalu meledak dalam berbagai bentuk hewan dan pepohonan dengan langit malam dan bulan serta jutaan bintang sebagai latar belakang yang indah. Lorien pada masa keemasan. pesta kembang api dimulai. Aku berbalik dan memandang berkeliling. Entah bagaimana. Langit biru. Di bawah sana. Mulai sekarang kita harus berada di depan mereka. kesalahan pun terjadi. Ada rasa terbakar seperti yang Henri perkirakan. Pastinya bukan ingatanku? Lalu hari berganti malam dengan cepat. Matahari itu dua kali lebih besar daripada matahari Bumi. Planet ini sepuluh kali lebih kecil daripada Bumi. Dari mana asalnya? “Mulai sekarang kita harus lebih waspada. Aku mungkin melihat ingatan. Hewan- hewan mendongak dan memandang ingin tahu. Dalam bayanganku. Kita harus tetap cerdik dan waspada. sungai-sungai membentuk jurang dalam yang membelah hutan. lalu mengusapkannya naik ke pergelangan tangan lalu ke lenganku. Mereka tidak bisa menyentuh gadis itu sebelum membunuhmu. ada yang berkulit gelap dan tampak kasar jika disentuh―sedang minum air segar di tepi sungai. Mereka tahu akan lebih sulit bagi mereka jika kekuatan kalian yang tersisa semakin berkembang. Bumi jutaan tahun lalu tampak seperti ini. “Mereka tahu di mana salah satu dari kalian. Pikiranku langsung berkelana. “Dulu mereka berharap bisa membunuh kita semua sebelum Pusakamu muncul. Entah bagaimana aku bisa merasakan kehangatan sinar matahari di wajahku dan angin yang jauh lebih hangat daripada angin yang bertiup di luar rumah kami. diselimuti tetumbuhan dan dihuni para hewan.melengkung. Aku langsung tahu bahwa aku berada di Lorien. Tidak ada orang. tapi mantra itu masih berfungsi. Suara itu membuatku gugup. Aku tahu Planet Lorien tidaklah terlihat seperti ini pada saat ini. aku bisa terbang. Karena itu. tanpa rasa takut. sejauh mata memandang aku hanya melihat hutan. Aku berada di atas suatu area luas berisi pucuk pepohonan. Hewan-hewan dengan berbagai bentuk dan ukuran―ada yang panjang dan langsing. Lalu saat kekuatan kalian semua mencapai puncaknya. Kita harus tetap tenang. “Aku bisa merasakan keputusasaan mereka. lalu menukik tajam dan terbang cepat menyusuri permukaan sungai. kita bisa melihat permukaan planet yang melengkung saat memandang dari jarak yang cukup jauh. Tiga yang pertama mati. Mungkin bunyi ledakan yang keras bisa menghilangkannya. Dia menekankan kristal di bagian belakang tanganku. sebelum manusia datang dan mulai mengendalikan planet. matahari mulai tenggelam. tapi aku mencoba mengosongkan pikiran dan bernapas pelan. Henri mulai dengan tangan kananku. “Biarkan pikiranmu berkelana. tapi tidak cukup panas untuk membuatku menarik tangan. ada yang berbulu. Tiga yang pertama panik. aku sudah tidak berada di Ohio. Di kejauhan terlihat kaki langit yang melengkung. Lorien pada masa keemasannya. Tapi mereka terus membuntutinya. mencari sumber suara itu. Aku terbang ke atas dan berputar di udara. jeritan terbawa angin. Mungkin kaum Mogadorian telah membereskan mereka dulu. awan badai bergolak dan diikuti dengan angin kencang di atas mereka yang mampu mengontrol cuaca. Waktu dipercepat. lalu menghilang. terutama sembilan Garde muda yang suatu saat nanti mungkin akan melanjutkan pertarungan. tubuh dibalut api. Tapi Henri tidak tampak di mana pun. Yang kita tahu hanya ada lajur cahaya putih menyorot tinggi ke langit saat para Tetua planet berkumpul. tapi tidak. ledakan api menyapu daratan dan pepohonan. Tapi mereka masih kalah. Gigi-gigi itu seakan dikikir sehingga bentuknya tidak wajar. Hewan buas dari Planet Mogadore keluar dari pesawat di belakang dengan tatapan dingin mereka. dan sebagian lagi benar-benar tak tampak. Sebagian dari mereka sebesar rumah. Lalu aku pun sadar: Aku ada di pesawat . Ada bagian pucat di kulit mereka―hampir tak berwarna dan seperti memar. Jumlah Mogadorian yang mati sama banyaknya dengan jumlah Loric yang terbunuh. Gigi mereka berkilat di antara bibir yang tampaknya tak bisa ditutup. Aku memandangnya dari tempatku di langit hingga lenyap. mereka pun menyerang.” katanya. melawan. Tak ada yang bisa disalahkan selain diri kita sendiri atas apa yang terjadi. Selaput pelangi mereka berwarna merah ungu gelap. Kita. Prajurit Mogadorian membanjir keluar. Itulah sebabnya mengapa kita bisa dikalahkan dengan mudah. Para Mogadorian merencanakan dengan baik. Berapa lama yang telah berlalu? Satu jam? Dua jam? Para Garde memimpin pertarungan. yang membantai lusinan bangsa kami: dengan napas api. “Kita lengah. Aku sesuatu yang akrab dengannya. Di kejauhan. Mereka kalah jumlah. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan para Tetua planet. Pastilah ada seribu pesawat udara berbeda. Aku juga tidak bisa melepaskan pandangan dari pembantaian dan penghancuran di bawahku demi mencari Henri. sebagai kaum Loric. dan tampak serupa dengan kami kecuali di bagian wajah. Kaum Loric berlarian. Sebagian terbang. semuanya turun dari langit dan mendarat di Lorien. gigi yang meremukkan. Mereka lebih tinggi daripada kami. meraung begitu keras sehingga telingaku sakit. Lingkaran tebal dan gelap membingkai mata mereka. John. lengan dan ekor yang diayunkan dengan ganas. dan menjaga kelangsungan hidup bangsa kita. dengan gigi runcing. Lima ratus banding satu.” Aku melihat bom berjatuhan di permukaan Lorien. “Kita ceroboh. Sekarang aku tahu itu suara Henri.melawan dan membalas dendam. sebagian berlari begitu cepat sehingga tampak kabur. membawa senapan dan granat dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang digunakan dalam perang di Bumi. Begitu para Tetua tidak ada. mengerahkan Pusaka mereka. Mereka tidak punya pupil. lebih cepat daripada normal. harusnya sadar bahwa itu pertanda ada sesuatu yang salah. Ledakan-ledakan mengguncang daratan dan udara. sebagian lagi hitam. Tapi kaum Loric kalah dalam pertempuran melawan hewan buas. Pittacus Lore―Tetua terkuat. Laser ditembakkan dari tangan. ketika para Tetua planet pergi. atau apakah mereka masih hidup. pemimpin para Tetua planet―telah mengumpulkan mereka sebelum serangan itu terjadi. dan mereka tahu itu. Kekuatan mereka tidak cukup. Kita beruntung karena bisa mengungsikan sebagian Loric keluar dari planet. Cahaya itu bertahan sepanjang hari. yaitu ketika kita berada dalam keadaan paling lemah. sebuah pesawat lepas landas dengan cepat ke udara dengan garis biru mengekor di belakangnya. Mereka memilih saat yang tepat. ke mana mereka pergi. Hutan terbakar. Henri bergegas ke dapur dan mengambil pisau dari laci di samping bak cuci piring. kenangku. Tiga bunyi garukan lagi di pintu. kehabisan napas. gambaran samar Lorien masih terbayang di benakku. “Apa itu?” bisikku sambil duduk. Pastilah kaum Loric tahu mereka bisa . Aku langsung teringat geraman pelan hewan buas yang tadi kudengar. Aku hanyalah saksi dari kematian kami semua dan tak ada yang bisa kulakukan. Kedua tanganku hingga pergelangan terbenam dalam api yang menyala-nyala. air mata. Hampir satu jam berlalu.” jawab Henri. Alasan apa lagi yang membuat mereka mengungsikan kami? Pembantaian sia-sia. terdengar suara garukan. Kami berdua diam. Sekarang. atau sesuatu. Henri berdiri di dekatku. Hewan itu menembusku dan menghabisi lusinan Loric di sekitarku. sesuatu yang terpisah dari pembantaian di Lorien. Sebelumnya. seperti cerita yang kubaca di buku-buku. peristiwa itu hanyalah bagian dari cerita. Hewan itu meraung lalu menerjang. Jantungku berdegup kencang. Jelas ada seseorang. Menembus adegan kehancuran itu. Aku memandang jam di dinding. Untuk pertama kalinya. Itu bagian dari diriku. berusaha mendengar. bersama- sama dengan anak-anak yang tak berdaya. “Aku tak tahu. Aku mendarat di tanah dan berjalan melewati bola api. namun aku menembusnya dan jatuh. Aku terhanyut pergi ke tempat diriku berada. Mataku langsung membuka dan aku kembali di rumah kami di Ohio. aku benar-benar paham apa yang terjadi di Lorien. Bagaimana mungkin ini bisa dimaklumi? Bagaimana mungkin hati para Mogadorian begitu keras sehingga bisa melakukan ini semua? Dan mengapa aku diungsikan? Aku menerjang seorang prajurit Mogadorian di dekatku.” Aku turun dari meja kopi dan berjongkok di belakang sofa. Beberapa senti di bawahnya ada dua ketel berisi api. Bunyi geraman tak sabar datang dari luar pintu depan. Tiga bunyi garukan lagi di pintu. Liur menetes dari giginya yang panjang dan tajam. Pembantaian dan darah di mana-mana. terguncang oleh adegan pembantaian yang baru kusaksikan. diikuti geraman pelan. Dua buah tangan menekan bahuku. Aku berkeringat. Itu pendapatku mengenai semua ini. Kaum Loric pasti tahu bahwa mereka kalah.” kata Henri. Lenganku menjuntai di meja kopi. Aku mengangkat kepala agar bisa memandang dari balik sofa. menghabisi lebih banyak kaum kami.itu. Aku telah menyaksikan kehancuran. Laki-laki dan perempuan mati. dan mata merah serta tanduk sepanjang enam meter. Di luar sudah gelap. Hewan itu terus membantai.” “Kau pikir pisau kecil itu bisa mengalahkan Mogadorian?” “Jika kutusukkan tepat di jantungnya. Itu pesawat yang membawa kami ke Bumi. “Sembunyi di belakang sofa. Kami berdua terlompat. Tapi sekarang aku telah melihat darah. Dua ketel berisi api masih menyala. dengan bahu lebar. Bunyi garukan yang tadi kudengar berasal dari beranda depan. Aku tidak merasakan apa pun. dan semua Loric itu tewas. Begitu saja. “Tetap menunduk. “Ada orang di luar. Aku berbalik dan menghadapi seekor hewan buas yang tingginya pastilah dua belas meter. dan kematian. Garde dan Cêpan. menunduk. Semua yang kusaksikan di sini telah terjadi. bisa. di luar sana.” katanya. Amarah menggelegak di dadaku. Henri menunduk memandangku. Henri juga.” “Apa? Kenapa?” “Karena kusuruh. SEMUA OTOT DI TUBUHKU MENEGANG. Tapi mereka bertarung sampai akhir. dan membuka pintu depan dengan cepat. Lalu si anjing bergegas masuk ke dalam rumah dengan lidah terjulur. meletakkan . mati untuk membela Lorien. Aku memegang kayu itu seperti memegang belati. “Aku melihat apa yang terjadi. Aku masih bisa mendengar jeritan di telingaku. “Dan lapar. Anjing itu meregangkan tubuh. “Sudah kuduga. Mereka bukan hanya sekadar tertarik dengan sumber daya kita. Aku menatap Henri. Setidaknya awalnya. Dia menunduk menatap Bernie Kosar. Tidak ada melarikan diri lagi. menatap ke bawah. Amarah menggelegak di dadaku. BERSIAP untuk yang terburuk. Angin bertiup masuk melalui pintu.dikalahkan dengan mudah. di kakiku dan mendongak penuh harap. Henri mencengkeram pisau dengan kuat. Biarkan mereka datang. memasukkan tangan ke dalam dan mengeluarkan kayu berujung runcing yang masih terbakar. mendongak memandang Henri. Ada yang lebih daripada itu. tapi api terus menyala. dan juga mata hewan buas Planet Mogadore yang merah menyala dan mata kaum Loric yang disaput kengerian. ekornya mengetuk-ngetuk lantai kayu. Dia membuntutiku ke mana-mana kemarin setelah kau menurunkanku. Henri menunduk dan membelai anjing itu. Ia meraih kenop pintu perlahan-lahan. Di sana. menarik napas dalam. Rasanya dingin. membalut tanganku. “Tampaknya dia tidak memiliki rumah. Tubuh Henri langsung santai dan dia terkekeh. nomor 19 di salah satu sisi. Pasti orang beken di sini. Tidak ada seorang pun di sana. Sekarang karena ketegangan sudah berakhir. “Apa yang dia lakukan di sini?” tanyaku. “Bernie Kosar. Aku juga masih melihat darah di rumput berkilau terkena cahaya bulan. Aku membelainya. Dia akan bertemu tandingannya.” Entah bagaimana aku tahu itu. Aku dapat merasakan dug-dug-dug di dadaku. Apa kau tadi bicara denganku?” “Ya.” Aku mengembalikan batang kayu ke tempatnya lalu mengelap tanganku ke celana jins. “Kurasa namanya Bernie Kosar.” Henri mengangguk. pikirku. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekor. Aku mengambilnya. Ada tanda pengenal berbentuk bola football di bagian depan kalungnya. Si anjing melompat ke pangkuanku. Aku duduk di sofa dan menatap kedua api dalam ketel terbakar. Aku masih melihat tubuh-tubuh dan pepohonan roboh. anjing beagle yang kemarin kulihat di sekolah. Henri memandangku. sama seperti orang yang ada di poster di dindingku. Kuharap itu salah satu dari mereka.” Henri mendesah dan duduk di atas meja kopi di depanku. Tanda pengenal itu sudah lama. Aku mengulurkan tangan dan meraih salah satu ketel.” kataku.” kataku. sebagian besar cat cokelatnya sudah aus. Henri mengangguk. “Kau tahu anjing ini?” “Aku melihatnya di sekolah. “Itu pembantaian. Api di tanganku menari-nari dan merayap ke pergelangan tanganku. Aku tidak mungkin tinggal diam di balik sofa ini. Anjing itu mengibas-ngibaskan ekor dan menggaruk lantai.” “Aku tak mengerti.” Aku membelai punggung si anjing. meninggalkan noda abu hitam di bagian depan. Ada begitu banyak kebencian di hati mereka. Biarkan Mogadorian melewati pintu ini.” kataku. Anjing itu duduk di bawah. pikiranku kembali ke citra yang tadi kulihat. Bulunya terasa kaku dan berminyak di tanganku. mati untuk saling menyelamatkan. Henri melompat melewati ambang pintu dan aku siap untuk mengikutinya.” “Aku bisa mendengar suaramu. Buku jari-jariku memutih di sekeliling kayu yang masih terbakar. Anjing itu kotor. nama BERNIE KOSAR di sisi yang lain. Tapi aku melihat mereka. dan disusul dengan karnivora. Henri menarik napas dalam. Mereka tahu mereka harus melakukan suatu tindakan drastis. Henri memanaskan dada ayam di microwave. “Kau tahu planet lain apa yang dapat ditinggali dan terletak dekat Mogadore?” Aku mengangguk. Aku bertanya-tanya perlu berapa lama hingga akhirnya seluruh tubuhku tahan api.” “Apa maksudmu? Memangnya kenapa lagi mereka ada di sini?” Henri menatap mataku. lalu menutup mata. tidak memercayai hampir semua hal. lalu telapak tanganku.” Henri menutup mata dan diam selama satu menit penuh. memang Lorien. Aku menyalakan pemantik dan meletakkan apinya di tanganku. “Jadi apa yang terjadi?” tanyaku. semakin bagus. Bernie Kosar mengangkat kepala dan menguap lebar.” Henri mengangguk. “Bumi. tapi aku bisa merasakan mereka saat aku tidur. Maksudku. Bumi lebih mampu menahan serangan karena ukurannya. Kaum Mogadorian perlu memahami planet ini dengan lebih baik sebelum bisa menyerang. Dan aku yakin sekarang kau tahu bahwa mereka memang mengincar sumber daya kita. “Sekitar seratus tahun lalu. mereka tidak bertindak seperti kita. “Ada banyak Mogadorian di Bumi. Aku baru merasa terbakar saat api itu berjarak dua atau lima senti dari siku. tapi Bumi berukuran lima kali lipat dari Mogadore. “Aku juga melihat citra itu. Mereka tidak memahaminya dengan cara yang sama seperti apa yang saat ini mulai manusia lakukan. “Ya. Mereka juga bisa berbaur dengan jauh lebih mudah. Tapi aku bisa mengatakan dengan pasti bahwa sebagiannya .dagu di atas kaki depannya. Mereka membunuh lautan. Tentu saja itu menyebabkan herbivora mulai punah. kemudian ke bagian dalam lenganku. tampaknya dia belum makan selama berhari-hari.” “Aku tidak tahu kalau kejadiannya seburuk itu. Terkadang aku bisa melihat mereka dalam mimpi-mimpiku. “Aku tidak tahu berapa banyak. lalu kembali ke sofa sambil membawa piring dan meletakkannya di depan si anjing. memotong-motongnya. Mereka hidup berkelompok dan maju pesat di kota-kota padat. Begitu nyata seolah ada di sana. “Apa kau tahu planet apa yang dapat ditinggali dan terletak paling dekat dengan Mogadore?” “Ya. Mereka mengabaikannya. Setidaknya dulu. aku tahu dari apa yang kau ceritakan kepadaku. Bernie Kosar makan dengan lahap. Dan kurasa alasan keberadaan mereka di sini bukan hanya karena kalian berenam. Mereka memiliki kekuatan tertentu. Lorien. Ketahananku terhadap api sudah menyebar. Semakin padat populasinya. tapi aku tidak benar-benar memahaminya sampai melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Mereka juga membanjiri sungai dan danau dengan sampah dan limbah demi memperkaya kota-kota mereka. Apa pun yang Henri lakukan tadi berhasil. kan?” “Ukuran Planet Mogadore dua kali lipat Lorien. Namun. Dalam hal pertahanan.” lanjut Henri. atau apa yang mereka katakan.” Aku mengangguk. seperti yang terjadi pada Planet Lorien dua puluh lima ribu tahun sebelumnya.” “Para Mogadorian berbeda dari kita. Mereka pintar menjaga rahasia dan manipulatif. walaupun hidup di kota besar mungkin bisa membuat kita lebih mudah berbaur. tapi bukan kekuatan seperti kita. Planet Mogadore mulai mati. Aku tidak bisa mengetahui di mana mereka. Aku tidak bisa mengatakan mengapa kita dapat dikalahkan dengan mudah karena masih banyak yang tidak kupahami. kurasa. Vegetasi mulai punah. Ini sebabnya mengapa kau dan aku menghindari kota- kota besar. Dua menit kemudian aku mengecek telepon genggamku lagi untuk memastikan bahwa aku tidak berkhayal. Lima menit kemudian aku mengangkatnya lagi untuk melihat nomor Sarah. Saat aku terbangun di pagi hari. Penampilan dan bau Bernie Kosar jauh lebih baik dibandingkan tadi. Aku menutup telepon genggam itu. Nomor Henri masih ada. Setengah jam kemudian aku naik ke tempat tidur. aku membukakan pintu depan untuknya.” Kami duduk diam lagi. Dia justru berbaring di lantai dan meletakkan dagu di kaki depannya. Angin masih meraung di luar. menatap kegelapan. Aku menutup telepon genggamku dan meletakkannya. BERNIE KOSAR MENGGARUK-GARUK PINTU KAMAR tidur saat aku bangun. jutaan pikiran berputar-putar di kepalaku. dan juga kenyataan bahwa kita tidak memiliki pertahanan lain selain kecerdasan kita dan Pusaka para Garde. tapi hanya sejenak dan semuanya kembali. Aku rasa mereka berencana untuk membunuh manusia. tapi mereka itu ahli strategi yang brilian jika menyangkut perang.diakibatkan kombinasi dari pengetahuan mereka mengenai planet kita dan juga warganya. Dia . aku berharap Henri akan mengizinkanku memeliharanya.” kata Henri. meraih ponsel dari meja samping tempat tidur dan mengecek untuk memastikan Mark James tidak mengacaukannya.” *** Setelah makan malam. milik penyewa sebelumnya. Aku mendesah. tapi dia tidak berminat pergi ke luar. Bernie Kosar mengangkat kepala dan menatapku. Aku memikirkan keindahan Lorien. tapi itu bukan satu-satunya nomor yang ada di telepon genggamku. dan tersenyum. Sejurus kemudian dia sudah mendengkur. Citra perang: tampang para Mogadorian yang rakus dan lapar. Aku menyikatnya dengan sisir tua yang tertinggal di salah satu laci. tapi pada akhirnya aku tidur. aku memandikan Bernie Kosar menggunakan sampo dan kondisioner. dengan nama “Sarah Hart”. Bernie Kosar melompat ke tempat tidur dan bergelung seperti bola di kakiku.” kataku. Setelah bel terakhir berbunyi. Dan mereka tahu itu. Aku bertanya- tanya apakah dia bisa merasakan keinginanku yang juga sama sepertinya. Aku mengeluarkannya. Aku berbaring telentang selama beberapa saat. Entah berapa kali aku melakukan itu sebelum akhirnya tertidur. Aku bangun dan berjalan mondar- mandir sebentar. “Kurasa kita punya hewan peliharaan baru. “Sepertinya begitu. Sebelum tidur. Kau bisa mengatakan apa pun mengenai Mogadorian. telepon genggam itu masih ada di tanganku. dan sebelum datang ke lokerku. Ataukah Henri dan aku akan menanti selamanya di Bumi? Aku mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran dan citra- citra itu dari benakku. Apakah planet itu dapat dihuni kembali. Begitu melihat Bernie Kosar tadi.” kata Henri. tapi kemudian dia meletakkan kepalanya kembali dan jatuh tertidur. tapi kalung anjingnya masih bau. Walaupun telah berusaha untuk mengatasinya. “Kupikir mereka tidak tertarik untuk mengambil sumber daya Bumi. Aku mendesah dan menatapnya. “Mengapa tidak?” “Mogadore masih sekarat. kematian dan darah. Kurasa mereka ingin menjadikan Bumi sebagai tempat tinggal mereka untuk selamanya. Aku membuang kalung itu. di atas dadaku. Sarah menambahkan nomornya ke telepon genggamku. Memang tidak. Aku tersenyum. meletakkannya kembali di atas meja samping tempat tidur. wajah hewan buas yang marah dan keras. kematian planet itu tidak terhindarkan. Aku bisa merasakan keinginannya untuk tinggal di rumah bersama kami. Ada tambahan nomor lain. Aku menutup pintu dan mandi. Terlalu banyak pikiran dan bayangan yang berputar-putar di benakku.” “Bagaimana perasaanmu?” “Baik. sebagian besar pupuk kandang itu . Dia berdiri dengan kaki belakang. Kematian tidaklah seperti apa yang diperlihatkan di film-film. Bernie Kosar memandangiku dari jendela belakang hingga truk itu menghilang di belokan. “Ya. Saat aku membuka pintunya. Aku mengangkat dan memasukkannya lagi ke dalam truk. Aku membuka pintu dan Bernie Kosar melompat turun di depanku. Setelah memeriksa keempat sudut halaman. kami keluar. “Ya. Pegangannya berlumur tanah. berkeliling cepat dengan hidung menempel ke tanah. Lokerku dipenuhi pupuk kandang. namun sebagian diriku yang lain berharap aku tidak bertemu dengannya sama sekali. Jendela mobil masih terbuka. baunya. lalu berhenti dan duduk mendongak memandang pintu penumpang di truk. Aku merasa gugup seperti kemarin. atau sesuatu yang tampak seperti tanah. dia melesat melintasi halaman dan menghilang di hutan. Aku menepuk-nepuk kepalanya. aku segera menyadari ada yang tidak beres. Namun kemudian aku menarik napas panjang dan menarik pegangan itu. Sepuluh menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan ternyata Bernie Kosar sudah ada di dalam kembali. Aku mengangkat dan memasukkannya kembali ke dalam truk. Saat kami keluar dari halaman. Biarkan dia masuk. Telepon aku jika ada masalah.” Setelah sarapan singkat. mengibas-ngibaskan ekor saat melihatku. yang duduk di meja dapur dengan laptop terbuka dan empat surat kabar menumpuk di depannya. “Sarung tanganmu kau bawa?” tanya Henri.” kataku. Itu pasti. Aku menutup pintu truk sambil menghalangi agar Bernie Kosar tidak melompat keluar. Tasku dipenuhi buku yang seharusnya kubaca semalam. Aku berjalan menuju lokerku. Sangat jauh berbeda. Saat tiba di lokerku. duduk di sofa.” Henri pergi. Lima kilometer kemudian Henri sampai di sekolah. Aku menurunkan jendela mobil lalu Bernie Kosar menjulurkan setengah badannya keluar. dia naik ke pangkuanku dan meletakkan kaki depannya di jendela. Bernie Kosar berlari mendahului kami. tapi dengan alasan berbeda.” Aku membuka pintu dan Bernie Kosar pun melompat ke dalam. Sebagian dari diriku ingin langsung bertemu Sarah. “Aneh.” “Ponsel?” “Ya. Lagi pula semuanya juga berbeda dari apa yang kuduga. Dan sulit membayangkan pikiran dan bayangan itu akan menghilang. Henri mengangkat bahu. Aku tidak tahu apa yang akan kukatakan kepadanya. Aku tidak yakin apakah sebaiknya aku membukanya. Semuanya belum hilang. “Kau yang memasukkannya?” tanyaku kepada Henri. tapi aku tidak membukanya sama sekali. “Tampaknya dia biasa naik mobil. gambarannya. “Oke. Angin membuat telinganya berkibar-kibar. namun dia melompat ke luar lagi.berpatroli di halaman. Bagaimana jika pikiranku kosong sehingga aku berdiri di sana seperti orang bodoh? Bagaimana jika dia bersama Mark saat aku menemuinya? Apakah sebaiknya aku menyapa Sarah walaupun mungkin bakal ada percekcokan lagi? Atau apakah sebaiknya aku melewatinya dan berpura-pura tidak melihat mereka berdua? Paling tidak aku akan melihat mereka di pelajaran kedua. kaki depannya diletakkan di tepi pintu. dengan mulut masih terbuka. ya?” kataku. Suaranya. langsung duduk di kursi tengah dengan lidah terjulur. kata kerja biasa. “Aku mau ke kantor kepala sekolah. Mr.” “Kita berdua tahu siapa pelakunya. Baunya luar biasa. Dia tampak muram. Aku membanting pintu loker hingga tertutup. Aku keluar dari kamar mandi. Aku tidak mau terpaksa mengenakan sarung tangan lagi hari ini. Aku berjalan melewatinya. jadi aku keluar dari kantornya dan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh muka dan tangan. Harris menyeringai meremehkan kepadaku. “Aku akan mengurus penyelidikan itu. Halaman utama!” Lalu aku ingat. “Hai. “Kau juga?” tanyaku.” Tak ada gunanya berdebat.” kataku. agar mengurus lokermu secepatnya. “Satu jam lagi reporter dari Gazette tiba di sini.” katanya.” Mr. menautkan jari-jemari. “Ya. mengetuk pintu. wawancara besar Mark James dengan surat kabar lokal. Lagi pula satu-satunya sekutuku adalah seorang murid kelas dua dengan berat badan 45 kilo dan ketertarikan terhadap alien.kata kerja yang dibendakan dengan menambahkan akhiran –ing dan verb . Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.” kataku. Aku memperhatikan pelajaran kali itu dengan lebih baik dibandingkan hari sebelumnya. Harris duduk di belakang meja. Mr. apa ada pilihan lain? Aku bukan tandingan Mark. Sam. lalu kembali menatapku. mengenakan kaus NASA putih yang agak berbeda dari kaus yang dikenakannya kemarin. Setelah itu kami akan menyelidikinya hingga tuntas. “Ada yang bisa kubantu?” “Aku hanya ingin Anda tahu bahwa lokerku diisi pupuk kandang pagi ini. pesuruh sekolah. John. “Aku memberitahu Anda sehingga loker itu bisa dibersihkan. Hobbs.” Mr. Harris. Mr. Sam mengangguk.berhamburan ke lantai. Pesuruh sekolah sedang membersihkan pupuk kandang dari lokerku. Selain itu kami juga membahas mengapa gerund tidak bisa disebut verb. Dia menunduk menatap tumpukan pupuk kandang di lantai. Aku harus tenang.” Senyum itu tetap melekat di wajahnya. dan membiarkan ini berlalu. Wajahku hangat. Dia bersandar kembali di kursi. dan meletakkan tangannya di perut. Harris. masuk ke dalam kelas. tidak bersinar. Sam Goode berdiri di belakang pintu dan kemunculannya yang tiba-tiba membuatku kaget. “Anda pasti sangat bangga. mengeluarkan buku dan memasukkannya ke tempat sampah. Aku menunduk. Topik utamanya adalah perbedaan antara gerund . Namun saat jam . menutupi sepatuku. Smith.” “Dengan pupuk kandang?” tanyanya bingung. mengenakan dasi kotak-kotak bergambar maskot sekolah. “Aku akan mengirim. Mungkin seharusnya aku tidak melakukan apa pun. Loker Sam Goode juga penuh dengan pupuk kandang. dan kepalaku mulai panas. lalu berbalik dan pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. “Aku bangga terhadap setiap murid di Paradise.” “Apa maksudmu ‘diisi’?” “Maksudku lokerku penuh dengan pupuk kandang. Tanganku baik-baik saja. lalu masuk tanpa menunggu jawaban. Aku berjalan ke kantor Mr. Harris mendesah dan menggeleng. Apa itu akan membuat semua ini berhenti? Lagi pula. Dia tersenyum bangga kepadaku. ada dua puluh kepala bajak laut kecil yang tersebar di bagian depan dasi itu.” Dia tertawa. Aku terkejut melihatnya memandang remeh masalah itu. Kau mau ikut?” Sam menggeleng kepala. lalu menanti pelajaran dimulai. Tapi mungkin itu tidak benar. “Ini hari besar. Mungkin aku punya sekutu lain. Mr. Sarah Hart. Kali ini kami membahas grammar. Tapi Henri yakin kaum Mogadorian berencana untuk menguasai Bumi. Lagi pula aku harus mengakui bahwa walaupun cerita dalam artikel Sam itu menggelikan. Kami mengajari mereka cara memakai api. Aku bertanya-tanya apakah aku jadi pasangannya di pelajaran tata boga nanti. Mark berdiri. sesekali berhenti untuk mengecek artikel dari majalah yang terbuka di sampingnya. Burton. Melalui pintu. Mrs. atau mungkin bau itu berasal dari Sam. Apa dia akan tersenyum kepadaku lagi hari ini? Sebaiknya aku masuk kelas sebelum Sarah sehingga bisa mendapatkan tempat duduk dan melihatnya berjalan masuk. Aku tahu bahwa pada kenyataannya kaum Loric sering mengunjungi Bumi. aku melesat keluar kelas dan berjalan cepat menyusuri lorong. *** . Lalu aku kembali melihat Sarah. Tepat sebelum bel berbunyi. Aku belum pernah bertemu dengan orang yang sangat tertarik dengan alien hingga mau membaca dan mencatat berbagai teori konspirasi. Aku berpikir seandainya akulah yang duduk di samping Sarah. Seandainya ini jam pelajaran kedelapan. Majalah itu tampaknya dicetak di ruang bawah tanah seseorang. Harris menepuk punggung Mark. Bukan karena aku mungkin aku bertemu Mark … melainkan karena aku mungkin bertemu Sarah. Dengan begitu aku bisa melihat jika dia menyapaku duluan. aku bisa melihat Mr. Aku masih bisa membaui pupuk kandang di sepatuku. Mrs. seandainya aku bisa mengulurkan tangan dan memegang tangannya. Sam mengeluarkan majalah dengan sampul berjudul They Walk Among Us―Mereka Ada di Antara Kita―dari tasnya. Kami membantu para manusia. Sam membalik majalah itu hingga ke bagian tengah dan membaca artikel di sana dengan tekun. Dia tersenyum ke arahku sebelum duduk. Aku orang pertama yang tiba di kelas astronomi. Para reporter Gazette ada di sini dan ingin mewawancarai Mark untuk surat kabar itu. Sarah menyilangkan kaki dan duduk tegak di kursinya. ke arah rambutnya yang diikat ekor kuda. “Maaf mengganggu. Aku mengulurkan kepala dan membaca judul artikel itu: “Seluruh Kota Montana Diculik Alien. Harris mengatakannya dengan keras sehingga semua orang di kelas dapat mendengar. Aku bisa melihat tengkuk dari lehernya yang jenjang. Aku ingin meminjam Mark.pelajaran hampir berakhir. Sarah mengenakan kemeja putih berkancing dan celana hitam. Kami menyaksikan Bumi berkembang. Kelas mulai terisi dan Sam duduk di sampingku lagi. Sam mengeluarkan selembar kertas dan menulis dengan tergesa-gesa. bukan berarti penculikan tidak pernah dilakukan. Saat bel berbunyi. Kami juga memberikan peralatan untuk mengembangkan kemampuan berbicara dan berbahasa. mengambil tas. berharap bisa duduk di kursi kosong di sampingnya. Aku memandang Sarah yang berada empat meja di depanku. Dan walaupun kami tidak pernah menculik manusia. Kami juga menyaksikan ketika Bumi diselimuti es dan salju serta tidak ada yang bergerak.” Mr. Mark tidak melihat ke arahku sama sekali. aku mulai gelisah dengan pelajaran berikutnya. Harris mengulurkan wajah cerianya ke dalam. dan berjalan ke luar kelas dengan santai. Aku balas tersenyum. Aku memandang Sam. itu sebabnya mengapa bahasa kami begitu mirip dengan bahasa-bahasa di Bumi. Burton mulai mengajar. Lalu pintu dibuka dan Mr. Sarah dan Mark masuk bersama. Dia masih membahas mengenai Saturnus. tapi pada dasarnya mungkin ada sesuatu di sana. Kami menyaksikan saat Bumi tumbuh dan berkelimpahan serta segalanya bergerak.” Hingga tadi malam aku tidak pernah merenungkan cerita semacam itu. Jadi lari yang cepat!” Lintasan lari di luar terbuat dari karet sintetis.” “Berapa catatan waktumu?” “Sembilan menit empat puluh detik. tapi aku tidak yakin. Sesuatu itu tidak ada di belakangku. Pastilah makhluk itu menyeberang melintasi lapangan. Di sebelah luarnya terdapat hutan yang mungkin mengarah ke rumah kami. “Bernie Kosar!” teriakku. Dua menit? Satu menit? Atau malah kurang dari itu? Olahraga itu terasa menyenangkan. Lalu aku berhenti dan membungkuk seolah-olah kram dan kehabisan napas.Pelajaran keempat adalah pelajaran olahraga. Ada hewan buas yang kecil juga. “Kau pernah lari di sini?” tanyaku. Aku langsung teringat dengan citra yang kulihat kemarin. Aku diam di lintasan lariku dan memperhatikannya. Aku berjalan sebentar. “Kami lari di minggu kedua. . “Kau bikin aku takut!” Aku melanjutkan berlari dengan pelan. dua murid melewatiku. Tahu-tahu makhluk itu sudah ada di depanku. Sebelum menyelesaikan keliling yang kedua. Setelah berganti pakaian.5 kilometer jika berusaha sekuat tenaga. Lari 1. Tanpa sadar aku sudah melewati pelari paling depan.5 kilometer. Aku mengikuti pandangannya.” katanya. Aku melewati Mr. Sam mengangguk. Dia mengenakan sepatu tenis. celana pendek. Wallace.” Aku memandang Sam.” “Omong kosong. Lalu aku membalikkan badan. Aku memalingkan muka dan tetap berlari. lutut dan sikunya runcing. Aku berhasil kabur darinya. Aku penasaran perlu waktu berapa lama bagiku untuk berlari 1.5 kilometer. Aku harus berlari empat keliling untuk mendapatkan jarak 1. Kuharap tidak ada yang memperhatikan seberapa cepat aku berlari. Mr. Anak-anak. Dua puluh detik berlalu. Sesuatu itu masih berlari ke arahku. “Dengar. Aku lari lintang pukang di setengah keliling berikutnya. Mereka hewan buas yang cepat dan berkeinginan untuk membunuh. pikirku. Wallace saat aku berlari melewatinya. meneriakkan kata-kata penyemangat. kami duduk berdampingan di lantai gedung olahraga. Empat keliling. Sam juga mengikuti kelas ini. Gigi mereka seperti silet yang berkilau jika terkena cahaya. Aku berlari di samping Sam di belakang murid-murid lain. Lalu aku melambatkan lariku dan pura-pura kelelahan. Rambut-rambut di lengan Sam berdiri dan ia menggosok-gosok lengannya mencari kehangatan. Angin terasa dingin. jadi manfaatkan sebaik- baiknya. Aku mulai berlari cepat. Setengah keliling kemudian aku mulai berlari di depan Sam. Wallace memandang warna cokelat dan putih itu.5 kilometer lagi di musim semi. Sam tampak seperti burung bangau. berdiri kaku di depan kami dengan kaki terentang dan berkacak pinggang. Lintasan itu mengelilingi lapangan football. dan kaus yang satu atau dua ukuran terlalu besar. Bernie Kosar! Ia duduk di tengah- tengah lintasan dengan lidah terjulur dan ekor dikibas- kibaskan. secepat mungkin. Pikiranku mengelabuiku. Wallace. Hewan buas Mogadorian. “Kukira orang kurus bisa lari lebih cepat. tapi dia melihat ke belakangku. Bernie Kosar berlari di sampingku. Waktu kalian akan dihitung dan dicatat untuk dibandingkan nanti ketika kita lari 1. Mr. jauh dari trek lari. Dia tampak tinggi walaupun sebenarnya pendek. Guru pelajaran olahraga. Lalu aku berlari pelan sebentar. Dia memegang stopwatch. Mungkin ini terakhir kalinya kita berolahraga di luar ruangan. Lalu aku membalikkan badan ke depan. Tiba-tiba aku melihat sesuatu berwarna cokelat dan putih melesat dari semak-semak di dekat pintu masuk tribun dan berlari ke arahku. “Smith! Ada apa? Tadi kau melaju di depan yang lain!” teriak Mr. tapi itu hanya akibat adegan semalam yang masih terbayang di benakku. teorinya pemerintah mengizinkan alien melakukan penculikan demi teknologi. Aku menyukai Sam dan merasa dia lucu. tidak menjawab. tapi kadang-kadang aku berharap dia berhenti bicara. Bernie Kosar mengikuti murid-murid kembali ke sekolah. Kami berlari tanpa berkata-kata selama semenit dan aku tahu Sam kesusahan. “Jadi apa yang kau baca di kelas astronomi hari ini?” tanyaku.” jawabku.” katanya.” Aku mengangkat bahu dan berlari. alasan apa yang mungkin mereka miliki?” “Agar ketika Kiamat tiba. Bernie Kosar diam di pintu. dia membeberkan beribu-ribu teori konspirasi lain. lebih baik daripada catatan waktu terakhir Sam. Bernie Kosar mengikutiku. “Bukankah mereka bisa mengalahkan kita dengan mudah jika mereka sudah memiliki bom dan teknologi yang jauh lebih hebat daripada yang kita miliki?” “Yah. Saat kami masuk ke sekolah. Kenapa alien mau menculik manusia?” “Agar mereka dapat mempelajari kita. Murid-murid lain mengelusnya. “Kenapa seluruh kota diculik?” Sam mengangkat bahu. yang sebagian besar menggelikan. mencoba memutuskan apakah aku menanggapi percakapan itu dengan serius.” jawabnya malu-malu seakan merasa malu. Dia menggelengkan kepala kecewa. ya? Teknologi macam apa?” tanyaku. “Seluruh Kota Montana diculik alien?” Sam meringis ke arahku.” “Iri kepada kita? Kenapa? Karena tampang kita yang ganteng?” Sam tertawa.Aku pura-pura bernapas dengan susah payah.” Aku memandang Sam. Sam menyusulku dan kami berlari bersama. dan teknologi hijau. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa tahu di mana aku berada. *** . dia terengah-engah.” Aku mengangguk.5 kilometer itu dengan waktu delapan menit lima puluh Sembilan detik. “Saya―punya―asma. Begitu bisa bernapas dengan normal kembali. “Seperti chip untuk komputer super. “Yah. kadang berlari. “Aku serius. “Semacam itulah.” Aku agak terkejut mendengar jawaban Sam. mereka sudah tahu kelemahan kita dan bisa mengalahkan kita dengan mudah dengan menggunakan kelemahan itu. Apa mungkin anjing ini mengingat jalan ke sekolah pagi tadi saat di mobil? Sepertinya tak mungkin. ingatan mengenai senjata-senjata yang kulihat digunakan oleh kaum Mogadorian. Aku berjalan ke ruang loker dengan Sam. “Kenapa kau tertarik dengan itu semua?” Sam mengangkat bahu. kadang berjalan. begitu teorinya.” kataku. Kami menyelesaikan lari 1. Saat aku memulai keliling yang terakhir. Dia tersenyum kepadaku. satu demi satu.” “Tapi kenapa? Maksudku. Wajahnya merah. “Kupikir aku menemukan juara lari Ohio tahun ini di kelasku. formula untuk bom.” “Oh. walaupun aku yakin dia menyembunyikan sesuatu. dan hewan buas mereka. “Kau benar-benar ingin tahu?” “Iya.” “Teknologi hijau ditukar spesimen hidup? Aneh. sering kali berhenti dan berjalan. Bernie Kosar berusaha untuk masuk bersama kami.” “Yah. ada orang-orang yang berpikir bahwa mereka berharap kita bunuh diri dulu. “Sekadar hobi. “Kenapa mereka ingin kita bunuh diri? Apa untungnya bagi mereka?” “Karena iri. Semacam itu. Saat sedang memikirkan itu. dan berkata bahwa dia . dan bagaimana anjing itu muncul di depan pintu rumah kami tanpa diduga setelah pagi pertama di sekolah.” “Mereka beruntung aku tidak menggunakan kekuatan superku dan melemparkan mereka ke negara bagian tetangga. Namun semakin lama mereka bersama. “Tentu saja bukan. Sarah tersenyum. mereka beruntung. ini otot yang besar. Sarah berkata bahwa Mark masih menganggap Sarah itu pacarnya. Menerima nasib bahwa hari ini aku akan memasak sendiri. aku hanya mengangkat bahu. padahal sebenarnya aku tidak merasakan apa pun. dan yakin Sarah akan kembali kepadanya. “Benar. Sarah bilang satu-satunya hal yang dia rindukan dari Mark adalah anjing-anjing Mark. Saat menghias cupcake. lalu kami pindah ke dapur. dia sering hiking di gunung. Dia meniru sikap Mark terhadap orang-orang: menjadi kasar dan suka mengecam. Ketika dia heran melihat tanganku. Saat di sana. Sekali aku mengulurkan tangan ke oven untuk mengambil loyang cupcake tanpa menggunakan sarung tangan. Dia sadar bahwa hidup lebih berharga daripada sekadar menjadi cheerleader atau pemandu sorak dan berpacaran dengan quarterback tim football. Sarah tidak ada di kelas. Sebelum kelas berakhir. Sarah melihatnya dan bertanya apakah aku baik-baik saja. merasa lebih baik daripada mereka. Sarah mulai bercerita mengenai masa lalunya dengan Mark. “Apa aku melewatkan sesuatu yang asyik?” tanyanya. Maaf. semakin jauh Sarah dari orangtua dan teman-temannya. Mrs. Saat kami mengaduk adonan. orangtuanya mengirim Sarah ke rumah bibinya di Colorado untuk menghabiskan musim panas di sana. Kemudian aku bercerita mengenai Bernie Kosar.Saat kelas tata boga dimulai. Mereka berkencan selama dua tahun. Sarah tertawa. Sarah bertanya apakah ada pacar yang kutinggalkan saat pindah. Begitu tiba di rumah. Sarah memutuskan Mark dan berhenti dari cheerleader. Mark belum bisa menerima kenyataan itu. “Aku sudah dengar tentang lokermu tadi pagi. Kekuatan supermu.” kataku sambil tersenyum. memotret pemandangan menggunakan kamera bibinya. Aku masuk ke dapurku sendirian. Wah. yang selalu bermain dengannya saat Sarah main ke rumah Mark. Kami bekerja sambil mengobrol. Aku jawab tidak ada. Tapi aku tahu mereka mengerjaimu karena aku. Aku berpura-pura kesakitan. Dia hanya menjadi pacar Mark. Itu liburan musim panas terbaiknya.” Sarah mencengkeram bisepku menggoda. Sarah tertawa lagi. “Hanya sekitar sepuluh menit waktu berkualitas denganku. Kami pergi ke bak cuci piring dan Sarah mengalirkan air hangat untuk membantu mengobati luka bakar yang tidak ada di sana. hanya itu. Sarah bertanya mengenai ponselku dan berkata bahwa dia tahu hanya ada satu nomor di dalamnya. dia memberitahuku mengenai festival Halloween yang akan diadakan di kota. Dia juga berjanji akan menjadi orang yang baik dan ramah terhadap semua orang. Sarah sadar dia berubah. mengibas- ngibaskan tangan seolah terbakar.” Proyek kami hari itu adalah membuat cupcake blueberry. Aku memberitahunya bahwa itu nomor Henri dan bahwa ponsel lamaku beserta semua nomor telepon teman-temanku hilang. Ia juga terseret ke pergaulan yang salah dan nilai-nilainya turun. Pada akhir tahun ajaran yang lalu. senyuman yang meluluhkan hatiku. Benshoff memberikan instruksi selama sepuluh menit pertama. Sarah jatuh cinta dengan fotografi.” “Kau yang memasukkan pupuk kandang ke sana?” tanyaku. Sarah masuk. Binatang itu merunduk. Lalu citra itu hilang. Aku dan Hadley bermain di udara. Kakek bersalaman dengan lelaki itu. tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mungkin kami bisa menghabiskan waktu berdua. lalu turun. Terkadang citra itu tampak lama. PADA WAKTU-WAKTU yang tak tentu. Tidak seperti hewan mana pun yang pernah kulihat. aku melihat ini: Aku masih kecil. dan gejolak geli di perutku saat ayunan turun. Hadley berlari ke arahnya. Suara tawaku terbawa angin. Aku bebas mengendalikan tubuhku. mengenakan pakaian karet ketat berwarna perak dan biru. Aku berlari di atas rumput yang baru dipangkas di halaman depan rumah kami. melayang di luar jangkauanku. CITRA-CITRA BERMUNCULAN. Di sampingku ada binatang dengan tubuh seperti anjing. ingat bahwa aku menjadi bagian dari peristiwa itu. tapi aku tahu usianya pastilah lima puluh tahun. ketika Henri mengusapkan kristal Loric di masing-masing lenganku dan tanganku dijilati api. “Itu salah satu Pusaka paling langka. Aku bisa merasakan kekuatan tangannya saat dia mendorong ayunan. Terkadang aku mengingat citra dari masa laluku dengan jelas. dengan menggerakkan tangannya ke kiri atau ke kanan. Dia masih muda. melesat di antara kakiku. dalam wujud burung lagi. Aku mencoba menangkapnya. lalu aku menutup mata kembali. Aku tidak bisa berhenti tertawa. dan bersikap tenang. Hewan itu melompat.berharap bisa berjumpa denganku di sana. Dia mengangkat tangan. tapi dengan bulu seperti harimau. tapi aku terlalu kecil. Tiba-tiba saja aku terangkat dari tanah dan terbang di udara. dan kakinya pendek. Tinggi mereka sama. Lalu lelaki itu memandangku dan tersenyum. hewan itu malah berubah menjadi burung dan terbang ke atas sambil mengelilingiku. Lalu laki-laki itu menggaruk bagian bawah dagu Hadley. Seperti pakaian yang dikenakan penyelam. Lalu dia melompat ke udara. sesuatu yang mirip beruang dengan surai singa. Tapi kadang-kadang citra itu tampak baru seakan belum pernah terjadi. dan kakekmu adalah salah satunya. biasanya pada saat yang tidak kuduga. Dia berbicara kepadaku dengan bahasa yang tidak kupahami. Kemampuan untuk menjadi tak terlihat hanya dimiliki oleh satu persen dari bangsa kita. “Kakekmu bisa membuat dirinya tak terlihat jika dia mau. walaupun sebenarnya hatiku melambung. seakan nyata: kakekku mendorong ayunan yang kunaiki. bersiap melompat ke arahku. Lalu mataku mendadak terbuka dan citra itu hilang. Dia merunduk rendah untuk menerjangku. menyebarkan penahan api ke seluruh tubuh. mungkin tiga atau empat tahun. Kami bergulat. sedangkan aku berusaha menangkapnya. berubah wujud dari monyet menjadi sesuatu yang lebih besar. lalu kami berdua jatuh ke rumput. Kepalanya bulat. Terkadang citra itu kecil dan berlalu dengan cepat―nenekku memegang segelas air dan membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu―tapi aku tidak pernah tahu apa yang dia katakan karena citra itu lenyap secepat kemunculannya. lalu berubah wujud menjadi hewan seperti monyet tanpa ekor. dan mendarat sekitar enam meter dariku. Tetapi lelaki itulah yang mengatur ke arah mana aku terbang. Kemudian seorang laki-laki berjalan memasuki halaman. Hadley menggelitikiku dengan paruhnya. Aku jawab ya. Kemudian kakekku keluar dari rumah. Dia menyebut nama “Hadley” dan mengangguk ke arah hewan itu. Mereka berbicara. Dia lebih kuat daripadaku.” kata Henri. Kristal itu bergerak ke atas lenganku. Hadley mengikuti. Kakek tampak muda. dadanya kokoh. Saat berada di ruang tamu. Dia bisa membuat . pasti asyik. Alih-alih jatuh ke tanah seperti yang kuduga. Dia berputar. ada berkas api di belakangnya. Sebuah pohon membelah udara. istriku. Pesawat lain meroket ke udara.” Tinggi di langit sana. aku kembali berada di medan pertempuran. kebakaran. Kakek dan nenekmu saling melengkapi satu sama lain. akhir dari peristiwa hari itu tidak akan berubah. Sekonyong-konyong. Kakekmu orang yang periang. dilemparkan oleh seorang lelaki berpakaian perak dan biru. tapi aku hanya melihat pepohonan di belakang rumah. Itu sebabnya mengapa kami kalah. Pesawat kami tidak menggunakan api untuk lepas landas. Kupikir aku sudah gila. Awalnya pelan. namun kemudian kecepatannya bertambah. bukan api seperti di pesawat . Saat semua orang kehilangan kesabaran. Bangsa Loric tetap kalah. Tapi ketika aku menaiki bukit pada hari kedua. Bunyinya mirip dengan bunyi roket Bumi yang sedang lepas landas. serta sangat cerdas. Biasanya kemudian kakekmu akan menceritakan lelucon terbaiknya. membawa kami bersembilan beserta para Penjaga kami. kakekmu tetap tenang. Saat itu kau berumur tiga tahun dan aku baru mulai bekerja dengan keluargamu. dan semua orang akan tertawa lagi. saat mereka dilanda stres. Tapi apa gunanya menyoraki itu? Berapa pun jumlah Mogadorian yang terbunuh. Aku tetap dikirim ke Bumi. Aku bingung. Pohon itu menghantam dua Mogadorian.dirinya dan apa pun yang dia sentuh menjadi sepenuhnya tak kasat mata. Nenekmu bekerja di balik layar agar segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Baru pada kali ketiga kakekmu membiarkan rumah itu terlihat. “Dia suka membuat orang tertawa. Ada lebih banyak ledakan. aku melihat rumah itu padahal aku berani sumpah rumah itu tadinya tidak ada di sana. aku masih bisa melihat jejak asap biru dari pesawat yang membawa kami ke Bumi.” Hewan buas Mogadorian yang berukuran kecil menyasar anak-anak. Nenekmu orang yang tenang dan pendiam. Jadi aku berjalan kembali ke arah rumah itu. Dia senang menceritakan lelucon. Selalu. Anak-anak itu tak berdaya. Waktu itu aku belum tahu apa Pusaka yang dia miliki. aku pun berbalik.” Langit berubah merah. rumah kalian tidak ada di tempatnya. Halaman. semuanya mati. dan pohonnya ada. yang lainnya berusaha menyelamatkan anak-anak. kematian. keesokan harinya. mobil. “Suatu ketika dia mempermainkanku. yang tadi kulihat di rumah. Dia tidak bisa berhenti tertawa. Rasanya tak pernah aku meninggalkan rumahmu tanpa sakit perut akibat tertawa terpingkal- pingkal. Kemunculan pesawat itu membuat para Mogadorian bingung. Aku pun berhenti dan berdiri memandangi tempat di mana rumah itu seharusnya berada. “Nenekmu berbeda dari kakekmu.” kata Henri. Aku pun berjalan melewatinya. Pesawat Loric mengeluarkan sedikit jejak asap biru yang berasal dari kristal yang digunakan sebagai sumber tenaga pesawat. Kami selalu tertawa mengingat peristiwa hari itu. Tapi saat sudah dekat. Bahkan selama satu setengah tahun berikutnya. Saat sadar telah berjalan terlalu jauh. dari kejauhan. “Kakekmu orang yang baik.” Di kejauhan terdengar bunyi ledakan. Aku ingin bersorak- sorai. “Aku tidak pernah melihat kakekmu marah. Jadi aku terus berjalan. Aku datang ke rumahmu pada hari pertama. tapi rumahnya tidak. berdiri ketakutan sembari memegang kembang api dari pesta perayaan. karena tidak menggunakan minyak atau bensin. Hanya ada sedikit Loric yang bertempur melawan hewan-hewan buas.” Saat membuka mata. rumah itu hilang lagi. “Lalu ada Julianne. Dia mencoba mengangkat hewan itu dengan kekuatannya. meroket ke udara. Keringat dan darah di wajahnya tampak berkilau di bawah sinar bulan. Satu pilot yang membawa kita ke sini. bermata merah dan tanduk raksasa.” Hewan itu memukul tapi si lelaki masih memegang kendali. Kemudian biasanya aku masuk dan mencoba membangunkannya. Semua Garde bersatu padu membantu membuat badai besar ini. Biasanya setelah bangun aku duduk di ruang baca dan membaca koran. badai terbentuk. bertugas untuk melatih Garde baru memahami dan mengendalikan kekuatan mereka. Sebagian Garde melawan dengan kekuatan yang tak terlihat. meronta. Hewan itu berusaha melawan kekuatan si lelaki. di langit yang tak berawan. Masing-masing dari mereka menggunakan kekuatannya melawan hewan raksasa itu. Dia berhasil mengangkatnya beberapa puluh sentimeter dari tanah. Tanah berguncang. Liur bercampur darah menetes dari gigi-gigi setajam silet yang begitu besar sehingga tidak dapat ditampung dalam mulutnya. kemudian pergi jalan pagi. Aku langsung merasa nyaman begitu berada di dekat Julianne.kedua. pesawat kedua tampak lambat dan kikuk. Lelaki dengan pakaian berwarna perak dan biru berdiri tepat di depan hewan itu. Aku tidak pernah tahu apa yang dia sukai dari diriku. Pergi denganmu untuk tetap hidup dan agar suatu hari nanti dapat mengembalikan kejayaan planet . “Apa yang bisa kulakukan? Apa yang bisa siapa pun lakukan? Yang ada di pesawat itu hanya sembilan belas Loric. hijau terang seperti zamrud. namun hujan tidak turun. namun dia kepayahan dan tidak bisa mengangkat lebih tinggi. “Julianne biasa tidur larut malam. tidak bisa menunggu untuk mengawali hari bersama-sama. lalu kita berdelapan belas―sembilan anak dan sembilan Cêpan yang dipilih hanya karena kita kebetulan berada di sana malam itu. para Cêpan. rentetan laser menghantamnya dari segala penjuru. Selalu membantu orang lain. dan hari sebesar Planet Lorien itu sendiri. Si lelaki mengangkat hewan itu lagi. Kami. apa yang dapat kami lakukan? Para Cêpan adalah birokrat. sebuah petir raksasa menyambar hewan itu. dan aku selalu bangun sebelum dirinya. tapi tidak berhasil mematahkannya. api dan petir menghujaninya. bertugas untuk menjaga agar planet tetap berjalan. dia masih tidur. Hewan itu pun mati. Kami tidak berguna sebagai petarung. dan untuk sesaat para Loric di atas angin. sering membawa hewan dan memeliharanya. Setiap pagi selalu begitu. Guntur dan kilat memenuhi langit. Lalu di atas sana. Biasanya saat aku kembali. Hewan itu meraung. menambah kecepatan.” Hewan buas yang besar telah kembali. Siapa yang ada di pesawat kedua itu? Ke mana perginya? Para Mogadorian berteriak dan menunjuk ke pesawat itu. Henri tidak pernah bercerita mengenai pesawat kedua. Lalu biasanya dia menarik selimut ke atas kepalanya dan menggerutu. Garde lain bergabung dalam pertarungan itu. Para Mogadorian kembali bingung dan cemas. lalu menyiapkan sarapan. bertugas untuk mengajar. Lalu lelaki itu menghantamkan tangan ke samping dan hewan itu jatuh ke samping. Yang bisa kami lakukan hanyalah pergi. dan jatuh kembali ke tanah. Mereka berdiri jauh dari hewan itu dan mengangkat tangan sambil berkonsentrasi. Jika dibandingkan dengan pesawat pertama. tidak dapat bertempur. Lagi pula jika kami bisa bertempur. “Dia memiliki mata paling hijau yang pernah kulihat. Kami akan mati seperti yang lain. Aku bukan orang yang sabar. Lalu akhirnya. Sebuah awan raksasa menjadi semakin besar dan bersinar serta mengumpulkan energi. Namun pesawat itu berhasil lepas landas. Kami bukan petarung. mati seperti yang lain. memandang ke luar jendela. Di atas salah satu tumpukan itu terlihat si lelaki berbaju perak dan biru. lalu menatap Henri. Dia membantuku turun dari meja kopi.” kataku. Saat kita pergi. Aku pun bisa membuatnya mengecil dan menyorot. Mataku mendadak terbuka. John?” “Ya. “Kau bicara apa?” “Ada pesawat kedua. Pesawat itu menggunakan bahan bakar minyak. mereka menyerang pangkalan udara kita. Henri membawakan segelas air dan aku menenggak setiap tetesnya tanpa henti. Bunyi letupan yang sesekali terdengar memecah keheningan. Pohon-pohon patah. Air mata merebak di mataku walaupun aku berkedip untuk menghilangkannya. Tapi bentuknya nggak seperti pesawat yang lain. seperti lampu rumah. Tumpukan-tumpukan tubuh.” *** Kami duduk di ruang tamu. seperti senter.” “Tak masuk akal. Aku bisa membuat sinar itu berkumpul. masih berusaha bernapas.” kata Henri. Tidak ada yang berdiri kecuali beberapa Mogadorian yang hidup dan akan menceritakan kisah mengenai pertempuran ini. Aku bisa mengendalikan kekuatanku lebih . Suatu keajaiban kita berhasil pergi. Aku juga bisa membuatnya melebar. “Menyala!” kataku sambil menjentikkan jari.” Aku menutup mata. Kami duduk diam untuk waktu yang lama. “Kenapa tak mungkin?” “Karena pesawat yang lain hancur. Sumpah. Kuminum habis air di gelas kedua. “Henri?” “Ya?” “Apa yang ada di pesawat itu?” Henri menatapku. Saat kembali kubuka mataku. Matahari terbit di selatan dan cahaya pucat mulai menerangi tanah tandus bersimbah warna merah. hutan terbakar. Aku melihatnya dengan mataku sendiri. tapi mendekati. Mulutku kering dan panas.” kata Henri. Tak ada pesawat yang tersisa. pertempuran telah berakhir. Kita pergi dengan satu-satunya pesawat yang selamat dari serangan mereka. Bernie Kosar ada di luar. dahinya berkerut. Aku tidak bisa bernapas. Dia berpikir keras.” katanya.” “Ada pesawat kedua. tidak semuanya utuh. tapi dia mati seperti yang lain. menatap kami berdua.” Henri menatapku lekat-lekat. Aku mengembalikan gelas itu dan Henri mengisinya kembali. Saat para Mogadorian mendarat.terindah di seluruh jagat raya. “Aku menyaksikannya hingga pesawat itu hilang. tidak seterang sebelumnya. Yang lepas landas setelah pesawat kita.” Henri bersandar di kursi. “Aku tak tahu. Bernie Kosar di pangkuanku. Pesawat kedua. “Aku tak mengerti bagaimana itu bisa terjadi. tidak semuanya lengkap. Asap membubung di antara yang mati dan yang sekarat. Aku menundukkan kepala. “Di mana ada pesawat kedua?” “Di Lorien. ada bola api di belakangnya. Dalam waktu singkat sejak Henri mulai melatihku.” “Aku melihat pesawat kedua.” “Tak mungkin.” kataku. aku belajar mengontrol sinar di tanganku. Tubuhnya tampak seperti tak terluka. api menyala di perapian.” kataku. “Mengapa kau tidak pernah bercerita mengenai pesawat kedua?” tanyaku.” katanya. “Aku benar-benar tidak tahu. “Sini. membimbingku ke dapur dan menarik kursi untukku. “Pesawat itu berhasil meninggalkan Lorien. “Kau yakin. Tangan kananku bersinar. Sebenarnya aku tidak perlu melakukan itu semua untuk mengendalikan cahayanya. apa pun jenisnya. Kau tidak ingat sedikit pun tentang itu?” “Hanya sedikit sekali. Pasti tak ada Loric yang benar-benar tahu mengenai rencana itu. kita berjalan-jalan ke beberapa pesawat. Di bawah lapangan terbang ada sebuah bangunan bawah tanah. Aku bisa melakukannya dengan mudah. Seperti di sini. semudah menggerakkan jari atau mengedipkan mata. atau mungkin hanya sedikit yang tahu. Salah satu Tetua Lorien menemui kita di lapangan terbang. kekuatan yang memungkinkanku bertarung. “Menurutmu kapan Pusaka lain akan muncul?” tanyaku. kalian memiliki rencana untuk datang ke Bumi?” “Tentu tidak. Aku bertanya bagaimana dia bisa tahu mengenai rencana itu. Dia menyerahkanmu kepadaku. Laser? Kemampuan mengendalikan pikiran? Kemampuan mengendalikan cuaca seperti yang kulihat dilakukan oleh orang berpakaian perak dan biru itu? Atau apakah aku menginginkan kekuatan yang lebih gelap. bagaimana cara menentukan bahwa kita yang pergi?” tanyaku. Aku memikirkan Pusaka utamaku. Kakekmu bilang selalu ada rencana cadangan kalau- kalau terjadi sesuatu. “Segera. dan bahwa itu kesempatan kita satu-satunya. Aku menjentikkan jari dan berkata “menyala” hanya untuk pamer. Pusaka utamamu tetap yang terakhir muncul.cepat daripada yang kuduga. “Maksudku. “Lalu. Dialah yang memantrai kalian dengan mantra pelindung Loric. dia hanya tersenyum dan mengucapkan selamat jalan. Setelah pertunjukan itu selesai.” katanya.” “Apa hanya itu alasannya?” Henri menatapku dan mengangguk.” “Kita bertemu kakekmu di patung Pittacus. Aku tidak tahu kekuatan apa yang kuinginkan. di Bumi. “Harusnya Pusaka berikut mulai muncul bulan ini. lebih mengerikan.” Aku mengangguk. atau untuk menyalakannya. terkadang perlu satu tahun. tapi masih tetap lebih redup dibandingkan tangan kanan. Setiap Garde berbeda-beda. Henri menelan ludah. “Terkadang perlu satu bulan hingga semua kekuatan itu muncul. Cahaya di tangan kiriku sudah mulai terang. mereka akan menertawakanmu. Tapi kakekmu tidak menjawab. yah. Henri mendongak dari surat kabar yang dia baca. “Mengapa pada hari itu kita berada di lapangan terbang?” tanyaku. Lalu dia memberitahuku untuk membawamu ke lapangan terbang. tapi rencana itu tidak pernah dianggap serius karena ancaman akan adanya serangan tampaknya begitu menggelikan. yang membentuk cap .” Aku menutup mata dan bersandar di sofa. “Kita di sana untuk melihat pertunjukan udara. Tapi berapa lama pun itu. membuatku berpikir bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Tidak semua kekuatan akan menampakkan tanda yang jelas seperti tanganmu. mirip tikus di buku cerita. pastinya rencana seperti itu memerlukan lebih banyak waktu. Jika sekarang kau memberi tahu manusia mana pun bahwa ada ancaman serangan alien. Dia mengenakan topi tidur dengan kacamata di ujung hidungnya. seperti kemampuan untuk membunuh tanpa menyentuh? Aku membelai punggung Bernie Kosar dan menatap Henri. kan?” “Kita tidak lepas landas hingga tiga jam setelah serbuan dimulai.” “Berapa lama hingga semuanya muncul?” Henri mengangkat bahu. Kau hanya perlu memperhatikan dengan saksama. “Jadi begitu saja. Seperti itulah di Lorien. Tapi sekarang tidak lagi. yang memantrai kami. Hanya dua buah kamar mandi saja yang memiliki pintu. Dia sering mengunjungimu. menunggu bangsa Loric melawan dan menang. John.” Aku mengangguk. daripada menggunakan mantra yang memungkinkan kami dibunuh sesuai urutan?” “Hanya itu yang bisa dilakukan. yang menjadikan Planet Lorien seperti yang kami kenal. kita pergi ke Bumi. apa pun yang ingin dia lakukan terhadap kami akan berbalik dan mengenainya. Dia bilang kalian anak-anak istimewa. Aku tidak ingat wajah yang lainnya. Loridas. Selain Loridas.” “Laki-laki itu ayahku. Ada boneka binatang yang menemaniku tidur pada malam hari. pelurunya justru akan menembus kepalanya. Begitu tua. Aku tidak ingat permainan apa yang kami mainkan. aku sepertinya ingat bahwa boneka itu juga bermain. tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan para Tetua yang lain. sepanjang tahun berada di dalam pesawat dengan tujuh belas Loric lainnya. dengan suara yang semakin lirih. Lalu aku melihatnya mati. Jika kita ditemukan. tapi dia tetap melakukannya. Aku melihatnya di rumah kami. membunuh hewan buas dan banyak prajurit. dan juga di medan perang. Setelah jelas bahwa kita tidak bisa kembali. itu tidak mungkin. “Apa kita benar-benar bisa menang?” “Apa maksudmu?” “Dulu kita dikalahkan dengan begitu mudah. dan mereka memiliki semua Pusaka. Kalau kau maksudkan kemampuan yang tak terkalahkan. kurasa maksudnya karena kalian mendapatkan kesempatan melarikan diri. Satu-satunya Tetua Lorien yang tersisa. Ada tempat tidur lipat yang dirapatkan ke salah satu sisi. kan?” “Ya.” jawab Henri. Jika salah satu Mogadorian mencoba membunuh kami tidak sesuai urutan. anak-anak yang diberkahi. “Henri?” “Ya?” “Aku selalu melihat citra seorang lelaki dengan pakaian berwarna perak dan biru. dan memberi jimat kepada masing-masing dari kalian.di mata kakimu dan mengikat kalian semua. Lalu Henri mendesah. “Kita berada di orbit selama satu minggu. Jika dia mencoba menembak kepalaku. “Seharusnya dia tidak sering berkunjung. begitu lama sehingga mereka lebih seperti legenda daripada kenyataan. Sekarang jika mereka menangkapku. Para Tetua adalah penghuni pertama Lorien. Itu waktu yang diperlukan oleh para Mogadorian untuk mengambil segalanya dari Lorien. “Setiap kali kembali.” katanya. Tapi itu tidak pernah terjadi…. kau hanya bisa melihat peristiwa-peristiwa yang ada kaitannya denganmu. tapi aku tidak ingat apa pun. Awalnya kami berencana untuk lepas landas dan menunggu serbuan itu berakhir. Aku duduk diam selama beberapa lama memikirkan itu semua. Aku bisa mengingat beberapa hal dari perjalanan ke Bumi. Mantra pelindung hanya bisa melindungi kami hingga sejauh itu. Lapangan terbang. Aku ingat waktu itu aku merasa bosan. Tapi pada akhirnya tetap kalah.” “Kenapa Tetua itu tidak memantrai kami agar kami tidak bisa dibunuh. Sisi yang lain digunakan untuk berolahraga dan bermain agar kami tidak terlalu gelisah. Dia bisa mengendalikan cuaca. aku mati. sudah mati. Walaupun yakin ingatanku salah. Bagian dalam pesawat yang kami gunakan berbentuk bundar dan terbuka.” Aku mendesah. Ayahku telah berjuang dengan gagah berani. apakah mereka mati atau belum. Aku mencoba mengingat seperti apa rasanya mengitari Planet Lorien dan menanti apakah kami bisa kembali.” Henri mengangguk. apa mungkin hasilnya bakal berbeda? . Awalnya ada sepuluh Tetua. Bahkan jika kami telah memiliki semua Pusaka, saat kami akhirnya berkumpul dan siap untuk bertempur, apa kami punya harapan dalam melawan makhluk seperti itu?” “Harapan?” kata Henri. “Selalu ada harapan, John. Kita belum melihat perkembangan terbaru. Kita belum mendapatkan semua informasi. Tidak. Jangan putus asa. Jangan pernah berputus asa. Saat kau kehilangan harapan, segalanya pun musnah. Saat kau pikir semua telah berakhir, ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia, harapan itu selalu ada.” DUA MINGGU SETELAH KAMI TIBA DI PARADISE. Di hari Sabtu, aku dan Henri pergi menyaksikan Halloween. Kurasa keterpencilan merasuki kami berdua. Bukannya kami tidak terbiasa dengan keterpencilan, kami justru terbiasa. Tapi keterpencilan di Ohio berbeda dari tempat-tempat lain. Ada suatu keheningan yang berbeda di sini, rasa sepi yang khas. Hari itu dingin, matahari sesekali mengintip malu-malu dari balik awan putih tebal yang berarak di atas kepala. Kota sangat sibuk. Semua anak mengenakan kostum. Kami membeli tali anjing untuk Bernie Kosar, yang mengenakan mantel Superman di punggung dan huruf “S” besar di dada. Anjing itu tampak tidak terkesan. Bernie Kosar bukan satu-satunya anjing yang mengenakan kostum pahlawan super. Henri dan aku berdiri di trotoar di depan Hungry Bear, kedai yang ada di dekat bundaran pusat kota, untuk menonton pawai. Kliping artikel Gazette mengenai Mark James tergantung di jendela depannya. Dalam foto itu Mark memakai jaket football dan berdiri di garis 50 yard di tengah lapangan football. Dia berpose dengan tangan disilangkan di depan dada, kaki kanan menginjak bola football, serta seringai percaya diri di wajahnya. Bahkan aku pun harus mengakui bahwa Mark tampak mengesankan. Henri melihatku menatap kertas itu. “Itu temanmu, kan?” tanyanya sambil tersenyum. Sekarang Henri sudah tahu kejadiannya, mulai dari saat aku hampir berkelahi, hingga pupuk kandang, dan juga bahwa aku naksir mantan pacar Mark. Sejak mengetahui semua itu, Henri menyebut Mark sebagai “teman”ku. “Teman terbaikku,” aku membetulkan Henri. Lalu marching band mulai bermain. Mereka memimpin pawai, diikuti berbagai kendaraan hias bertema Halloween, salah satunya membawa Mark dan sejumlah pemain football. Ada yang dari kelasku, ada yang tidak kukenal. Mereka melemparkan segenggam permen kepada anak-anak. Lalu Mark melihatku dan menyenggol anak di sampingnya―Kevin, anak yang selangkangannya kutendang di kantin. Mark menunjuk ke arahku dan mengatakan sesuatu. Mereka tertawa. “Itu anaknya?” tanya Henri. “Ya.” “Tampak berengsek.” “Sudah kubilang.” Di belakangnya berjalan pemandu sorak, memakai seragam dengan rambut diikat ke belakang. Mereka semua tersenyum dan melambai ke arah penonton. Sarah berjalan di samping mereka, memotret. Dia memotret mereka saat beraksi, saat melompat, dan saat bersorak. Walaupun Sarah hanya mengenakan jins dan tidak berdandan, dia jauh lebih cantik daripada mereka. Kami semakin sering mengobrol di sekolah, dan aku tak bisa berhenti memikirkannya. Henri melihatku memandangi Sarah. Lalu dia kembali menonton pawai. “Itu Sarah, ya?” “Ya, itu dia.” Sarah melihatku dan melambai, lalu menunjuk kamera. Dia akan ke tempatku tapi masih ingin memotret. Aku tersenyum dan mengangguk. “Yah,” kata Henri. “Aku bisa melihat daya tariknya.” Kami menonton pawai itu. Wali kota Paradise lewat, duduk di kursi belakang sebuah mobil merah dengan atap terbuka. Dia melemparkan permen ke arah anak-anak. Pasti hari ini banyak anak yang senang luar biasa, pikirku. Aku merasakan seseorang menepuk bahuku. Aku berbalik. “Sam Goode. Lagi apa?” Sam mengangkat bahu. “Nggak ada. Kalau kamu?” “Nonton pawai. Ini ayahku, Henri.” Sam dan Henri berjabat tangan. Henri berkata, “John banyak bercerita tentang dirimu.” “Oh, ya?” kata Sam meringis. “Betul,” jawab Henri. Dia diam sebentar lalu tersenyum. “Kau tahu, aku banyak membaca. Mungkin kau juga sudah pernah mendengarnya. Kau tahu bahwa alienlah yang menyebabkan badai berpetir? Mereka membuat badai agar bisa memasuki planet kita tanpa ketahuan. Badai itu pengalih perhatian. Lalu petir yang terlihat itu sebenarnya berasal dari pesawat ruang angkasa yang memasuki atmosfer Bumi.” Sam tersenyum dan menggaruk-garuk kepala. “Ah, masa?” katanya. Henri mengangkat bahu. “Begitulah yang kudengar.” “Oke,” kata Sam, sangat ingin menyaingi Henri. “Anda tahu bahwa dinosaurus sebenarnya tidak punah? Para alien begitu terpesona dengan dinosaurus sehingga mereka memutuskan untuk mengumpulkan dan membawa semua dinosaurus ke planet mereka.” Henri menggelengkan kepala. “Aku tak tahu itu,” katanya. “Kau tahu bahwa monster Loch Ness itu sebenarnya hewan dari Planet Trafalgra? Mereka membawanya ke sini sebagai eksperimen. Mereka ingin melihat apakah hewan itu bisa bertahan hidup, dan ternyata memang bisa. Tapi saat manusia melihat Loch Ness, para alien itu membawanya pulang. Itulah sebabnya mengapa orang tak pernah melihat monster Loch Ness lagi.” Aku tertawa. Bukan menertawakan teori itu, tapi nama Trafalgra. Tidak ada planet bernama Trafalgra. Aku penasaran apakah Henri baru saja mengarangnya. “Apa Anda tahu bahwa piramid Mesir dibangun oleh para alien?” “Aku sudah mendengar yang itu,” kata Henri, tersenyum. Baginya itu lucu karena sebenarnya alien tidak membangun piramid. Piramid dibangun dengan pengetahuan dan bantuan dari Lorien. “Kau tahu bahwa kiamat akan terjadi pada tanggal 21 Desember 2012?” Sam mengangguk dan meringis. “Ya, saya sudah dengar yang itu. Tanggal kedaluwarsa Bumi, akhir dari kalender Maya.” “Tanggal kedaluwarsa?” Aku ikut nimbrung. “Seperti, tanggal ‘sebaiknya digunakan sebelum’ yang dicetak di kotak susu? Memangnya Bumi bakal basi?” Aku menertawakan leluconku, tapi Sam dan Henri tidak peduli. Lalu Sam berkata, “Apakah Anda tahu bahwa crop circle―bentuk lingkaran, geometri, atau citra makhluk hidup yang berukuran besar dan biasanya ditemukan di lading pertanian, khususnya gandum―dulunya digunakan sebagai alat navigasi oleh ras alien Agharia? Tapi itu ribuan tahun lalu. Sekarang crop circle hanya dibuat oleh para petani yang bosan.” Aku tertawa lagi. Aku sangat ingin bertanya orang macam apa yang membuat teori konspirasi alien jika sebenarnya petani yang bosanlah yang membuat crop circle, namun aku tidak melakukannya. “Bagaimana dengan Centuri?” tanya Henri. “Kau tahu tentang mereka?” Sam menggelengkan kepala. “Mereka itu ras alien yang tinggal di pusat Bumi. Mereka suka bertengkar dan selalu berselisih. Saat mereka mengalami perang saudara, pengaruhnya terasa hingga ke permukaan bumi. Itulah sebabnya mengapa terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Tsunami tahun 2004? Itu karena putri raja Centuri hilang.” “Apakah mereka berhasil menemukan putri itu?” tanyaku. Henri menggelengkan kepala dan memandangku. Lalu dia kembali memandang Sam, yang masih tersenyum karena permainan menarik ini. “Tidak pernah. Para ahli teori yakin putri itu bisa berubah wujud dan sekarang hidup di suatu tempat di Amerika Selatan.” Teori Henri sangat bagus. Kurasa tidak mungkin Henri mengarangnya secepat itu. Aku berdiri dan benar- benar merenungkannya. Padahal aku tahu bahwa pada kenyataannya tidak ada makhluk yang hidup di pusat bumi, dan belum pernah mendengar ras alien bernama Centuri. “Anda tahu…” Sam berhenti. Kupikir Henri telah mengungguli Sam. Namun saat aku berpikir seperti itu, Sam mengatakan sesuatu yang begitu mengerikan sehingga teror merasuki benakku. “Apa Anda tahu bahwa para Mogadorian memiliki misi untuk menaklukkan seluruh jagat raya? Mereka sudah menghabisi sebuah planet dan selanjutnya berencana untuk menghabisi Bumi. Mereka di sini untuk mencari kelemahan manusia sehingga bisa mengalahkan kita saat perang dimulai.” Aku melongo. Henri tercengang menatap Sam. Dia menahan napas. Tangannya mencengkeram cangkir kopi hingga aku takut cangkir itu remuk jika cengkeramannya menguat. Sam melihat sekilas ke arah Henri, lalu aku. “Kalian berdua seperti baru melihat hantu. Apa ini artinya aku menang?” “Darimana kau dengar kabar itu?” tanyaku. Henri menatapku begitu tajam sehingga aku berpikir seharusnya tadi aku tetap diam. “Dari They Walk Among Us.” Henri masih tidak bisa bereaksi. Dia membuka mulut untuk berbicara tapi tidak bisa. Lalu seorang wanita mungil berdiri di belakang Sam, memotong percakapan. “Sam,” katanya. Sam berbalik dan memandang wanita itu. “Dari mana saja kau?” Sam mengangkat bahu. “Aku dari tadi di sini.” Wanita itu mendesah. Kemudian dia menyapa Henri, “Hai, saya ibunya Sam.” “Henri,” kata Henri, dan menjabat tangan ibu Sam. “Senang berkenalan dengan Anda.” Wanita itu membelalak terkejut. Sepertinya logat bicara Henri membuat wanita itu senang. “Ah bon! Vous parlez français? C’est super! J’ai personne avec qui je peux parler français depuis long- temps.” Henri tersenyum. “Maaf. Saya sebenarnya tidak bisa berbahasa Prancis. Saya tahu logat bicara saya terdengar seperti itu.” “Tidak?” Wanita itu kecewa. “Sayang. Padahal saya pikir akhirnya ada sesuatu yang berkelas di kota ini.” Sam memandangku dan memutar matanya. “Ayo, Sam, kita pergi,” kata wanita itu. Sam mengangkat bahu. “Apa nanti kalian akan ke taman dan naik gerobak jerami?” Aku menatap Henri, lalu Sam. “Ya, tentu,” kataku. “Kau?” Sam mengangkat bahu. “Mungkin nanti kita bisa bertemu di sana,” kataku. Sam tersenyum dan mengangguk. “Oke.” “Ayo, Sam. Dan mungkin kau tak bisa ikut naik gerobak jerami. Aku perlu bantuanmu di rumah,” kata ibunya. Sam mengatakan sesuatu tapi ibunya berjalan pergi. Sam mengikutinya. “Wanita yang sangat ramah,” kata Henri sarkastis. *** ” kataku. anjing kecil dari sekolah. Pintu masuk ke hutan dihiasi dengan potongan gambar karikatur hantu dan monster. Aku tak pernah berpikir untuk mengecek teori-teori konspirasi omong kosong itu. “Hei. Aku tak tahu. John. di sana disediakan sari buah apel dan makanan. Anak-anak menyukainya dan banyak yang menghentikan kami untuk membelai Bernie Kosar. memegang kameranya. Kurasa aku mulai terbiasa dengan daya tarik kota kecil Ohio ini. kau akan terbiasa.” “Daya tarik? Maksudmu membosankan. John.” jawabku. Para pemandu sorak berkumpul di satu sisi.” kata .” terdengar suara dari belakangku.“Kok kau bisa mengarang semua itu?” tanyaku. mantelnya merosot ke salah satu sisi dan diseret sepanjang trotoar. kamu. menjauhi bundaran. Pasti. “Tapi ini tetap tak masuk akal. sebagian melukis wajah anak-anak dengan tema Halloween. “Bagus. “Jadi bagaimana menurutmu?” Henri menarik napas panjang dan mengembuskannya. Taman itu sendiri terdiri atas tiga lapangan bisbol. dan sebuah paviliun besar tempat para relawan menyajikan sari buah apel dan pie labu.” “Kau pikir mungkin mereka?” “Bisa jadi. sebuah taman bermain. berpikir sebentar. Bagaimana bisa ada orang yang tahu tentang itu?” “Pasti diberitahu entah dari mana. Mungkin mereka pikir kita membaca teori semacam itu dan bisa menemukan kita dengan membocorkan informasi seperti itu. “Oke. “Kalau kau sering berbohong. yang lainnya menjual tiket undian yang akan diundi pada pukul enam sore.” Kami berjalan tanpa berbicara. Aku ingat kamu. Tiga gerobak jerami diparkir di tepi jalan kerikil. Aku penasaran apakah dia bakal naik gerobak jerami. Henri dan aku mengikuti ke taman. “Bagaimana pawainya?” Aku tersenyum dan menyelipkan tangan ke dalam saku celanaku. Orang-orang mulai bergerak ke Jalan Utama. masih agak terkejut. ya?” Aku mengangkat bahu.” katanya. Udara cukup dingin sehingga aku bisa melihat uap napasnya. dengan papan besar bertuliskan: UJI KEBERANIAN! GEROBAK JERAMI HALLOWEEN BERHANTU MULAI SAAT MATAHARI TERBENAM 5 DOLAR PER ORANG Jalur jalan kerikil berubah menjadi jalan tanah sebelum mencapai hutan. Henri dan aku memasuki paviliun. Ini bukan kebetulan. Tampaknya gerobak jerami berhantu itu akan melintasi hutan. Aku mencari Sarah tapi tidak melihatnya di mana pun. Dia membuatku kaget. “Entahlah. Taman itu terletak di ujung selatan kota. Tapi kita tetap harus mengeceknya. Ada hantu putih kecil yang dilukis di pipinya. Di pagar sebelah sana ada dua buah danau yang terletak berdampingan dan dipisahkan oleh segaris tanah yang mengarah ke hutan di kejauhan.” Henri menatapku penuh harap. lidah terjulur. “Entah. “Apa?” “Kau harus mendapatkan satu eksemplar.” “Hei. “Hai.” “Menurutmu salah satu dari kita?” “Bukan. Bernie Kosar berlari di antara kami. sambil memikirkan berbagai penjelasan yang mungkin. mencari tahu siapa yang menulisnya dan di mana ditulisnya. “Entahlah.” “Kita akan menyelidiki majalah tempat Sam mendapatkan infromasi. Maksudku…” Henri berhenti. Aku berbalik dan mendapati Sarah di sana. Aku tak tahu harus berpikir apa.” “Dia membuat kita kaget. Kota ini nggak buruk kok.” Aku mengangguk. Semua orang naik. Ini situasi yang menguntungkan bagi siapa pun. Sarah tersenyum dan berdiri. Mark menyela. Sebelum Sarah menjawab. “Tapi bukan darimu. Sarah berbalik cepat dan memelototi Mark. Lihat mantelnya. dongkol.” Sarah tertawa dan meninju lenganku. dia tidak bisa melakukan apa pun tanpa membuat keributan―dan kupikir dia tidak akan melakukan apa pun. “Apa kau mau naik gerobak jerami berhantu malam ini?” tanya Sarah. Lalu dia merengut ke arah Mark dank e arahku. Namanya Bernie Kosar. aku sedang mempertimbangkannya.” katanya. “Aku nggak yakin mau mendukung perjalanan seperti itu. rambut penuh minyak rambut.” jawabku. Bernie Kosar mengibas-ngibaskan ekor dengan cepat. dan cemberut. Aku mengeluarkan dompet dan memberinya lima dolar untuk enam tiket. “Semua ada waktunya.” kataku. Tetap mengenakan pakaian yang sama―jaket football.Sarah.” kata Mark. Henri sekitar enam meter dariku. memang benar-benar mengerikan. Kami akan membantu hewan-hewan dan meninggalkan sekolah serta Ohio selama satu minggu. Pikiran itu membuatku meringis. membungkuk membelai Bernie Kosar. “Begitu?” “Waktumu akan tiba. Dengan banyaknya orang di tempat itu. ya? Lalu bagaimana bisa seorang gadis dari Paradise. Sarah tertawa. Mark memandangku. melompat-lompat. “Sebenarnya.” “Kau harus naik. “Ini tiket keberuntungan. “Apa kau ikut naik gerobak jerami berhantu malam ini. Kau kan membelinya dariku. Dia melirik berkeliling seolah malu karena menjadi pusat perhatian. Mark. “Masa?” “Jelas. Aku berhasil meyakinkan semua gadis di tim cheerleader untuk berpartisipasi.” “Bernie Kosar? Itu nggak cocok buat anjing selucu ini. Lagi pula.” Mark melihat Sarah dan aku mengobrol. aku ikut. “Yeah. Aku menoleh ke belakang. dong.” katanya. tahu tentang penampungan binatang di Colorado?” “Dari bibiku. Asyik. atau apa kau terlalu takut?” Aku tersenyum.” “Oh. “Kau ikut?” tanyaku. aku bisa melihat Mark dan teman-teman laki-lakinya berjalan menuju paviliun. “Jadi maksudmu aku harus kerja di dapur sendirian selama satu minggu?” Aku berpura-pura mendesah kesal dan menggelengkan kepala.” “Hentikan!” bentak Sarah. Imut banget.” jawab Sarah. Dia berjalan ke arah kami.” “Apa nanti kau akan ketakutan seperti waktu di sekolah dan lari di hutan serta menangis seperti bayi?” “Jangan berengsek. celana jins biru.” Lalu. Ohio. “Kau suka pawainya. Johnny?” tanyanya. “Jadi apa kau mau membeli tiket undian dariku? Ini untuk membangun kembali tempat penampungan binatang non-komersial di Colorado yang bulan lalu hancur akibat kebakaran. berbicara dengan ibu Sarah di salah satu meja piknik. “Kurasa dia menyukaimu.” “Tahu nggak? Kalau kau terus begitu bisa-bisa aku cemburu kepada anjingku sendiri. dan mencoba menjilat wajah Sarah. Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan.” Aku membayangkan Sarah mengenakan helm bangunan dan memegang palu. “Sangat suka. bahkan jika itu untuk para binatang. Sarah menyela di antara kami dan mendorong kami saling menjauh. . Orang- orang menonton.” kataku. melalui bahu Sarah. “Mungkin benar. Kami akan pergi ke sana dan membantu pembangunannya. lho. Aku juga melakukan yang sama. Kalian bisa berkelahi kalau itu yang kalian mau. “Aku nggak yakin. ayahku. Dan di tengah keributan itu. Buku-buku jariku yang memegang rantai ayunan memutih karena dingin. Dia selalu harus bertingkah seperti jagoan dan kasar saat berada di antara teman-temannya.“Ya. Sarah tertawa. duduk sendiri. “Yeah. dan bukan bagian diri Henri yang ingin aku selamat dan bersembunyi. namun makin lama makin cepat.” kata Sarah. “Walaupun aku tak suka mengatakan ini. Saat ayunan itu berhenti. memanggil Henri dengan namanya padahal seharusnya aku memanggilnya “Ayah. Anak-anak seolah menghilang.” “Aku tidak. mungkin sebaiknya kau pergi menyusulnya. dunia masih tetap berputar.” Sarah memutar ayunan hingga talinya tegang.” kata Mark.” aku memanggil.” ANAK-ANAK BERLARI. sudah. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa.” kataku. rambut pirangnya berkibar di belakangnya. BERTERIAK.” kataku. Saat ini pastilah setiap penduduk Paradise berada di taman. “Baik-baik saja?” tanyaku.” katanya sambil mendesah. “Di mana Bernie Kosar?” “Kutinggalkan bersama Henri.” Udara semakin dingin. dia tersenyum dan mata birunya bersinar. lalu berbalik dan berjalan pergi. “Kurasa dia bukan bertanya mengenai PR Matematika buat besok?” “Sama sekali tidak. MAIN seluncur dan main panjat-panjatan. Lalu Sarah tersenyum malu dan mengalihkan pandangan. Kami tidak mengatakan apa pun namun saling memahami satu sama lain. “Haruskah aku mengejarnya?” tanyaku. Henri berjalan ke arahku. lalu melirik ke tempat Sarah menghilang.” kataku. “Yeah. Namun Sarah tetap berjalan dan menghilang di balik paviliun. Aku bergerak menembus teriakan dan jeritan senang anak-anak. Mereka semua berpakaian seperti tokoh kartun. “Tapi. lalu memandang Henri. Saat Sarah melihatku.” Aku selalu begitu.” .” Aku mengangguk. lalu mengangkat kaki. sebaiknya aku mencoba menjual sisa tiket ini. kami saling bertatapan. “Tentang apa?” “Mark. ngomong-ngomong. memohon kepada bagian dirinya yang pernah menikah dan jatuh cinta. monster. Dia memberi isyarat ke arah ayunan kosong di sampingnya dan aku pun duduk di sana. berayun-ayun di ayunan. “Jadi apa yang akan kau lakukan?” tanyaku. Aku selalu bilang aku tidak berminat untuk berpacaran lagi. dan hantu. Ayunan itu berputar. bagian dirinya dirinya yang masih merindukan istrinya hingga hari ini. Mata kami saling bertaut. “Mau didorong?” tanyaku. aku baik-baik saja. Henri mengangguk.” Sarah mengangkat bahu. “Segera. “Ayahmu?” “Ya. Mark membuatku lelah. Semoga sukses. Aku menatapnya pergi. “Sarah. Mark tidak. Aku balik menatapnya. awalnya perlahan. “Apa yang bisa kulakukan? Aku sudah putus dengannya. setan kuburan. Tinggal satu jam lagi sebelum penarikan undian.” Mark mundur dan kembali ke teman-temannya. Kami memandang anak-anak berlarian di sekitar kami. Setiap anak memegang sekantong permen dan mulut mereka sibuk mengulum permen. aku melihat Sarah. “Aku tak akan memedulikannya.” kata Henri. “Sepertinya dia cuma besar mulut. Sarah memandangku dan matanya tampak lebih biru saat hari semakin senja. berayun pelan. bersama kita. Suara Mark meninggi. Mark menggerak-gerakkan tangan dan berbicara dengan sangat cepat sehingga kata- katanya tidak jelas.” “Itu pikiran bagus. Mereka mengenakan kostum mumi. lagi pula letaknya di ujung dan jauh dari kerumunan orang. “Bagaimana?” “Bagus. dan memegangnya selama tiga detik. Dari suatu tempat. Aku tetap duduk di sana.” kataku. Para pemandu sorak. Sarah berjalan ke arahnya dan mengatakan sesuatu. Saat kembali ke paviliun. Henri duduk di meja piknik sambil memakan sepotong pie dengan Bernie Kosar berbaring di kakinya. yang sebelumnya melukis wajah anak-anak. tapi aku menyembunyikannya. “Masih menimbang-nimbang apakah sebaiknya kau naik gerobak itu?” tanya Henri. Dia mengenakan pakaian berwarna gelap yang compang-camping. dan hantu. Hatiku serasa terbang. “Nggak. “Aku memang akan naik gerobak itu.“Perlu bantuan?” “Oh. Kau seharusnya bersenang-senang. Baru kusadari bahwa para pemain football itulah yang akan menakut-nakuti penumpang dalam perjalanan dengan gerobak jerami berhantu. Itu tak mungkin. Sarah menyilangkan lengan dan menggelengkan kepala ke arah Mark. dan musim dingin sebelumnya di Texas selatan. “Kuharap pesawat itu bisa. pasti pesawat itu tak bisa bepergian jauh tanpa mengisi bahan bakar.” “Menurutmu apakah pesawat itu ke sini?” “Tidak.” kataku.” kata Henri.” kataku sambil tersenyum. serta bercak merah serupa darah di berbagai tempat. meraih tanganku.” “Sudah kuduga. tak apa. Merekalah yang menanti kami di hutan. seperti yang kau bilang. Mereka duduk di bangku stadion di dekat lapangan bisbol. dengan riasan wajah hitam dan abu-abu. Mark di depan. Kita naik sama-sama ya nanti?” “Tentu. Dua puluh lima orang. melompat berdiri dari ayunan dan bergegas pergi. sampai ketemu nanti. Mungkin saat ini Bernie Kosar merindukanmu. berjalan melintasi rumput. tapi aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Badan Mark .” “Bisa apa?” “Ke sini.” Sarah mengulurkan tangan. Henri memandang mereka semua dan mengangguk. Aku teringat Lorien dan kembang api yang kulihat pada hari penyerbuan. Kemudian dia mengangkat cangkir kopi dan minum perlahan-lahan.” “Sukses dengan tiketnya. mulai merias Mark dan teman-temannya agar kostum mereka lengkap. menikmati angin dingin yang sudah lama tidak kurasakan karena kami menghabiskan musim dingin yang lalu di Florida. Jika pesawat itu menggunakan bahan bakar minyak. Kami hanya berdua di meja piknik itu. *** Sekitar satu jam lewat dan aku melihat semua pemain football. kembang api oranye dan biru ditembakkan ke atas dan meledak di langit.” Tampaknya Mark menjadi zombie atau semacamnya. “Kalau begitu. Saat kostumnya sudah lengkap. “Apa kau sudah memikirkan mengenai pesawat kedua yang kulihat?” Henri memandang berkeliling untuk memastikan tidak ada yang bisa mendengar. “Lihat itu?” aku bertanya kepada Henri. zombie atau mayat hidup. “Sedikit.” Aku duduk sebentar. Tapi kau harus tetap di sini supaya bisa ikut naik gerobak jerami. Tapi aku tak tahu apa artinya. Lalu dia melepaskan pegangannya. Kerumunan orang semakin kecil. Setelah itu. Saat kami kembali. Apa gerobaknya sudah mulai jalan?” “Ya.” “Hai. tentu.” “Bagus. tapi Henri meraih tanganku.” “Aku bersedia tinggal dan hidup di kota ini. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” “Tak ada. Dan ini salah satunya. Aku tidak ingat kapan terakhir kali ponselku berbunyi dan peneleponnya bukan Henri. traktor berhenti lalu para penumpang turun dan kembali pulang dengan berjalan kaki. “Halo?” kataku. “Mark justru membuat Sarah semakin menjauh. “Hati-hati di sana. Saat mereka berhenti berteriak. Jumlahnya sekitar seratus orang atau lebih. Aku merasa gembira.” “Oh.” katanya. Berarti kita bisa naik yang ketiga. “Ya. *** Untuk menghabiskan waktu. sebenarnya mungkin lebih baik jika kita pergi.” kataku. Dia terdengar seperti sudah biasa meneleponku. Aku yakin pasti bisa menemukan orang yang mau mengantarku pulang.” “Sampai nanti. Traktor akan membawa kami menembus hutan perlahan-lahan. “Kau tidak perlu menunggu di sini. dengan kepala menunduk dan muka cemberut. Rangkaian gerobak selanjutnya akan berangkat sepuluh menit lagi. Aku memandang Henri. Walaupun. Aku berdiri. Aku mencari Sarah tapi tidak melihatnya. Lalu Sarah menggeleng dan berjalan pergi. “Pasti.” “Kau belum pergi. “John?” “Yeah. beberapa menit yang lalu.menegang. matahari telah terbenam dan rangkaian gerobak berisi jerami pertama yang ditarik traktor hijau sudah pergi ke hutan. Yang tertera adalah SARAH HART. aku kembali ke pusat kota bersama Henri dan makan malam di Hungry Bear. tapi terlalu banyak anak-anak yang menjerit dan berteriak di sekitarku.” Aku menutup ponsel. Ini Sarah.” Lalu aku berhenti dan berusaha agar suaraku terdengar biasa saja. Menurut brosur. sehingga ketegangan memuncak. mengingat berbagai peristiwa yang sudah terjadi.” katanya. Pasti Sarah sudah memasukkan nomorku ke ponselnya pada hari ketika dia memasukkan nomornya ke ponselku. Lalu mereka berjalan ke hutan. Henri dan aku berdiri di paviliun. Aku kembali memeriksa antrean orang-orang yang menunggu giliran mereka. aku seharusnya tidak terkejut karena dia sudah memiliki nomorku walaupun aku tak pernah memberikannya. Yang tersisa hanyalah para murid SMA dan orang dewasa yang berjiwa muda. senyum lebar menghiasi wajahku. perjalanan itu memakan waktu setengah jam. Jadi. kan?” “Belum. Mark cemberut kesal dan Sarah meringis tak percaya.” “Bagus! Aku sampai di sana lima menit lagi. Kau masih di taman?” katanya. Beberapa dari mereka memandang ke arahku. John. Mark dan Sarah berdiri saling pandang. Saat itulah kengerian dimulai. Aku tak suka cara . Arak- arakan pelan dua puluh lima remaja laki-laki berkostum menghilang di kejauhan.” Aku memandang dan berharap bisa mendengar apa yang mereka katakan.” Mark berjalan kembali ke teman-temannya. “Sebentar lagi yang kedua berangkat.” “Yeah. Lalu ponsel di sakuku bergetar. Aku tetap tidak melihat Sarah. Tapi aku bertanggung jawab untuk menjagamu dari berbagai hal. baguslah! Tunggu aku supaya kita bisa pergi sama-sama. “Jangan. Seringai muncul di wajah mereka. “Tak ada.” kata Henri. Aku curiga mengapa dia membolehkan kami memotong antrean. Aku bisa menghirup wangi parfum dari lehernya. “Tinggal empat tempat lagi di gerobak ini. Traktor berangkat. Aku mengenalinya. . Tapi sekadar jaga-jaga. Kalian mau?” “Beneran?” “Yeah.” kata Henri. aku melihat Sam menanti di samping kami seolah menimbang apakah sebaiknya menyapa kami atau tidak. Aku tak bisa menyalahkan mereka. Rangkaian gerobak ketiga sudah terisi seperempatnya. Sebagian orang yang mengantre memandang kami dengan kesal.” Aku mendesah. yang tersenyum kepadanya.” “Senang bertemu kalian berdua. “Hai.” “Oh. dan jaket hitam. “Aku yakin begitu. “Selamat menikmati perjalanan. kamu. Wajah Sam langsung memerah. Sarah mengangkat bahu.” Sarah datang lima menit kemudian bersama seorang temannya yang cantik. “Hei. Aku pernah melihatnya tapi kami belum pernah berkenalan. “Saya akan menjaganya. Aku memperhatikan Tommy dari tumpukan jerami.” kataku. jatuh melewati bahunya. Semoga tidak.teman-temanmu tadi menatapmu. melonjak-lonjak sepanjang jalan.” kata Sarah. “Hai. Aku merasa aneh karena Tommy tidak meminta tiket. sweater wol. Menurutku ini juga aneh karena ada banyak sekali orang yang mengantre. Lukisan hantu di pipi kanannya sudah dihapus. “Sebaiknya kau tetap di dekatnya.” sapa Sarah. Sarah sudah ganti baju. Sam berhenti. Sam berdiri di samping Emily. Tommy.” Kami memotong antrean dan melompat masuk ke dalam gerobak lalu duduk di atas jerami. “Apa dia akan baik-baik saja di sana? Aku nggak mau dia terlalu ketakutan nanti. Lalu dia melepaskan pelukannya. Rangkaian gerobak ini hanya terisi setengahnya.” Sarah menoleh ke belakang. Sarah menggandengku.” kata Emily sambil pura- pura muntah. Dia anak dari tim football. Ada antrean sepanjang tiga puluh orang. “Mungkin dia naksir Emily. Kami bertiga bergegas menuju gerobak jerami yang berjarak sekitar 100 meter dari paviliun.” kata Sarah sambil memberi isyarat agar Sam ikut. Tuhan. ayahnya John. menggerakkan kepala ke arahku sambil tersenyum. “Boleh?” “Ayo.” “Selamat bersenang-senang. “Jadi kalian akan menyongsong teror itu?” “Pastinya. Kami berbaris di belakangnya dan mulai mengobrol. “Aku akan baik-baik saja. Saat kami menunggu. “Sebaiknya kami pergi.” Aku mengangguk.” kataku.” katanya. “Hei.” kata Tommy sambil menyeringai. “Kau mau ikut kami?” Sam mengangkat bahu. “Baiklah. “Sam!” Aku berteriak lebih ceria daripada yang kuinginkan.” Sarah memeluk lenganku sebentar. aku tunggu di sini. walaupun aku merasa agak malu dan lebih banyak mendengar kedua gadis itu berbicara. Rambutnya digerai. Tiba-tiba seorang anak yang memegang walkie-talkie menghampiri. seringai yang biasa muncul di wajah orang yang tahu bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa orang mereka benci.” kata Sarah. sekadar jaga- jaga. “Aneh. Sekarang dia mengenakan jins. “Ini Emily. Henri meringis dan aku tahu dia menyukai Sarah.” katanya.” kata Henri. “Hai.” katanya kepada Henri. Aku senang Sam ikut.” kata Sarah kepada Henri. membuatku terkejut. Lalu traktor masuk ke suatu tempat terbuka yang berbentuk bundar dan berhenti. “Semua turun. Lalu terlihat kilauan cahaya yang berkelap-kelip selama sepuluh detik. Saat orang terakhir turun. Tiba-tiba di depan kami terdengar tiga atau empat jeritan.” kata Sarah sambil meremas tanganku. Seseorang menangkap dan menyeretku menjauhi kedua gadis dan Sam. traktor itu pergi. tapi kemudian dipukul dari belakang lagi. “Lepaskan aku!” teriak salah satu gadis. John?” teriak Sam. tapi aku dipukul lagi. Lampu-lampu lain terletak jauh di depan sehingga kami tidak bisa melihatnya. “John?” panggil Sarah. tidak ada cahaya lain. lalu padam.” kata seseorang. Lampu depan dimatikan. Setelah cahaya itu berhenti. terperangkap dalam benda apa pun itu. Sarah menegang di dekatku saat berbagai sosok mengelilingi kami. Ketegangan bertambah akibat rasa takut karena harus berjalan kembali ke tempat yang kami lewati barusan. Aku melepaskan diri dan berdiri. Selain lampu depan traktor. Aku menutup mata untuk merasakan jari-jari Sarah yang bertautan dengan jari-jariku.” Gambar-gambar hantu bergelantungan dari dahan- dahan rendah di atas kepala kami. Rangkaian lampu menyala. Aku tidak bisa melihat apa pun. Aku merobek jalinan tali-temali itu. “Entah kenapa aku melakukan ini tiap tahun. Aku tersandung dan terjatuh. Di pinggir jalan. traktor kembali menyala dan bergerak ke depan. Penumpang lain mulai menyusuri jalan dan kami mengekor. Sebenarnya aku sendiri juga agak takut. ada yang menubrukku dengan keras dari belakang. para mayat hidup menyeringai sambil bersandar di pepohonan. itu tidak tepat. tapi aku merasakan kehangatan mengalir melalui diriku. tidak. dan kami semua tertawa. Aku berdiri untuk mengejar mereka. “Sial. “Aku agak takut. Aku sulit melihat tanah yang kuinjak. Tidak. Suara gadis itu menjauhiku. Dengan satu sentakan. Sebuah tangan menyentuh punggung kami dan Sarah mencengkeram kakiku dengan kuat. “Sepertinya di depan ada masalah. menunjukkan arah kepada kami. Aku dijegal. Terdengar tawa laki-laki sebagai jawabannya. pikirku. Hutan ini cukup lebat.dan bergerak di jalan masuk hutan. Cahaya dari lampu traktor meredup lalu hilang di kejauhan. Ini bukan bagian dari acara. meninggalkan kami sendiri dalam kegelapan malam tanpa suara apa pun selain suara kami sendiri. Kami berkendara selama tiga atau empat menit. barulah aku mengerti apa pengaruhnya: mata kami memerlukan waktu beberapa detik untuk menyesuaikan diri dan kami tidak bisa melihat apa pun. pasti keadaan langsung gelap gulita.” Lalu ada sesuatu yang berat jatuh menimpa kami. lututku luka. Kami semua bersebelas. Aku bisa melihat Emily sudah pindah ke samping Sam dan Sam tersenyum lebar. Aku tersedak . begitu pula dengan Sam. Aku memeluk Sarah dengan hati-hati. Sebagian penumpang menjerit. Tangannya dingin. Suara-suara mengerikan terdengar dari pengeras suara tersembunyi.” kata Emily gugup sambil memeluk dirinya sendiri. Begitu lampu itu mati. Itu tidak menakutkan. “Di mana kau.” teriak si pengemudi. Lalu aku sadar itu jaring! “Apa-apaan?” kata Sam. Traktor berhenti. Tidak tampak apa pun kecuali pepohonan yang tertimpa cahaya lampu traktor. “Oh. Aku menyipitkan mata untuk melihat. Sarah memegang tanganku lagi. Lalu terdengar jeritan membelah malam. Dia merapatkan badannya dan berbisik. Rangkaian lampu menyala sesekali untuk menjaga agar kami tidak tersesat. Kedua gadis itu menjerit. Namun begitu berhasil membebaskan diri. ke arah pepohonan. Saat kupikir aku ditinggalkan sendiri. ayo kita lakukan.KEVIN KELUAR DARI ANTARA PEPOHONAN. Aku menggertakkan gigi.” kataku ke kegelapan. Tidak terdengar apa pun kecuali napasku yang berat. “Kalian mau cari gara-gara ya?” kataku. Aku didorong dari belakang tapi berhasil menyeimbangkan diri sebelum terjatuh. Mulutku penuh tanah dan daun. Sinar dari tanganku membutakannya. Dari mana mereka mendapatkannya? Kevin berlari menyerbu ke arahku. Kevin mengenakan night-vision goggle atau kacamata untuk melihat dalam gelap. Aku kaget dengan kekuatan orang itu. Aku berdiri di sana selama beberapa detik. Aku melangkah ke arah sumber suara itu. seseorang menghantamku dengan bahunya dan membuatku terlontar ke pohon lain di dekat situ. Darahku mendidih. Oke.saat roboh ke tanah. memegang pohon sebagai sandaran. Aku tidak tahu itu suara Emily atau Sarah. Aku kembali memandang berkeliling tapi tidak bisa melihat apa pun kecuali siluet pepohonan. Aku tersenyum kejam dan tubuhku terasa seolah menjadi lebih besar dan lebih kuat. tapi mereka tidak boleh menyakiti Sarah seujung rambut pun. entah dari mana. “Lepaskan!” Terdengar jeritan di kejauhan. Aku gemetar. yang diikuti dengan bunyi orang bergumul. aku tahu itu. Dia tampak heran. “Aku juga bisa cari gara-gara!” Darah mengalir di samping wajahku. Jeritan itu diikuti suara tawa laki-laki. Aku menarik napas dalam dan merasakan adrenalin mengalir. Lalu aku berlari menembus hutan sebelum Kevin bisa duduk. Jalan itu berbelok ke kiri. menyentuh dahiku dan merasakan darah. pikirku. Seseorang tertawa di dekatku. Aku meraih ke atas. Dia ditarik menjauh. atau mungkin tiga atau lima kilo karena aku begitu marah sehingga kekuatanku tak terkendali. berusaha mengetahui darimana asal sinar itu. Aku bergegas berdiri sambil berusaha bernapas. Mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau terhadapku. Apa gunanya memiliki Pusaka jika kekuatan itu tidak digunakan saat diperlukan? Walaupun jika itu berarti Henri dan aku harus memasukkan barang-barang ke dalam truk malam ini dan pergi ke kota lain. Tapi aku merasa ada yang menatapku. Pada detik terakhir aku bergeser dan menjegalnya. Dia kembali jatuh sambil mengerang. “Kalian cari gara-gara?” teriakku lagi. “Lepaskan!” teriak Sarah. Kepalaku menghantam batangnya. berpakaian seperti mumi. Kusorotkan tanganku ke arah pepohonan dan berlari di kegelapan malam. kemudian ke kanan. Apa ada orang di antara pepohonan di sekitarku? Aku tidak tahu. Aku merenggut kacamata itu dari wajah Kevin dan melemparkannya sejauh mungkin. Aku mendengar jeritan salah satu gadis. setidaknya aku sudah melakukan apa yang seharusnya kulakukan. Kuayunkan tinju dan punggung tanganku menggores kulit pohon. Aku tahu kacamata itu akan terlempar sejauh dua kilometer. Dialah yang tadi menjegalku. Mataku berkunang-kunang. Kevin berusaha berdiri tapi aku menendangnya sebelum dia bisa berdiri. “Oke. kali ini dengan keras. Aku mengangkat kepala. Tanganku menyala dan bersinar terang menerangi malam yang gelap. kupikir. Tanganku bersinar hanya ketika aku memerlukan . Jadi begitu cara mereka melihat kami. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Aku mendongak dan menyorotkan cahayaku ke arah pepohonan tapi tak ada yang bergerak. Sekonyong-konyong dunia pun terang benderang. tapi aku tahu Sam tidak akan bisa mengejar. Saat kami melewati sebuah pohon besar dengan dahan bengkok. Aku melemparkan kacamata itu dengan lebih kuat daripada sebelumnya. Perjalanan keempat dimulai. “Lima atau lebih. Aku melemparnya dan dia membentur pohon yang berjarak enam meter dari situ. Dia mencoba melepaskan cengkeraman jari-jariku tapi percuma.” “Kau tahu ke mana mereka pergi?” “Nggak lihat. “Nggak bisa. Mayat hidup itu melepaskan Sam. Berarti yang tersisa hanyalah orang keempat. Kuharap kacamata ini mendarat di kota tetangga. Aku pun sudah berkeringat walaupun suhu udara hanya tujuh derajat. Aku bisa merasakan bahwa aku sudah dekat. Dia sudah terengah-engah. “Kau duduk saja. Tiga anak berkostum mayat hidup lain ada di dekatnya. “Ini bukan ideku. “Ada berapa orang bersama Mark?” tanyaku. Aku tidak bisa melihat apa pun tanpa menyalakan sinarku. dan menyorotkan sinar ke wajahnya. Aku bisa kena masalah. dia tidak mengatakannya. Kacamatanya terlempar ke semak-semak berduri dan hilang. Orang kedua mencoba membelengguku. Dia jatuh tak bergerak ke tanah. kami cuma bercanda.cahaya untuk melihat. Jadi aku menarik napas dalam dan membiarkan tangan kiriku bersinar lalu mulai mendaki. Aku memadamkan sinar di tanganku. Tidak terdengar apa pun kecuali suara angin bertiup melalui dahan pohon dan napas Sam yang terengah-engah. Aku berhenti dan berusaha mendengarkan.” .” katanya. Aku diam untuk mendengarkan. bingung. “Tenang. Kalau kau nggak melawan. “Apa yang Mark rencanakan?” “Tak ada. aku diserang dari belakang. kami nggak akan menyakitimu.” katanya. berdiri dipegangi dua anak yang berpakaian seperti mayat hidup. Lalu aku melihat Sam di depan. Ini kami pinjam dari polisi.” katanya. “Apa-apaan?” katanya.” Aku mendekatinya. mencengkeram leher anak lelaki yang memukulku. Tapi tidak. Baru kemudian kusadari bahwa seharusnya aku menyimpan kedua kacamata itu untuk kami. Kami terus berjalan menembus pepohonan.” kataku. “Jawaban yang salah. “Sarah!” aku berteriak. Sarah di atas. “Oke … oke. Orang ketiga melihat kejadian itu dan melarikan diri. “Apa yang dia rencanakan?” “Nggak ada. Kami cuma ingin mempermainkan kalian. Entahlah. Dia melepaskan kacamatanya dan memberikannya kepadaku. Aku merasa kalut dan ingin berlari.” Aku menyalakan tanganku dan menyorotkan cahayanya ke mata mereka agar silau. Aku kaget dan diam sebentar. Aku menarik kaus Sam dengan tangan kanan. tapi kemudian aku berputar. Atau mungkin aku keliru mengira darah sebagai keringat.” Kami terus berjalan. Sam berteriak saat sebuah tinju menghantam belakang kepalaku. menakut-nakutimu sedikit. Aku berputar dan memukul pelipisnya. Biar mereka menjelaskan apa yang terjadi kepada polisi. yang memegang Sam.” “Di mana mereka?” “Mereka membiarkan Emily pergi. Di kejauhan aku mendengar raungan mesin traktor. Dia mengangkat tangan di depan dada seolah aku membidikkan senjata ke dadanya. Aku tidak tahu ke mana kami menuju.” katanya kepada Sam. Jika Sam merasa itu aneh.” “Kemarikan kacamatamu. Orang terdekat berjalan ke arahku. Tak terdengar apa pun. tapi aku melepaskan diri dan mengangkatnya. Aku melemparkannya ke pohon satu setengah meter jauhnya. Lalu aku memegang lehernya dan mengangkatnya dari tanah. Kakinya menendang- nendang liar, mengenaiku, namun aku mengencangkan otot-ototku sehingga tendangannya tidak menyakitiku. “Apa yang Mark rencanakan?” Aku menurunkannya hingga kakinya menyentuh tanah dan melonggarkan cengkeramanku agar dia bisa berbicara. Aku merasa Sam memandangi, mengamati semua ini, tapi tak ada yang bisa kulakukan tentang itu. “Kami cuma ingin menakut-nakuti kalian,” dia terengah. “Aku bersumpah akan mematahkanmu jadi dua jika kau tidak mengatakan yang sebenarnya.” “Mark pikir yang lain akan membawa kalian berdua ke Shepherd Falls. Dia membawa Sarah ke sana. Mark ingin Sarah melihatnya menghajar kalian berdua, kemudian melepaskan kalian.” “Antarkan aku ke sana,” kataku. Dia berjalan dengan kaki terseret. Aku memadamkan sinar di tanganku. Sam memegang kausku dan mengikuti. Saat kami berjalan di tempat terbuka yang diterangi sinar bulan, aku bisa melihat Sam memandangi tanganku. “Sarung tangan,” kataku. “Tadi Kevin Miller menggunakannya. Semacam properti Halloween.” Sam mengangguk tapi aku tahu dia takut. Kami berjalan sekitar satu menit hingga akhirnya mendengar bunyi air mengalir di atas kami. “Berikan kacamatamu,” kataku kepada anak lelaki yang mengantar kami. Dia ragu-ragu. Aku memelintir tangannya. Dia menggeliat kesakitan dan langsung melepaskan kacamata itu dari kepalanya. “Ambil, ambil,” teriaknya. Saat aku mengenakan kacamata itu, dunia berubah menjadi kehijauan. Aku mendorongnya dengan keras hingga jatuh ke tanah. “Ayo,” kataku kepada Sam. Kami berjalan meninggalkan anak lelaki itu. Aku bisa melihat sekelompok orang di atas. Aku menghitung. Delapan anak laki-laki, ditambah Sarah. “Aku bisa melihat mereka. Kau mau menunggu di sini atau ikut denganku? Mungkin bakal buruk.” “Aku ikut,” kata Sam. Aku tahu Sam takut, walaupun aku tidak tahu apakah itu karena melihat apa yang kulakukan atau karena melihat para pemain football di depan kami. Aku berjalan ke atas sepelan mungkin. Sam mengendap-ngendap di belakangku. Saat tinggal beberapa meter lagi, ranting di bawah kaki Sam patah. “John?” Sarah bertanya. Dia duduk di sebuah batu besar sambil memeluk lutut. Dia tidak mengenakan kacamata dan menyipitkan mata ke arah kami. “Ya,” kataku. “Dan Sam.” Sarah tersenyum. “Sudah kubilang,” katanya, mungkin kepada Mark. Suara air yang tadi kudengar ternyata hanyalah sungai kecil. Mark melangkah ke depan. “Wah, wah, wah,” katanya. “Diam, Mark,” kataku. “Pupuk kandang di lokerku itu masalah lain, tapi kali ini kamu sudah kelewatan.” “Oh, ya? Delapan lawan dua.” “Sam tidak ada hubungannya dengan ini. Kau takut menghadapiku sendiri?” tanyaku. “Kau pikir apa yang akan terjadi? Kau sudah menculik dua orang. Apa menurutmu mereka akan diam saja?” “Yeah, kupikir begitu. Saat mereka melihatku menghajarmu.” “Kau berkhayal,” kataku, lalu memandang yang lainnya. “Kalau tidak mau diceburkan ke dalam air, kusarankan kalian pergi sekarang. Mark sudah pasti akan kuceburkan. Tak bisa ditawar-tawar lagi.” Mereka semua terkekeh. Salah satu dari mereka bertanya apa maksudnya “ditawar-tawar”. “Ini kesempatan terakhir kalian,” kataku. Mereka semua tetap berdiri tegak. “Oke,” kataku. Dadaku berdebar-debar karena tegang. Saat aku maju satu langkah, Mark mundur dan tersandung kakinya sendiri lalu jatuh ke tanah. Dua orang mendekatiku, keduanya lebih besar dariku. Salah satu mengayunkan tinju. Aku merunduk dan menyarangkan tinjuku di perutnya. Dia mundur dengan tangan memegangi perut. Aku mendorong lelaki kedua. Dia terlontar lalu mendarat dengan bergedebuk sekitar dua meter dari sana. Momentum menyebabkannya jatuh ke air. Dia tercebur. Yang lain- lain berdiri diam, kaget. Aku merasa Sam bergerak menuju Sarah. Aku mencengkeram anak laki-laki pertama dan menyeretnya. Dia menendang-nendang liar namun tidak mengenai apa pun. Saat tiba di tepi sungai, aku mengangkatnya dengan memegang bagian pinggang celana jinsnya lalu melemparkannya ke air. Satu anak lain menerjang ke arahku. Aku hanya bergeser sedikit dan dia pun masuk ke sungai, dengan wajah terlebih dahulu. Sudah tiga. Empat lagi. Aku bertanya-tanya seberapa banyak yang bisa Sarah dan Sam lihat tanpa kacamata. “Ini terlalu mudah,” kataku. “Siapa berikutnya?” Laki-laki paling besar di kelompok itu mengayunkan tinju yang tidak mengenaiku. Walaupun begitu, aku terlalu cepat membalas sehingga sikunya mengenai wajahku dan tali karet kacamata yang kupakai putus. Kacamata itu jatuh. Sekarang aku hanya bisa melihat bayangan saja. Aku mengayunkan tinju dan mengenai rahangnya. Dia jatuh seperti karung kentang, diam, bagaikan tak bernyawa. Jangan- jangan aku terlalu keras meninjunya. Kurampas kacamata night-visionnya dan kukenakan. “Ada lagi?” Dua dari mereka mengangkat tangan di dada sebagai tanda menyerah. Yang ketiga berdiri dengan mulut ternganga seperti orang tolol. “Itu berarti tinggal kau, Mark.” Mark berbalik berusaha melarikan diri. Tapi aku mengejar dan meraihnya sebelum dia kabur, lalu memitingnya. Dia merintih kesakitan. “Ini berakhir di sini, kau mengerti?” Aku mempererat cengkeramanku dan dia mengerang kesakitan. “Apa pun yang membuatmu membenciku, lupakan sekarang. Itu juga termasuk Sam dan Sarah. Paham?” Cengkeramanku semakin kencang. Aku khawatir bahu Mark lepas jika kupererat cengkeramanku. “Aku bilang, kau paham?” “Ya!” Aku menyeretnya ke Sarah. Sam duduk di batu di samping Sarah. “Minta maaf.” “Ayolah. Aku sudah paham.” Aku meremasnya. “Maaf!” teriak Mark. “Katakan dengan sungguh-sungguh.” Mark menarik napas dalam. “Aku minta maaf,” katanya. “Kau berengsek, Mark!” kata Sarah, lalu dia menampar wajah Mark dengan keras. Mark menegang, tapi aku memegangnya dengan kuat dan tidak ada yang bisa dia lakukan. Aku menyeret Mark ke sungai. Teman-temannya hanya bisa berdiri tertegun memandang. Anak laki- laki yang tadi kubuat pingsan sedang duduk sambil mengusap-ngusap kepala seolah mencoba memahami apa yang terjadi. Aku mendesah lega karena dia tidak luka parah. “Kau tidak akan mengatakan apa pun tentang ini kepada siapa pun, paham?” kataku, suaraku begitu rendah sehingga hanya Mark yang bisa mendengarnya. “Semua yang terjadi malam ini berakhir di sini. Aku bersumpah, jika aku mendengar satu patah kata pun tentang ini di sekolah minggu depan, yang terjadi saat ini tidak ada apa-apanya dibanding apa yang akan menimpamu nanti. Paham? Tidak sepatah kata pun.” “Kau pikir aku akan mengatakan sesuatu?” tanya Mark. “Pastikan teman-temanmu juga tidak mengatakan apa pun. Jika mereka memberi tahu satu orang saja, aku akan mendatangimu.” “Kami tidak akan mengatakan apa pun,” kata Mark. Kulepaskan peganganku, kutempelkan kakiku di pantatnya, dan kudorong Mark ke dalam air, dengan wajah terlebih dahulu. Sarah berdiri di dekat batu dengan Sam di sampingnya. Dia memelukku erat saat aku tiba di tempatnya. “Kau belajar kung fu atau apa?” tanyanya. Aku tertawa gugup. “Seberapa banyak yang kau lihat?” “Nggak banyak, tapi aku bisa tahu apa yang terjadi. Maksudku, pasti kau berlatih di gunung seumur hidup atau apalah. Aku tidak mengerti bagaimana kau bisa melakukan itu.” “Kurasa aku cuma takut ada sesuatu yang menimpamu. Dan ya, itu tadi hasil belajar seni bela diri selama dua belas tahun di Himalaya.” “Kau hebat,” Sarah tertawa. “Ayo pergi dari sini.” Mark dan teman-temannya tidak mengatakan apa pun kepada kami. Setelah sekitar tiga meter, aku sadar aku tak tahu harus berjalan ke arah mana jadi aku memberikan kacamata itu kepada Sarah agar dia bisa memimpin jalan. “Aku benar-benar tak percaya,” kata Sarah. “Maksudku, dasar berengsek. Tunggu sampai mereka terpaksa menjelaskannya kepada polisi. Aku tak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.” “Apa kau benar-benar akan melapor ke polisi? Ayah Mark kan sheriff,” kataku. “Setelah apa yang terjadi, kenapa nggak? Pekerjaan ayah Mark itu untuk menegakkan hukum, walaupun anaknya sendiri melanggar hukum.” Aku mengangkat bahu di kegelapan. “Kupikir mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal.” Aku menggigit bibir, takut jika polisi terlibat. Jika sampai polisi terlibat, tidak ada pilihan lain, aku harus pergi. Begitu Henri tahu, kami akan mengepak barang dan pergi ke luar kota. Aku mendesah. “Menurutmu bagaimana?” tanyaku. “Maksudku, mereka sudah kehilangan beberapa night-vision goggle. Mereka kan harus menjelaskan soal itu. Belum lagi air sedingin es itu.” Sarah tidak mengatakan apa pun. Kami berjalan tanpa berbicara dan aku berdoa agar Sarah mempertimbangkan untuk membiarkan masalah ini berlalu. Akhirnya tepi hutan terlihat. Kami bisa melihat cahaya dari taman. Saat aku berhenti, baik Sarah maupun Sam memandangku. Sam diam sepanjang waktu dan aku berharap semoga dia tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas, sekali ini kegelapan menjadi sekutu tak terduga, dan semoga dia agak terguncang dengan segala sesuatu yang terjadi. “Terserah kalian,” kataku, “tapi aku akan melupakan masalah ini. Aku tak mau terpaksa bicara dengan polisi mengenai apa yang terjadi.” Cahaya menyinari wajah Sarah yang ragu-ragu. Dia menggelengkan kepala. “Dia benar,” kata Sam. “Aku nggak mau terpaksa duduk dan menulis surat pernyataan selama setengah jam berikut. Aku bakal kena masalah. Ibuku pikir aku tidur satu jam yang lalu.” “Rumahmu di dekat sini?” tanyaku. ” Aku mendesah dan memandang jam tanganku.Aku tak bisa berhenti tersenyum. Aku tahu kau pasti datang. Aku tidak tahu harus berkata apa. kurasa lebih baik kita pergi dan melihat apakah Emily masih di sini. Ciuman pertamaku. Dia menggigit bibir bawah dengan dahi berkerut. setelah kristal Loric menyebarkan kekuatan Lumen ke seluruh tubuhku.” Henri memegang bola tenis di kedua tangannya. Awalnya Henri tampak tak puas. tidak mengatakan apa pun. Berbagai pikiran berkelebat di benakku. “Sarah tiba di sini pukul enam.” Sarah tersenyum dan aku bisa melihat matanya berkilau di bawah sinar bulan. Setelah segala sesuatu yang terjadi di hutan. hanya saling tatap.” kata Sarah sekitar sepuluh detik kemudian. Selain itu. Begitu sadar apa yang akan terjadi. “Siap?” tanya Henri. Sam bergegas pergi. dengan tangan Sarah yang hangat di genggamanku. Selama beberapa detik pertama. “Yah. ataupun salju.” kataku. Jika dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak lihat. dia juga sering menghela napas panjang dan susah tidur―aku sering mendengar bunyi lantai kayu kamar Henri berderak di bawah kakinya saat aku berbaring dalam keadaan terjaga di kamarku.” kata Henri. Lalu sekarang. Lalu Sarah mundur dan menatapku. Walaupun Henri tidak mengatakan apa pun. “Aku tak akan membiarkan Mark menakutimu. Kami berdiri berhadapan di halaman belakang dengan jarak tiga meter. SALJU PERTAMA TURUN DUA MINGGU KEMUDIAN. tapi kita harus melakukan ini. Tipis. Kakiku terasa goyah dan aku hampir tidak bisa berdiri tegak. Pukul empat.” Sarah mendekat dan menciumku lagi. “Terima kasih untuk malam ini.” Aku mengangkat bahu.Sam mengangguk. Sejak Halloween berakhir. aku akan meyakinkan Sam bahwa penglihatannya menipunya. Kami berjalan sambil bergandengan tangan ke paviliun.” katanya. “Aku juga merasakan yang sama terhadapmu. “Aku tahu.” kataku. Dia mendekatkan diri kepadaku. Aku akan mencoba berbicara dengannya besok. Kamu berdua saling tersenyum. dan aku harus pulang sebelum ibuku mengecek kamar. Aku tidak bisa berhenti memikirkan ciuman kami.” “Pasti Emily masih ada di sini. tak peduli cuaca dingin. Dia meraba lukaku dengan ibu jari.” Tanpa mengatakan apa pun lagi. apalagi sampai diculik dan diserang di hutan segala. mengelus dahiku lembut. Sarah mundur. “Siap. Sampai bertemu lagi. “Sejak pertama kali melihatmu aku tahu kau istimewa.” . “Makanya kita harus cepat. aku terbuai oleh ciuman kami dan pikiran bahwa aku bersama gadis cantik ini.” kataku. nada putus asa terdengar dalam suara Henri yang tegas. Sarah memegang wajahku menghadapnya. “Aku nggak mood hari ini. Tampak jelas bahwa dia gemetar. Lalu dia menyusuri kedua alisku dan menatap ke dalam mataku. “Kalau tidak ada. Mungkin Sam belum pernah terlibat dalam perkelahian. “Yeah. tangannya ditekankan dengan lembut ke pipiku. Traktor kelima bergerak. Rangkaian gerobaknya penuh dan masih ada antrian dengan sepuluh orang atau lebih menunggu giliran mereka. Henri memulai latihanku yang sesungguhnya. aku bakal terdampar di sini. hanya cukup untuk menutupi truk dengan serbuk halus. Kami berlatih setiap hari. tanpa henti. aku tercekat. aku yakin dia tak sabar menantiku siap. hujan. “Aku tahu. Sarah mengusulkan agar kami berlatih memasak sebelum memasak di kelas. memungutnya. bagaimana mengenali rasa takut di mata lawan.” kataku. kami bertiga duduk dan makan bersama.” “Lagi. Henri menggelengkan kepala. menghentikannya. Bola itu juga jatuh ke tanah. serta kecewa. “Kekuatan itu akan muncul dengan sendirinya. atau mungkin ada yang lebih dari itu. lalu diam di atas rumput yang tertutupi salju. aku mengambil jaket Sarah dan menggantungkannya. “Apa?” tanyaku. seperti kata Henri. Tapi sesi-sesi latihan kami semakin lama semakin melelahkan―baik secara emosi maupun fisik. seiring dengan waktu dan seringnya latihan. pengendalian pikiran. “Aku nggak mood hari ini. dan juga bagaimana cara terbaik untuk memanfaatkannya. Henri diam sepanjang waktu. Dia terlihat kesal. dan pergi. Kami memasak dada ayam panggang dengan kentang dan sayur kukus. untuk menjaga agar bola itu tidak jatuh. Aku hanya tahu aku pasti bisa melakukannya. Telekinesis. Henri menggelengkan kepala lagi. Aku mencoba menghentikan bola itu. tanpa gangguan sedikit pun―memantul dua kali. aku mencoba mengerahkan kekuatan.Henri melemparkan bola pertama tinggi ke udara. Suasana hati dan ketidaksabarannya mulai memengaruhiku. Tak berhasil. Saat bola itu mencapai puncaknya. Otot-otot rahangnya menegang. Aku tidak tahu apakah Henri hanya khawatir dengan kemajuanku. Aku bersyukur karena kami dibiarkan berdua. kemudian mendesah. kami juga berlatih pengendalian emosi―tetap tenang di bawah tekanan. Aku menghela napas dalam. Bola jatuh itu seperti ribuan bola sebelumnya―begitu saja. dan lelehan salju. Sarah dan aku . putus asa.” kata Henri. Masakan itu terasa lebih enak daripada yang kuduga. Di samping latihan telekinesis.” *** Setelah latihan itu. Segenap sel di tubuhku berkonsentrasi hanya untuk membuat benda sialan itu bergerak satu senti ke kanan atau ke kiri. “Coba lagi. Yang membuatku panik bukanlah pelatihan Henri yang keras. Dia membawa Bernie Kosar.” kataku. Setelah semua selesai. “Mungkin besok. melainkan tatapan matanya. Lalu dia melemparkan bola itu tinggi ke udara. “Mungkin besok. lumpur. Henri mengambil jaketnya dan pergi jalan-jalan. gulat.” Henri berjalan dan mengambil bola lain. Setiap Garde memiliki kemampuan untuk menggerakkan objek dengan pikiran mereka. tubuhku berlumuran keringat. *** Sarah tiba tepat waktu. dan juga takut. Henri mengangguk dan menunduk. Alih-alih membiarkan kekuatan itu muncul sendiri―seperti tanganku―Henri tampaknya memutuskan untuk membangunkan kekuatan itu dari tidurnya entah di gua mana. Aku berjalan ke luar dan menciumnya saat dia tiba di beranda depan. yang dari tadi mengamati kami. Aku mencoba menggerakkan bola itu. Selain itu. Begitu kami mulai memasak. berjalan ke arah bola itu. Aku tidak tahu bagaimana cara melakukannya. tapi tentu saja bola itu tetap jatuh. Ujian tengah semester pelajaran tata boga kami tinggal seminggu lagi. jauh dari dalam diriku. Henri memandang Bernie Kosar berlari pergi membawa bola. Bernie Kosar. dan berbagai seni bela diri lainnya. Hari ini Henri melatihku lebih keras daripada biasanya dan dengan agresif sehingga membuatku panik. Dia melemparkan bola kedua. kami juga berlatih teknik bela diri seperti perkelahian tangan kosong. Begitu sampai di dalam. “Ayahmu baik-baik saja?” tanya Sarah. “Rasanya ada yang tidak beres. lalu berhenti. Henri berdiri sambil mendesah dan berjalan ke luar. Lalu aku mengikuti Henri ke luar. lega karena mungkin kami tidak perlu lagi berpindah-pindah dan bisa tinggal di satu tempat.” Aku memandang salju yang jatuh.” “Yeah. Selalu begitu. “Lorien ada di sana. “Di sana. Sarah dan aku memandanginya pergi.” “Aku tak tahu berapa lama lagi kita bisa tinggal di sini. biasanya jaraknya hanya satu minggu. Aku segera kembali. apalagi mengalahkan mereka.” kataku.” “Oke.” “Iya. Henri berdiri di beranda―memandang ke kegelapan.” “Dia diam sekali saat makan malam tadi. Aku berdiri di sampingnya.” Henri memandangku sambil mengangkat alis. Aku bisa merasakannya. tapi kupikir kau tidak selalu bersembunyi.” “Sudah kuduga. “Bukan itu saja. “Entahlah. Henri menunjuk ke arah bintang-bintang. “Yah. Saat makan malam selesai. Dia menengadah memandangi bintang sambil merenung. Butiran salju baru mulai turun.” Dia berjalan ke tepi beranda dan meletakkan tangan di susuran tangga. Katakan saja. tapi Henri lebih sering menatap ke luar jendela.” Hatiku mencelos. Matanya penuh rasa khawatir. Henri terus menunduk menatap piringnya dan jarang menengadahkan kepala kecuali untuk mengatakan betapa enaknya masakan kami. Bernie Kosar duduk di sampingnya dengan kepala di pangkuan Sarah. Saat film baru berjalan setengahnya.” “Kita selalu bersembunyi.” katanya. “Mereka kalut.” “Jadi apa yang ingin kau katakan?” “Aku tak tahu seberapa banyak yang bisa kita harapkan. Kami berpegangan tangan dan Sarah menyandarkan kepalanya di bahuku. dan kupikir mereka semakin dekat.” kata Henri. kita tak memiliki harapan untuk melawan para Mogadorian. kita lihat saja nanti. Sarah dan aku mencuci piring lalu duduk di sofa. aku akan mengeceknya. Aku pikir kita tidak aman di sini.” Aku menatap Henri. dan dahinya dihiasi garis kekhawatiran. sebuah selimut menyelimuti mereka berdua. “Sudah kuduga.” “Aku nggak mau pergi. tampak seperti bercak putih berkilau dengan latar belakang malam kelam. “Maksudmu?” “Kau tak akan menyukainya.” Henri mendesah. “Ada apa?” tanyaku. Jarang sekali jika kemampuan itu datang setelahnya. mengenai sekolah dan mengenai rencana kami nonton film hari Sabtu mendatang. kalau memang kurasa perlu. Dan jika itu terjadi. Aku diam. tapi ruang tamu kami hangat dan nyaman. kita tak akan bisa pulang.memecahkan keheningan yang canggung dengan obrolan ringan.” Tentu saja aku tahu di mana Lorien berada tanpa .” katanya. aku tak tahu apakah Pusakamu yang lain akan muncul. Kemampuan itu biasanya datang bersamaan dengan Pusaka pertamamu. jatuh.” katanya. Dan jika kita tidak mengalahkan mereka. “Seharusnya kau sudah memiliki kemampuan telekinesis. John. “Maaf. Aku merasa tidak aman. Sarah membawa film dan kami menontonnya di TV kami yang kecil. Aku tidak bisa memutuskan apakah sebaiknya merasa khawatir atau lega. Dan jika Pusakamu tidak muncul. “Karena kita tidak lagi berada di Planet Lorien. “Pusakamu datang dari Lorien. Di luar mungkin dingin dan berangin.” Henri mengangguk. Tingkahnya aneh. Lorien berbeda dari Bumi. melupakan Lorien. “Tapi baik kau ingin kembali ataupun tidak. Ada semacam magnet yang membuat mataku selalu tertarik ke titik tempat Lorien berada.” kata Henri. kan?” “Mungkin. Jika bukan karena aku. Kau bisa berteman. *** Setelah film usai. Henri mundur dari halaman rumah Sarah dan menyetir ke rumah. Bernie Kosar berlari keluar bersama Sarah. “Apa kalian berdua akan membiarkanku nonton film ini sendirian?” tanya Sarah. atau saat aku bergidik walaupun tidak kedinginan. seperti Henri.” kata Sarah sambil meremas tanganku. “Kau tahu maksudku. bersamamu.” jawabnya.” Aku berjalan kembali ke truk.” “Tapi aku nggak ingat. Dia duduk bersila. Tapi aku tak bisa mengatakan apakah potongan-potongan kejadian itu adalah hal-hal yang kuingat atau hal-hal yang kulihat saat latihan kita.” Henri tertawa. aku mengantarnya hingga pintu depan rumah dan kami berdiri di serambi saling tersenyum. Henri tersenyum.” Aku tahu Henri benar. Kurasa kau tak ingat terlalu banyak. “Apa kau pernah menyesal karena tetap bersamaku selama ini?” “Menyesal? Kenapa kau berpikir begitu?” “Karena tak ada yang akan menyambut kepulangan kita. Aku mencoba menangkap serpihan salju dengan ujung lidah. walaupun jaraknya jutaan kilometer. Dan aku akan tetap begitu sampai mati. “Ada potongan-potongan kejadian yang kuingat dari waktu ke waktu. Aku masyarakat Paradise. ya?” “Nggak juga. Aku . Itu yang sebenarnya.perlu diberitahu. Aku bisa merasakannya di malam hari saat tiba-tiba bulu kudukku berdiri seakan ada yang memperhatikan.” Aku menggelengkan kepala.” Aku mendesah jengkel. mereka akan membunuh kita berdua. aku berbalik dan melihat Sarah melalui jendela. “Mimpi indah.” Tiba-tiba pintu di belakang kami dibuka.” kataku. Nak. Itu intinya. “Sampai besok. atau mungkin jatuh cinta lagi. Aku tidak berharap kau bisa memahami itu.” “Kau adalah hidupku. Dan begitu mereka menemukan kita. Tak ada apa pun yang bisa mengubah itu. dan membangun kehidupan di Bumi?” aku bertanya kepada Henri. kepala Bernie Kosar masih di pangkuannya. pastilah mereka akan menemukan kita. “Apa kau pernah berpikir untuk tinggal di sini. Saat membuka mata. Dan jika kita ceroboh dan tinggal.” “Menurutmu apa yang tidak kumiliki?” “Kehidupan. Lalu aku menutup mata dan menghirup udara dingin. Entah bagaimana aku juga bisa merasakan sebanyak itu. Di Lorien. Saat tiba di rumah Sarah. Kau dan ingatanku adalah satu-satunya pengikatku dengan masa lalu.” “Kurasa kau tak akan merasa seperti itu jika bisa mengingat. Keluargamu sudah mati. Tak ada. Henri dan aku mengantar Sarah pulang. hanya ada tugas untuk membangun kembali planet itu. Aku menciumnya lama sambil memegang kedua tangannya lembut. Tanpa kau. “Kita pergi saat kau masih sangat kecil. Henri. kau pasti bisa membuat identitas baru di sini dan menghabiskan sisa hidupmu dengan menjadi bagian dari suatu tempat. bukan berarti para Mogadorian akan berhenti mencarimu. aku tak memiliki apa-apa. “Aku sudah jatuh cinta. “Tak akan. Begitu juga keluargaku.” “Aku sudah menjadi bagian masyarakat. saat ini. yang berdiri di ambang pintu. Ohio. “Tapi tetap saja kau bisa jadi bagian masyarakat di suatu tempat. tak bisa mencegah perasaan takut ketika teringat apa yang Henri ucapkan saat menjemputku di sekolah pada hari pertama aku bersekolah hingga bel pulang: “Ingat kita mungkin terpaksa pergi mendadak. Henri mengangguk. padahal aku baru saja menghabiskan waktu beberapa jam dengan Sarah.” “Bukan. kenapa kau tak pernah menunjukkannya kepadaku?” “Karena kau perlu memiliki satu Pusaka untuk mengaktifkannya.” kata Henri. Dia meletakkan peti itu di meja dapur. “Bola ini menunjukkan seperti apa Lorien saat ini. alasan yang lebih daripada sekadar bertahan hidup. Kemudian Henri melemparkan bola-bola itu ke udara dan bola-bola itu menyala.” Aku tidak sabar untuk melihat apa lagi yang ada di dalam peti itu. Saat kami kembali.” Henri mengosongkan meja dapur dan duduk di depanku dengan kantong beledu di pangkuan. John. Lalu Henri mengangkat tutupnya dengan cara tertentu sehingga aku tidak bisa mengintip. Dari sanalah Pusakamu datang. tapi benda-benda ini berasal dari tempat yang sama. hari-hari berganti dengan cepat. Dia tersenyum memandangku. Replika itu pastilah tidak sesuai dengan skala sesungguhnya karena sebenarnya Lorien jauh lebih kecil daripada matahari kami.” “Kok bisa?” “Lorien tempat yang istimewa. aku menyelipkannya ke dalam karena mendapat firasat buruk. Aku merasa seolah melayang di udara saat bersama Sarah. Ilmu sihir kuno terdapat di intinya. Kami memandang bola itu bergerak. “Ada sesuatu yang sudah bertahun-tahun ingin kutunjukkan kepadamu. Tapi saat terakhir kali kita membuka Peti ini. Matahari Lorien. Henri masuk ke kamarnya dan keluar membawa Peti Loric. Kerlipan cahaya muncul dari dalam bola-bola itu. “Serius nih?” tanyaku. Bola-bola kaca itu merupakan replika dari sistem tata surya kami. berotasi. Bola paling besar berukuran sebesar jeruk dan melayang di tengah. Alasan untuk menang. Sarah memberiku tujuan atas pelarian kami. mereka tak akan bisa membukanya.” . “Apa isi tas itu?” “Sistem tata surya. “Lalu apa yang terjadi?” tanyaku. Dia memegang bola-bola kaca itu dengan tangan terkatup di depan wajahnya lalu meniupnya. Itulah yang menyebabkan benda-benda yang ada dalam Warisanmu hidup dan nyata. Tapi aku tidak pernah merasa seperti ini kepada siapa pun sebelumnya. sementara bola paling jauh tampak seolah merayap.” “Tapi tadi kau bilang ini bukan bagian dari Pusakaku. Dia mengeluarkan sebuah kantong beledu. Jika para Mogadorian menangkap kita. seperti saat ini. Bola terdekat dengan matahari bergerak dengan kecepatan tinggi. melayang di atas meja dapur. Aku merasa terpuruk saat kami berpisah. memancarkan cahaya seterang bola lampu dan tampak seperti bola kaca berisi lava. Kami membuka kuncinya bersama. Lalu dia meraih dan mengeluarkan tujuh bola kaca dengan berbagai ukuran dari dalam kantong itu. dan aku tahu itu. Bola keempat dari matahari adalah Lorien. memandang permukaan yang mulai terbentuk. dan juga tujuan atas persembunyian kami. “Jika itu bukan bagian dari Pusakaku. itu membuatku takut.” kata Henri sambil memberi isyarat ke arah Peti. Bola-bola itu berputar.” Henri benar. “Ini bukan bagian dari Pusakamu. Dan mengetahui bahwa aku bisa membahayakan nyawa Sarah dengan bersamanya―yah. Bola-bola lain mengorbit mengelilinginya. Ukurannya sebesar bola racquetball atau berdiameter 57 milimeter. lalu menutup Peti dan menguncinya kembali. merasakan antusiasmeku. meredup. Henri menatapku. atau angin yang mungkin bertiup di daratan. tampak lekukan dalam membelah permukaan―aku tahu dulu itu adalah sungai. Semuanya tampak hijau dan biru. “Bukan itu saja. Sulit melihat Lorien tanpa merasa sedih.” “Kalau pesawat itu tak bisa pergi terlalu jauh. Abu-abu lagi. hanya saja kali ini warna-warna itu tetap di sana selama tanganku menyinarinya. Sampai berhibernasi.” kata Henri. lalu bersinar lagi. Cahaya itu bersinar.” Lalu dia menggeserkan jarinya satu senti dari tempat itu. “Apa kaitan museum itu dengan semuanya?” tanyaku. Tapi kemudian aku mematikan cahayaku dan semua pun pudar. “Di sini.” Aku memandanginya.” “Kenapa kau bisa yakin?” “Sinar kecil di sini. Aku tidak tahu apa yang ingin kulihat. apa yang kuharapkan. “Apa itu?” tanyaku. pasti pesawat itu tak bisa pergi terlalu jauh. “Dan di sini Museum Penjelajahan Loric. Planet itu benar-benar hidup. Dia meletakkan wajahnya beberapa senti dari Lorien. “Itu harapan. Aku merasa senang melihatnya bersinar. lalu berhenti. Di bagian tengah bola. Gerakan planet-planet itu berhenti. Dia menarik kekuatannya ke dalam. warna hijau dan biru tadi terlihat kembali. pasti pesawat itu disimpan di museum antariksa. seluruhnya dicurahkan untuk penjelajahan antariksa dari zaman ke zaman. kembali abu-abu. jika apa yang kau lihat benar-benar terjadi. gerakan. subur dan permai.” Henri berdiri dan menjentikkan jarinya. Aku melihat apakah ada warna. namun planet itu masih bernapas. Aku menyalakan tanganku. “Planet Lorien masih hidup dan bernapas.” katanya. Lihatlah betapa indahnya. menunggu waktu. Kadang-kadang aku pun lupa. Tak ada penjelasan lain. Mereka mencoba menghancurkan Planet Lorien. kupikir. petunjuk adanya tanah subur.” Aku mengangguk dan melihat titik yang Henri tunjuk. Tidak ada. Mereka mencoba menghapuskan peradaban kami. gunung-gunung tumbuh. kenapa . harapan selalu ada. Lalu permukaan itu meredup sehingga kami bisa melihat menembusnya. Air tampak beriak. Aku kembali duduk di kursi.” katanya. Aku masih sulit untuk percaya bahwa pesawat itu masih bisa digunakan. seperti denyut jantung hewan tertidur. “Museum itu besar. segar bugar.” “Ya?” kataku. lalu mengatupkan tangan di mulutnya dan meniupkan udara. Tapi suatu saat planet ini akan bangun. Dan kalau pun memang bisa. “Aku sering berpikir tentang apa yang kau lihat. Warna hijau dan biru menyapu bola itu dan langsung memudar begitu uap napas Henri hilang. jika sebuah pesawat kedua berhasil lepas landas dan keluar dari Lorien pada saat perang terjadi.” Planet Lorien memang indah. “Apa yang kau lakukan?” “Sorotkan tanganmu ke planet itu. memaksanya melanjutkan. Roket-roket yang menggunakan semacam bahan bakar minyak yang hanya ada di Lorien.” kata Henri. Semuanya hanyalah bidang-bidang berwarna abu-abu dan hitam. Di salah satu sayap bangunan itu ada roket-roket lama yang berusia ribuan tahun. John. memandang kembali ke bola kaca kecil yang melayang enam puluh senti di atas meja dapur kami.Lekukan-lekukan terbentuk. Lalu berhenti. cahaya redup mulai terlihat. Henri menunjuk satu titik di permukaan globe. Suatu gerakan. “tempat kita lepas landas pada hari penyerbuan. Ya. Saat aku menyorotkan tanganku di atas bola itu. “Nah. Hatiku mencelos. seperti yang selalu Henri katakan. Pepohonan tampak melambai ditiup angin yang entah bagaimana bisa kurasakan. “Seperti inilah Lorien sehari sebelum penyerbuan. yah. yang tampak seperti orang tolol. SAM MENGHINDARIKU. yang memakai kacamata setebal kacamata Sam. Dan itu juga dengan asumsi bahwa pesawat itu berisi makhluk hidup. Tapi aku pikir pasti setidaknya ada satu Loric yang mengemudikan pesawat itu karena. Dan. yah. Aku mengangkat Bernie Kosar ke atas kepala dan menerbangkannya mengelilingi kamar. teman. Kacamata itu persis sama. Dia jatuh miring dengan ekor dikibas-kibaskan memukul kasur. meninju bayangan sendiri. Benda-benda yang kami bawa dari Lorien masih berfungsi. Dia mengetuk lantai dengan cakarnya sambil memandangku dari ujung atas matanya. jika pesawat itu memang bisa sampai entah ke mana. aku yakin kau sudah tahu. Tapi tidak ada. memintaku menggaruk perutnya. bukannya dipenuhi dengan artefak- artefak atau kosong dan hanya untuk membuat para Mogadorian bingung. Cahaya di pusat Lorien masih menyala. Karpet tebal berwarna cokelat menutupi lantai. “Yah. Aku berjalan pelan di lorong hingga menemukan pintu yang pastilah pintu kamar tidur Sam―ada papan bertuliskan MASUK DAN TERIMA AKIBATNYA digantung . pasti pesawat itu sudah tiba di sini. dan seorang lelaki. “Aku sendiri tak yakin. pesawat semacam itu tidak bisa menyetir sendiri. kuduga ayahnya. Aku membuka pintu dan lalu masuk. Tidak ada jawaban saat aku mengetuk pintu. berdiri telanjang dada. DIA langsung menghilang saat melihatku. Jadi kenapa sihirnya hanya sampai segini? Lalu bagaimana dengan yang lain: apa mereka mengalami masalah yang sama? Apakah Pusaka mereka tidak muncul? Aku menegangkan otot-ototku di cermin. lalu meninju udara. DI SEKOLAH. si anjing super yang hebat!” Bernie Kosar menggeliat sehingga aku menurunkannya. salah satu dari kita harus punya kekuatan super. Kalau tidak. Dalam foto itu terlihat Sam. Aku berdiri telanjang dada di depan cermin. ibunya. Mungkin karena aku pernah salah sebelumnya. Dan tampaknya itu bukan aku. “Kalau kamu bagaimana?” aku bertanya kepada Bernie Kosar. Henri menurunkanku setelah latihan hari itu selesai. Kecuali kalau kita kembali ke Masa Kegelapan sehingga aku bisa menerangi dunia dengan cahayaku. Mungkin karena aku harap saat ini aku salah. atau selalu memastikan kami bersama orang lain. Hanya ada aku. Sam tinggal di rumah kecil sederhana di pinggiran Kota Paradise.” kata Henri hari ini. Atas desakan Henri―yang telah menyisir Internet namun tidak menemukan berita seperti dalam majalah Sam sehingga sangat ingin mendapatkan majalah itu―aku memutuskan untuk langsung mengunjungi Sam. planet terdekat yang bisa dihuni selain Mogadore. berarti aku tak berguna. “Apa kau punya kekuatan istimewa? Apakah kau itu anjing super? Apa aku harus memasangkan mantelmu supaya kau bisa terbang di udara?” Bernie Kosar tetap mengibas-ngibaskan ekornya. Ternyata tidak dikunci. Foto- foto keluarga sejak Sam kecil tergantung di dinding kayu.” *** Insomnia lagi. “Aku tak tahu seberapa banyak yang bisa kita harapkan.kau masih memikirkannya?” Henri menggelengkan kepala. berharap cermin itu pecah. menatap ke dalamnya dengan kedua tangan menyala. jadi aku mencoba membuka pintunya. Aku tersenyum ke arahnya dan dia mengibas-ngibaskan ekor.” Bernie Kosar berguling telentang dan menatapku dengan mata besarnya. atau ada bunyi gedebuk di pintu. sementara Bernie Kosar memandangi bayanganku. Aku mengamati lebih dekat. “Lihat! Bernie Kosar. Dia tidak mengenakan kacamata sehingga matanya tampak sangat kecil dan hitam. Aku rasa dia sudah sinting. mirip tokoh kartun. “Sorry. Aku berasal dari planet yang berjarak ratusan juta kilometer dari sini. Itu yang mau kau dengar?” Sam menatapku. Dengan kalut dia menarik headphone-nya hingga lepas sambil merogoh ke salah satu laci. Kau melihat cahaya? Aku sudah bilang. “Kamu ngomong apa?” “Aku lihat apa yang kau lakukan di hutan. Kurasa Sam bisa kebakaran jenggot jika melihat benda itu. Di tengah ruangan. lengkap dengan sembilan planet dan matahari. Aku punya kekuatan super. Saat melihat Sam kembali. tanganku masih di depan dada. Kau mikir apa sih?” “Sebenarnya pistol ini nggak ada isinya.” “Aku sudah tanya Kevin! Dia bilang dia nggak pakai sarung tangan!” “Kau pikir dia bakal memberitahumu yang sebenarnya setelah semua yang terjadi? Turunkan pistol itu. terdapat sistem tata surya. Ada dua poster NASA.” “Katakan! Kau ini apa?” Aku memutar mata. Aku mendorong pintu hingga terbuka. termasuk temanmu satu-satunya. Lalu aku melihat Sam. Kau melihat alien dan konspirasi alien di setiap bagian hidupmu. Sam! Aku berkelahi.” “Tanganmu menyala seperti senter. “Wah. “Kenapa kau sangat ingin memercayai hal macam itu?” Sam menggelengkan kepala dan memasukkan pistol itu kembali ke dalam laci. “Sudah seharusnya. seperti yang sudah biasa berada di rumahnya. poster film Alien.” kataku. Tempat tidurnya rapi. Aku mengintip ke dalam. Sam menengok ke belakang. Sam tampak terkejut dan takut. poster film Star Wars. Kau terlalu terobsesi dengan hal-hal semacam ini. dan satu poster yang menyala di bawah sinar ultraviolet bergambar kepala alien hijau dikelilingi beledu hitam. Lalu Sam mendesah dan menurunkan pistol itu. “Gila kamu. Aku menenangkan diri sebentar dan mencoba bersikap santai. “Lihat tanganku.” “Harusnya kau bilang dari tadi.” kataku sambil mengangkat tangan secara naluriah. Itu nggak normal. Tangannya gemetar. Aku teringat benda yang Henri tunjukkan awal minggu ini.” “Jangan konyol. Sam melihat lebih banyak daripada yang kuduga. Aku sudah belajar bela diri selama bertahun-tahun. ternyata dia menodongkan pistol ke arahku. “Kau sadar betapa konyolnya itu? Berhenti bertingkah seperti orang gila dan turunkan pistol itu. Sekarang turunkan pistol sialan itu. semua benda diletakkan di tempatnya. Dinding-dindingnya ditutupi poster.” katanya. Kau bukan manusia. itu benar. Ada selimut hitam dengan hiasan gambar-gambar Planet Saturnus serta sarung bantal dengan hiasan yang sama.dengan paku payung. membungkuk di atas meja kayu es kecil. Pintu itu terbuka sedikit. Pistol itu ditodongkan ke dadaku.” kataku. itu sarung tangan Kevin. Aku menarik napas dalam dengan gugup.” “Apa yang kau bilang tadi itu benar?” “Bahwa kau konyol? Ya.” Sam menatapku. digantung dengan tali bening.” katanya. “Ya. Kamar itu sangat bersih. Aku menurunkan tangan. Sam. aku ini alien.” Aku sudah khawatir ini akan terjadi. Aku tahu dia sedang memikirkan apa yang baru saja kukatakan. seolah apa . “Katakan apa kau sebenarnya. Kau bisa melemparkan orang dengan begitu gampang. dengan headphone di telinga. “Ada apa?” Sam berdiri. tangannya masih bergetar. “Apa kabar?” tanyaku santai. Aku memandang mejanya dan melihat bahwa Sam sedang membaca satu eksemplar They Walk Among Us. yang baru saja terjadi bukanlah masalah besar. Dia tersenyum. Itu membuatku tertawa. mengenai Henri. ‘Jika ada pertanyaan. Majalahnya juga tidak terlalu tebal―hanya delapan halaman. mata lelaki itu berkilau. aku melihat alien di mana pun dan dalam apa pun. “Apa?” tanya Sam.” “Aku pernah pergi ke suatu rapat. Kayak sesuatu dari Godzilla. Semoga Sam tidak pernah tahu bahwa aku mengatakan yang sebenarnya. “Orang aneh suka barang aneh. Aku membaca judul cerita utama: APAKAH TETANGGAMU ALIEN? SEPULUH CARA AMPUH UNTUK MEMASTIKANNYA! Di tengah-tengah artikel itu ada foto seorang pria memegang sekantong sampah di tangan yang satu dan tutup tempat sampah di tangan yang lain.” “Kau dapat ini dari mana?” tanyaku. Fotonya jelek―seolah ada orang yang memotret tetangganya lalu menggambar sekeliling matanya dengan krayon. Sam mengangkat bahu.” kataku. cetakannya miring. mengenai Lorien―dan aku penasaran seperti apa reaksinya. Sam Goode. Tidak ada. Apa Sam akan percaya kepadaku? Aku membuka majalah itu untuk melihat halaman penerbit yang selalu ada dalam surat kabar dan majalah.” “Tapi kupikir alien itu bentuknya seperti itu. Seperti kau bilang. Tapi sebagian diriku ingin memberitahunya―mengenai diriku.” Aku mengamati sampul majalah itu. editor.’ Semua media . “Langganan. Ini pasti terbitan paling baru. Mungkin waktu itu aku mendaftarkan diri untuk kontes atau semacamnya. dan aku duduk dengan hati-hati di tepi tempat tidurnya.” kata Sam.” kataku. Hasil fotokopi They Walk Among Us ini tetap buruk.” “Apa kau berlangganan majalah lain? Mungkin mereka mendapatkan alamatmu dari sana. Lagi pula aku juga tidak berharap menemukan alamat situs web mengingat Henri sudah mengobrak-abrik Internet.” Sam memandangnya. dan aku bertanya-tanya bagaimana meloloskan diri dari yang satu itu. tempat percetakan. atau paling banyak dua belas. “Nggak ada halaman info penerbit.” katanya. “Fotonya jelek banget. Aku nggak ingat.” “Aku tahu. “Tapi tulisannya pasti sangat meyakinkan. “Kupikir nggak semua alien seperti itu. “Lagi baca apa?” tanyaku. “Ini barang aneh.” “Maksudmu?” “Kau tahu kan majalah dan surat kabar selalu punya halaman yang isinya nama-nama staf. dan sebagainya? Kau tahu. Aku selalu menduga dari situlah mereka mendapatkan alamatku. “Cuma tulisan tentang alien. Kurasa Sam sudah cukup tenang dan tidak akan menodongkan pistol lagi kepadaku. Walaupun seluruh majalah itu dicetak hitam putih.” “Atau membacanya hanya sebagai fiksi dan bukan fakta. “Entahlah.” kataku sambil mengangguk ke arah poster alien hijau di dinding kamar. Lalu dia mengangkat bahu. Pria itu berdiri di ujung halaman rumah. Boleh kulihat?” Sam memberikan majalah They Walk Among Us terbaru. Tidak ada alamat situs web di sana. Mungkin sebaiknya aku nggak baca ini untuk sementara.” Kami berdua tertawa. Hanya ada cerita dan teori. Di bagian atas tertera DESEMBER. “Seperti yang tadi kau bilang. kau ini alien dengan kekuatan super dan kau tidak tampak seperti itu. “Mungkin saja ini nyata. tapi gimana?” Sam mengangkat bahu. “Entahlah. dicetak di kertas berukuran folio. Kita bisa langsung tahu bahwa dia sedang memasukkan kantong itu ke tempat sampah. Majalah itu datang begitu saja. hubungi ini dan itu. penulis. memegang edisi bulan lalu.” Aku memakai kacamata itu lagi. tapi ternyata tidak ada. Aku meraih kacamata itu dari atas lemari dan mengenakannya. Penglihatanmu benar-benar seburuk ini?” tanyaku. tapi yang ini nggak. “Nggak juga. Sam mengangguk. Dugaanku yang kedua adalah para Mogadorian membaca edisi tersebut dan membereskan masalah itu. ibu Sam masih belum pulang. Aku membalik-balikkan majalah itu dengan cepat.” jawab Sam.” “Mataku sudah terbiasa. Kuharap ada lebih banyak informasi daripada yang sudah Sam katakan. Aku membalik-balik edisi terbaru dua kali. pada pukul delapan. sepertinya dia tidak tahu dan itu sudah biasa terjadi. “Apa kau perlu pakai kacamata. Sam tidak pernah mengenakan kacamata. Aku penasaran dari mana mereka mendapatkan informasi itu. Sam mendongak memandangku. Tapi aku tidak yakin itu yang terjadi. tidak ada informasi baru yang muncul.” *** Tiga jam kemudian. berharap artikel tentang Mogadorian ada di majalah itu dan bukan di edisi-edisi awal. dari Planet Mogadore di Galaksi kesembilan. “Kau punya edisi bulan lalu?” Sam mengambil majalah itu dari lemarinya. Sam mengangkat bahu. “Ya. Dunia langsung buram dan aku sakit kepala. Aku merasa aneh karena belum pernah melihat Sam tanpa kacamata. Bahkan saat kami lari waktu pelajaran olahraga. dengan punggung bersandar di tempat tidur. Sam?” Sam mengangkat bahu. aku nggak ngerti gimana caramu berjalan lurus saat memakai ini. Dugaanku yang pertama adalah tidak ada lagi yang perlu dilaporkan. Bisa dibilang kami hanya bermain video game dan menonton TV. saat ini sudah berada di Bumi selama lebih dari sepuluh tahun. “Itu kacamata ayahku. Sam tetap mengenakan kacamatanya. Tidak ada tulisan mengenai Mogadorian. apa pun masalahnya. Lagi pula tidak ada yang namanya Galaksi Kesembilan. Aku memandang Sam. dan sebuah buku tentang alien di pangkuannya. “Dari apa?” “Para alien. Aku bertanya kepada Sam di mana ibunya berada. Selama aku berada di rumahnya. Lalu aku menemukannya di halaman 4. RAS MOGADORIAN INGIN MENGAMBIL ALIH BUMI Ras alien Mogadorian.masa cetak punya. “Jangan sampai rusak.” kata Sam.” Aku melepaskan kacamata dan mengembalikan . “Boleh aku pinjam ini?” tanyaku. Dua duduk bersila di lantai. ampun. Mereka adalah ras alien jahat dengan misi menguasai jagat raya. “Wow. lalu tersenyum seperti menyadari betapa anehnya itu. dan selanjutnya berencana mengungkapkan kelemahan Bumi demi memenuhi misi mereka untuk mendiami planet kita. Untuk makan malam. (berita lebih lanjut ada di edisi selanjutnya) Aku membaca artikel itu tiga kali.” Aku melepaskan kacamata itu.” “Jadi kenapa kau pakai kacamata?” “Itu kacamata ayahku. Diisukan bahwa mereka telah menghabisi sebuah planet lain yang mirip dengan Bumi. kami makan makanan yang bisa dipanaskan menggunakan microwave.” “Kau tahu kan penglihatanmu bisa rusak kalau terus- terusan memakai ini?” “Maka aku akan bisa melihat apa yang dulu ayahku lihat.” “Mereka harus melindungi identitas mereka. Aku membuka pintu. Kurasa kita nggak bisa mengabaikan kemungkinan itu.” “Apa kau pikir mereka benar-benar menculik orang?” “Entahlah. Atau mungkin Sam yakin bahwa jika dia terus mencari. aku mendapati Henri sedang duduk di meja sambil memindai kertas-kertas dengan laptop terbuka. tapi tak ada yang melihatnya. Ayahku pergi ke toko untuk membeli susu dan roti. Bernie Kosar menggaruk-garuk pintu depan. Saat keluar dari kamar.” Itu teori yang sulit dipercaya. Henri dan aku sudah melakukannya selama sepuluh tahun. menundukkan kepala. “Maksudmu?” “Ayahku hilang waktu aku tujuh tahun. Aku yakin dia pernah menceritakan teorinya.” Aku menyalakan lampu dapur. dan kacamatanya ditemukan di trotoar di samping truknya.” kataku.” “Kau tak tahu ke mana perginya?” Sam mendesah. pada akhirnya dia akan menemukan artikel yang membuktikan bahwa ayahnya diculik.” Sam berhenti sebentar. Sam menegang begitu kata-kata itu keluar dari mulutnya dan wajahnya tampak terluka.” jawabnya.” “Ya. Bernie Kosar melesat keluar ke halaman dan . Tidak sulit membuat dirimu menghilang. Mungkin Sam berpikir bahwa kalau dia terus berusaha. kepada seseorang yang menanggapinya dengan tidak ramah. dan dia tak pernah kembali. Aku tidak benar-benar mengerti mengapa Sam memakainya. Bagaimana mungkin tidak ada yang melihat ayah Sam diculik jika insiden itu terjadi di tengah kota? Mungkin ayahnya memiliki alasan untuk pergi dan berencana untuk membuat dirinya sendiri menghilang. “Kupikir ayahku diculik. Tapi kadang-kadang gagasan itu terdengar konyol. “Kenapa kau berpikir begitu?” “Karena dia hilang begitu saja. dan berharap ayahnya bisa diselamatkan.” katanya. Mungkin Sam hanya ingin melihat dunia dengan cara yang sama seperti ayahnya melihat dunia. Matahari masih bersembunyi. hanya diterangi cahaya dari monitor komputer. dia pasti akan bisa melihatnya. “Aku pikir penculikan oleh alien itu sangat mungkin terjadi. “Alien?” “Yeah. “Kau percaya hal-hal macam ini?” tanya Sam setelah beberapa menit diam. Rumah itu gelap. Apa yang terakhir kali ayahnya lihat akan menegaskan dugaan Sam. entah bagaimana terpatri di lensa kacamata. Jelas dia tidak mau membicarakan itu. “Aku nggak tahu. “Setiap hari. aku percaya. Mungkin juga ada bagian dari diri Sam yang benar-benar percaya bahwa apa yang terakhir kali ayahnya lihat terekam di kacamata itu. “Dapat sesuatu?” “Nggak. Kau sendiri percaya?” Sam mengangguk. Aku turun dari tempat tidur.” “Aku bisa mengerti. Sam?” Sam mendongak memandangku. Dia lenyap begitu saja.benda itu ke tempatnya.” Sam mendongak memandangku. Tapi tiba-tiba ketertarikan Sam terhadap alien bisa dipahami. “Aku khawatir kau di sini untuk menculikku. Alasan sentimental? Apa dia benar-benar berpikir itu setimpal? “Ayahmu di mana. dan melanjutkan membaca.” *** KEESOKAN HARINYA AKU BANGUN LEBIH CEPAT daripada biasa. Truknya diparkir di luar toko. Dan apa kuasaku sehingga bisa mengatakan bahwa Sam tidak mungkin menemukan bukti itu? “Aku percaya kepadamu. Setelah yakin bahwa segala sesuatunya seperti yang seharusnya. Kau tahu kata-kata bijaknya: dia yang tidak memahami sejarah akan mengulang sejarah itu. Aku ingin tahu apa yang menyebabkan orang ini tidak menulis berita lanjutannya. jika artikel itu menyebutkan sesuatu tentang kita. semakin hari kemungkinan kita untuk pulang semakin kecil. Bahkan mengungsikanmu dan anak-anak lain dari Lorien.” katanya. salah satunya ke situs web pribadi seseorang. “Maksudku.” “Jadi. Jika suatu hari nanti kita berhasil kembali.” Aku memelototi Henri. Jadi. Kurasa kita lebih baik membuat rencana untuk menghadapi segala kemungkinan yang ada.” “Jadi sekarang apa?” tanyaku.” Aku mendesah. Aku ingin mendengar apa yang orang ini ketahui. Mengendus-endus di berbagai tempat. “Tapi berdasarkan apa yang kau katakan malam Minggu kemarin. jadi tak ada yang bisa melacak lokasi awalnya. Dua minggu yang lalu kau bilang kita terlalu mudah dikalahkan. Dan walaupun kau sudah melihat apa yang terjadi―aku juga melihat citra yang sama―masih ada sesuatu yang janggal. “Kau tahu.” kataku. Kaca pembesar tergeletak di antara kedua majalah itu. Ada banyak hal yang tidak kita pahami. “Nggak usah khawatir. lalu berdiri . pasti aku akan berpikir ulang. Setidaknya mereka tak bisa melacak email yang kukirim. *** Aku mengenakan celana dan kaus olahraga di atas dua kaus biasa. dia melesat ke hutan dan hilang. seperti yang sudah mereka lakukan terhadap Lorien. kerugiannya akan berlipat ganda. edisi asli dan fotokopi yang Henri buat untuk disimpan. kurasa kita harus memahami apa yang telah terjadi untuk mencegah agar hal yang sama tidak terulang kembali. “Masih ada lima lagi di luar sana. “Yah. Hanya ada dua kemungkinan: entah itu dia tidak berhasil menemukan informasi lain sehingga tidak tertarik lagi terhadap cerita itu.berpatroli seperti yang biasa dilakukannya setiap pagi. Itu tak masuk akal. “Ada yang aneh di yang asli?” “Nggak.” “Mengesankan. Segala situasi yang berkaitan dengan hilangnya para Tetua juga tak masuk akal. apa kau pikir semua ini setimpal?” Henri mengangkat bahu.” Bernie Kosar menggaruk-garuk pintu dan aku membiarkannya masuk.” “Bagaimana caramu mengirim email?” “Aku mengubah rute pengiriman email melalui berbagai server di berbagai kota di seluruh dunia.” kataku. atau seseorang menghubunginya setelah cerita itu dicetak. Masih ada dua jam lagi sebelum sekolah. Jam di microwave menunjukkan pukul 5:59. Tapi tidak. Mungkin Pusaka mereka sudah muncul. Dia berjalan dengan tegap. Aku mengiriminya email. apa rencanamu?” “Menelepon. berlari mengelilingi halaman sambil mencari sesuatu yang mencurigakan. “Hati-hati. “Mereka tak bisa melacak email. Dua edisi They Walk Among Us tergeletak di atas meja dapur. mengikat sepatu tenisku. Mungkin Pusakamu hanya tertunda. “Apa kau pikir kita perlu menggali semua ini?” tanyaku. Aku mengecek silang artikel- artikel di edisi ini dan mendapatkan beberapa hal. juga terasa janggal.” “Oke. yang selama ini tidak pernah kupertanyakan. aku beruntung. bagaimana jika ini semua ternyata jebakan? Bagaimana jika mereka hanya ingin menemukan tempat persembunyian kita?” Henri mengangguk. Artikel itu berisi mengenai rencana para Mogadorian untuk menyerbu Bumi. Dan jika sejarah itu berulang. lalu berlari ke rumah. matanya tampak senang. “Wah. tiga meter di depanku. Henri menunggu. “Sampai nanti. terengah-engah. sebatang sabun. Dia sudah duduk di bangkunya yang biasa di belakang kelas. Setengah kilometer untuk pemanasan. “Tanpa kacamata. “Aku memikirkan apa yang kau katakan. “Kau itu anjing aneh. Angin kencang di rambutku. menuruni jalan masuk mobil. dan pergi ke kamar mandi. Lalu aku berdiri dengan jari-jari dikaitkan di belakang kepala. balas menatapku dengan lidah terjulur di salah satu sisi. Dia langsung melahap habis daging itu.” Kami berjalan keluar menyapa udara dingin dan segar.” Aku duduk di sampingnya dan tersenyum. Aku mau masuk.” “Selamat lari. Saat aku kembali menghadap ke depan. Dia mendongak. tampak begitu senang. Aku tidak yakin apakah sebaiknya aku berhenti dan menunggunya.” Bernie Kosar menatapku sedetik. berlari cepat. tapi aku berada jauh di depannya. Teman. lalu berlari sangat kencang. berjalan memasuki gedung sekolah. Mungkin konyol jika aku terus memakainya. Bernie Kosar tiba tiga puluh detik kemudian. Pulang ke rumah. ke jalan berkerikil.” Aku menambah kecepatan. Sam orang yang pertama. Bernie Kosar berlari di sampingku seperti yang kuduga. Bernie Kosar menyalak senang beberapa kali. “Hebat. Padahal alasan sebenarnya adalah Henri berharap olahraga tambahan ini akan memperkuat tubuhku dan membangunkan Pusakaku yang tidur. “Hati-hati di jalan. Aku menodongkan jariku . Rasanya luar biasa. “Siap lari kencang?” Bernie Kosar tidak memperhatikanku. mengambil bungkusan berisi beberapa lembar daging asap. Aku meninggalkan Bernie Kosar di balik kepulan debu. beserta handuk. secepat yang kubisa. Aku berlari kencang sepanjang delapan ratus meter berikut. Henri tampaknya yakin bahwa olahraga tambahan akan membantu latihanku. “Siap lari? Mau ikut lari?” Bernie Kosar mengibas-ngibaskan ekor dan berputar- putar. dan sebotol kecil sampo ke dalam ransel agar bisa mandi begitu tiba di sana. sekolah mulai tampak. pepohonan tampak kabur. Sam memasukkan majalah itu ke dalam tas.” Aku menurunkan tas. Lalu aku berbalik. Aku rasa kita sekarang punya ritual pagi baru. Aku heran karena dia bisa mengerti. jika memang benar Pusakaku itu tidur. nih?” Sam mengangkat bahu. membukanya. tahu?” Setelah lima menit. tiba-tiba Bernie Kosar melompat keluar dari hutan.dan meregangkan badan.” kataku. Aku memaksakan diri berlari secepat yang kubisa mumpung hari masih terlalu pagi sehingga tidak ada orang yang akan melihatku. Aku mengembalikan They Walk Among Us yang kupinjam. “Oke. Kenapa. Kumasukkan pakaian yang akan kukenakan di sekolah. Aku menunduk memandang Bernie Kosar. Aku berlutut dan membelainya. Aku memandang ke belakang dan melihatnya berlari secepat mungkin. ini dia. *** Aku orang kedua yang masuk kelas astronomi. Sekarang aku berlari ke sekolah setiap pagi.” kata Henri. duduk dan memandangiku. Sulit untuk membayangkan diriku akan terbiasa dengan matanya yang tampak begitu bulat. “Oke. Aku mulai berlari pelan. dan memberikannya kepada Bernie Kosar. Dia terus berlari di sampingku dengan lidah terjulur. Lalu Bernie Kosar melesat masuk ke hutan dan hilang. Aku menunduk memandangnya. Dia duduk di kursinya yang biasa.” Aku mengangguk. saya menelepon untuk menanyakan mengenai salah satu artikel They Walk Among Us edisi bulan lalu. yang lain mulai tertawa lagi. “Athens?” “Athens. “Dor!” kataku. Aku harus tanya Henri. Lalu Sarah masuk. Yang artinya. tapi sekarang aku punya nomornya. Bernie Kosar memunculkan kepalanya dari tempat duduk penumpang dengan ekor dikibas-kibaskan begitu melihatku. tak terlalu sulit untuk menemukannya. Henri langsung mengangkat telepon dan duduk di meja dapur. Abang-abangku yang sudah kuliah akan pulang.” Saat tiba di rumah. Aku tidak bisa mendengar jawabannya. dan akhirnya kami berdua tertawa.” Suara berat menjawab di ujung seberang. Sam mulai tertawa.” katanya. Setiap kali salah satu dari kami hampir berhenti tertawa. lalu tertawa lagi sebentar. Ohio. Kami berdua tidak bisa berhenti. oke. tapi aku tahu kami nggak punya rencana apa pun.” Aku memandang Henri. lalu diam. Sarah berjalan ke arah Sam dan aku dengan pandangan bingung. Henri tersenyum. Dia sendirian. Lalu aku tertawa.” “Yah. *** Henri menungguku seperti biasa. “Kalian menertawakan apa?” “Aku juga nggak tahu. Mark murid terakhir yang masuk. “Oke. Aku mau telepon dulu. Sarah mengedipkan mata.” “Karena kami cuma berdua dan nggak bisa merayakan Thanksgiving. kemungkinan kedua lebih mungkin terjadi―ada seseorang yang pergi ke penerbitan itu sebelum kisahnya berkembang. Aku masuk. Sarah mengulurkan tangan di bawah meja dan memegang tanganku. “Bagus. kali ini yang duduk di sampingnya bukan Sarah melainkan gadis lain.” . tentu saja. Aku duduk di depannya dan mendengarkan. “Ada yang ingin kukatakan. Murid-murid lain memandangi kami saat mereka masuk. “Bukan. Lalu kami mulai mencatat.” “Bagaimana kau bisa tahu?” “Aku punya cara.” katanya. hanya perlu sedikit usaha.” “Kok mereka bisa tahu tentang aku?” “Menurutmu?” Guru masuk. Perlu tiga email dan lima kali menelepon. “Athens itu berapa jauh jaraknya?” “Dua jam dengan mobil. Aku mengerti apa maksud Henri. Pasti bakal asyik. saya bukan pelanggan. “Athens. Tapi teman saya berlangganan. Mereka ingin ketemu kamu.” “Kenapa?” “They Walk Among Us ditulis dan dicetak di sana.” Henri memandangku. Majalah itu juga dikirim dari sana.” kata Henri. “Yang jelas.” Sarah tersenyum.” “Wah. jadi aku rasa jawabannya ya. “Apa?” “Aku tahu ini mendadak. semua keluargaku berkumpul. “Ya. Aku pikir gadis itu anak kelas tiga. tapi orangtuaku ingin mengundangmu dan juga ayahmu untuk makan malam Thanksgiving besok. lalu duduk di kursi di sebelahku.” kataku.seperti menodongkan pistol dan menembaknya. Para Mogadorian pasti juga menemukannya dengan begitu mudah seperti Henri. “Ya.” “Kau bakal pergi?” “Maunya sih nggak. Itu akan membantu kita tetap tersembunyi dan selalu berada di depan mereka.” “Bahkan kalaupun kita tahu seperti apa tampang mereka. kali ini dengan nada ragu. bangkit berdiri.” “Apa pun katamu. Aku ingin tahu bagaimana mereka berbaur. “Ya. keesokan paginya Henri bangun dan mencetak rincian petunjuk arah dari sini ke Athens. “Sampai ketemu sore nanti. Aku ingin tahu apa yang telah mereka lakukan sehingga orang ini sangat ketakutan. Orang itu menjawab dengan suara gemetar. kan?” Henri tersenyum. mengakhiri perdebatan kami. Tapi kupikir ini akan membantu kita. Ohio. dan mendorong kursi ke meja.” “Jadi kenapa aku memegang ini?” tanyaku sambil mengacungkan kertas berisi alamat dan nomor telepon. Berarti sekitar pukul sembilan aku sampai di Athens. “Kurasa kita berdua tahu apa yang terjadi. Tapi aku tahu Henri tidak akan mendengarkan keberatanku. tubuhku tegang dan kaku. Henri bilang dia akan pulang secepatnya sehingga kami bisa pergi ke jamuan Thanksgiving di rumah Sarah. Belum tentu dia bisa membunuhku. “Jaga-jaga.Diam lagi.” kata Henri. “Dia bilang.” “Kita tahu seperti apa mereka saat mereka menyerang Lorien. tapi mereka mungkin sudah berubah. aku akan mencoba membunuhnya. Aku tahu apa yang akan kukatakan.” Aku mendesah. “Tidak.” “Mungkin. Dia memandangku. Kurasa aku di sana tak lebih dari satu jam. “Kita harus tahu apa yang terjadi. Lalu Henri menutup telepon dan meletakkannya di meja.” “Ini yang bikin aku berpikir sebaiknya kau nggak pergi. saya penasaran dengan artikel mengenai para Mogadorian. dengan nada tegad bukan dengan nada ragu seperti yang biasa menyertai kata itu. jika kita melihat mereka di jalan mungkin sudah terlambat. “Yah. lebih dari sepuluh tahun lalu. “Kau yakin ini perlu?” tanyaku. mungkin juga nggak.” “Kita kan sudah tahu seperti apa mereka.” Henri menganggukkan kepala. Henri mengangkat bahu.” SETELAH KAMI BERDEBAT SELAMA BEBERAPA JAM mengenai keinginan Henri menemui penerbit They Walk Among Us. lalu mendekatkannya lagi.” katanya.” . Lalu telepon itu mati. “Kau sadar apa yang akan kau katakan kepadaku jika peran kita terbalik.” Aku mencondongkan tubuh dan berusaha mendengar. paling lama dua jam. Aku tidak suka jika Henri menyetir sendirian ke Athens sementara aku duduk-duduk di rumah. “Kau yakin bisa pulang tepat waktu?” tanyaku. “Halo?” katanya lagi. gelisah. Jika aku melihat satu. Dan jika orang ini sudah melihat mereka. Mereka sudah lama tinggal di Bumi.’ lalu menutup telepon. Aku pasti sudah di rumah pukul satu. Aku menyerah. Henri mengumpulkan kertas-kertas. Aku ingin tahu apakah mereka menyebut-nyebut kita ataukah mereka mencari kita dengan cara yang belum pernah kita pikirkan. Tidak ada lanjutan beritanya di edisi bulan ini. Dia juga memberikan kertas berisi alamat dan nomor telepon tempat tujuannya. terima kasih. kita bisa tahu seperti apa tampang mereka.” “Mungkin. “Halo?” Henri menjauhkan telepon dari telinga. John. “Aku pergi sekarang.” jawab Henri. memandang telepon itu. ‘Jangan telepon ke sini lagi. Lagi pula karena ini hari libur. Perasaan gelisah dan tidak tenang merayapiku. Sekarang seluruh tubuhku tahan panas. Menghindari musuh kami. Tidak ada yang istimewa: celana khaki. Setelah itu aku mengirim SMS lagi. Membuatku lupa siapa dan apa diriku untuk sementara waktu. Kulitku terasa seolah disiram air hangat-hangat kuku. Jika Henri tidak muncul. Mungkin aku akan mengatakan bahwa truk Henri rusak dan aku harus menolongnya. Aku tidak tahu kenapa. Kucek ponselku. Bernie Kosar dan aku berjalan ke beranda depan dan memandangi Henri pergi. Karena tidak ada truk. Itu artinya kami masih tidak terlacak. Aku berjalan ke pintu depan. Dia memiliki sepasang sepatu tanpa tali yang cocok di kakiku. Dan dia tidak mungkin mengecewakanku. Aku bermain video game dan berselancar di internet. Pada siang hari aku mengirim SMS ke Henri. tapi aku punya firasat buruk. Aku berusaha berpikir bahwa Henri memerlukan waktu lebih lama. Berdiri di bawah guyuran air panas selama mungkin. yang tampak sangat konyol sehingga aku tertawa―pertama kalinya hari ini. Aku berlari di pinggir tanah lapang.“Oke. Semoga Henri muncul dan kami semua bisa menikmati jamuan Thanksgiving. Mungkin ponselnya mati. Seharusnya kami sampai di rumah keluarga Hart satu jam lagi. Sebenarnya aku merindukan rasa panas. aku memutuskan untuk lari. Karena kami selalu melarikan diri. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Sarah. Tak ada pesan. tapi kalau begitu seharusnya dia sudah menghubungiku. Mungkin aku bahkan tidak akan berkeringat dan tiba di sana lebih cepat daripada jika naik truk. tak ada SMS. Bernie duduk di sana memandang ke luar jendela. Terpaksa. Dia mendongak memandangku dan mendengking. Benar-benar cemas. Menutup mata dan menikmati air jatuh di kepalaku dan mengalir ke bawah. Mungkin aku akan mengatakan bahwa Henri sakit dan aku juga tidak enak badan. Jam tiga lewat. Aku mencoba menenangkan diri dengan kemungkinan-kemungkinan itu. kemeja berkancing. Pasti ada yang tidak beres. Aku makan siang dan memberi makan Bernie. Aku suka mandi air panas. semakin gelisah.” kataku. satu jam bagaikan dua puluh jam. Lalu aku mencari berita yang mungkin berkaitan dengan salah satu anak lain. Aku melihat jam. Waktu berjalan dengan lambat. Jika pukul lima nanti tidak ada kabar dari Henri. Mungkin baterainya habis. jalanan pasti kosong. *** Hari itu terasa panjang. Henri tahu makan malam itu penting bagiku. aku hanya memiliki sepatu lari. mengatakan bahwa aku akan pulang nanti malam. dan merasa senang karenanya. Henri berjalan keluar menuju truk lalu naik ke dalamnya. dan pergi. Aku pergi ke kamar Henri dan melihat lemarinya. Kuharap Henri cepat kembali. Aku mandi dengan harapan saat selesai nanti Henri sudah duduk di meja dapur sambil menikmati secangkir kopi. Saat keluar dari kamar mandi. Pada pukul dua aku mulai cemas. Membuatku lupa akan hidupku. Aku membuka keran air panas besar-besar tanpa repot- repot membuka keran air dingin. satu menit bagaikan sepuluh menit. Aku tidak merasakan apa pun. aku akan membuat rencana lain. Ini mungkin jamuan pertama yang pernah kami datangi. sweater. Aku menepuk kepalanya dan kembali ke kamar. walaupun aku tahu itu tidak mungkin. Aku mengecek ponselku berkali-kali. Henri selalu membalas SMS secepatnya. aku membuka lemari dan mencari pakaian terbagus yang kumiliki. Tak ada jawaban. Dia tidak membalas. . Aku tidak menemukan apa pun. aku akan mencari alasan. Melihat pakaian Henri di lemarinya membuatku semakin cemas. Aku mengucapkan selamat tinggal kepada Bernie. brussels sprout. Kami turun ke bawah. Mereka saling berdebat. Melihat mereka seperti itu membuatku berharap seandainya aku dan Henri melakukan sesuatu yang bisa kami nikmati bersama.” kataku. Ketika berjalan di halaman rumahnya. main football di sekolah. saling mengejek. dan satu ruangan di loteng menjadi kamar salah satu abangnya. Saat kami tiba di kamar Sarah. membuka pintu depan saat aku menginjak teras rumahnya. Sarah tertawa. suaranya sama seperti ketika aku menjulurkan kepala keluar jendela truk saat kami melaju di jalan bebas hambatan. Di sana ada dua abangnya. Setidaknya kecemasanku berkurang. Dengung angin di telingaku juga luar biasa. “Sepanjang hari ini aku ingin melakukan itu.” Kami masuk dan Sarah mengajakku berkeliling. Aku terkejut.” katanya. “Baunya sedap. Sarah kembali ke dapur untuk membantu ibu dan adik perempuannya mengurus makan malam.” “Tak sabar ingin cepat-cepat makan. mungkin sekitar seratus atau seratus sepuluh kilometer per jam. satu abang Sarah dan ayahnya mendukung salah satu tim. ruang keluarga―ada di lantai satu. Aku belum pernah menyaksikan pertandingan football dengan sungguh-sungguh.” “Ayahmu baik-baik saja?” “Yeah. Mereka mencintai football. Sarah membawaku ke ruang keluarga. aku menariknya lalu menciumnya lagi. Aku berputar dan menoleh ke belakang. Sarah tersenyum dan meninju lenganku lagi. “Halo. Dia tersenyum dan melambai. ubi. dapur. Beberapa kali aku berlari dengan kecepatan penuh. karena cara hidupku dan Henri. bukan masalah besar. Sebentar lagi dia pasti tiba di sini. Saat Sarah berjalan ke pintu. ruang makan. Ruangan-ruangan lainnya―ruang tamu. Kurasa. Lalu aku kembali memandangnya dan bertanya apa dia bicara denganku. Jelas mereka sudah melakukan ini selama bertahun-tahun. sedang menonton football dengan ayahnya. sedangkan abangnya yang satu lagi mendukung tim lain. “Dan aku juga ingin menciummu lagi nanti. Abang-abang Sarah. dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat lain.melewati hutan. kamar-kamar tidur ada di lantai dua. dan ayahnya.” katanya lembut sambil bergerak meninggalkanku.” “Ayahmu mana?” “Ada urusan. aku melihat Sarah mengintip dari balik jendela. Lalu dia menarik dan menciumku. Rumahnya bagus. yang pulang ke rumah selama akhir minggu. Rasanya enak membakar energi seperti itu.” katanya. Dan jelas mereka bersenang-senang. “Ibuku memasak sepanjang hari. selain latihanku dan berlari serta bersembunyi setiap saat. Rumah keluarga dengan model klasik. Aku menarik napas dalam dan mencium bau makanan: kalkun dan isinya. dan meninju lenganku. Udara dingin mengenai wajahku dan rasanya luar biasa. pura-pura menduga Sarah berbicara dengan orang lain. tapi senang. Itu membuatku berpikir seandainya aku memilik ayah dan saudara laki-laki sebenarnya dan menghabiskan waktu bersama . aku berhenti berlari. Perhatian utamaku adalah bagaimana berbaur dengan lingkungan tempat kami tinggal. aku tidak pernah memperhatikan apa pun selain kehidupan kami dengan sungguh- sungguh. dia menutup pintu dan menciumku. Aku tidak kehabisan napas sama sekali. “Kau konyol. pie labu. bersorak dan menggerutu sepanjang jalannya pertandingan. Tampan. Sekitar 100 meter dari rumah Sarah. Aku ingin tahu berapa kecepatan lariku saat usiaku 20 atau 25 tahun nanti. mungkin malah seumur hidup. Aku duduk bersama mereka. Dan pada pertandingan hari ini.” bisikku. Namun satu-satunya bayangan yang muncul hanyalah Henri berdiri di depan Mogadorian. atau apakah aku akan bertemu Henri lagi. berlari sendiri. aku mulai panik. Saat kami di luar. bertempur melawan para Mogadorian. Aku mulai panik. Hart masuk ke ruang makan. Seluruh keluarga Sarah bertanya macam-macam kepadaku. Aku bisa naik bus. tapi pasti sulit menemukan jalan. Saat pertandingan dihentikan karena istirahat. Alas piring dan perlengkapan makan ditata rapi di depan setiap kursi. Namun. melawan mereka hingga mereka kalah atau aku mati―membuatku takut. Mr. tanpa seseorang untuk menjelaskan mengenai Pusakaku atau melatihku. Sarah mengajak semua orang ke halaman belakang sehingga dia bisa memotret. Ponselku tidak bergetar. Sarah tersenyum ke arahku dari seberang meja. Namun upayanya sia-sia. terutama karena aku harus menghindari lalu lintas dan juga jalan besar. Masuk ke voicemail. Di tengah-tengahnya ada bunga. Makan malam itu seakan berlangsung seumur hidup. Sarah bertanya apakah ada masalah. Aku belum pernah ditanyai begitu banyak hal oleh begitu banyak orang secara bergantian. Piring saji berisi kalkun berada di depan kursi Mr.mereka. seiring berlalunya waktu. Piring-piring saji berisi makanan ditata di bagian tengah meja. “Ada kabar dari ayahmu?” tanyanya. Waktu berjalan dengan sangat lambat. yang membuatku merasa lebih baik selama setengah detik. Aku bisa meminta tolong kepada Sarah. aku semakin ragu akan ada telepon atau SMS yang datang. termasuk memberitahunya bahwa aku adalah alien dan bahwa aku yakin Henri ditangkap atau diculik oleh alien jahat yang sekarang sedang mencariku agar bisa membunuhku. Hampir pukul lima. dan aku mengambil semua makanan dalam porsi kecil. Celemeknya sudah dilepaskan. dan sudah mengesetnya ke nada getar agar tahu jika ada telepon atau SMS. Sarah mencoba menenangkanku dan berkata bahwa segalanya baik-baik saja. tempat yang pernah kutinggali. Mereka bertanya mengenai masa laluku. Tapi itu berarti aku harus menjelaskan banyak hal. Setelah makan malam selesai. bersembunyi sendiri. Hart. aku merasa sangat ingin pergi. Aku justru semakin cemas. mengenai ibuku―yang. Mrs. Membayangkan aku tinggal sendirian―dengan Pusakaku yang sedang berkembang. “Saya baru meneleponnya. seperti yang selalu kukatakan. Dia sangat menyesal. Masih tidak ada kabar. Sebelum kami duduk. tapi itu makan waktu terlalu lama.” kataku. Dia memakai sweater dan rok yang indah. aku pergi ke kamar mandi dan mencoba menelepon Henri. Rasanya aku tidak akan bisa makan banyak. Hart mulai memotong kalkun. mengenai Henri. Aku meletakkan ponsel di pangkuan. Itu satu-satunya jawaban yang benar- benar jujur. sebelum menyantap hidangan penutup. terlambat dan meminta agar jangan menunggunya. Begitu aku duduk. Aku mengecek ponselku. tapi aku harus memikirkan cara agar Sarah atau . Aku tidak tahu apakah jawaban- jawabanku masuk akal. Aku bilang aku mengkhawatirkan Henri. dan tahu bahwa dia akan mati. emm. Ponsel di pangkuanku terasa seolah seberat ribuan kilo. Bagaimana caraku pergi ke Athens? Aku bisa lari. Aku mencoba membayangkan di mana Henri berada dan apa yang dia lakukan. tampak takut. Bukan ide yang bagus. Saat kami berkumpul untuk berfoto. Hanya diam di sana. Makanan mulai diedarkan. mencari jalan sendiri. Dia. meninggal saat aku masih kecil. Aku kembali ke meja. Meja itu terlihat luar biasa. Saat kami berpose. semua orang sudah duduk. ibu Sarah memanggil kami untuk makan malam. membuka mata. yang sedang memeriksa kamera untuk mencari tahu apa yang terjadi. Sebagian besar serpihannya masih menempel di dinding. “Sial!” teriakku. mengambil kertas berisi alamat dan nomor telepon yang tadi Henri berikan. Namun aku tidak tahu bagaimana atau apa yang harus kulakukan untuk menghentikannya. Tidak. dan mengacungkan tanganku ke arah cermin. menatap lensanya sambil mencoba memikirkan alasan yang tidak akan menimbulkan banyak pertanyaan. Aku kembali panik. Mataku merah. Namun aku senang karena akhirnya kemampuan telekinesisku muncul. Aku berdiri memandangi cermin itu. Aku harus menemukan Henri. Cermin itu pecah walaupun jaraknya tiga meter di depanku. Saat itu juga lensa kamera retak dan pecah. tapi aku harus pergi―dia membutuhkanku. aku akan membunuh mereka satu demi satu untuk mendapatkan Henri kembali. Aku berjalan masuk ke kamar. berlari menembus hutan dan tiba di rumah dalam waktu beberapa menit. “Apa Henri baik-baik saja?” “Ya.keluarganya tidak marah kepadaku. Aku hanya berdiri terkejut. Apa yang terjadi di rumah Sarah bukan kebetulan belaka. abang. Kuputar nomor itu.” Aku memandang kertas dan memutar nomor itu lagi. dia mengalihkan pandangan dariku ke orangtuanya. Aku benar-benar minta maaf. kuharap tidak. Keluar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Terdengar suara rekaman. dan ketakutan jika Henri mati menggerogotiku. Kupandangi pecahan cermin di lantai. lalu pergi sebelum mereka terlalu banyak bertanya. Kutendang kursi yang langsung terbang melintasi dapur dan mendarat di ruang tamu. Entah bagaimana aku tahu bahwa akulah yang menyebabkannya. Tanganku mulai bergetar. memusatkan perhatian pada satu pecahan cermin dan mencoba menggerakkannya. seolah dia juga merasa ada yang salah. . Rasa dingin menjalari punggungku. Tanganku gemetar. Aku berjalan ke dalam rumah. gusar. Bernie Kosar gelisah. lalu menurunkan kamera dan menatapnya bingung. Sarah sedih karena kameranya rusak. Rekaman yang sama. Orangtua Sarah bergegas menghampiri untuk memastikan Sarah baik-baik saja. Aku menunduk dan menatap tangan untuk memastikan keduanya tidak bersinar. Aku menatap kamera.” Sarah mengangguk dan kami berciuman lembut. “Maaf. aku mulai berlari. Kudengar Bernie Kosar menggaruk-garuk pintu saat aku berlari di halaman. Tiba-tiba aku berteriak. air mata merebak tapi tidak ada yang jatuh. Terasa panas. dan adiknya. Masuk lagi. Begitu keluar dari pintu depan. Kuharap ini bukan ciuman terakhir.” Pikiran Sarah teralihkan. Aku menghancurkan kamera Sarah. Mulutnya terbuka dan air mata menggenang di matanya. Apa aku bisa mengendalikannya? Henri pasti senang jika tahu ini terjadi. Jika para Mogadorian menahan Henri. Tapi saat menengadah. tapi aku harus pergi. “Aku baru saja dapat SMS dari Henri. Kutatap cermin. aku berjalan ke arah Sarah dan menariknya dari orangtuanya. Aku berlari pulang melalui jalan yang tadi kulalui saat ke rumah Sarah. Sarah menjerit. Henri. Aku tercekat. Aku merasa sangat panik. aku melihat kamera di tangan Sarah bergetar. Marah. Aku mengucapkan terima kasih kepada orangtua Sarah. Kuulurkan tangan ke depan. Berpikir cepat. Aku mengepalkan tinju. Aku harus pergi dari sini. nomor yang Anda tuju tidak terdaftar atau tidak aktif. Aku langsung masuk ke kamar. Aku menghindari jalan utama. Kupejamkan mata kuat-kuat dan menekan semua kemarahan itu ke perutku. Aku mengambil Peti. Aku memutar nomor Sam. Aku meremas gembok sekuat mungkin. Aku meraih gembok itu. “Halo?” Aku menutup mata dan menekan batang hidungku. Aku memusatkan perhatian pada sendok itu dan kusapukan tangan ke samping dan sendok itu pun terbang. Ada apa?” “Keadaannya buruk. tapi semua rasa takut dan marah tetap ada di dadaku. pikirku.” “Hei. merosot di kursi. Aku duduk di meja dan memelototi gembok itu. Memegang gembok dan menunggu bunyi ‘klik’. Gembok berbentuk lambing Loric memandangi wajahku. Menunggu bunyi ‘klik’. Lalu mataku terbuka lebar. lalu. Dua senti. Dan aku perlu bantuan. Kuperhatikan pantulan dinding kayu yang tampak tua dan rapuh di cermin. Henri pasti senang. Namun setelah lima belas detik. Sam. Di atas konter. Kayu. Aku berusaha mengangkat pecahan cermin itu. seumur-umur belum pernah mataku selebar itu. Apa kau baik-baik saja?” “Nggak. Henri pernah berkata bahwa biasanya emosilah yang memicu Pusaka. Aku menarik napas dalam dan menutup mata. selain Sarah.” “Kau yakin?” “Sampai ketemu. Satu senti.” Aku menjatuhkan pecahan cermin itu dan berlari ke kamar Henri. Tapi tidak ada ‘klik’.” “Oh? Ada apa?” “Apa ibumu bisa mengantarmu ke sini?” “Ibuku nggak di rumah. Peti itu ada di lantai di samping tempat tidurnya.” Aku menutup telepon dan menjatuhkan kepala ke . Mulanya pelan. terus naik ke atas. dan masih hidup. pikirku. otot-otot lenganku menegang dan mengeras. tangan kananku terulur dan bergerak bersamanya hingga pecahan cermin itu setinggi mata. Aku menahan pecahan cermin di sana. Dia sedang kerja shift di rumah sakit karena bayarannya dua kali lipat pada hari libur. Tua dan rapuh. Aku takut merasakan bunyi ‘klik’ dalam genggamanku. “Sam.” Hening lagi. Dan aku akan menjemputmu. Aku berkonsentrasi dengan segenap jiwa dan raga. Seandainya Henri bisa melihat ini. bersama-sama. Aku mengusap rambut dan berdiri. dan melemparkannya ke meja. Secercah harapan. Saat itu kau bisa membukanya sendiri. Perlahan-lahan pecahan cermin itu mulai terangkat. Butir- butir keringat muncul di dahiku. satu meter dariku.Napasku teratur. Aku menarik napas dalam dan gemetaran. satu-satunya teman yang kumiliki di Paradise. Takut itu kata yang terlalu sederhana. tapi percuma. “Aku ke sana secepatnya. berlari ke dapur. pecahan cermin itu mulai bergetar. Itu yang kurasakan. panik dan takut menembus rasa senang atas temuan baruku. “Kumohon jangan terbuka. ada sebuah sendok kotor. Aku butuh bantuanmu. Aku memandang pecahan cermin itu.” kataku. Bernapas pun terasa sulit. Aku melepaskan gembok. Henri. Dan tiba-tiba. Pasti itu yang terjadi sekarang. Ngeri. lalu. “Kau terdengar parah. Peti Loric! Henri pernah berkata: “Hanya kita berdua yang bisa membukanya. lalu cepat. Dadaku naik turun seolah aku baru saja berlari kencang sejauh 15 kilometer. Pecahan cermin itu melayang tiga puluh senti dari lantai. Bibirku bergetar.” katanya. Kemudian aku ingat. “Halo?” tanyanya lagi. di mana kau? Di suatu tempat. dan memegang kepala dengan kedua tangan. pandanganku kabur. Awalnya pecahan cermin itu tidak bergerak. menahan napas. Kecuali jika aku mati. Dia mengangkat telepon pada dering kedua. Aku mencoba memelankan napasku. menjatuhkan sepedanya. Saat Bernie Kosar berhasil menangkap bola itu. Aku hanya bisa mengangkat benda- benda kecil. Sam memandang berkeliling dan memperhatikan keadaan rumahku. “Kau bercanda. meja―tidak ada yang terjadi. Aku menggelengkan kepala dan menutup mata. Aku membawa salah satunya ke arahku.” “Kau ini bicara apa?” Aku bicara apa? Aku bicara tentang Henri. dan melupakan rasa bersalah karena berbohong kepada Sam. Dia kehabisan napas. Sam. Entah mengapa. “Apa? Kenapa ayahmu repot- repot begitu? Aku nggak ngerti. aku menariknya. “Ini pasti terdengar tak masuk akal.” Sam semakin bingung. Saat bola itu melewati pandangan Bernie Kosar. mengangkati benda-benda ke udara tanpa menyentuh: apel dari konter dapur. Itu kan cuma majalah konyol. Air mata menggenang di mataku.” “Aku tak tahu. Kurasa ayahku ditahan. atau apa yang mereka lakukan terhadapnya.” kataku. “Itu hobi . dan pergi ke sana hari ini. aku menariknya dari mulut Bernie. Athens. dan semuanya terbang di udara dengan agak goyah. Ponselnya mati. Ayahku itu seperti kamu.” kataku. Mengerti? Tapi tidak. “Apa yang terjadi?” tanyanya. AKU MONDAR-MANDIR di rumah. berpikir cepat. Ohio. Dan aku harus ke sana secepatnya. Wajahnya berkeringat. Sam. Tiga bola tenis yang aku dan Henri gunakan untuk latihan ada dalam keranjang di samping ruang tamu. Sesuatu yang buruk. “Tapi kau harus berjanji untuk menanggapiku dengan serius. dari hal-hal buruk yang mungkin menimpanya. Tapi pasti terjadi sesuatu. Semua itu kulakukan sambil duduk di kursi ruang tamu. “Ayahku ditangkap. Henri ada di sana. aku tidak bisa mengatakan itu semua kepada Sam. tanpa memegang. pot tanaman kecil yang bertengger di samping jendela depan. Henri dan aku datang ke Bumi sepuluh tahun lalu. Lalu. Aku mendengar sepeda Sam memasuki halaman. Setidaknya ini mengalihkan pikiranku dari Henri. Henri hilang karena bertindak ceroboh. SEMENTARA MENUNGGU SAM. Itu yang aku bicarakan. Pasti terjadi apa-apa. “Aku nggak bercanda. Situasi yang berat ini membuatku sulit bernapas lagi. Aku nggak yakin siapa yang melakukannya. anjing itu duduk memperhatikan. padahal dia sering menceramahiku agar tidak bertindak seperti itu. garpu di bak cuci piring. Aku bicara mengenai Henri yang berpikir bahwa dia bisa menghindari mereka jika memahami mereka secara lebih baik.” Sam meringis. Dia pergi dan sampai sekarang belum kembali.” katanya. Sebelum Bernie berhasil menangkap bola itu. Aku ini alien. Saat aku mencoba mengangkat benda yang lebih berat―kursi. Aku bicara mengenai kenyataan bahwa aku mengatakan kebenaran saat kau menodongkan pistol ke arahku waktu itu. Dia suka alien dan teori-teori konspirasi dan hal-hal semacam itu. entah bagaimana caranya.meja. Aku berbalik dan memandang Sam dengan tatapan memohon. Bernie Kosar mengejarnya. aku harus ke sana. Sam. “Apa maksudmu? Siapa yang menangkapnya? Di mana dia?” “Henri melacak penulis salah satu artikel di majalahmu hingga ke Athens. dan berlari masuk dari pintu depan tanpa mengetuk. Atau mungkin lebih gawat lagi. aku melempar bola itu.” Wajah Sam menegang. Sam melompat turun. Kami diburu oleh ras alien yang kejam. Perlu waktu 25 menit dengan sepeda bagi Sam untuk tiba di rumahku yang jaraknya lima kilometer. Ohio. Sekarang dia hilang. Maksudku. Truk itu ada di garasi.” Sam mengangkat bahu. Ponselnya mati.” Sam memandang kertas itu.” kataku. biar kupahami dulu. “Mungkin kau benar. “Tapi kenapa juga ada yang peduli jika dia bertanya-tanya tentang artikel konyol itu?” “Entahlah. Kenapa nggak bisa jalan? Truk itu masih terhitung baru waktu ayahku membelinya. aku agak tahu cara ke Athens. truk itu nggak pernah disentuh. Maksudmu kita.” “Truk apa?” “Maksudku truk ayahku. “Dia pergi ke sini hari ini.” “Kita bisa naik truk. Aku mengambil kertas berisi alamat dan nomor telepon tempat yang Henri tuju. Lagi pula. Tapi aku nggak tahu cara mencari alamat ini begitu tiba di sana. Salah satu artikel itu membangkitkan rasa ingin tahunya. Aku berharap bisa memberi tahu yang sebenarnya kepada Sam. Aku nggak khawatir soal itu. “Kau mau ke sana?” “Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan. tapi aku rasa nggak.” Aku berdiri dan berjalan ke meja dapur. Kemungkinan terburuknya. Aku nggak bisa menunggu berhari-hari. lalu ganti memandangku. Henri akan ditanyai. dipaksa mengikuti birokrasi yang berbelit-belit. tapi aku nggak tahu siapa yang bisa kumintai tolong. Rasanya ada yang nggak beres. diambil sidik jarinya. Aku bisa membayar seseorang untuk mengantar kita. dua jam ke Athens?” . Mungkin mereka paranoid dan suka berkhayal. Jika polisi terlibat. Aku punya 120 dolar di kamar.” “Artikel yang tentang Mogadorian?” Aku mengangguk. Mungkin mereka pikir ayahku itu alien. Aku harus ke sana secepatnya.” “Aku bisa mencetak petunjuk arahnya dari internet.” “Tunggu.konyolnya. tapi kurasa kau salah. “Sudah berapa lama itu? Apa masih bisa jalan?” “Delapan tahun. “Yah.” “Mungkin dia mengalami kecelakaan. kau dan aku. Yang aku khawatirkan adalah transportasi. kemungkinan terbaiknya adalah aku dan Henri pergi.” “Kenapa kau nggak telepon polisi dan memberi tahu mereka apa yang terjadi?” Aku duduk di sofa. Dia menggigit bibir dan diam selama lima belas detik. “Serius?” Sam mengangguk. Lalu dia geleng-geleng kepala. aku selalu membayangkan bahwa orang-orang itu bukan orang paling waras di dunia.” Aku menggelengkan kepala. bagaimana jika Henri cuma ada urusan lain. Kami masih menyimpannya. Henri harusnya sudah pulang pukul satu tadi. Aku rasa Henri ingin tahu lebih banyak. sudah pasti kami mati. sehingga para Mogadorian mendapat kesempatan untuk bertindak. “Kau tahu di mana ini?” Sam memandang kertas itu. Henri seharusnya sudah pulang berjam-jam yang lalu. Cuma itu yang aku tahu. menyetir ke sana sendiri. sama seperti kenapa kau menodongkan pistol ke arahku.” “Mungkin. “Mungkin mereka akan menanggapimu dengan serius. Dan begitu mereka menemukan kami. sekarang ini kita buang-buang waktu. “Kok tahu?” “Karena dia tampak seperti baru melihat hantu saat aku menyebutkan tentang itu Halloween kemarin. atau ponselnya rusak? Saat ini dia mungkin sedang dalam perjalanan pulang. Dan sejak ayahku hilang.” Aku memandang Sam. memikirkan jawaban terbaik. Nggak banyak taksi di Paradise.” kata Sam. “Telepon polisi yang mana? Polisi Paradise? Menurutmu apa yang akan mereka lakukan jika aku mengatakan yang sebenarnya? Pasti perlu berhari-hari sampai akhirnya mereka menanggapiku dengan serius. Ohio. jadi dia pergi ke sana. Jika Henri memang dalam masalah. ” Sam mengangguk. Belum lagi kalau ketemu polisi. Aku mengintip isi tas itu.” Kami berangkat. Ada salib. Kami membuka terpal itu bersama- sama lalu meletakkannya di sudut. aku pasti langsung pergi. Matanya membesar. aku siap. Mungkin mereka gila. “Tepat sekali. “Oke.Sam menyeringai. “Jaga-jaga saja. berwarna biru tua.” kataku. tak bisa menahan senyum. hanya cukup untuk dua orang. “Kau tahu kita bakal kena masalah besar jika tertangkap. “Kau mau membonceng sepedaku?” “Kau naik sepeda. palu. tidak ada debu setitik . dan segumpal Silly Putty―benda semacam karet kenyal yang bisa dibentuk sesuai keinginan. atau mungkin tiga jika si orang ketiga tidak keberatan duduk di tengah dengan tidak nyaman. yeah. pisau lipat. “Ayo. Bernie mengikuti kami.” kataku kepada Sam.” “Asmamu gimana?” “Kurasa aku bakal baik-baik saja. pasak kayu. Pasti pas untuk Bernie Kosar. Sam naik ke sepedanya. Lalu aku berjalan ke luar rumah. Sam menyalakan lampu. dan kami juga tidak tahu apa yang harus dilakukan begitu tiba di sana. memastikan semua risleting terpasang dan rapi. Itu memang pikiran yang konyol. Walaupun sudah delapan tahun berlalu. *** Kumasukkan ponsel ke dalam tas. “Ibuku pasti akan membunuhku. memperhatikan semuanya seolah-olah ini kali terakhirku melihatnya. memangnya kita punya pilihan lain? Jika perannya dibalik. dan masuk ke garasi yang gelap dan berbau bensin serta potongan rumput lama. tapi kita tak pernah tahu.” “Dan kalau kita memang berburu vampir. kami berdua tidak tahu cara menyetir. seandainya ayahkulah yang dalam masalah. Truk ayah Sam ada di tengah-tengah garasi. Silly Putty ini buat apa?” Sam mengangkat bahu. ayo pergi ke Athens. Berbagai peralatan berkarat karena tidak dipakai tergantung di dinding. Aku juga tahu aku hanya sedang sentimentil. kalau kau benar-benar yakin ayahmu dalam masalah. melintasi rumah. kan? Kita nggak punya SIM. Dia lari ke kamarnya lalu keluar membawa ransel. “Yeah. senyum mengembang di wajahnya. Truk itu kecil. Sam bermandikan keringat. Tak ada keraguan sedikit pun di wajahnya saat mengusulkan agar kami menyetir secara ilegal ke sebuah kota yang jaraknya dua jam. seperti yang kau katakan. “Kapan terakhir kali terpal dibuka?” “Nggak pernah dibuka sejak ayahku hilang. Dia meletakkan ransel itu di konter dapur lalu pergi mengganti pakaian.” Aku meraih ujung terpal yang satu dan Sam meraih ujung yang lain.” Aku memandang Sam. Sam menatap truk itu. beberapa siung bawang putih. Selain itu. Tapi.” Aku mencondongkan tubuh di sofa. “Kau tahu kan kalau orang-orang ini bukan vampir?” kataku saat Sam berjalan ke dapur. Kemudian aku keluar dari kamar mandi. Namun. ditutupi kain terpal biru besar berlapis debu tebal. Aku lari di sampingmu. dan mungkin membunuhmu juga. tapi kelihatan kalau dia tak pernah olahraga. Bahkan ini adalah gagasannya. Aku berganti pakaian di kamar mandi dan mengeluarkan petunjuk arah dari tasku. Dia mencoba bersepeda secepat mungkin. Tapi Sam mendukungku. Saat tiba di rumahnya.” Aku menuangkan semangkuk air untuk Bernie Kosar yang langsung melahapnya. Setelah lima menit. aku gugup dan melakukan itu bisa membuatku sedikit tenang. Aku berlari beberapa meter di belakang Sam dan berpura-pura kehabisan napas. “Gugup?” tanyaku. Sam menurunkan jendela.” Kami berdua memasang sabuk pengaman. kami sudah berada di jalan raya antarnegara bagian.” Sam menjaga agar truk berada di dekat garis di sisi kanan jalan. “Kita berdua sudah ribuan kali melihat orang menyetir truk. “Kau belum keluar sepenuhnya. Dia berbelok lalu berbelok lagi.” kataku. Kemudian dia mengeluarkan mobil dari garasi perlahan-lahan. “Sama.” kataku. “Nggak terlalu sulit.” “Kau sudah merencanakan apa yang kita lakukan . yang langsung dia lakukan sambil berdiri dengan kaki belakang di pangkuanku. “Aku nggak percaya kita melakukan ini. “Oke. “Dan … kita … berangkat. “Truk ayahku.” Sam menarik napas dalam. “Kurasa juga begitu.” kataku. “Kalau gitu. Awalnya perlahan. Aku tersenyum. “Kau punya kuncinya?” Sam berjalan ke salah satu sisi garasi dan mengambil serangkaian kunci dari gantungan di dinding.” Sam mengangguk. “Aku takut setengah mati. Keluarkan truknya biar pintu garasi kututup. Tangan Sam menggenggam setir dengan kencang sehingga buku- bukunya memutih. dengan hati-hati. mengangkat kaki dari rem saat mengucapkan kata terakhir. Sam langsung menginjak rem. Setelah satu kilometer. Aku belok ke mana?” “Apa kita benar-benar melakukan ini?” “Ya. lalu membelokkan truk ke jalan. Sam tegang dan mencondongkan badan ke depan.” akhirnya Sam berkata. Kemudian dia memandang ke kanan dan ke kiri.” katanya. Bernie Kosar melompat masuk dengan sukarela dan aku duduk di sampingnya. “Ini hal paling gila yang pernah kulakukan. Dia membuka pintu pengemudi dan duduk di belakang kemudi. tampak tetap sama. Aku membuka pintu garasi. Aku membuka jendela sedikit sehingga Bernie Kosar bisa menjulurkan kepala keluar.” kataku.” kata Sam. Dua puluh lima menit berikutnya. Aku menutup pintu garasi.” kata Sam.” katanya.” “Kau berbakat. Dia menginjak rem terlalu cepat dan terlalu keras sehingga truk melonjak berhenti. Badannya tegang setiap kali ada mobil yang lewat dari arah berlawanan.” “Sama. “Nggak perlu. “Takut.” kata Sam bangga. “Selama bertahun- tahun ini. Truk bergerak terlonjak-lonjak di halaman.” jawabnya. “Kita suit untuk menentukan siapa yang nyetir?” tanyaku. Kulemparkan tasku ke kursi penumpang.” Sam menarik napas dalam.” “Kau akan baik-baik saja. lalu mengembuskannya pelan-pelan. dia mulai menyeringai dan menyandarkan tubuh. Sam mengangkat kaki dari rem pelan-pelan dan truk itu beringsut keluar sepenuhnya.pun yang menempel di truk itu sehingga kendaraan itu tampak berkilau seolah baru dipoles. “Kurasa Ayah akan bangga jika melihatku mengemudikan ini. Kemudian kecepatan pelan-pelan meningkat. Lalu Sam mengangkat kaki dari rem dan truk bergerak perlahan hingga ujung halaman. menyebabkan truk berhenti dengan bunyi berdecit. Mesin berbunyi tersendat-sendat dan akhirnya menyala. satu senti demi satu senti. setelah beberapa saat. menahan napas. kita belok kanan. Namun. Sam menjadi tenang dan tidak terlalu memperhatikan mobil-mobil lain.” “Karena kencana kita. “lalu lurus ke luar kota. ” kataku. “Mungkin dia malah menghalangi. Tali ranselku memberati bahuku. Rumputnya hijau.” Kami menyusuri Court Street. Kami sampai di truk Henri. Bernie Kosar tidak terlalu senang dan mulai mendengking dan menggaruk jendela. menonjol bagai permata. Kami berdua berbesar hati karena berhasil tiba dengan selamat dan tanpa ditangkap polisi. Suhu udara di kota itu cukup hangat untuk bulan November. dan barat. mulai tampak: sebuah kota kecil muncul dari balik pepohonan. Cari tempat parkir. “Kau pikir ayahmu baik-baik saja?” “Entahlah. Semacam lelucon di antara kami. Tebakanku.” Sam mengangguk. nggak.” kataku. Sam mengarahkan truk keluar dari jalan antarnegara bagian dan berbelok ke kanan ke Richland Avenue. “Jadi seperti itu ya universitas di kota?” “Kurasa. Dalam cahaya yang semakin redup. “Di atas sana Court Street. Nanti belok kiri. Semua. “Menurutmu apa sebaiknya anjing ini kita bawa?” Sam mengangkat bahu. Pintunya dikunci. Tidak ada benda penting baik di tempat duduk atau di dasbor. kami berjarak lima menit jalan kaki dari alamat itu. “Henri masih di sini. Kami menaiki bukit terjal. Kurasa sebaiknya kita parkir begitu dapat tempat parkir lalu jalan kaki. Sam dan aku berjalan kembali ke Court Street. “Kenapa kadang-kadang kau memanggilnya Henri?” “Entah. “Tadi itu apa? Bikin kaget aja. tapi pokoknya begitu. Bangunan-bangunan dan asrama-asrama berdiri di samping kami. yang berarti dia belum bicara. “Apa?!” Mobil di belakang kami mengklakson. “Sekitar satu setengah kilo. yang merupakan jalan utama di tengah kota. Aku harap kita bisa masuk ke tempat itu dan keluar dari sana. Aku bahkan nggak tahu apakah Henri ada di sana.” kataku. Lalu aku melihatnya. Semuanya tutup karena libur. bar. siapa pun yang bersama Henri belum menemukan truknya.” Kami menyusuri jalan satu blok lagi hingga menemukan tempat untuk parkir. Di belakangnya terdapat sebuah arena berkubah putih. Lalu. Dia sudah mengeluarkan Silly Putty dari tas dan meremas-remasnya seperti meremas bola busa saat sedang stres. dipangkas rapi walaupun ini bulan November.” kataku sambil memandang Bernie Kosar. tapi kami kan tak akan lama. Aku nggak tahu tempat itu rumah atau kantor atau apa. “Berhenti!” kataku. Sam mengangguk. Terus jalan. Setelah itu kami tiba di Athens. Kami melewati gelanggang football universitas. Toko buku. itu artinya dua.” “Masih berapa jauh lagi?” tanya Sam. . Satu setengah jam perjalanan.begitu tiba di sana?” “Nggak. yang terletak di kaki Pegunungan Appalachian.” “Truk Henri ada di sana. Aku menarik napas dalam. KAMI BERKENDARA KE ARAH SELATAN HINGGA Athens.” Aku memberi makanan anjing kepada Bernie Kosar dan meninggalkannya di truk dengan jendela dibuka sedikit.” “Kau ingin lewat di depannya?” “Nggak. café. aku bisa melihat sungai berkelok seolah mengelilingi kota dan membatasi di timur.” kata Sam. sementara bagian utara kota dibatasi oleh perbukitan dan pepohonan.” kataku. Sam menginjak rem. selatan. Sam menjinjing tasnya. “Keluar di sini. “Nggak. Lalu kami akan mencari Henri. “Yah. Aku sudah bertindak ceroboh dan memanggilnya Henri. Bangunan-bangunan berubah menjadi perumahan. Kami berdiri memandangi rumah berlantai dua dengan dinding berlapis vinil abu-abu. Saat menghadapi kenyataan ini pikiranku kosong. “Ini dia. Jelas di dalam tidak ada orang. “Yeah.” “Memangnya apa yang bakal dia katakan?” Untuk sesaat aku lupa bahwa Sam tidak tahu apa- apa mengenai alasan yang sebenarnya mengapa Henri berada di sini. “Bagaimana kalau Henri nggak ada di dalam?” “Itu sebabnya aku mau kau membuntuti orang itu. Aku janji akan meneleponmu secepat mungkin.” kataku. Aku melihat kertas. Aku akan masuk ke dalam rumah itu. Nih. Itu cara untuk membuatku berpikir.” Sam berbalik dan memandang lelaki itu. “Maksudku. Tato di lengannya berupa alien dengan satu tangan memegang buket bunga tulip seolah ingin memberikannya kepada sesuatu yang tak terlihat. dan kaus olahraga hitam dengan lengan digulung hingga siku. karena kalau ada pasti dia nggak perlu mengunci pintu. Aku menarik napas panjang. Kukeluarkan ponselku. Lalu Sam kembali . tapi aku terlalu jauh sehingga tidak bisa melihat dengan jelas. Sebentar kemudian kami tiba di alamat itu dan berhenti. Aku tidak tahu harus berbuat apa.Dia tidak akan bicara. Sam dan aku berbalik dan memandangnya pergi. Rumputnya tinggi dan tidak terawat. Pukul 11:12. Ternyata nggak cuma kutu buku kurus saja yang tertarik dengan alien.” “Kalau dia kembali?” “Kita pikirkan nanti. Ada tato di lengan kanannya. untuk membuat rencana. siapa yang bisa menduga pertanyaan macam apa yang bakal ditanyakan orang-orang aneh itu. Panggilanku langsung masuk ke voicemail. Kau harus pergi sekarang. dan tampangnya jahat.” kata Sam.” “Apa? Kenapa?” tanya Sam. lalu berbalik dan mengunci pintu depan. “Aku akan mengetuk pintu. Lalu apa?” Aku mengeluarkan peta menuju alamat yang Henri berikan tadi pagi.” Tapi Sam tidak jadi melakukannya karena seseorang lelaki keluar melalui pintu depan. Mungkin sekarang dia pergi ke Henri. menuruni teras. Aku diam tak bergerak saat lelaki itu mendekat. Bawa ponselku. ada ayunan rusak yang tergantung miring di sana. lalu melihat rumahnya. Lelaki itu lima puluh meter di depan kami. Orang itu besar. Dia berjanggut dan kepalanya gundul. Tampak kotor dan tak terawat. dan berjalan ke arah kami. Aku akan meneleponmu secepatnya. Aku tidak berpikir sampai sejauh ini. Sam. Laki-laki itu besar. “Entahlah. celana jins biru. namun ada sebuah mobil di halaman belakang. Aku menelepon Henri walaupun tahu dia tidak akan menjawab. Kami berjalan menyusuri jalan yang tadi kami lewati.” kataku.” “Oke.” Sam menerima ponsel itu dengan enggan. Pasti tingginya dua meter dan beratnya 115 kilo. apa pun yang terpikirkan. “Kau lihat tatonya?” tanyaku. Aku harus berhati-hati agar tidak mengungkapkan hal lain.” kataku. Laki-laki itu meludah ke halaman. “Lalu kau akan bilang apa?” “Tak tahu. “Kau harus membuntutinya.” “Bagaimana caramu meneleponku?” “Entah. Henri mungkin ada di dalam. Jalan di depan rumah itu mengarah ke beranda depan yang tidak dicat. Nanti aku cari cara. “Kita jalan. Lelaki itu berjalan melewati kami tanpa mengatakan apa pun. Lelaki itu mengenakan bot kerja. Rumah itu seperti tidak berpenghuni.” “Pegang ponselku. Senyum mengembang di wajahku. Tercium bau pakaian kotor akibat keringat. Dapur. Jendela- jendela rumah itu gelap dan dilapisi tirai putih.” Sam berbalik dan bergegas membuntuti lelaki itu.” “Bagaimana kau bisa masuk?” “Aku lebih cepat darimu dan juga jauh lebih kuat. Aku menjatuhkan batu itu dan berjalan ke pintu belakang.” kataku. “Siapa kau?” tanyanya. Seorang laki-laki muncul di ujung tangga. dan memegang kenop pintu. perabotan di atas lemari berantakan. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu. Aku tidak bisa melihat ke dalam. ke jantung. Segalanya berpusat di perut.” “Kau salah satu dari mereka!” jeritnya. ada tangga menuju lantai atas. selimut kusut di tempat tidur. Aku mulai berjalan naik. Dia memberengutkan wajah. Aku menarik napas dalam. Begitu mereka hilang dari pandangan. Aku berhenti. ke perut. “Itu kau. Rumput liar dan semak-semak dibiarkan tumbuh lebat sejak musim panas. Aku mencoba salah satu jendela. Frank?” Aku tetap diam. Lalu aku merasa dan mendengar bunyi ‘klik’ di tangan yang memegang kenop pintu itu. Rambut dan cambangnya hitam serta berantakan. wajahnya belum dicukur. yang terkunci. Terkunci. “Halo?” terdengar teriakan dari atas tangga. Di ruangan itu poster olahraga dan spanduk menempel di dinding lalu ada sebuah TV layar lebar di salah satu sudut ruangan.” “Nggak akan. dan di bak cuci tidak ada piring kotor. Lelaki itu memegang tongkat seperti seorang pemain bisbol. Aku mendengar seseorang berdiri dari kursi. Aku mempererat pegangan dan menahan napas saat mencoba membayangkan bagian dalam kunci itu. menahan napas. Kamar itu berantakan. tapi juga tidak kecil. Aku berjalan menyusuri koridor sempit menuju ruang tamu. Anak tangga ketiga berderak di bawah kakiku. menutup mata untuk berkonsentrasi. di samping pintu itu. ya?” “Aku tidak tahu siapa yang kau bicarakan.” “Kau juga.” “Kau salah satu dari mereka. Aku menjulurkan kepala ke dalam.” “Aku mencari temanku. Di bagian depan rumah. Aku memandangi mereka pergi. Dia datang ke sini tadi pagi. dan muncul kembali lima detik kemudian sambil memegang tongkat bisbol kayu. aku berjalan ke rumah itu. Dan jangan biarkan dia melihatmu. “Oke. Semuanya terkunci. Pikiranku bergerak dari kepala. Kemudian terdengar bunyi keriat-keriut langkah kaki di atas lantai kayu mendekat. “Sebaiknya kau turunkan tongkat itu. Aku memutar kenop pintu dan pintu itu berayun terbuka. Aku mengguncangnya. menghilang. satu gagasan muncul di benakku. Di sisi kiri ada pintu menuju kamar tidur. bersih. Ketika aku melihat batu dan mengangkatnya dari tanah dengan kekuatan pikiran. Ada roti yang masih baru di atas konter.memandangku. Semua permukaan dilap. Aku takjub karena bisa membuka kunci pintu hanya dengan membayangkan apa yang ada di dalam kunci. tidak digerendel. Apa sebaiknya aku memecahkan salah satu? Aku mencari batu di antara semak-semak berduri.” “Yang benar saja. Kuncinya sederhana. Tapi kau hati-hati. Di sana ada jalan semen kecil mengarah ke pintu belakang. anehnya. Tubuhnya tidak sebesar orang yang tadi pergi. Gagasan itu begitu gila dan mungkin akan berhasil. Aku berjalan berkeliling dan kembali ke depan. “Bagaimana kau bisa masuk?” tanyanya. Aku ingin tahu dia ada di mana. . Aku berjalan ke belakang. “Aku mencari temanku. diperbesar sehingga tampak buram dan tidak jelas. Bintang-bintang itu tampak tidak cocok dengan tempat itu. Dia beringsut menjauhiku dan berdiri. aku mencekiknya lebih keras. Tinggal enam anak tangga di antara kami.” Aku mencekiknya lagi. siap untuk menyerang. Boneka alien karet dengan jerat di lehernya bertengger di salah satu sudut. “Di mana dia?” tanyaku. Laki-laki itu terbang ke belakang dan menghantam dinding. Dia juga telah . Lantai kedua hanyalah tempat terbuka yang luas. “Aku akan membuat kepalamu lepas. kau justru menolong mereka dengan menyakitiku. “Turunkan tongkat itu dan beri tahu aku di mana dia berada.buku-buku jarinya memutih di bagian bawah tongkat. Aku menyesal atas apa yang kulakukan kepadanya. Dia salah satu dari kalian. “Aku peringatkan.” Dia menuruni satu anak tangga. dia mulai menangis.” “Kalian tak akan berhasil! Jangan ganggu Bumi!” Aku mengangkat tangan dan mencekiknya dari jauh. Dia memegang tongkat bisbol di tangannya sedangkan aku tidak memiliki apa pun selain kemampuanku. Di bagian ujungnya terdapat berbagai hiasan alien.” kataku. Tapi dia tahu di mana Henri berada. Dan aku jamin. Katakan di mana dia berada. Gelap. Tanganku yang satu mencengkeram lehernya sedangkan yang satu lagi memegang ketiaknya. Dindingnya ditutupi berbagai edisi They Walk Among Us.” “Mereka bukan teman-temanku. Aku bingung melihat rasa takut di matanya. Lelaki itu meronta-ronta. Lelaki itu turun satu anak tangga lagi. Dia tidak bisa bernapas dan wajahnya memerah. Seseorang telah menambahkan sombrero Meksiko di kepala boneka itu. menyarangkan tendangan ke kaki dan selangkanganku. Ada rasa takut di matanya.” “Aku bukan apa yang kau pikirkan.” Tanganku bergetar menghadapi situasi yang tidak terduga ini. Tongkat itu menghantam dinding. Bintang-bintang glow in the dark menempel di langit-langit. Saat aku melonggarkan cekikanku. kebanyakan berupa bintik sinar putih dengan latar belakang hitam. Tidak seperti yang Sam miliki. Tongkat itu lepas dari tangannya dan berguling memantul-mantul menuruni tangga. aku memusatkan kekuatanku di perut dan mengarahkannya ke arah lelaki itu dengan gerakan mendorong yang kuat. seperti sesuatu yang harusnya ada di kamar anak perempuan berusia sepuluh tahun. Lelaki itu berlari menuruni tangga. “Kau salah satu dari mereka! Kenapa kau tidak membiarkan kami sendirian!?” “Aku bukan salah satu dari mereka. “Aku tanya sekali lagi. Rahangnya digertakkan dengan kuat. meninggalkan lubang besar di dinding kayu.” “Lihat saja nanti. tapi kali ini saat wajahnya memerah.” “Jadi kau tahu siapa yang aku bicarakan?” “Ya. poster- poster yang ada di sana adalah foto-foto lama. Aku maju dan mengangkat tubuhnya. “Aku tak akan mengatakannya. Saat lelaki itu berdiri. Aku bisa merasakan otot tanganku menegang walaupun tidak menyentuhnya. Sebagai peringatan untuk teman-temanmu. Tak ada yang bisa kulakukan selain bereaksi.” “Temanmu itu salah satu dari mereka!” “Bukan. Aku melemparkan laki-laki itu ke lantai. Aku menunduk. Terdengar salah satu jendela pecah di belakangku. Aku ke sini mencari temanku.” “Tidak. Aku membawanya kembali ke atas tangga. Aku melonggarkan cekikanku.” katanya. Dia mengayunkan tongkat. “Aku tak punya.” Aku memutar nomor ponselku menggunakan telepon yang ada di meja tengah. Rasa simpatiku langsung sirna.” “Ada berapa banyak?” tanyaku.” “Ssstt.” Henri diam selama semenit sambil merenungkan apa artinya itu. Pintunya ada di belakang spanduk Steeler di ruang tamu. Ada orang lain di sini. “Kau benar. “Aku disergap. Suaranya lemah. di antara isakannya dia berkata. Sam tidak menjawab. “Aku ke sini bersama Sam. Aku menyalakan lampu dan mulai berjalan turun. “Tiga. “Syukurlah. Aku tiba di bawah dan langsung merasakan kehadiran orang lain. dan menemukan sebuah pintu hitam terkunci. menarik napas dalam. Aku membungkuk dan berusaha melepaskan ikatan di pergelangan kakinya. merenggut spanduk Steeler dari dinding.” Henri mengangguk. Henri meregangkan kaki dan mendesah lega.melakukan sesuatu kepada Henri. Di sana. Bodoh sekali datang ke sini. “Mana ponselmu. Keadaan di bawah kacau dan dikotori sarang laba-laba. Setelah itu aku menuruni tangga. “Aku bilang alien itu hobimu. Rangkaian anak tangga kayu mengarah ke bawah menuju kegelapan total.” Dia ada di bawah. Mulutnya diplester. lalu berbalik. Di pelipis kanannya terlihat alur darah kering yang tampak hampir hitam. Sekarang Sam di mana?” “Membuntuti salah satu dari mereka. menyesuaikan diri dengan terang. Kau sudah menculik temanku.” Aku mulai melepaskan ikatan tangannya.” kataku.” kataku. Pergelangan kakinya diikat ke kaki kursi tempat dia duduk. “Diam. Kau menahannya secara paksa. Rambutnya berantakan. “Sam tidak tahu apa-apa. aku senang kau berhasil. “Yah.” “Aku mengikat satu di atas.” kataku. Maaf. Meski kurasa tali itu tidak akan lama menahannya. Harusnya aku mendengarkan. “Aku duduk di kursi sialan ini seharian.” kataku. “Bagaimana kau bisa masuk?” tanyanya. Tangannya diikat di belakang. Aku tak tahu ke mana mereka pergi. Henri menarik napas dalam.” “Serius?” “Nggak ada cara lain. Kami menyetir.” Aku menarik tangannya ke belakang dan mengikatnya erat. Lalu aku menarik telepon itu dari dinding dan mematahkan jadi dua.” pintanya. Aku bergegas menghampiri Henri dan membuka plester dari mulutnya. di sudut ruang bawah tanah.” katanya. “Henri!” Henri menutup mata saat melihat cahaya. takut akan apa yang mungkin kutemukan.” “Naik apa?” “Truk lama ayahnya Sam. Kau beruntung yang aku lakukan hanya mengikatmu.” Aku berjalan ke arah boneka dan mengambil jerat dari lehernya. lalu kupasang plester di mulutnya sehingga dia tidak bisa berteriak. “Kumohon. Aku marah melihat itu. Setelah lelaki itu bisa bernapas. John. Aku melepaskan ikatan pergelangan kakinya.” “Di ruang bawah tanah. Tercium bau jamur. Aku membuka kuncinya seperti yang kulakukan sebelumnya. Kemudian aku mengikat lelaki itu di salah satu kursi. Aku menegang. perlahan-lahan. duduklah Henri.” “Di mana? Aku tidak melihatnya. hanya itu.” . Kugerakkan peluru itu sehingga melayang di depan wajah si lelaki besar. “Mereka bilang kau akan datang.” bisik Henri.” katanya. Aku berpikir untuk menggunakan kekuatanku untuk merenggut pistol itu. Lelaki itu melongo memandangnya.” “Maaf aku melewatkannya. pistol itu terlepas. lalu kedua. Langkah kaki di anak tangga paling atas. “Kau perlu membawa lebih dari ini. Lalu dia mengarahkan pistol itu ke Henri.” kataku.” Henri tersenyum. salah satu dari mereka memukul belakang kepalaku. menghantam lantai. minggir. Saat bangun. Aku mengarahkan tanganku ke peluru dan menghentikannya. Setelah yakin dia berhasil diamankan. “John. “Sekarang. menahannya sekitar dua meter dari lantai.” Aku mengangkat tangan di depan dan mundur selangkah. dan meledak. aku kembali ke Henri dan membebaskannya. Kami berdua menatap pintu dengan napas tertahan. Terlalu berisiko.” “Diam!” bentak lelaki itu. Muncul saat makan malam. Namun aku menariknya melintasi ruangan dan menghantamkannya ke tiang besar. Saat plester itu melayang di udara. Segera saja lelaki besar yang kulihat sebelumnya.” “Aku bilang kau ada urusan. aku menghentikannya. Lalu aku sadar bahwa rasa tegang karena Pusakaku muncul―atau rasa takut jika Pusakaku tidak muncul―lebih membebani Henri daripada yang kubayangkan. Bahwa kaulah musuh yang sebenarnya.” Sementara perhatiannya teralihkan. Lalu aku memutarnya dengan cepat. “Mereka pikir kita ini musuh. terdengar nada lega di suaranya sehingga aku pikir setelah itu dia akan menangis. yang Sam buntuti. Aku tersenyum bangga. Dia memegang pistol yang ditodongkan ke wajahku. Aku berdiri. Gulungan plester itu terbang kembali ke arahnya dan menghantam hidungnya.” katanya. Mereka bertiga ada di rumah. aku sudah terikat di kursi ini. “Kau dengar?” bisikku.” kataku. bingung. Bahwa kau terlihat seperti manusia. Dia mengambil segulung plester dari rak di sampingnya lalu melemparkannya ke arahku. Kuambil plester dan kugunakan untuk mengikatnya ke tiang itu. muncul. aku menggerakkan tangan ke arahnya dengan gerakan melempar. Lelaki itu pingsan dan merosot ke lantai. gendut. Lelaki itu membuka mata dan melihat peluru di udara di hadapannya. “Pestanya selesai. Darah mengucur. Henri tertawa di belakangku. “Jadi apa yang terjadi denganmu?” tanyaku. “Aku mengetuk pintu. dia yang kena.Terdengar suara lantai kayu berderak di atas kami. “Syukurlah Pusaka itu muncul. Dia berbalik untuk lari. di antara kami.” kata lelaki itu.” katanya.” kata Henri. Lelaki itu maju tiga langkah ke arahku. “Apa-apaan …. itu tadi kejutan terbaik yang pernah kulihat seumur hidupku. “Satu kesalahan kecil. “Tangkap ini. Saat aku berjalan masuk.” Aku membiarkan peluru itu jatuh ke lantai di kakinya.” Henri menggelengkan kepala dan . “Hei. Ikatan tangan Henri belum terbuka sepenuhnya. tapi bagaimana jika aku tak sengaja membuatnya meletus? Aku tidak cukup yakin dengan kemampuanku. “Kau bicara apa?” tanyaku. “Mereka itu tidak waras. Saat lelaki itu memegang hidungnya. “Makasih. Paham?” “Ya. ” “Jangan bernapas. “Kau tampak seperti monster Bigfoot dalam pakaian itu. dan organ dalammu bisa terbakar. Sekarang aku bisa memutar tiga bola di udara tanpa menyentuhnya. Sam. yang tersenyum lebar. Jika aku bisa mengangkat benda itu sendiri.” “Menurutku ini bodoh.” katanya.” “Tapi kenapa?” “Karena jika pertempuran terjadi. Bernie Kosar duduk memandang dari beranda belakang. Ohio. menonton dengan rasa penasaran yang tidak wajar. yang lambat terbakar dan yang tidak. “Ini bagian dari latihanmu. “Berapa lama ini akan terbakar?” tanyaku. Kau di bawah?” MUSIM DINGIN TIBA LEBIH AWAL DAN DENGAN kekuatan penuh di Paradise.” kata Sam.” “Kalau ada yang salah. Setelah aku selesai melepaskan ikatan Henri. Semua orang diam sementara Henri meraih korek api. Kau harus belajar melakukan banyak hal walaupun dalam keadaan terbakar.mengatakan rangkaian sumpah serapah dalam bahasa Loric. Kau tidak kebal terhadap asap atau uap.” “Ugh. Aku ingin membakar pakaian itu hanya untuk menyingkirkan bau yang membuat mataku berair. Salju menumpuk tinggi hingga selutut. Salju menutupi segala sesuatu. yang tampak sama persis seperti truk lama kami dan juga jutaan truk pickup lain di Amerika. pepohonan berdiri mengelilingi kami. Awalnya salju tipis. Batang-batangnya beku sehingga tampak seperti kaca yang dilapisi dua senti bubuk putih di atasnya. “Kau yakin soal ini?” tanyaku. “Aku tahu. Ini pertama kalinya dia melihatku berlatih. mesin pembersih salju yang Henri beli minggu lalu. lalu dingin. Henri dan aku menghabiskan waktu dengan berlatih.” Aku memandang Sam. Dia memegang tabung pemadam kebakaran warna merah. Bahkan Bernie Kosar pun tidak ingin berurusan dengan salju.” kata Henri. dia berdiri dan meluruskan kakinya. terbuat dari serat alami yang direndam dalam berbagai minyak. Itu artinya aku bisa mengangkat lebih dari satu benda sekaligus. Meja dapur. “Kita harus mencari Sam. “Kau perlu belajar untuk merangkulnya. kemudian salju. “Siap?” tanya Henri. kalau-kalau dibutuhkan. maka aku juga bisa mengangkatnya dengan pikiranku. Kau harus belajar bertempur dalam keadaan terbakar. baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan. dan juga truk baru kami. . Henri yakin kekuatan pikiranku pada akhirnya akan melebihi kekuatan tubuhku. Aku menarik napas dalam.” kataku. “John. Di halaman belakang. kita pasti sangat kalah jumlah.” Aku mengenakan pakaian yang sangat mudah terbakar.” kataku.” kataku. Barang-barang yang lebih berat dan lebih besar juga bisa kuangkat. “Entah. “Siap. selain di tempat yang sudah Henri bersihkan. Di belakang Henri. lompat ke salju dan berguling. “Kita harus pergi dari sini. “Lucu. Salju di dekat jalan-jalan berubah dari putih menjadi hitam kumal dan kemudian meleleh menjadi lumpur salju yang terus menggenang. namun kemudian badai bertiup dan mengubur tanah sehingga bunyi pengeruk salju sering terdengar―sama seringnya dengan bunyi angin itu sendiri. dengan tanganku. Sekolah diliburkan selama dua hari. berdirilah Sam.” Lalu kami mendengar suaranya. Mulanya angin. Api akan menjadi sekutu terbaikmu dalam perang. Tetap tenang di bawah tekanan. Bola-bola itu menyala. yang terasa lebih berat daripada biasanya.” teriak Henri. Paru-paruku mulai terasa terbakar. sambil menahan napas. Aku mengirim seluruh kekuatanku ke dalam tombak itu. tapi aku tetap membuka mata. Aku menutup mata. Aku menyatukan pecahan-pecahan kayu itu kembali membentuk tombak api padat yang tampak seolah baru diambil dari neraka. Aku tidak bisa menahan napas lebih lama lagi. Kutarik pecahan-pecahan itu ke arahku dan membiarkannya terbakar. “Mulai!” teriak Henri. Aku memandang ke atas. pecah berkeping-keping. aku mengangkat sebuah gagang sapu kecil dan panjang.” kata Henri. Aku menahan pecahan-pecahan itu sehingga tampak seperti awan debu melayang di udara. Hancurkan pohon itu. akibat menahan napas. Aku merasa frustrasi dan marah. Bola-bola itu mendesis di salju. dan aku masih memutarnya. Aku memusatkan perhatian ke sebuah dahan besar pohon itu. Aku menarik napas dalam sebelum Henri menyentuhkan korek api ke pakaianku. yang satu di atas yang lain. Aku bisa merasakan panas. “Sempurna!” teriak Henri.5 meter dariku. Aku mencoba mematahkan cabang itu.“Siap-siap. Aku menangkap dahan itu dengan tangan dan memegangnya di depanku. Api pun membalut tubuhku. Aku bertanya-tanya apakah aku berkeringat. “Pohon itu. Aku akan membakarnya.” Pohon mati itu tampak mengerikan dengan cabang- cabang bengkok yang membentuk siluet hitam dengan latar belakang putih. Kemudian aku melemparkan tombak dengan sangat kuat sehingga tombak itu melesat di udara bagaikan peluru. Api menjulang hingga dua meter di atasku. Aku berharap pohon mati itu akan terbakar. Apa itu karena aku tidak bernapas? Atau akibat stres karena api? “Jangan buang-buang waktu!” teriak Henri. Aku menggertakkan gigi dan mengerutkan kening. Aku memutar bola-bola itu di udara. Salju itu berdesis dan meleleh di bawah kakiku. Tubuhku hangat. Satu menit berlalu. Aku melemparkan balok itu sekuat tenaga ke arah sebuah pohon mati satu meter di depanku. Akhirnya terdengar bunyi patah yang keras. Kekuatannya membuat balok itu hancur berkeping- keping. Rasanya tidak wajar jika aku membuka mata. Panjang dahan itu pastilah sekitar enam . tapi rasanya mirip seperti sinar matahari pada musim panas. apalagi dengan adanya api dan pakaian yang tidak nyaman serta tugas yang belum selesai. Aku mengulurkan tangan kanan ke depan dan mengangkat sebuah balok beton. dan kuning. membentuk sungai kecil saat aku berjalan. pikirku. dengan mata terbuka lebar. Sambil melakukan itu. Aku masuk ke salju yang tinggi. Seluruh dunia diselimuti warna oranye. kubuka mata dan kucondongkan tubuh ke depan. tapi ternyata tidak. Tombak itu menghantam pohon. Aku juga menjatuhkan bola-bola tenis itu. merah. Aku menutup mata. “Lupakan bolanya. namun tak berhasil. Aku tidak membiarkan pecahannya jatuh ke tanah. Gagang sapu itu meledak. 1. Tidak lebih. Lalu aku mengangkat tiga bola tenis yang direndam dalam bensin. Dahan itu terbang ke arahku. meninggalkan lekukan di kayu. yang menari-nari di hadapanku. Aku merentangkan tangan ke samping. Aku mengarahkan bola itu ke tubuhku. Kayu berderak saat mengenai api. Jika iya. mengarahkan seluruh kekuatanku ke pusat tongkat itu. keringat itu seharusnya menguap begitu keluar ke permukaan kulit. Rasanya seperti melayang. Ratusan api kecil meledak di dekat pohon itu dan langsung padam. membelah udara bagaikan tembakan senapan. Kugertakkan gigi kuat-kuat. Aku pikir bodoh sekali jika kita tetap menggunakan usiamu yang sebenarnya padahal kita bisa mengubahnya sesuai kebutuhan. “Tadi itu jelek. “Sedang apa?” tanyaku. “Kita tak punya alasan untuk itu. tanpa menyentuhnya. usia delapan belas. Aku turun dari tempat tidur dan keluar kamar. Aku berbaring memandang langit kelabu dan butiran salju yang jatuh dengan muram di atas kami. mengakhiri latihan hari itu. Kubuka mulut dan secara naluriah menarik napas. ukuran.” kata Henri. “Sial. ya. dianggap dewasa secara hukum. Dia menengadah memandangku.” “Untuk apa?” “Aku berpikir mengenai kau dan Sam yang menyetir untuk menjemputku. setiap tarikan napas menyebabkan paru- paruku sakit dan rasa sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku.” Segala sesuatu tampak buram.” kata Henri.” kata Sam. Sebuah printer besar bertengger di salah satu sisi meja. Aku berbaring. Aku berbaring di tanah selama satu atau dua menit. berdiri di dekatku. persis seperti yang dilakukan ahli pedang zaman dulu di atas bukit setelah memenangkan perang. Henri membungkuk di atas sebuah dokumen. tapi aku tetap berguling-guling. Nama James Hughes tertera di sana. Namun. dan ketebalan bertebaran di atas meja. Lalu aku membungkuk dan melihat dokumen yang sedang Henri buat. Kemudian Henri mengulurkan tangan dan membantuku berdiri. Pukul 2:57. Terdengar bunyi desisan saat salju menyentuh pakaianku yang compang-camping sementara gumpalan uap dan asap membubung ke atas. Aku mendesah. Sam berhenti. “Kenapa kita tak pernah memikirkan ini sebelumnya?” tanyaku. Rasanya seluruh tubuhku langsung terbakar. “Membuat formulir untukmu.meter. Aku jadi berusia enam belas dan bisa menyetir. Aku mengangkatnya ke udara 12 atau 15 meter di atasku. Api menyerbu masuk ke dalam mulutku.” teriakku.” “Kau melakukannya dengan baik untuk percobaan pertama. “Salju! Salju!” teriak Henri.” “Kau baik-baik saja?” tanya Sam. Jobie Frey. ya?” “Suatu saat nanti. “Bagaimana?” “Nggak buruk untuk percobaan pertama. Tanggal kelahirannya membuatku setahun lebih tua. Dahan itu akhirnya mulai terbakar. Namun perlahan-lahan dunia kembali jelas. Lalu Sam menarik jepitan dari tabung pemadam kebakaran dan menyemprotkan bubuk tebal yang membuatku semakin sulit bernapas. “Aku tak tahan. “Paru-paruku terbakar.” Aku mengangguk. “Nggak ada yang gampang.” Aku mengambil akta kelahiran yang sudah Henri selesaikan. Api langsung padam. Rasanya sangat sakit sehingga aku tak tahu harus melakukan apa. aku menancapkannya ke tanah. John. *** Dua hari kemudian aku terbangun di tengah malam. Seharusnya kau tidak bernapas. Aku melompat ke salju dengan kepala terlebih dahulu dan mulai berguling. Dahan itu berayun-ayun ke depan dan ke belakang dengan asap dan lidah api menari-nari di sepanjang setengah bagian atasnya. lalu menarik napas panjang dengan susah payah. Lalu. Aku sangat kaget. Aku mendengar Henri bekerja di meja dapur. “Jangan.” “Tadi itu keren. Berusaha bernapas.” Kertas-kertas dengan berbagai bentuk.” “Kita akan melakukannya lagi. mengenakan bifokal dan memegang semacam prangko dengan menggunakan pinset. Botol-botol . selama kami di sana kucing- kucing bermain di rumah itu. Andai aku ada di sana. Mobil van menurunkan semua gadis- gadis di sekolah. Kami membangun rumah pohon di salah satu pojok dan. Dia pergi sekitar sepuluh menit lalu. stempel notaris. lalu mendekat dan menciumku. Sarah mengenakan baju olahraga berwarna merah dengan tutup kepala. Luar biasa! Andai kau ada di sana.” Aku mengangkat tas Sarah. “Aku juga. Kami saling tatap di bawah sinar rembulan. Aku memeluk dan menciumnya. “Apa kita akan mengubah umurku sekarang?” Henri menggelengkan kepala. Sarah menyampirkan beberapa helai rambut ke belakang telinganya. bagaimana tempat penampungannya?” tanyaku. Proses pembuatan dokumen selalu aneh bagiku. Aku tidak melihatnya selama delapan hari. Rasanya seperti sebulan.” katanya sambil mengulurkan tangan ke arahku.” Kami sama-sama diam. Kami masuk ke dalam rumah bersama-sama. Aku duduk di sampingnya. “Bagaimana caranya?” “Sihir.” Sarah mencium ujung hidungku. “Kita ngapain. *** Seminggu sebelum Natal. “Kedengarannya hebat. Sarah memegang tanganku. serta mengangkat dan memutar-mutarnya di udara. mengenakan celana olahraga dan tidak berdandan. “Selama di Colorado. Bangunan itu dibangun dengan sangat cepat dan jauh lebih bagus daripada sebelumnya. Namun dia tetap gadis paling cantik yang pernah kulihat dan aku tidak ingin melepaskannya. “Henri mana?” tanyanya.” Aku tersenyum. “Aku tidak sabar untuk ke sini. Aku menjentikkan jari dengan tanganku yang satu lagi. “Aku juga kangen kamu. Sarah pulang dari Colorado. dan rambutnya dikuncir. “Aku benar-benar merindukanmu. Lampu itu padam. “Belanja. aku berpikir seandainya kau ada di sana dan bermain bersama mereka. “Oh. Dia mendongak menatapku dan menyipitkan mata karena silau melihat lampu. Aku lebih suka tetap berusia lima belas dan tidak bisa menyetir selamanya daripada pindah ke tempat baru lagi. dan berbagai alat yang tampaknya berasal dari kantor dokter gigi.” katanya. Lalu salah satu teman Sarah mengantarkannya langsung ke rumahku dan bukan ke rumah Sarah. Lalu saat kami akhirnya pulang pagi ini.tinta. Di sana mungkin ada tiga puluh orang yang membantu setiap saat. John. Begitu mendengar suara mobil memasuki halaman. Bahkan saat main bersama binatang. “Kamu kangen aku?” tanya Sarah. Aku berdiri memandanginya.” “Jadi. benda yang terlihat seperti pelat logam.” katanya. Sarah baru naik pesawat dan mobil selama sepuluh jam.” Pikiran mengenai kepindahan di masa depan membuatku muak. aku berani sumpah. aku hanya memikirkanmu. “Sini. perjalanan terasa . Ini terutama untuk suatu hari nanti. Kami hanya saling tersenyum. Dia duduk di tepi tempat tidurku dan melemparkan sepatunya. Aku berjalan ke arahnya. stempel karet. “Setiap detik setiap hari.” kataku. Siapa tahu nanti terjadi sesuatu yang menyebabkan kau punya alasan untuk menggunakannya. Dia tersenyum dan memandangku dari ujung atas matanya.” Sarah melintasi ruang tamu dan meletakkan mantelnya di sandaran kursi lalu berjalan ke kamarku. “Sudah terlambat jika kita ingin mengubahnya. ya?” tanya Sarah. Sarah menggigit bibir. aku langsung menemui Sarah. Sarah berlari dan memeluk ibunya. Saat aku selesai. Lalu keluar kamar sambil berpegangan tangan. Kami berdua tidak membicarakan apa yang baru saja terjadi.” kataku.” Aku mengangkat bahu. Sarah dan aku. Suhu udara sedikit di atas suhu beku. Bernie Kosar hilang sebentar ke dalam hutan lalu berlari kembali ke kami. Lalu dia menghampiri dan memeluk Henri. “Aku senang kau pulang. “Apa kau pikir kita bisa dicintai?” tanyaku. Yang kupikirkan hanyalah apa yang saat ini Sarah kerjakan. Sarah dan aku pergi ke luar untuk berjalan-jalan di udara dingin sebelum ibu Sarah tiba dan membawanya pulang. “Aku percaya. Kami berdua terlonjak kaget. Aku memandikan Bernie Kosar. ibu Sarah tiba. Kamar gelap. Salju meleleh. Setelah mengelilingi halaman satu kali. Henri tersenyum. bergandengan tangan.” Henri mengangguk. “Henri sudah pulang.” Sarah tersenyum. tanah basah dan berlumpur. Henri sedang menyiapkan makan malam. Henri. namun hari terlalu gelap untuk masuk ke hutan. Sarah bercerita mengenai kucing-kucing di penampungan. Sarah dan aku bergandengan tangan. Sarah melihat jam tangannya. aku lupa tentang pengejaran. “Hai. Aku menatap piring dengan pikiran kosong. Tekstur rambutnya saat aku membelai rambut Sarah. “Kau tidak membawa pulang satu ekor untuk kami?” “Henri. dengan bulan dan bintang sebagai saksi. Aku berdiri di luar sebentar. Sarah menarikku dan menciumku lagi. Mereka mengobrol mengenai perjalanan Sarah ke Colorado. alien dan Mogadorian. aku berjalan ke jalan raya dan memandangi lampu belakang mobil mereka menghilang di kejauhan. Aku tidak lapar.” Henri menyimpan belanjaan. Aku makan beberapa suap. terutama dengan matanya. Henri tersenyum kepada Sarah.” Aku mengangguk. dan berharap seandainya dia masih di sini. Dia memimpin jalan dan lari di depan. Terdengar pintu ruang tamu dibuka. kau tahu dengan senang hati aku akan membawakan satu ekor untukmu jika kau memintanya. Aku masih mencium aroma Sarah di kerah bajuku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan Sarah. Henri sedang meletakkan kantung belanjaan di meja dapur. “Dua puluh menit.begitu panjang. Sepuluh menit lebih cepat. Aku masuk ke rumah dan mengambil tas Sarah. Kami duduk di meja dan makan. Kakinya kotor. makan malam sudah siap. “Jadi apa kau akan memberitahuku?” tanya Henri. tapi jelas kami memikirkannya. Hanya itu yang penting di dunia ini. Kuhirup udara dingin dalam-dalam dan kubawa belanjaan masuk rumah.” Kami pergi ke tepi hutan. tanpa berbicara. “Kapan ibumu datang?” tanyaku. “Maksudmu?” . Bernie Kosar ikut. Aku berjalan ke luar untuk mengambil belanjaan lainnya. Aku menutup mata. Pikiranku langsung kosong. Jadi kami berjalan di tepi halaman.” “Aku juga. lalu kudorong piringku dan duduk diam. berpelukan.” kata Sarah. Kami berdua duduk di tepi tempat tidur. Setelah mengucapkan selamat jalan. berjalan di halaman. Kemudian Bernie Kosar dan aku kembali ke dalam rumah. Sarah melihatku memandanginya dan menempelkan dahinya ke dahiku. hanya diterangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela. Sarah melepaskan tanganku. Aku masih merasakan tangannya di pipiku.” kata Sarah. “Apa?” “Yang ada dalam pikiranmu. “Aku tak tahu. tapi kupaksakan diri untuk makan. lalu kembali makan. menatapku lembut. Kami berdiri dan saling tersenyum. Bersama. “Bagus. dan Zeus. Thomas Jefferson. Sesuatu yang lebih mengancam. Tanpa rasa cemburu atau rasa gelisah atau rasa takut. walaupun aku tak mau. Setelah itu.” kata Henri.” “Masih ada lagi alasan untuk hati-hati dengan Sarah. Kembang api berubah perlahan-lahan menjadi sesuatu yang lain. tersenyum di kegelapan. Jika kau tidak pernah percaya pada kata-kataku. disukai.“Oleh manusia. Kurasa aku jatuh cinta kepadanya. Tapi kurasa kita tak mungkin bisa mencintai manusia seperti mencintai Loric. Alexander Agung. Kau bisa saja memiliki perasaan yang kuat terhadap Sarah.” “Aku percaya dengan semua yang kau katakan. John. MALAM PUN TURUN. setidaknya percayalah yang satu itu. sebenarnya adalah anak-anak dari manusia dan Loric. Sebenarnya. ANGIN sepoi-sepoi bertiup. tapi aku tidak bisa menahan diri. tapi perasaan itu tidak seperti perasaan yang kau rasakan terhadap gadis Loric. Sosok-sosok hebat dalam sejarah di Bumi sebenarnya adalah hasil dari perkawinan manusia dan Loric. Julius Caesar. jika kita bisa bertahan. Suatu saat nanti. merah. Mungkin mereka memang benar. Jelas perjalananmu masih panjang sehingga saat ini kau tidak perlu memikirkan itu. Seruan kagum wah dan oh berubah menjadi jeritan .” “Tidak banyak gadis Loric yang tersedia untukku. benar-benar disayangi oleh mereka?” “Kurasa mereka bisa mencintai kita seperti mencintai manusia lain. Aristoteles. Langit dihiasi taburan cahaya yang berkelap-kelip. dan hijau.” “Apa yang terjadi jika kita mencoba memiliki anak dari manusia?” “Itu sudah pernah terjadi berkali-kali. Lalu aku berbaring di tempat tidur.” “Yang benar?” “Percayalah. terutama jika mereka tidak tahu kita ini apa. aku pergi ke kamarku dan menelepon Sarah. Banyak dewa-dewi Yunani kuno.” Henri mengedip ke arahku. Sesuatu yang lebih keras.” katanya. “Kenapa?” “Karena pada dasarnya kita berbeda dari mereka. Aphrodite.” “Jadi bisa saja. Awan berwarna biru. Sudah tengah malam saat akhirnya kami menyudahi pembicaraan. seperti. walaupun aku tidak tahu nomornya dan juga tidak tahu di mana dia berada. Mereka sering bercanda kalian berdua sudah ditakdirkan untuk bersama. Isaac Newton. Genghis Khan. MALAM YANG HANGAT. Kami bicara selama dua jam. Hermes. dalam situasi kita saat ini. Menurutmu apakah kita bisa dicintai. Tanpa kepicikan. kita perlu menghidupkan kembali ras kita dan menambah jumlah penduduk planet kita. Tanpa kemarahan.” “Memang bisa. Dan kita mencintai dengan cara yang berbeda. tapi kurasa Sarah tak akan bisa jadi pasanganmu. Salah satu karunia Lorien kepada kita adalah kita bisa mencintai dengan sepenuhnya.” “Jadi apa yang harus kulakukan?” “Nikmati hari-harimu dengan Sarah. itu namanya sembrono dan tidak praktis. tapi jangan terlalu terikat dengannya. aku memikirkan apa yang baru saja Henri katakan. Tapi. yang diyakini kebanyakan orang sebagai mitos. dan Albert Einstein. Sebelum menelepon. dan jangan biarkan dia terlalu terikat denganmu. Apollo. Awalnya kembang api. Mereka semua benar-benar ada dan salah satu orangtua mereka adalah bangsa Loric. Leonardo da Vinci. salah satu dari anak-anak Loric yang datang ke Bumi bersama kita adalah anak perempuan sahabat orangtuamu. Biasanya anak- anak yang dihasilkan adalah manusia yang luar biasa dan berbakat. Aku terikat dengannya. Ini terjadi terutama karena dulu kita sering berada di planet ini dan membantu mereka mengembangkan peradaban. aku sedang berdiri di lintasan pesawat. tanah. Keadaan kacau-balau. Bom-bom berjatuhan dengan begitu bising sehingga memekakkan telinga. Berlutut di depanku adalah nenekku. Kakekku berlutut seperti nenek. Lalu aku melihat diriku. Dirinya. Tidak ada jendela. dengan bahu merosot. Aku tidak tahu siapa laki- laki itu. Pesawat yang kami naiki. bongkahan beton. dan juga planetnya. Sebuah pesawat udara berwarna perak berada sekitar lima meter dariku. Lalu aku pergi. berdiri di tengah itu semua. Dua orang sudah masuk. gaungnya terasa di ulu hatiku. Dia tidak mengerti apa yang terjadi. Begitu menulikan sehingga gigiku sakit. mengapa keadaan begitu genting dan mengapa ada rasa takut di mata semua orang di sekitarnya. Henri memandang laki-laki itu dan mengangguk. Aku berada dalam bangunan besar dan terbuka yang belum pernah kulihat. Hening. melintasi udara.dan teriakan. Dunia di bawahku tampak buram. Api di sana-sini. Satu-satunya yang terlihat hanyalah bom-bom. Henri yang masih muda berdiri di belakangku. Langit-langitnya membentuk kubah. siap untuk pergi dan melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan diri. seorang anak perempuan dan seorang wanita seusia Henri. menjadi salah satu dari mereka. Wajahnya tampak tegang. Jelas dia baru saja bertempur. menangis. Tumpukan logam bengkok. seperti yang telah kusaksikan sebelumnya. Di tengah-tengah bangunan itu. yang berlumuran keringat. berumur empat tahun. Aku mencoba mencari suatu bentuk. Dia juga memandang langit. Tapi sebelum ada kata-kata yang keluar. mengakhiri ucapannya. Lalu bangsa Loric melawan balik dengan begitu kuat. memandang tanpa mampu menolong. Orang-orang berlarian. Diriku yang berumur empat tahun tahu bahwa nenekku menangis. Para prajurit dan hewan buas berhamburan dari segala arah ke dalam kancah perang. “Kau harus kembali. Kakekku berdiri di belakang nenek. siap untuk bertempur lagi. Aku. Untuk pertama kalinya aku memandang berkeliling. sekali lagi aku merasa melayang. Masih mulus. dengan gagah-berani. Lalu aku berhenti lagi. Dia membuka mulut untuk berbicara. Mereka berdiri di pintu sambil menatap langit. pecahan pepohonan. Diriku yang berumur empat tahun tidak menjawab. Lantainya berupa satu lempeng beton sebesar lapangan football. kau dengar? Kau harus kembali. Nenekku memelukku. Hingga saat ini aku tidak apa pun yang dikatakan kepadaku pada malam itu. yang terus berjatuhan. Anak-anak berjalan masuk. pecahan kaca. dan darah. Diriku yang berumur empat tahun terlalu ketakutan. tapi tidak tahu kenapa. tapi aku bergerak terlalu cepat. Namun suara bom masih terdengar. dengan mata dan berambut gelap. Dia berdiri dan membalikkan badan agar aku tidak melihatnya menangis. Lensa kacamatanya memantulkan cahaya dari langit. Saat berhenti. Dan di tengah-tengah itu semua terdapat satu pesawat. Lalu kakekku. membuatku bangga berada di antara mereka. Tapi aku yang sekarang berbeda. “Kita harus pergi!” teriak seseorang. tampak panik. berdiri . Laki-laki. melintasi udara dengan sangat cepat. Kuharap aku bisa mendengar kata-kata yang dia ucapkan. Dunia di bawah tampak kabur kembali. kotoran. Sekitar empat puluh Loric berdiri di jalur yang mengarah ke pintu masuknya. Kakekku menatapku dalam-dalam. tampak tinggi dan gagah serta sendirian. wajahnya keras. bergema di dinding di sekitarku. Aku tidak bisa melihat apa pun dengan jelas. Kemudian dia melepaskan pelukannya. api dengan berbagai warna membelah langit malam diikuti ledakan tanpa henti.” kata nenekku. anak-anak menangis. Dia meremas bahuku. lubang di tanah tempat jatuhnya bom. ’ Apa yang terjadi?” “Aku di Lorien. naik dan masuk ke dalam. tapi aku tidak melihatnya dengan jelas. tapi aku bisa merasakan aku tidak sendirian. Dia membawa buntelan yang tampak seperti bayi dalam bedongan. ada yang berlari dengan dua kaki. Di belakang rombongan itu. Aku menegang. Rambutnya berantakan. Lalu pintu ditutup dan disegel. yang terus-menerus berubah wujud. Dalam roket yang pergi setelah kita pergi. berbaring di tempat tidur. mengenakan celana piyama dan kaus putih. Kemudian pintu itu ditutup. Bayangannya jatuh di tempat tidur. Kamar ini gelap. Ketiganya berkeringat.” “Apa yang kau lihat?” Aku beringsut mundur hingga bisa bersandar di dinding. di Ohio. menyiapkannya. Mataku mendadak terbuka. Aku pikir mereka bukan Garde. muncul laki- laki ketiga. Terdengar derap sekelompok hewan berlari di belakang kedua laki-laki itu. Lalu ketiga laki-laki itu berpencar di sekeliling roket. siap untuk menyalakan tanganku. seseorang berlari menghampiri. lalu empat kaki. Buntelan. naik dan masuk ke dalam. Aku melihat hewan- hewan itu dimasukkan ke dalam pesawat. Lalu ada lagi. Aku langsung menoleh ke arah itu. Dengan tiga Loric lain. Lima belas hewan. walalupun aku tidak yakin karena tidak bisa melihat dengan jelas. sekitar lima puluh kotak dan tas ransel. Sebuah sosok bergerak. Aku kembali di rumah. Dua laki-laki masuk. Aku ada di sana. Dua laki-laki yang lain mulai melemparkan tas-tas dan kotak-kotak kepadanya. “Hewan-hewan apa?” “Di pesawat ruang angkasa yang kulihat lepas landas. Saat ini bom-bom itu pasti sudah berjatuhan di dekat dinding luar gedung. Ada yang terbang. Lalu. Mereka tidak menggunakan telekinesis. Hewan-hewan itu bergegas. Lalu hewan terakhir masuk. “Cepat! Cepat! Naik dan masuk ke dalam. Mereka memerlukan sepuluh menit untuk memasukkan segalanya ke dalam pesawat. Mereka mengambil benda itu dan masuk ke dalam. Api yang juga membakarku. Lalu sebuah pintu membanting terbuka di kejauhan. berbicara dengan cepat dan keras.” kataku.” teriaknya. Aku melihat api memancar dari bagian bawah roket. Pesawat yang tua.” “Dalam mimpi?” “Kurasa tidak. Laki-laki pertama mencapai pesawat ruang angkasa. kurang lebih. Tampaknya seperti bayi. Kau berbicara saat tidur. Matanya merah karena tidur. Tepat sebelum ketiga laki-laki itu memanjat masuk ke dalam roket. “Kau berbicara.” kata Henri.sebuah roket putih yang menjulang hingga puncak langit-langit. “Apa yang kukatakan?” “Kau bilang ‘Naik dan masuk ke dalam. Henri berdiri di samping tempat tidur. dan memasukkan hewan-hewan itu. Semuanya berubah wujud agar bisa baik dan masuk. “Barusan saja. Kemudian salah satu dari ketiga laki-laki itu pun ikut masuk. entah dari mana.” Aku menyalakan tanganku.” “Kenapa kau pikir mereka bukan Garde?” “Mereka mengisi roket itu dengan perbekalan. Api itu membesar dengan cepat dan membakar habis semua yang ada dalam gedung itu. kalut. Mungkin lima belas. Tidak banyak. Menit-menit berlalu. seperti waktu itu. membuka semacam lubang palka di bagian bawah pesawat. siap untuk melemparkannya ke dinding. yang di museum. “Hewan-hewan. terjadi ledakan dalam gedung. Ketiganya bergerak dengan cepat hingga segalanya siap.” “Ke dalam roket yang ada di dalam museum?” . “Kurasa itu museum. ada orang-orang seperti kami. Kami kehilangan hubungan dengannya kurang dari dua menit setelah bom pertama dijatuhkan. suatu hari nanti bisa kembali. Bagaimana lagi hewan-hewan bisa kembali memenuhi Lorien? Mungkin mereka juga pergi ke suatu tempat perlindungan.” “Tapi bagaimana jika mereka kembali saat perbekalan mereka habis? Apa menurutmu mereka bisa bertahan hidup di Lorien?” Aku bertanya dengan putus asa.” Henri mengangguk. Aku sudah tahu apa yang akan Henri katakan.” “Oke. Bukan hanya orang-orang. “Kau ingat Hadley?” Aku mengangguk. Hewan di Lorien yang bisa berubah wujud. Sayangnya perjalanan mereka mungkin hanya sia-sia. jauh entah di mana. Aku berada di dalam gedung besar berkubah yang hanya berisi roket. “Mungkin misi yang sama dengan kita. mereka pasti bisa hidup di stasiun ruang angkasa itu sampai perbekalan mereka habis. Aku tahu pasti bahwa yang stasiun yang paling besar hancur pada saat penyerbuan terjadi. Sebuah roket dengan bahan bakar Loric bisa mencapai tempat itu. “Hewan- hewan yang bisa berubah wujud. “Tidak. “Apa?” “Chimæra. Kujatuhkan . saat aku memberitahumu tentang roket itu?” “Aku pikir roket itu kosong dan hanya diluncurkan sebagai umpan.” “Kau melihat citra bahkan saat kita tidak berlatih?” “Kadang-kadang.” kata Henri. tapi juga hewan-hewan. Mungkin buntelan itu berisi hewan lain. Aku berharap kami tidak sendirian saat kembali ke planet kami.” “Memasukkan hewan-hewan. Bahwa mungkin. ke mana mereka pergi? Apa ada tempat perlindungan lain selain Bumi?” “Aku rasa mereka pergi ke salah satu stasiun ruang angkasa. memantau planet hingga mereka. siapa yang peduli dengan citra? Mengapa mereka memasukkan hewan-hewan ke dalam roket? Apa yang bayi itu lakukan bersama mereka? Apakah itu memang bayi? Ke mana mereka pergi? Apa misi mereka?” Henri berpikir sebentar. Aku hanya bisa menduga bahwa itu museum.” “Seberapa sering?” “Henri. pasti stasiun yang lainnya juga sama. Dan tidak ada sesuatu apa pun yang bisa bertahan hidup tanpa air.” Aku mendesah dan berbaring kembali. mungkin yang masih kecil. dulunya ada dua. kupikir karena salah satu stasiun ruang angkasa sudah dihancurkan. apa pun misi mereka. Kau sudah melihatnya sendiri. Saat ini tidak ada air di Lorien. Mungkin mereka pikir mereka bisa menunggu hingga penyerbuan itu berakhir. Lagi pula. teringat citra yang kulihat beberapa minggu lalu.” “Kenapa kau tidak pernah mengatakan ini. Pikirkan.” kataku.” “Ada stasiun ruang angkasa di dekat Lorien?” “Ya. Namun aku tetap bertanya karena ingin berpegang pada semacam harapan bahwa kami tidak sendirian dalam menghadapi ini semua. John. Dia menggeser kakinya.” “Chimæra. Yah. juga. “Jika mereka bekerja di museum. dan juga tumbuh-tumbuhan. ada dua. Aku sudah tahu jawabannya. ketika aku bermain di halaman rumah kakek-nenekku kemudian diangkat ke udara oleh seorang lelaki berpakaian perak dan biru. Mereka disebut Chimæra. Maksudku. Tidak ada apa-apa selain tanah kosong yang tandus. Segalanya disapu bersih. Hewan yang masih lemah. Ada para Loric yang menunggu. pasti mereka itu Cêpan. Henri tersenyum.” “Apa Hadley itu Chimæra?” tanyaku. “Aku melihatnya dengan cara yang sama seperti melihat hal-hal lainnya. Lalu kami akan berbicara lama hingga mengantuk. Aku juga tidak bisa tidur saat merasakan kesedihan Henri. dan reruntuhan sisa-sisa peradaban. Aku selalu mengirim SMS kepadanya jika aku tidak bisa tidur. sebaiknya aku kembali tidur. Planet itu masih hidup. mengakhiri percakapan. Sam dan ibunya menghabiskan waktu liburan dengan mengunjungi bibi Sam di Illinois. Aku mengambil ponsel dan mengirim SMS kepada Sarah. aku juga berpikir seandainya aku di sana. tidak pada hari itu. Kami melewatkan Natal bersama. kami berjalan-jalan di sekitar hutan di belakang rumah. Aku sangat yakin dia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. “Yah. Apa gunanya berdebat? Henri benar dan aku tahu itu. Kita semua di pesawat sebelum lepas landas. Aku tahu aku tidak akan bisa tidur lagi. Tidak ada kehidupan. Henri menyilangkan tangan dan menatap keluar jendela. Jika globe yang Henri keluarkan dari Peti Loric dapat dipercaya. Tanpa memedulikan salju dan dingin. seperti yang dilakukan mereka yang pergi pada situasi yang sama. atau sebaliknya. “Tidurlah. Aku tidak bisa tidur saat bayangan- bayangan itu muncul. Sarah meneleponku. Tidak ada air.” “Ada apa?” tanya Sarah. Pastilah Henri selalu memikirkannya. meninggalkan satu- satunya rumah yang kau kenal padahal kau tahu kau tidak akan bisa menemui orang yang kau sayangi lagi. Aku merasa lebih baik setelah berbicara dengan Sarah. maka Lorien tak lebih dari sekadar tanah kosong. berciuman menghirup udara dingin di bawah langit musim dingin yang kelabu dan muram. Selama sepuluh menit terakhir.” Setelah Henri pergi. Kami berdua diam selama beberapa saat.” kataku. “Yah.” “Itu hari yang menyedihkan. tapi aku bisa melihat bagian putih mata Henri menatapku. Sarah tinggal di rumah.” “Dasar. melamun. Sekolah berakhir dengan tenang dan kami mendapatkan sebelas hari liburan musim dingin. batu. “Kangen kamu aja. Dua puluh detik setelah aku menekan tombol kirim. kami hanya berbaring sambil saling mendengarkan napas masing-masing. dan keluarga Henri. tapi di permukaannya tidak ada apa pun. segala sesuatu seolah berjalan dengan lambat untuk sesaat.” “Andai kau masih di sini. Sinar di tanganku sudah kupadamkan sejak dua atau tiga menit lalu. “Nggak bisa tidur?” “Nggak.kepalaku ke bantal. Sarah mengerang. “Di mana keluargamu saat itu?” kataku. Aku bisa mendengar dia tersenyum di kegelapan. SEJAK KAMI TIBA di Ohio. Tidak ada tumbuhan. kau.” Aku mengangguk. Kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Aku sudah berbaring di tempat tidur memandangi langit-langit selama satu jam. berpegangan tangan. Dia menguap di ujung sana. atau mungkin justru untuk melawannya.” katanya. Kami bersama-sama menunggu lonceng pada Malam Tahun Baru berdentang. Tidak ada apa pun selain tanah. roket.” jawabku. “Kau melihat hal lain?” tanya Henri. Aku menarik napas panjang.UNTUK PERTAMA KALINYA. aku berbaring memikirkan hewan-hewan itu. “Aku melihat kita pada hari ketika kita pergi. Kau kan baru bersamaku sekitar enam jam yang lalu. Aku melihatnya sendiri. tapi ternyata aku justru lebih susah tidur. lalu Henri bergerak. Kami selalu bertemu setiap hari sepanjang . Aku berbaring miring dan menahan ponsel di antara kuping dan bantal.” Kami mengobrol selama dua puluh menit. “Tidak bersamaku. nih. “Hei.” katanya. Aku menatapnya. Aku memeluk dan menciumnya di bawah langit terbuka. “Ahh! Wajahmu dingin seperti es. Ujung jari kami sesekali bersentuhan saat kami membuat sayap. Sarah melepaskan tanganku. Musim panas masih lima bulan lagi. Aku berbaring di sampingnya dan melakukan hal yang sama. Aku tidak yakin seberapa panjang hutan ini.” Sarah memutar matanya. “Kita mungkin bisa piknik di tempat yang terbuka. mengejar kelinci ke belukar dan semak berduri. Tidak ada suara lain selain burung-burung dan bunyi salju jatuh dari dahan pohon di dekat kami. Jika Henri dan aku tinggal di sini hingga bulan Mei. berlari masuk dan keluar semak berduri.” katanya. Kami menyusuri jalan bersalju itu sekarang. kemudian mendongak dengan pandangan penuh harap. “Apa?” tanyanya sambil tersenyum. Malaikat kan bisa melakukan apa pun. jangan ingatkan aku. Bernie Kosar menyalak dua kali.” Kami memasuki tempat terbuka. Sarah mengenakan penghangat telinga berwarna hitam. Sarah memandangku. Dia berguling telentang dan menggerak-gerakkan tangan untuk membuat malaikat salju.” katanya.” Dadaku terasa sakit. kehabisan napas. hanya tampak jejak kaki kami berdua. “Aku yakin tempat ini indah pada musim panas. Tempat itu lebih besar daripada yang lain. Dia menyalak dan duduk di salju memandangi kami. “Maksudku. “Bernie Kosar! Tadi kau mengejar kelinci?” tanya Sarah. lidah terjulur. Kami berjalan bergandengan tangan di bawah naungan warna putih yang terbentuk dari tumpukan salju di atas ranting pepohonan. pepohonan mengelilingi kami. Salju di tanah tampak mulus tak tersentuh. berlari ke tengah. Dia menyalak lagi. Bernie Kosar memimpin jalan. “Kita tampak seperti saling memegang sayap.” aku setuju. berarti kami berada di Ohio selama tujuh bulan. tapi selama kami berjalan-jalan bersama belum pernah kami mencapai ujungnya. bagaimana kita terbang jika kita saling memegang sayap?” “Pasti bisa. lalu mundur. lalu berlari dan melompat ke arah Sarah.liburan. kepalanya dimiringkan ke satu sisi. ekor dikibas-kibas. tertawa. Namun di beberapa bagian ada tempat-tempat terbuka. Segerombolan gagak terbang di atas. . menyebabkan matanya tampak lebih biru. Sarah mengambil tongkat dari tanah. Sarah membawa kameranya dan sesekali berhenti untuk memotret. ‘apa?’” “Itu nggak cukup meyakinkan. Pipi dan ujung hidungnya merah karena dingin. “Apa?” Aku memandangnya bingung. “Aku hanya berpikir seandainya sekarang ini musim panas. Wajahnya yang dingin mengenai leherku sehingga aku menggeliat menjauhinya. Kami berdiri. “Apa maksudmu.” Sarah tertawa. memburu tupai. Aku nggak percaya kita harus sekolah lagi besok. Hutan itu lebat. Itu mendekati waktu paling lama bagi kami untuk tinggal di satu tempat. hampir benar-benar bulat dengan diameter tiga puluh meter. Bernie Kosar menghampiri dengan berderap.” kata Sarah. dan menjatuhkan diri di salju. “Yeah. berkaok-kaok bising. “Hanya mengagumi keindahan.” “Sama. “Apa itu mungkin?” tanyaku.” “Ugh.” Lalu Sarah berbalik dan menubrukku. Bernie Kosar? Dia bilang kau itu aneh!” Bernie Kosar menjatuhkan tongkat di kaki Sarah.” Henri memandangku heran. Aku mengepak tas dengan pakaian ganti baru dan buku-buku yang kubutuhkan untuk hari itu. bergandengan tangan. Itu sisi buruk dari kota kecil. Sarah dan aku berputar memandang Bernie Kosar. lalu melemparkannya ke arah pepohonan. Beratnya pasti sekitar lima ton. “Apa?” “Ada gempa di Argentina kemarin malam. hanya karena kebiasaan. “Tepat. namun bukan dari tempat dia tadi pergi. dengan panjang dan lebar 2. Tapi aku selalu berharap ada sesuatu setiap kali bertanya seperti itu kepada Henri. “Ada sesuatu?” tanyaku. Itu bagus. lalu menunjukkan bagian atas artikel itu. lalu berdiri. “Entah apa yang harus dia tinggalkan. Semua orang pasti tahu namanya.5 meter. lalu menunjukkan bagian bawah halaman itu.menggoyang-goyangkannya untuk menyingkirkan salju. ukurannya tak sampai sepertiga Paradise.” “Bagaimana mereka tahu namanya?” “Itu kota kecil.” kataku. tapi tidak jadi dan kembali berkutat dengan komputernya. Dia menyorot kalimat terakhir. yang tidak kulihat selama hampir dua minggu. walaupun pasti menyenangkan bertemu Sam lagi. Dia tidak menolak memberikan komentar. “Bernie itu anjing yang aneh. Aku tidak antusias. “Oke.” .” “Tepat. Apakah dia itu Nomor Sembilan atau bukan masih perlu diselidiki.” “Kau dengar itu. Kami berjalan kembali ke rumah. Seorang gadis enam belas tahun membebaskan seorang lelaki tua dari tumpukan reruntuhan di sebuah kota kecil dekat pantai. Henri di komputernya.” “Dia pergi. aku yakin gadis itu salah satu dari kita. membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. dia justru datang dari sisi yang berlawanan. Bernie Kosar berlari mengejar tongkat itu dan menghilang dari pandangan.” kata Henri. Hati-hati di luar sana.” “Kenapa? Nggak ada yang aneh dari menolong orang tua dari reruntuhan.” “Entah. tidak mungkin untuk tidak menjadi perhatian.” kataku.” Semangatku bangkit. Bunyinya: “Sofia Garcia tidak bisa ditemukan untuk memberikan komentar. ya. Dia muncul kembali dari pepohonan sepuluh detik kemudian.” kataku. “Dia tidak bisa ditemukan. Bernie Kosar berderap di samping kami sepanjang jalan itu.” “Sayang. Hari hampir senja. Di sana ada gambar lempeng beton besar yang tebalnya sekitar 30 senti. “Sebenarnya. “Kurasa begitu.” Aku membaca kalimat itu tiga kali.” “Lihat. *** Lima surat kabar menumpuk di meja dapur. Aku berjalan mengelilingi meja dan melihat layar komputer dari belakang Henri. Lampu menyala. “Kok bisa?” tanya Sarah. Belum ada berita penting selama berbulan-bulan. “Ini yang dia angkat untuk menyelamatkan lelaki tua itu.” kata Henri. dia hanya tidak bisa ditemukan.” kataku. “Aku berangkat. kurasa.” “Nomor Sembilan?” “Yah. Dan lihat ini.” Aku mendesah. ya?” Henri mengangguk. Mungkin sebelum surat kabar itu diterbitkan. Ia menengok ke kanan dan kiri seolah menjaga kami dari apa yang bersembunyi ataupun tidak bersembunyi di kegelapan di luar jangkauan penglihatan kami. Kembali ke sekolah. Aku kembali ke kamarku.” “Semoga harimu indah. “Dan para Mogadorian juga sulit untuk tak menonjol. ” Dari balik bahu Sam. lalu pergi ke loker Sam. benar. “Mereka pasti takut setelah kita mengunjungi mereka.” “Yeah. “Aku pikir aku dikerjai tadi. Dia . Mark James menghentikannya di tengah lorong dan memberikan beberapa lembar kertas berwarna oranye. murid-murid lain mulai berdatangan. entahlah. “Ini ada di kotak surat saat kami kembali. Aku bisa merasakan lip balm stroberi di bibirnya.“Sampai ketemu nanti sore.” “Nggak. Aku berjalan di lorong. “Emily apa?” tanya Sam. Saat melihat bahwa itu aku. Cantik. “Oke.” kataku. Begitu selesai. dan yang Sam taksir sejak saat itu. berhenti di lokerku. “Menurutmu Emily akan pergi?” tanya Sam. baiklah.” jawab Sarah. Sam. Sekarang Sam lebih santai di dekat Sarah. dia melihat Sam memandanginya. Saat Emily lewat. “Bagus. mungkin sebaiknya aku nggak mengundang Emily karena Sam tak suka dia.” “Emily selalu bertanya kenapa kau tidak pernah menelepon setelah naik gerobak jerami itu. lalu memutar mata.” kata Sam. Aku menepuk punggungnya.” Bernie Kosar bergegas keluar rumah mendahuluiku. Lalu Sarah terus berjalan. aku membelai dan menggaruk belakang telinganya. Apa kabar?” “Baik. “Hai. “Cuma aku. berbicara dengan percaya diri. Emily tersenyum sopan. Aku hanya.” “Kau mau datang?” tanyaku. “Bibiku memaksaku minum teh dan nonton Little House on the Prairie hampir setiap hari.” Aku tertawa. Aku mandi dengan tenang. “Yah. Kamu?” tanya Sam.” Sam memberikan edisi They Walk Among Us terbaru kepadaku. “Kita bertiga diundang.” Sarah memberikan lembaran oranye yang baru saja diberikan Mark kepadanya. Dia terkejut. balik menatapku. Aku rasa dia menantikan lari pagi kami.” katanya.” katanya. dia menyeringai lebar. “Mungkin bisa kita coba.” kata Sarah. berdiri Emily.” Sam tersenyum. “Aku harus memberikan kalian ini. Kawan. Dia tidak bisa menatap mata Sarah dan bingung apa yang harus dilakukan dengan tangannya. Dia gadis yang ikut naik gerobak jerami bersama kami. Aku mulai membalik-baliknya. “Baik.” katanya.” Aku mengangguk. “Hai. Bernie Kosar berbalik dan mulai berlari kembali ke rumah. “Tidak ada tentang kita atau Mogadorian. Dia bisa mengimbangi kecepatanku selama berlari. “Kurasa Sam naksir Emily Knapp. “Aku bisa mengajaknya ke pesta bersama kita.” kataku saat Sarah tiba. “Aku diundang?” tanya Sam. aku bisa melihat Sarah menghampiri. Sarah mengangguk.” katanya. yang terjadi sekitar satu setengah bulan yang lalu. atau sebenarnya siapa. lalu merogoh ke dalam tas. Kami tidak melakukannya selama satu setengah minggu sehingga dia tak sabar untuk itu. Setelah kami tiba di sekolah. percaya deh. Sarah berjinjit untuk menciumku. “Kedengarannya buruk. Sam?” Sam memandang melewati Sarah dan aku. Itu undangan pesta pada malam Minggu mendatang di rumah Mark.” “Memang. berdiri di dekat Sarah selalu membuat Sam tidak nyaman. Bagaimana Illinois?” “Ugh. “Oke. “Kau tertarik.” kataku. Aku berbalik untuk melihat apa yang Sam lihat. Dia penuh energi hari ini. “Emily?” tanyaku kepada Sam. Tapi sekarang Sam memandang Sarah dan tersenyum. Sarah memandangku. pulang ke rumah. Di loker di seberang lorong. Aku memandang Sarah. Sebelum peristiwa Henri. “Ada kelanjutan artikel tentang gadis yang di Argentina.” Sam memandangku. hampir empat menit.” “Sudah kuduga. Aku melompat ke dalam truk. Suatu saat pemukul daging terbang ke arah Henri dengan begitu cepat sehingga dia harus menjatuhkan diri ke salju agar tidak terpukul. Pada hari ketika latihanku berjalan dengan sangat baik.” kata Henri. menonton kami. Kemampuanmu menerbangkan benda tampaknya sangat memengaruhi mereka.” Saat kami tiba di rumah aku berganti pakaian dan menemui Henri di halaman belakang untuk latihan. Henri memasukkan gigi dan menyetir keluar sekolah. “Aku pernah dengar Emily berkata begitu.” “Ngomong-ngomong. Pada dasarnya aku hanya mengangkat benda-benda dan menggerakkannya di udara. Kadang-kadang aku perlu membiarkan benda itu jatuh ke tanah. apa pun itu. ekspresi khawatir yang kulihat di wajah Henri pada hari pertama mulai mencair. Dia lebih sering tersenyum. dan para Mogadorian sedang membuntutinya. Sedikit demi sedikit. Bernie Kosar duduk di tempat duduk penumpang. Dua puluh menit berlalu dengan Henri melemparkan benda-benda ke arahku. Setelah selesai . maka bagus jika dia menghilang. “Dan?” “Hanya artikel pendek yang menyatakan bahwa dia hilang. “Kita pergi. seperti yang tertulis di kertas catatan yang kita temukan itu. Dan jika dia ditangkap. Melakukan banyak sambil dibakar sudah terasa lebih mudah. Hari ini latihannya mudah. Aku jadi merasa lebih percaya diri dengan Pusakaku.” *** Henri sedang menungguku saat bel terakhir berbunyi. Wali kota menawarkan hadiah kepada yang bisa memberi informasi di mana gadis itu berada.” “Apa kau khawatir para Mogadorian menangkapnya duluan?” “Jika gadis itu si Nomor Sembilan. matanya bersinar dan dia mengangkat tangan ke udara serta berteriak “Yes!” sekeras mungkin. Aku bisa menahan napas lebih lama.” kataku. Aku juga bisa mengangkat lebih banyak benda dalam satu waktu.” “Ada sesuatu di dalamnya?” “Nggak.” Sam menunduk memandang kertas itu. hari ini Sam membawa edisi They Walk Among Us terbaru. Pusaka yang lain belum muncul. Aku bisa lebih mengendalikan benda-benda yang kuangkat. Tanpa api.” Aku mengangkat bahu. “Kau nggak tanya. di saat lain aku harus membelokkan benda itu dan membuatnya berbalik cepat ke arah Henri. Aku ingin bertempur. Saat melihatku. selain dari berita itu sendiri adalah. Dia lebih sering mengangguk. Seperti biasa. “Jadi Sabtu ini?” “Ya. Aku berharap Mogadorian datang ke halaman belakang rumah kami sehingga aku bisa balas dendam. Dan juga Pusaka utamaku.” “Itu benar. ekornya mulai dikibas- kibas dengan kecepatan 160 kilometer per jam. Masih ada harapan. “Kita pergi. seperti bumerang. tapi kurasa tidak akan lama lagi. kurasa semua Mogadorian di Bumi pergi ke Argentina saat ini. Aku tidak kalut seperti pada hari pertama.” “Kenapa kau nggak bilang?” tanya Sam. Penantian itu membuatku terjaga hampir setiap malam.sepertinya suka kepadamu. Aku tertawa. Henri tidak. Bernie Kosar berbaring di tanah sepanjang latihan. seolah memberikan dukungan. Sepertinya mereka yakin dia diculik. Sisi bagusnya. para Mogadorian tidak bisa membunuhnya―mereka bahkan tidak bisa menyakitinya. semua air kering dan menguap. Aku duduk di belakang. dia sangat bersemangat. Ini masa istirahat sebelum pak tua musim dingin lewat mengemudikan keretanya lagi. lalu hilang dengan cepat. dan hujan salju terus-menerus digantikan langit biru dan suhu sepuluh derajat Celcius. Dia mengenakan celana abu-abu gelap dengan pola lidah api di bagian pergelangan kaki. Ibu Sarah bercerita mengenai perjalanannya ke mal pagi tadi.” Aku mencium pipi Sarah. dan jaket beige. Aku . dan setelah itu lari bersama. Kami berbasa-basi. “Kau tampak menawan. Sarah keluar dari sisi pengemudi. Aku bercerita bahwa aku bermain dengan Bernie Kosar di halaman. Mata birunya semakin menonjol akibat kemeja biru yang mengintip dari ujung jaket.” Henri menatapku. kuremukkan. Awalnya ada kubangan air di halaman. “Pesta siapa?” “Mark James. dan kuhancurkan. ANGIN DINGIN. memandangi langit malam penuh bintang berkelap-kelip serta bulan purnama. Aku tidak menceritakan mengenai sesi latihan selama tiga jam di halaman belakang setelahnya. “Yah. dua hari lagi. Rambut pirangnya tergerai melewati bahu.” kataku sebelum Henri mengatakan keberatannya. “Ya. “Masalah yang dulu kan sudah selesai. Lalu Henri keluar dari rumah dan melambai ke ibu Sarah. lalu mengerjakan PR. “Jadi bagaimana harimu.berlatih. Ujian mengemudinya akan dilaksanakan hari Senin. John?” tanya ibu Sarah sambil menengok ke belakang. Namun setelah satu hari. lalu berbelok ke jalan. atau bagaimana Henri melemparkan pisau ke arahku yang kemudian kubelokkan ke karung pasir yang berjarak 15 meter. Sebuah mobil masuk ke halaman.” CUACA MENGHANGAT. Terdengar bunyi kerikil dilindas ban. “Nanti kau telepon kalau sudah mau dijemput. Dia bisa menyetir asalkan didampingi seseorang yang memiliki SIM. berhenti mengunyah.” jawabku. “Makasih. Setelah itu aku duduk di meja dapur untuk makan malam.” katanya sambil membungkukkan badan. sweater cardigan biru laut. Aku tidak bercerita bahwa aku dibakar atau pun mengenai benda-benda yang kuangkat. disusul sorotan lampu depan. CUACA menggigit. Rahasia lagi. Aku duduk di beranda menanti Sarah. Salju meleleh. Sarah duduk di belakang kemudi. Awan tipis bagai pisau membelah bulan menjadi dua. Mobil-mobil lewat dengan mulus seperti biasa. Aku tidak menceritakan kepadanya bagaimana aku membelah batang pohon mati dari atas ke bawah menggunakan telekinesis. kan?” tanya Henri.” Henri tampak terkejut. aku mandi. Lalu dia menurunkan pelindung matahari dan memandangku melalui kaca spion. mengedip-ngedipkan mata sambil berjalan menghampiri. dan bagaimana Sarah menyetir. Sejak tanggal ujian mengemudinya ditetapkan musim dingin lalu. Aku balas tersenyum. kurasa kau tahu yang terbaik. “Kau sendiri nggak jelek. Rasa gugup yang sepertinya tidak akan pernah reda seiring dengan waktu. Dia tersenyum menggoda dan memandangku. Aku ingin memberi tahu Sarah. tapi aku tetap gugup saat melihat Sarah. Tapi ingat apa yang kau pertaruhkan.” kataku. Sudah hampir tiga bulan kami bersama. Setengah kebenaran yang terasa seperti kebohongan. Jalanan basah dan terdengar bunyi percikan air terlindas ban. Perutku seakan tergelitik. Kami berjalan ke mobil. “Sabtu ini ada pesta dan aku akan pergi. Sarah memundurkan mobil keluar dari halaman. Sarah sedang belajar menyetir mobil. yang duduk di tempat duduk penumpang dalam mobil. Kedua tangan Sam tertancap erat di kursi karena gugup. Sam. Emily sudah ada di sini. seekor golden retriever dan seekor bulldog. Seluruh tim football ada di dapur. “Dozer itu si bulldog?” tanyaku. dikelilingi pepohonan. Sarah mundur lagi dan berbelok ke jalan. Ini suatu kesalahan. terdapat sebuah rumah besar berlantai dua. “Wah.merasa seolah mengkhianatinya dengan merahasiakan itu. Dia bahkan tidak memandang Sam. beban itu mulai memberatiku. Aku mengambil tongkat itu lalu melemparkannya melintasi halaman. Dia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangan. Mark menunjukkan arahnya. rumah yang bagus.” kata ibu Sarah. sambil memandangku. Tidak pada saat ini. Anjing- anjing berlari masuk melewati kami dan hilang di dapur. Si bulldog membawa tongkat di mulutnya. “Aku baru menyadarinya. Sarah mengangguk dan tersenyum seolah meminta maaf. Lalu dia menjabat tanganku. Ayo masuk. membuka pintu. setengah dari mereka mengenakan jaket football. “Hai. Dia mengenakan jins dan sweater wol dan mendongak kaget saat kami datang. Sarah masuk ke halaman rumah Sam.” “Taruhan. Tapi aku juga tahu bahwa aku tidak punya pilihan lain. Aku ingin tahu apakah dia merasa aneh kembali ke rumah ini. lalu mengenalkan Sam kepada ibunya. Ekor mereka dikibas-kibaskan dan mereka mengendus-endus celanaku. Sarah mengemudikan mobil di jalan yang belum pernah kulihat lalu berbelok ke kanan dan memasuki jalan untuk mobil yang berkelok. “Ini ide yang buruk. . Hart. Kedua anjing itu berlari kencang mengejarnya. lalu bertanya kepada Mark di mana letak kamar mandi.” kata Sam. dan duduk di sampingku. atau jika tidak bisa menghubungi ayahmu. Mark datang dan memeluk Sarah. Aku teringat bahwa dia mengenal rumah ini.” kataku.” “Kenapa kau berpikir begitu?” “Karena baru tiga bulan lalu orang yang tinggal di sini memenuhi loker kita dengan kotoran sapi dan menimpuk belakang kepalaku dengan bakso saat makan siang.” katanya. berbicara dengan orang lain. Sebagian besar dari mereka memegang kaleng bir. Mrs. “Dan hati-hati. Mark tidak menjabat tangan Sam. “Baik-baik di sana. Hanya sedikit yang minum air atau soda botolan. Kami keluar dari mobil dan berjalan ke pintu depan. yang terletak lurus di depan.” Emily berdiri di salah satu sudut. “Dozer dan Abby. Di ujung jalan untuk mobil itu. Selama minggu-minggu terakhir.” kata Sarah. Rambutnya berkilap oleh gel.” kataku sambil menyikutnya.” jawabku. Dua ekor anjing berlari menyongsong kami dari samping rumah. “Baik. bersamaku. “Jadi ini tempatnya?” tanya Sarah. Sam sedang berjalan mondar-mandir. Dia berjalan ke samping mobil. Dia memandangku. Aku bisa melihat Abby menggigit tongkat. Sam memandang ke arah Emily. Suara musik terdengar bahkan sebelum kami tiba di sana. Dan sekarang kita di sini.” kata Sam. Mungkin Sam benar. Aku belum pernah melihat Sam memakai gel. Pintu depan terbuka ke arah lorong masuk. Telepon jika perlu sesuatu. Orang- orang berdansa di ruang tamu. “Senang kalian bisa datang. Tampaknya orangtua Mark sedang keluar kota. mencium bau Bernie Kosar. Bir ada di dapur. “Ya. Kami disambut musik keras sehingga harus berteriak agar bisa didengar.” kata Sarah. Ada tiga puluh mobil atau lebih yang diparkir di pinggirnya. ya. Sebagian lagi tertutup. Aku memandang mereka semua. “Aku pikir kau meninggalkanku sendirian. Saat itu Sarah sudah sampai di ujung ruang tamu dan berbicara dengan Emily.” “Tak akan. Aku berada di rumahnya saat ini bersama Sarah. “Jangan buat aku mengangkatmu ke udara dan membalikkanmu seperti laki-laki di Athens itu. Aku senang Sam bersamaku. “Aku suka rambutmu. Di dapur.” Aku tersenyum. Sam menggelengkan kepala.” “Lalu apa? Kenapa kau terganggu?” Sam mengangkat bahu. Aku belum pernah berbicara dengannya. “Aku baru saja dipojokkan oleh Alex Davis. tinggi dan kurus. Aku tidak melihat Sarah selama sepuluh menit terakhir. mantan pacarnya. Sam berdiri murung sendirian di pojok. tapi Emily tertawa dan setelah beberapa saat Sam menjadi lebih santai. penerima bola di tim football. “Kau tampak sangat cantik. Aku menyodok Sam. Dia anak kelas tiga. sambil menusuk perutku. Sebagian besar laki-laki berdiri mengelilingi meja di tengah dapur. sehingga tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Sam tidak. Seorang pemain football pingsan di sofa ruang tamu. Kami berempat berdansa selama satu jam atau lebih. dan itu menggangguku.” kata Sarah. Cara Mark memandang Sarah membuatku sadar bahwa aku tidak percaya kepadanya. Karpet tebal dan dinding putih dihiasi dengan lukisan dan foto keluarga. Aku tidak tahu apa yang terjadi di bawah sana. Seseorang muncul membawa satu botol vodka.” Sarah memandangku penuh arti. “Rasanya menyebalkan. Orang-orang masuk dan keluar melalui pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah. Mark membuka sekaleng bir dan memberikannya kepada Sarah. Lalu Emily berkata kepada Sam. kau tahu berapa lama Sarah dan Mark . “Hai.” katanya.” katanya. “Pastikan kau memuji Emily.” katanya.“Aku segera kembali. Musik semakin keras.” Sam hanya memandangnya. dua orang anak laki- laki iseng membakar ujung surat kabar. Aku menghampirinya. Mereka memandangku saat Sarah dan aku masuk. Aku meninggalkan Sam dan berjalan melintasi ruang tamu dan dapur. Sam tersenyum. Dan sekarang aku baru sadar betapa anehnya situasi ini. oke?” “Sam. Aku rasa mereka berkencan pada musim panas.” katanya. Dia menarik napas dalam. Segera saja salah satu dari mereka―entah yang mana―muntah di kamar mandi sehingga bau muntahan menguar di lantai bawah. Sam berbicara dengan Emily. Apa kabar?” “Baik. “Tentu. “Makasih. dan beberapa temannya menggambari wajahnya dengan spidol. gugup. “Kalian di sini toh. Alex Davis itu salah satu gerombolan Mark James.” jawabku. Aku membungkuk dan bermain dengan anjing-anjing hingga Sam keluar dari kamar mandi. lalu mengambil sebotol air dari ember berisi es. Apa ada yang lebih baik daripada itu?” “Gombal. “Apa maksudmu ‘dipojokkan’?” “Kami cuma mengobrol. Dia mengangguk.” kata Sam kepadaku. Beberapa pintu kamar tidur terbuka. Aku tidak melihat Sarah. Dia melihatku berbicara dengan Emily. Aku mengangkat bahu dan mencium pipinya. “Kenapa murung?” tanyaku. Sam menegang di sampingku saat sadar bahwa tidak ada lagi yang bisa kami lakukan selain menghampiri mereka dan menyapa.” kataku kepada Sam saat kami mendekat. Para pemain football masih minum-minum. “Kau baik-baik saja?” tanya Sarah kepadaku. lalu naik ke atas. Emily. Aku kembali ke bawah. Aku bersama gadis tercantik di pesta ini. tapi beberapa yang lain tetap di tempat mereka. “Kau pikir Emily kangen dengan orang seperti itu?” Sam memandang Alex. Beberapa orang mengikuti mereka. “Ada apa?” tanyaku. ehm. Dia menggeleng. Para pemain football masih minum-minum di dapur. “Keluar. Sam tampak terguncang.” “Cara terbaik mengatasi rasa takut adalah dengan menghadapinya. Dia duduk merosot di konter dapur. Kami. Beberapa orang berdiri dengan bodohnya dan menepuk-nepuk punggung para pemain football saat mereka berlari . Kita tidak ditentukan oleh hal-hal yang kita lakukan atau tak kita lakukan di masa lalu.” Sam memandangku dan mengangguk. “Tapi aku takut. Ada rasa takut di matanya. “Apa kau terganggu?” tanyanya. Emily suka kepadamu.” kataku. “Ada kebakaran di bawah!” katanya kepada teman- teman di dekatnya. Sam mengangguk.” Sam dan Emily tampak kusut. Siapa yang peduli dengan masa lalunya? Lagi pula. jelas mereka baru saja bermesraan. “Nggak sama sekali. Terima saja. “Kau itu laki-laki baik. dan membuka-buka pintu- pintu lemari di dapur. Aku harus memberi selamat pada Sam nanti. Sam Goode. Ekor dikibas-kibas. menyalakan keran sebesar mungkin. lalu mengangkat bahu.” “Dua tahun.” kataku sambil mengarahkan dagu ke arah Alex yang sedang berdiri di dapur. Hampiri dia dan cium dia. Aku berani jamin dia akan membalas ciumanmu. Jangan menyesali diri.” kataku. Aku mulai mengantuk. Mark James bersama mereka. Ada lebih banyak anak laki-laki yang bergegas ke atas. Dia bergegas menuju bak cuci di dapur. Emily dan Sam muncul dari tangga.” “Aku tidak menyesali diri. Lalu aku mencium bau asap. lihat Alex. mungkin juga bukan. tempat Emily berada.berkencan?” “Lama. Aku masih tidak bisa menemukan Sarah. Aku memandangi hingga mereka hilang di tangga. Kemudian dia pergi ke ruang bawah tanah. Ada orang-orang yang membiarkan diri mereka dikendalikan oleh penyesalan. Lima belas menit lagi tengah malam.” “Yah. Lalu salah satu pemain football berlari dari ruang bawah tanah dengan tatapan panik dan kalut. Tak ada yang perlu ditakutkan. selapis tipis keringat berkilauan di dahinya. kalau begitu. Lidah terjulur. jangan khawatir tentang masa lalu Emily.” kataku.” Sam mendesah. Aku memandang Sam. lalu Dozer melompat menerkam Abby dan Abby melompat menjauh. lalu bergegas turun satu per satu. Dozer menempelkan dadanya di tanah dan menunggu Abby hingga cukup dekat. Dia masih bergulat dengan perasaannya. “Rumah ini kebakaran!” “Seberapa parah?” “Sejak kapan yang namanya kebakaran itu bagus? Dan kurasa kami yang menyebabkannya. Itu hanya sesuatu yang sudah terjadi. menggandeng Emily. “Ayolah. Mungkin itu penyesalan. lalu mereka berdua keluar. memandang penasaran sambil mabuk. Dua anjing bergulat di ruang tamu. Mereka mengisi panci dan wajan dengan air. menjatuhkan lilin ke tirai. “Kau lihat Sarah?” tanyaku kepada Emily. bermain perang-perangan dengan mainan plastik. setengah tak sadar karena mabuk. Beberapa lagi tertawa. Tidak ada pura-pura lagi. Aku justru menjatuhkan panci itu dan berlari ke atas. Sarah tidak ada di mana pun. “Keluar!” bentaknya. Setelah melihat itu. Aku pergi ke dapur dan mengambil benda terbesar yang tersisa. Aku menerobos kerumunan. Beberapa orang yang mabuk tidak bergerak. Beberapa orang bersorak. “Di mana Sarah?” tanyaku.” Mark melihat ke bawah. tidak bisa mengalihkan pandangan. Setengah ruang bawah tanah itu dilalap api. Orang-orang berdiri. Salah satu orang berkata. Orang-orang masih berlarian keluar. Aku memandang rumah itu kembali. Seluruh jendela ruang bawah tanah pecah. Aku menghentikannya di tengah tangga. Yang bisa Mark lakukan hanya menatap. Mark sedang berlari ke bawah. Aku mendorong mereka ke pintu. Aku berlari ke arahnya. Aku berlari kembali ke bawah. Lalu ledakan menggetarkan rumah itu. “Terlalu besar. Api sudah mencapai lantai satu. Salah satu jendela terbuka. Aku mengambil telepon tanpa kabel dari dinding dan menyodorkannya ke tangan Mark. Semua orang sudah keluar. menyoraki mereka seolah-olah itu suatu lelucon. yang mungkin berjumlah sekitar seratus orang. Wajahnya berkilau dengan cahaya oranye. Jendela ruang bawah tanah merah membara. “Kau lihat Sarah?” tanyaku. tapi aku juga melihat bahwa dia ketakutan dan putus asa. Lidah api mulai naik melewati jendela lantai satu. ke malam yang gelap dan dingin. “Mark!” bentakku. melewati pintu. dan api itu bergerak dengan cepat. Aku membentak mereka berdua agar keluar. Dia tahu apa yang kukatakan itu benar. Dari matanya aku tahu dia mabuk. Aku menaiki tangga ke lantai dua. Satu pasangan sedang bermesraan di salah satu kamar. lidah api menjilati kaca jendela. Sikap sok jagonya menghilang.” jawab Sam. barulah orang-orang menanggapinya dengan serius. tanpa ampun. penuh rasa putus asa. Kami berdua berlari ke atas. “Semuanya keluar! Sekarang!” teriakku begitu sampai di ujung tangga. “Mana marshmallow-nya?” Mark menampar wajah orang itu.naik dan turun tangga ruang bawah tanah. Matanya berkaca-kaca. panci logam ukuran sedang. . Aku mengisinya dengan air lalu turun ke ruang bawah tanah. Memadamkan api dengan sedikit air jelas sia-sia. “Telepon pemadam. Kami bisa merasakan panasnya di wajah kami. “Nggak. Asap mulai mengambang dari bawah kami. Kita harus mengeluarkan semua orang. Aku tidak berusaha memadamkan api. Api merebak dengan ganas. Beberapa dari mereka tertawa. dari tempat kami berdiri. Mark James berdiri di depan kerumunan. Di mana Sarah? Sam berdiri di belakang kerumunan. menonton. Lantai mulai memanas. Yang tersisa hanya kami yang bertarung melawan api. memandang api. Aku berlari melewati Mark saat dia menekan nomor dan bergegas melintasi rumah. lalu menendang pintu-pintu. Pasti aneh melihat segala hal yang kau kenal hancur.” kataku. yang jauh lebih besar dari dugaanku. Aku mulai panik. Aku bisa melihat beberapa dari mereka senang melihat rumah itu akan terbakar habis. “Lupakan. tatapan yang sama seperti yang kulihat di mata para Loric pada hari penyerbuan.” teriakku mengatasi suara keras dan musik yang masih meraung entah dari mana bagaikan musik latar keadaan hiruk-pikuk. Asap hitam keluar dan membubung tinggi ke udara. tiga anak tangga sekaligus. Mark mengangguk dan menjatuhkan panci. ” jawabnya. melintasi halaman belakang. Vinil pelapis dinding mulai mendidih dan meleleh. Di bagian kiri rumah. Semua orang menarik napas. Gorden-gorden di jendela sudah terbakar habis. tapi tidak ada waktu untuk mengetesnya. Hatiku mencelos. Semua orang memandang lautan api itu.Mark tidak mendengarku. Suara mereka terdengar lebih dekat. Mark beralih dan menatapku dengan tatapan kosong. Dia ketakutan. Sesuatu menembus punggungku. dan menerobos masuk ke dalam rumah. jelas masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Tidak salah lagi. Bajuku terbakar. Aku menggertakkan gigi.” Sam menutup mata. Aku membiarkan semua itu masuk. Aku berlari ke atas.” kataku pelan sehingga hanya Sam yang bisa mendengar. Saat akhirnya tiba di belakang. Aku memandang berkeliling. Semua orang yang ada di sana berusaha mendengarkan sambil berharap bahwa kami tidak mendengar apa yang tadi kami dengar. Kemarahan. Jangan. Aku memandangnya sebentar. “aku akan masuk. Tapi anjing-anjing itu tidak berhenti. Sisa tangga itu masih terbakar dan tampak rapuh. semakin lama semakin panik.” kata Henri terngiang di kepalaku. Dia pernah melihat kemampuan tahan apiku. Lalu kami semua mendengarnya. Kurasakan semuanya. Pintu depan tetap terbuka. Sarah dan anjing-anjing pasti ada di suatu tempat di belakang. Aku berdiri menjauhi reruntuhan dan berusaha mendengarkan arah jeritan Sarah. “Di mana Sarah?” tanyaku lagi. Perut Mark seperti ditikam setiap kali mendengar suara anjing menyalak. Aku menutup mata dan menundukkan kepala. tangga itu runtuh tak kuat lagi menahan berat badanku saat aku mencapai bagian tengahnya.” SEMUA TERDIAM. Bersamaan dengan itu. Aku terjatuh. “Ingat apa yang kau pertaruhkan. Harapan dan rasa takut. Mark berlutut. masih menahan napas. dan sekarang nyawa Sarah.” kata Emily. Waktu . Mencekam. Aku tahu benar apa yang kupertaruhkan. Lalu aku berlari. Dia ingin ini semua segera berakhir. Dia ingin anjing- anjing berhenti menyalak. Nyawaku. Sam mengangguk. Lautan api itu seakan tak berujung. “Sam. tidak. Jeritan panjang yang mengerikan. TERPANA. Tuhan. Namun. Tak ada yang memperhatikanku. Aku berjalan menuju bagian depan rumah dan tangga yang sudah setengah terbakar. Kami bisa melihat hingga ke dapur. menarik napas dalam. Anjing-anjing menyalak. Kuberikan ponselku dan memintanya menelepon Henri jika aku tidak bisa berhasil keluar. Api langsung menelanku. Sarah menjerit. Dapur sudah habis ditelan api. api sudah mencapai lantai dua. Api menjilat semakin tinggi seolah mendapat bahan bakar tambahan. Ada orang yang menjerit tanpa henti. “Oh. “Selamatkan dia. tidak terdengar apa pun kecuali derakan dan gemeretak deru lidah api. Aku mengguncang bahunya. Dia akan mati. aku berlari kencang ke arah belakang rumah agar bisa masuk tanpa terlihat. Aku mulai menerobos kerumunan mencari Sarah. Aku merasa Sam menatapku. Tapi dia juga tahu aku diburu. “Aku tak tahu. mati dalam kematian yang mengerikan jika aku tidak menolongnya. Ketakutan.” katanya. menerobos kerumunan. MATA TERBELALAK. Jeritan kembali terdengar. Kutarik napas dalam-dalam. Ketetapan hati. berayun ke depan dan ke belakang putus asa. yang seperti neraka. Yang bisa kucium hanya asap. “Ya. berbagai hal lainnya pun ikut masuk. Aku berjalan ke belakang. asap mengalir keluar dari bagian atas pintu seperti air terjun terbalik. Terdengar jeritan Sarah dan gonggongan anjing-anjing. Lalu suara itu terdengar lagi. dan menatapku. Pintu kamar tertutup. balok penyokong besar yang terbakar jatuh di antara kami. batuk. Aku bisa merasakan cakar anjing menembus dadaku. Mereka bertiga berpelukan erat di salah satu pojok kamar. Abby agak lebih lambat. Namun. sesaat kemudian. Aku merangkul Sarah erat-erat di sampingku dan memeluk anjing di dadaku. membulatkan tekad. Kupeluk Sarah dan Dozer sebisa mungkin. mendengking ketakutan. Sarah melihatku. menembus atap. “Pegang yang erat. Jendela langsung terlontar lepas dari bingkainya.” katanya. “TOLONG!” Anjing-anjing melolong dan mendengking. Sarah menjerit. Dengan tanganku yang lain. “Kau datang. Serpihan bingkai jendela yang tajam menggores lengan dan bagian atas kakiku. tapi kurasa lukanya tak serius.” kataku. Aku menendangnya hingga pintu itu terlontar lepas dari engselnya. sebuah ledakan besar di bawah menghancurkan lorong lantai dua dan membuatnya lenyap. Aku jatuh berlutut. lalu melompat di atas lubang berapi akibat balok yang tadi jatuh. Foto-foto di dinding terbakar bersama bingkainya. Aku berbaring telentang dan . Satu-satunya kesempatan kami hanyalah melalui jendela. Sarah dan anjing-anjing ada di suatu tempat di sebelah kananku. si retriever. lurus ke arah lubang bekas jendela. berusaha bernapas. mebembus api tanpa terpengaruh sama sekali. Kututup mulut dengan tangan. Tampaknya dia baik-baik saja. Dia berpegangan erat padaku. Saat kami mulai berjalan menyusuri lorong. si bulldog ke lengan Sarah dan memungut Abby. Aku melompat dan meraih ujung langkan lantai dua lalu menarik diriku ke atas. Balok besar lain jatuh dan menembus lantai. Kami harus keluar lewat belakang rumah agar tak ada orang yang melihat kami. Kami jatuh sekitar sepuluh meter di belakang rumah. atau melihat apa yang akan kulakukan. Api sudah menjalar ke bagian lain rumah. Kaki depannya pincang. Aku harus melompat ke lantai dua. Saat aku melangkahkan kaki ke dalam kamar. Dozer yang pertama bangkit. Nyaris saja kami tak berhasil. aku membantu Sarah berdiri. Api menelan kami. Tempat yang dulunya adalah dinding dan jendela langsung dilalap api. Kami menubruk tanah dengan suara bergedebuk. hanya tersisa siluet hitam yang menempel di dinding. tapi kami terbang di udara seperti peluru. Aku mengisyaratkan agar dia tetap di tempatnya. Aku melompat di lorong. Kami maju beberapa langkah. merangkulnya. menatapnya. Aku menoleh ke Sarah. yang akan menyakitimu selama aku masih hidup. Kutemukan mereka di kamar ujung lorong sebelah kiri. Aku mendengar napas Sarah tercekat. Anjing-anjing ada di kaki Sarah. dan berkonsentrasi. Kuulurkan tangan ke jendela. aku kembali berdiri dan berjalan. Kutangkap balok membara itu dan melemparkannya ke atas. memeriksa kamar-kamar. kami meluncur lewat lubang jendela. tapi itu tidak cukup membantu. Lalu darahku mendidih penuh tekad dan kemarahan. aku kaget dan terengah. Lalu aku melompat ke arah Sarah dengan satu lompatan berjarak enam meter. dan sesuatu apa pun. Tiba-tiba kakiku terperosok menembus lantai. Dozer berguling. Dia meneriakkan namaku dan hendak berdiri. lalu memutar tubuh agar aku mendarat di punggung dan mereka semua jatuh di atasku. Asap dan lidah api langsung terhirup. terbungkuk-bungkuk. Sarah bingung melihatnya. Aku terbatuk. Sarah menjerit lagi. Aku merasakan bagian atas kepalaku luka tergores pecahan kaca. Aku berjalan tiga langkah dan melompat ke depan. menggertakkan gigi.hanya sedikit. mendarat di dapur di bawah kami.” kataku kepadanya. Aku menyorongkan Dozer. “Tak ada seorang pun. Abby menyalak. Asap dan api membakar paru-paruku. apa kemampuanku. Dia sudah berhenti menangis dan sekarang memandangku.” kataku di antara isakan Sarah. “Kurasa. Aku harus membawa Sarah kembali sehingga orang- orang tidak berpikir bahwa dia mati. Dan itu berarti kami harus pergi. “Kau bisa berjalan?” tanyaku. Begitu juga punggungku. Sarah di pelukanku. Goresan-goresan kecil di sepanjang kedua lenganku.” “Ikut aku. John? Apa yang terjadi?” “Kau di dalam kebakaran. kemudian berdiri dan berjalan ke hutan. bukan karena kedinginan. Jika aku ingin tetap tinggal. kacau. Walaupun aku tahu bahwa ini tidak realistis. Kepalaku berdarah. “Anjing pintar. Aku harus menjelaskan segalanya kepada Sarah. Aku mengelusnya. Aku bisa mencium bau rambutnya yang terbakar. Aku menyalakan tanganku sehingga kami dapat melihat dengan jelas. Ditambah lagi berbagai goresan di lengan dan kakiku. membawa Sarah yang menangis di bahuku. Aku berharap tidak perlu mengatakan apa yang akan kuberitahukan kepadanya. tanganku gemetar.” Terdengar bunyi sirene di kejauhan. Mereka akan tiba di tempat ini dalam satu atau dua menit. Mereka berdiri seakan mengerti apa maksudku dan mulai berjalan ke depan. Dozer menghampiri dan menjilati tanganku.” Kami mulai berjalan menembus hutan. Kedua anjing itu duduk memandangiku. Aku berjalan memutar dan mengintip ke dalam mobil orang-orang untuk mencari sesuatu yang bisa dipakai.memeluk Sarah.” “Apa yang kau lakukan tadi itu tidak mungkin. Henri selalu mengingatkanku agar tidak terlalu dekat dengan seseorang. Bagian bawah sepatuku meleleh. Paru-paruku terasa seperti terbakar setiap kali menarik napas. Semoga salah satu pemain football membawa baju ganti. Kemejaku hampir sepenuhnya terbakar. dan aku menolongmu keluar. Sekarang dia pasti tahu apa yang bisa kulakukan. Aku merasa panik. Saat memasuki hutan. Tidak ada cara lain untuk menghindar. aku harus memberitahunya. Aku duduk di rumput dan terengah-engah. dan bingung. Aku harus memberi tahu Henri bahwa Sarah tahu. Aku tahu aku perlu mendapatkan pakaian dan kembali ke pesta agar orang-orang tidak curiga. Aku menggendongnya. Tapi aku tidak terbakar sama sekali. Darah menetes dari pelipisku dan berkumpul di telinga. Hutan itu berjarak sekitar seratus meter dari bagian belakang rumah. atau setidaknya sebagian kemampuanku. Aku mengangguk ke arah depan rumah. Pasti mereka melihat Dozer dan Abby.” “Maksudnya?” Aku memandang Sarah. suatu saat mereka akan sadar bahwa kau berbeda. atau lolos dari apa yang kulakukan malam ini.” “Mungkin bagiku. “Aku bukanlah apa yang kau duga. Jika kau terlalu dekat dengan seseorang. Dia akan berkeras agar kami pergi. aku selalu berharap bisa tetap tinggal di Paradise dan bersembunyi. Bagaimana aku menjelaskan ini kepada Henri? Aku mengenakan pakaian yang terbakar. Sarah masih di pelukanku. Dan Sarah di pelukanku.” “Kita ke mana?” “Aku perlu pakaian. “Apa yang baru saja terjadi. aku mendengar orang-orang bersorak. begitu juga dengan celana jinsku. Dia mulai menangis. dan itu perlu penjelasan.” kataku. Bulan purnama masih bersinar tapi redup. Aku sudah melakukan terlalu banyak kesalahan. Aku mulai menggigil. Hutan itu lebat. ketakutan. . Kuturunkan Sarah. Jantungku berdebar. Henri akan berkata bahwa seseorang akan mengatakan sesuatu. “Ayo. Bawa adikmu dan pergi ke depan. Empat petugas polisi menghampiri kami. Sarah menatapku lama. tapi akhirnya kami berjalan kembali ke kerumunan itu. Aku tak peduli apa kau ini atau dari mana kau berasal.” “Memang benar. lalu mengangguk.” “Katakanlah. yang langsung kabur.” “Apa?” “Aku mencintaimu.” “Maksudnya?” “Sarah. Sembilan lampu sirene berkelip-kelip tanpa suara. Aku anak keempat dari sembilan anak yang dikirim ke Bumi setelah planet kami dihancurkan. “Terima kasih karena menyelamatkan nyawaku. mereka akan membunuhku. Sarah melepaskan pelukanku. kami berdiri agak jauh tapi cukup dekat sehingga masih bisa melihat. John.” Aku memandang Sarah. atau berteriak. Masih banyak orang yang bertahan di sana. Kekuatan yang berbeda dari kekuatan manusia. Perlu lima detik bagiku untuk menyadari bahwa yang dimaksud adalah aku. atau berbalik dan lari meninggalkanku. Di belakang mereka ada seorang lelaki yang membawa buku catatan dan alat perekam. ingin agar dia memercayaiku.” Aku memeluk dan menciumnya. Aku menjelaskan kepada Sarah bahwa kami harus merahasiakan mengenai apa yang terjadi.” “Aku ini alien. Beberapa saat kemudian. Gumpalan asap membubung naik di berbagai tempat. tapi yang akan kukatakan ini benar. “Ayo kita cari pakaian buatmu dan kembali agar orang-orang tahu kita baik-baik saja. tampak mengerikan di langit malam. “Jika yang kau katakan itu benar. Aku ke belakang rumah dan menemukan Sarah sedang memandangi api. ini mungkin terdengar bodoh dan gila. Namun. Hanya itu yang penting. Pakaian itu cukup mirip dengan yang aku kenakan―jins dan kemeja berkancing―sehingga tidak ada yang akan memperhatikan perbedaannya. Rumah itu dikelilingi pita kuning.” Kukira Sarah akan menamparku. Aku menghitung ada enam mobil polisi. Saat kami mencari pakaian tadi. Kekuatan yang memungkinkanku melakukan hal-hal seperti yang kulakukan di rumah itu. Dan akan selalu mencintaimu. maka aku akan memercayaimu. dia hanya diam dan memandangku. Bagiku kau adalah John. Kau harus percaya kepadaku.” Sarah menempelkan kedua tangannya di sisi wajahku. Semua mata menoleh ke arahku. Petugas polisi menanyai beberapa orang. Sarah dan aku mengarang cerita. Mereka alien yang menyerang planetku. Aku memiliki kekuatan. Dan ada alien lain di Bumi ini yang memburuku.” katanya. bahkan juga kepada Sam atau . dan orang sudah disuruh mundur oleh polisi. Dia sudah melompat dari jendela di lantai dua bersama kedua anjing. Kau menyelamatkan nyawaku. atau menertawakanku. Saat tiba kembali di rumah Mark. Memandang ke dalam mataku.“Siapa kau?” “Aku Nomor Empat. Rumah itu sudah runtuh dan sekarang hanya tinggal tumpukan kayu hitam yang lembap karena air. laki-laki yang kucintai. Jika mereka menemukanku.” *** Sarah menemukan pakaian ganti di mobil keempat yang kami periksa. Ada tiga truk pemadam kebakaran. memeriksanya. Lima petugas pemadam kebakaran berdiri di tengah-tengah reruntuhan rumah. Mulanya kami menonton di tempat yang terpisah dari kerumunan. “Kau mengatakan yang sebenarnya. “Memang. Lalu aku mendengar teriakan “Itu mereka!” dari belakangku.” “Aku juga mencintaimu. Aku segera berangkat. “Jadi maksudmu kau tidak masuk ke sana?” “Aku berkeliling ke halaman belakang mencari Sarah. “Aku memberikannya saat pesta.” Aku pura-pura tertawa. Polisi itu memelototi Sam. bersama Sarah di sampingku.” jawab Henri.” “Pasti. “Makasih. “Kupikir itu maksudmu. Reporter itu menganggukkan kepala dan menulis sesuatu di buku catatannya. Polisi itu tingginya biasa saja dan berdiri dengan bahu membungkuk.” kataku. “Halo. Aku mengangkat bahu. “Jadi menurutmu dua saksi itu pembohong?” tanya si reporter. “Aku sudah siap dijemput. Aku berusaha menatapnya untuk memberi tahu bahwa ini bukan saat yang tepat. “Baines. “Ya. “Kau John Smith?” tanya salah satu polisi itu. Aku mengangguk. memutar nomor Henri. Lalu dia mengangguk kepada dirinya sendiri. Baru kali ini dia bicara.” Sam menghampiri sambil membawa ponselku. kenapa?” “Ada dua orang yang berkata bahwa kau berlari masuk ke dalam rumah lalu keluar lewat belakang dan terbang seperti Superman. Aku langsung tahu bahwa dia tidak percaya dengan ceritaku. Kami tetap di sana dan menonton api itu lalu kembali ke sini. lalu Sam menyelinap pergi. sudah cukup pertanyaannya.Henri. Dia menganggukkan kepala. Reporter itu memandangku dengan pandangan cerdas dan menilai. “Ada kebakaran besar di sini. “Dia sudah keluar bersama anjing-anjing. “Mana kutahu?” jawabku. Dia tidak kelebihan berat badan. “Itu yang mereka katakan.” kata si polisi sambil menggelengkan kepala ke arah si reporter. dia mencoba menggabungkan informasi. tapi jelas tidak cukup fit. “Benarkah?” “Ya.” “Jadi. Namun. Terasa tidak nyaman di sakuku. “Boleh aku pergi?” tanyaku.” “Apa?” “Bisakah kau menjemput kami?” “Ya.” “Aku tidak bermaksud apa-apa. “Aku tidak masuk ke rumah dan menyelamatkan dia atau anjing-anjing. Aku berjalan pergi dengan ponsel di tangan. “Jadi ke mana kau pergi?” “Oke.” “Yang benar?” tanyaku tak percaya. Apa aku seperti baru dari dalam rumah yang terbakar?” Dia mengernyitkan alis dan meletakkan tangan di pinggulnya. aku harus langsung pergi.” kata si polisi.” . Sarah tetap berdiri di sampingku. siapa yang lari ke dalam rumah?” tanya reporter di samping si polisi.” kataku. Baines. Sam tidak mengerti dan tetap mengembalikan ponselku. sambil membawa anjing dan gadis itu. “Rumah itu terbakar.” Polisi itu memandang Sarah. dengan perut gendut dan bagian- bagian tubuh yang tampak lembek.” kataku. Baines memandang Sam dengan mata menyipit.” “Siapa yang bilang soal mengenai menyelamatkan dia dan anjing-anjing?” tanya Baines.” kata Sam. Kami sepakat bahwa aku akan menjawab pertanyaan dan Sarah akan mengamini apa pun yang kukatakan. Jika ada yang tahu sebenarnya. “Jadi kau memberikan ponselmu kepada temanmu sebelum pergi?” tanyanya.” kata Baines. “Aku senang kau selamat. Sambil mengunyah permen karet. Aku tidak bisa membaca tulisannya. Mereka sudah ada di luar. “Aku juga mencintaimu. Aku menelepon Sarah dan kami mengobrol hingga pukul tiga pagi. “Aku akan mendapatkan cerita yang sebenarnya. “Jaketmu mana?” tanyanya. kau tahu?” Aku mengabaikannya. Sarah duduk di pangkuanku. Lalu aku menutup telepon dan berbaring dengan mata nyalang. Kami berdiri di ujung jalan untuk mobil hingga Henri tiba. “Henri sedang di jalan.“Jadi bagaimana kau menjelaskan luka di kepalamu?” tanya Baines dari belakangku. aku keluar bersamanya dan mengantar Sarah hingga di pintu. hening sepanjang jalan.” Aku tersenyum.” teriak Baines dari belakangku. Dia membuntutiku. Aku selalu begitu. yang bisa membuat kami meninggalkan Paradise. ada kantong mata di matanya.” katanya. “Ya ampun.” Aku mengangkat bahu. apa yang menyebabkan kebakaran?” “Tebakanku sih mabuk. tempat Henri menunggu.” “Aku mencintaimu. Dia tidak mau melepaskanku saat aku memberikan pelukan selamat malam. Dia memandangku. Henri keluar dari halaman rumah Sarah dan menyetir pulang. “Ada banyak asap.” Henri memandangku ragu. “Entah. Kami masuk ke dalam truk. “Kau bau asap.” kata Henri. lalu menulis sesuatu lagi di buku catatannya.” kataku.” Sarah masuk ke rumah. “Kalian bau asap. Mr. Begitu tiba.” kataku lebih kepada Baines daripada Sam. Kami berjalan ke arah Sam. kemudian Henri mundur dari halaman rumah Sam dan mengarahkan truk ke rumah Sarah.” “Jadi. mendengarkan percakapanku dengan Henri. Ya. mempelajari reaksiku. Henri menyetir pergi sambil memandangi reruntuhan yang berasap. “Aku tak mau berpisah denganmu malam ini. “Aku juga tak mau berpisah denganmu.” katanya.” Henri mengangguk dan berbelok ke jalan kami. Smith. pasti menarik. “Tadi itu apa?” tanya Sam.” kataku kepada Sam dan Sarah.” katanya. “Aku tidak terlibat. AKU TIDAK BISA TIDUR. “Memeriksa berita.” katanya. “Aku bisa tahu kalau aku dibohongi. Henri duduk di meja dapur. Ada yang mengaku melihatku lari ke dalam. minum kopi.” kata Sarah kepadaku. “Luka akibat dahan di hutan. “Yah. rambutnya kusut. AKU BERBARING DI tempat tidur menatap kegelapan di langit-langit. pikirku. Aku harus mencari cara agar Henri tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam ini. Aku berjalan kembali ke truk.” “Kepalamu kenapa?” “Terantuk saat mencoba keluar ketika kebakaran terjadi.” “Pas sekali. Pukul empat aku turun dari tempat tidur dan keluar kamar. dia turun dari truk dan memandang rumah hangus di kejauhan.” “Menemukan sesuatu?” . “Di lemari Mark. Kami menurunkan Sam dulu.” Dia menoleh dan menatapku. Bersumpahlah bahwa kau tidak terlibat. Kami tidak menjawab. mungkin orang yang terlalu banyak minum. “Tak bisa tidur juga.” Saat tiba di rumah Sarah. “Pasti menarik melihat apa yang ada di surat kabar hari Senin. “Apa yang kau lakukan?” tanyaku. tetap berjalan sambil memegang tangan Sarah. Aku tetap diam. “Apa kau akan meneleponku saat tiba di rumah?” “Tentu. Aku tidak peduli dengan luka. Membuatku lupa rasa sakit di dadaku. kita harus pergi secepatnya. Aku tidak bisa bernapas dalam-dalam.” “Dan kau tahu bahwa semua orang sudah ada di luar saat kau keluar?” “Ya.” “Bagaimana kepalamu?” “Sakit. Aku berguling telentang dan merasa sakit. “Aku nggak masuk ke dalam. lalu bagaimana aku menjelaskan luka-luka dan baret-baret itu kepada Henri? Dia pasti langsung tahu apa yang telah terjadi. Perlu tujuh jahitan untuk menutup luka itu. Di meja ada kertas yang bertuliskan: “Pergi ke toko. “Aku percaya. tapi aku tidak yakin apa pentingnya bagi kita. aku pasti sudah ditarik dari tempat tidur dan disuruh berkemas. dan sinar matahari masuk dari jendela.” “Tidak. Aku yakin salah satu luka di punggungku juga harus dijahit. Tapi itu artinya para Mogadorian makin berani.” “Mereka tidak tahu di mana kita tinggal. Yang aku pedulikan hanya bahwa saat ini aku masih di sini. Henri yang menjahitnya. Aku yakin Henri tidak percaya bahwa aku hanya berdiri di depan menonton kebakaran seperti yang lainnya. Jika kita melihat atau mendengar sesuatu yang tidak wajar. atau rasa terbakar di dadaku. Aku membangunkan anjing di sampingku yang tidur mendengkur. Dia tidak percaya dengan ceritaku. Itu berarti tidak ada berita mengenai diriku. Paru-paruku masih panas. sakit kepala.” “Bagaimana bisa?” Aku tahu Henri sedang mencoba memancingku. Bernie Kosar mendengkur dengan tubuh melingkar di sampingku. tapi itu berarti aku harus membuka kemejaku. Pulang jam satu. *** Aku terbangun menjelang siang. Mulanya dia mengerang. Aku mengenakan kaus olahraga longgar. “Jadi. “Apa?” “Polisi menemukan mereka karena para tetangga menelepon akibat mendengar jeritan dari rumah itu. Dadaku seakan ditindih seseorang. ditekan.” katanya. kebakaran itu berawal dari ruang bawah tanah?” “Ya. Aku bernapas lega. disiksa dan dibunuh. Aku dibiarkan tidur hingga siang. tanpa banyak tanya. . lalu ikut bergulat. Orang-orang yang menulis dan menerbitkan They Walk Among Us. Sakitnya semakin parah. Membuatku tidak khawatir dengan apa yang akan terjadi hari itu. yang kita temui itu. Aku membangunkannya dengan mengajaknya bergulat. Kepalaku sakit dan lenganku berbaret-baret merah. ada rasa sakit yang menusuk.” “Bagaimana kau tahu kebakaran itu berawal dari ruang bawah tanah?” “Karena semua orang lari ke atas dari sana. Syukurlah. tapi aku menatap matanya dan berbohong. Beginilah cara kami mengawali hari. dan lidahnya yang terjulur langsung membuatku merasa lebih baik. Ekornya yang dikibas-kibas. Aku takut.” “Oke. dan malam ini aku akan menemui Sarah. Dan mereka dekat.” Aku duduk di depan Henri.” kataku. Jika ada berita mengenaiku.” Aku berjalan keluar. lalu besok aku akan kembali ke sekolah yang sudah tiga bulan aku datangi. Hatiku sakit karena melakukannya. tanpa berdebat.” kataku. di Ohio. mereka tidak tahu.” “Dan saat itu kau di ruang tamu?” “Ya. Lukanya agak menggembung seolah aku baru dicakar kucing. Truk Henri tidak ada. Saat aku mencoba menarik napas dalam. Burung-burung berkicau di luar.“Ya. Paradise Gazette tidak dicetak pada hari Minggu. Tapi saat kami bicara mengenai para Mogadorian. Sarah memercayai segalanya. Sarah datang. atau salah satu polisi menanyakan lebih banyak pertanyaan.” kata Baines. dia pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Aku tidak tahan karena tidak tahu apa yang akan terjadi besok―ketidakpastian membuatku galau. beberapa meter dari kami. Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Aku mengharapkan sesuatu. Aku takut apa yang kulakukan kemarin akan menyebabkan penyamaran kami terbongkar. Aku berpikir untuk berlari ke kota. “Kau baik-baik saja?” tanya Sarah. mengenai Lorien. Apa besok ada berita menarik? Aku rasa aku berharap ada telepon. Matanya tampak cekung sehingga aku tahu dia belum tidur. rasa sakit di dadaku semakin parah dan aku harus berhenti. *** Malam harinya. Bernie Kosar dan aku pergi berjalan- jalan di hutan. Aku tidak tahu mengapa aku begitu khawatir dengan reporter amatiran itu. Orang yang kau cinta ada di sampingmu tapi kau tetap merindukannya. Setelah mengeluarkan belanjaan. Hutan itu berakhir di jalan pedesaan lain yang mirip dengan jalan menuju rumah kami. atau reporter yang kemarin. Henri sudah seperti ayahku. “Kamu kangen aku? Tapi aku kan ada di sini. Badanku tegang setiap kali ada mobil yang lewat. Aku juga takut dengan apa yang akan Henri lakukan jika dia tahu. rasa takutku semakin meningkat. Namun setelah sekitar setengah kilometer. Aku selalu begitu. Kamarku gelap. Tidak ada yang menelepon. Dia bertanya mengenai siapa aku. dan begitu mudahnya. Aku bisa berlari sebentar.” Sarah menciumku.” “Ini rasa rindu yang paling menyakitkan. tapi aku takut. mencari reporter itu dan memintanya agar jangan mencari cerita yang sebenarnya. karena jika tidak. Smith. Aku memeluknya sambil berbaring telentang. Aku duduk di beranda. masa laluku. dan mengenai para Mogadorian. Yang bisa kulakukan hanyalah menahan napas dan berdoa.” kataku.” “Bicaramu kacau. Aku memang akan tetap melakukan hal yang sama seandainya kejadian itu terulang lagi. yang terasa lebih enak setelah segala kebohongan yang kukatakan selama beberapa hari terakhir. Aku tidak ingin . Lalu saat sesuatu itu tidak terjadi. Dan saat kami berbaring. tapi aku tahu itu hanya akan menimbulkan kecurigaan. Aku menyayanginya dan dia menyayangiku. Aku berbalik dan berjalan pulang. Henri masih di kamarnya dengan pintu masih tertutup saat aku kembali. Aku takut mereka bisa menemukan kami. Aku menjawab semuanya dengan jujur. aku mulai merasa takut. dan bagaimana dia menerima itu semua. “Aku kangen kamu. tapi dia begitu gigih―terlalu gigih malah. “Aku akan mendapatkan cerita yang sebenarnya. rasa takut bahwa kedokku akan terbuka mulai merayapiku. Walaupun bukan ayah biologisku. tapi ternyata tidak. Tapi tidak ada orang yang datang ke rumah kami. Aku menarik napas dalam. sedalam yang aku bisa. Aku tidak ada di dalam rumah itu. Aku selalu berpikir bahwa salah satunya akan berhenti. Tidak ada yang kusembunyikan. Dan aku tahu dia tidak percaya dengan ceritaku. muncul di rumah kami. Kami berjalan sejauh kurang lebih delapan kilometer. Mr. Aku masih takjub dengan begitu cepatnya. Sarah akan mati. Aku mencoba berlari. Kami pergi ke kamarku. Aku memeluknya. Rasa percaya diri yang kurasakan saat bangun tidur tadi pagi perlahan-lahan mulai terkikis seiring berjalannya waktu. Lilin menyala berkelap-kelip di ambang jendela.*** Henri pulang pukul satu. Tepat di depan sekolah. “Kurasa aku hanya takut. mengancam jika surat kabar itu berisi berita buruk yang kutakutkan.” kataku. Hari masih gelap. Oke. baik atau buruk. Dia meletakkan tumpukan surat kabar itu di pintu kemudian pergi. Dunia bisa tetap berputar tanpa aku. mengenai Florida. berdirilah sebuah batu besar yang dicat oleh para murid-murid yang sudah lulus. Bernie Kosar berbaring di rumput beberapa meter dariku. Aku pasti sudah di sekolah saat surat kabar itu tiba. Saat Henri tidur. Aku menumpahkan rentetan sumpah serapah dalam hati. Seandainya bisa. aku ingin tinggal di kamar ini selamanya. aku keluar dan duduk di meja dapur. Udara dingin membantu meringankan rasa sakit saat bernapas. Semua lampu di dalam gedung dimatikan. Aku mondar- mandir di kamar. “Aku tidak berada di dalam rumah itu hari Sabtu kemarin. Selama dia bersamaku. Aku melirik tumpukan surat kabar itu dengan jijik. “Hanya takut. Segalanya baik-baik saja.” kataku keras-keras. mari pergi bersama. ingatan masa kanak- kanak. Sebuah van. di depan lukisan dinding bajak laut. Pengemudinya turun dan membiarkan mesin tetap menyala. kadang-kadang pukul enam tiga puluh. sinar pucat merebak di langit timur saat kami memasuki halaman sekolah. mengenai hal-hal yang kulihat sejak latihan kami dimulai―perang. Namun setelah beberapa waktu. bersama. Aku malah semakin sedih. muncul satu kendaraan. maka segalanya baik-baik saja.” Bernie Kosar membuka mata sebentar.” kataku kepada Bernie Kosar. Aku bahkan tidak akan mencoba untuk tidur. tanpa mengucapkan selamat tinggal kepada Sam. “Takut apa?” “Entahlah. Aku berjalan ke dalam rumah. mendesah. Dia membawa setumpuk surat kabar yang diikat. aku ke kamarku dan tidur di tempat yang tadi ditiduri Sarah.dia berhenti. . aku mendengar suara pintu digaruk. “Besok. Saat sudah berjalan tiga langkah di beranda. Tidak ada mobil di tempat parkir. tanpa kami. berpelukan. hewan-hewan.” Sarah memandangku bingung. “Aku tak tahu. “Yah. Kukira van itu milik Hobbs. Setengah jam setelah aku tiba di sekolah.” *** Begitu Henri dan aku kembali setelah mengantar Sarah pulang.” kataku. aku tidak mau pergi tanpa menjumpai Sarah sekali lagi. Saat tanganku terasa pegal. “Ini dia. dan mengemasi tas. Kami berjalan.” kataku. apa?” Aku menggelengkan kepala. Sarah memandangku. lalu menutupnya kembali dan melanjutkan tidurnya di tanah yang dingin. Aku tidak akan tidur malam ini. Bernie Kosar berjalan keluar. Lalu aku mengalihkan pandangan. Selama kami bisa tinggal di sini. dan aku langsung merasa bodoh sekali. “Besok. Aku menulis mengenai Lorien. hari baru dimulai. yang selalu tiba pagi di sekolah untuk berbenah. Ternyata aku salah. dan ada berita dari akhir pekan kemarin. berganti pakaian. aku berjalan ke luar rumah dan berdiri di beranda. pikirku. si tukang sapu. berdiri dan mendengarkan keheningan. Aku mengendap-endap melintasi rumah dan menutup pintu perlahan-lahan. menulis di bawah sinar lilin. Van itu berhenti di pintu depan gedung sekolah. Jika aku ada dalam surat kabar itu. Aku diam di batu itu. sering kali berhenti. Aku berbalik dan membuka pintu. Bulan hampir penuh. masih ada bagian tepinya yang terlihat samar. dan turun dari batu itu. Aku masih bisa mencium aroma tubuhnya. Aku duduk di atas batu itu. Kami saling mengangguk. Surat kabar biasanya tiba di halaman rumah kami pukul enam. tapi ternyata tidak. Dua jam lagi matahari terbit. Aku berharap bisa melepaskan emosiku. Ini hariku. Aku belajar seperti pada hari-hari lainnya. Cantik. aku tidak ada di dalamnya! Aku tidak perlu pergi. di tanganku. Aku tidak tahu apakah itu benar atau tidak. “Senang melihatmu. Walaupun senang luar biasa. “Ada yang senang hari ini. Cuma ingin ini semua segera berakhir. Beritanya dimuat di halaman utama. Foto itu diambil pada keesokan paginya. hingga sampai akhir berita. Aku tetap tinggal di Ohio. Aku ingin berada di sini dan di sinilah aku berada. Hal buruk apa yang bisa terjadi sekarang? Namaku tidak ada di artikel. Aku membuka mulut untuk berdebat dengan Sam. Aku membaca beritanya dengan cepat. “Kenapa kamu senang begitu?” tanya Sam saat pelajaran astronomi. “Bernie Kosar. Foto itu tampak suram dan mengerikan. Seperti yang kuduga.” kataku. Aku mengedipkan mata dan menggeleng tak percaya. Aku tidak benar-benar membacanya. . Aku tidak berlari masuk ke dalam rumah James. Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku hanya mencari namaku. Aku tidak suka reporternya. hampir seperti menyalahkan keluarga James. namaku nggak ada di sini!” Bernie Kosar tidak memedulikanku. Tidak ada yang bisa menentangnya. Di bagian atas terdapat foto puing- puing yang terbakar. “Kau baca surat kabar pagi ini?” Sam mengangguk.” katanya. Artikel itu sendiri kejam dan tanpa belas kasihan. Abu menghitam di depan pepohonan gundul dan rumput berlapiskan es. aku merasa seperti melewatkan sesuatu. Nama kota ini tidak lagi terasa aneh bagiku. Buktinya ada di sini. Perutku terasa tidak enak karena takut menemukan berita mengerikan mengenai diriku. diulang-ulang terus. Lalu aku membaca berita itu dengan cepat sekali lagi. Aku duduk bersama Sam saat makan siang. Aku tidak pernah mendengar namaku disebut. Kisah yang sama. Aku belum berhenti tersenyum. Dia berjalan menyusuri gang. Mark tidak masuk. Tapi kenapa? Aku duduk di batu dan membaca artikel itu tiga kali sebelum penjaga sekolah tiba dan membuka pintu gedung sekolah. “Sam. Polisi yakin bahwa kebakaran itu terjadi karena ada yang mengisap ganja di ruang bawah tanah. Sarah membungkuk dan mencium pipiku. Kami tidak berbicara mengenai kebakaran itu.” kataku.” “Kenapa mereka mau memasukkan namamu ke dalam surat kabar?” tanyanya. “Tak mungkin. Ada kabar burung bahwa dia dan beberapa temannya diskors karena teori yang ada di surat kabar itu. “Khawatir dengan ujian mengemudimu?” “Mungkin sedikit. seperti melupakan hal penting.” Sarah duduk di sampingku. terutama karena itu sangat-sangat salah. Tapi aku begitu bahagia sehingga tidak peduli. “Namaku nggak ada!” teriakku lagi. di Paradise. Aku berlari di rumput dan melompat kembali ke batu tadi. Aku tercengang. tapi kemudian Sarah masuk ke kelas. kali ini sekeras mungkin. Aku tidak tahu bagaimana polisi bisa mengira begitu. Dan jelas bahwa reporter itu juga tidak menyukai keluarga James. Sarah di satu sisi. Senyum mengembang di wajahku. Pasti hanya kami di sekolah ini yang tidak membicarakan itu. pikirku. Aku duduk dan membaca berita itu. “Halo. dan Sam di sisi yang lain. Aku membaca judulnya: RUMAH KELUARGA JAMES HABIS DILAHAP SI JAGO MERAH Aku menahan napas. sesuatu yang tidak pernah kuanggap biasa saja.” kataku.Aku merobek ikatan tumpukan surat kabar itu dan mengangkat surat kabar paling atas. Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. senyuman bangga yang sama seperti saat dia memanggil Mark dari kelas untuk wawancara. pintu dapur terbuka. “Sekarang?” Dia mengangguk. mencoba mengingat setiap rinciannya. caranya memegang sendok kayu.” Dia mengambil amplop itu dan melemparkannya kepadaku. Harris. Saat Sarah dan aku masuk ke dapur sekolah pada jam pelajaran kedelapan. Sebelum pergi.” katanya. Hanya empat kata hitam berlatar belakang putih. mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya formalitas belaka. “Jadi apakah itu benar?” tanyanya. Hari yang biasa.” Beberapa hal terjadi bersamaan. aku berbalik dan memandang Sarah lagi. Pembawa pesan kematian. bahwa ada yang terlewat. Aku tersenyum ke arahnya dan berjalan ke pintu. Aku berjalan dengan tenang. Mr. Satu kalimat dengan huruf kapital. Sebuah blog yang tergabung dengan Paradise Gazette. “Duduk. Dia melirik sekilas ke monitor komputernya. warna kulitnya yang seperti gading di bawah sinar dari jendela di belakangnya. Aku melambai ke Sarah. menutup pintu. Sepanjang hari. Aku memandangnya dan langsung mengerti. Harris melihatku memandangnya. Aku tidak ingin Sarah melihat ketakutanku. Pembawa berita buruk. Aku tidak . Tidak ada nama. Sarah membungkuk di meja. mengaduk bahan-bahan. Aku penasaran apakah Sarah menyadarinya. Aku memandang Sarah dan mengangkat bahu. keraguan itu semakin meningkat. Dua lembar kertas. ketika kami membuat pancake dan makan dari satu piring. “Jadi. Mr. “Mr. ada pertanyaan mengenai catatan akademis. Tapi aku menekannya dengan cepat. Tapi aku tahu ini bukan formalitas. Harris ingin bertemu denganmu. Kami membuat puding tapioka. keyakinanku bahwa aku aman semakin kuat. Guru pengawas. ada dokumen yang lupa ditandatangani. “Apa yang benar?” Di atas mejanya terdapat sebuah amplop dengan namaku yang ditulis dengan tangan menggunakan tinta hitam. Ini difaks untukmu sekitar setengah jam yang lalu. apa itu benar? Kau berlari masuk ke dalam rumah yang terbakar untuk menyelamatkan Sarah Hart dan anjing-anjing?” tanya Mr. Darah mengalir ke wajahku. Dia tersenyum dengan cara yang membuatku takut. Harris memutar monitor komputernya ke arahku sehingga aku bisa membaca yang ada di sana. Ada kancing yang lepas di kerah kemejanya. Mr.” katanya. ya. kelembutan di matanya. Aku tetap memandangi Sarah. Aku menangkapnya. Aku mendongak. Sekretarisku langsung memasukkan ke dalam amplop begitu menerimanya.Aku tidak tahu apakah aku peduli. Keyakinan itu begitu kuat dan justru membuatku merasa bahwa aku salah. Dia menyampirkannya ke belakang telinga dan melihatku berdiri di pintu memandanginya. Rambutnya dikuncir ekor kuda dan ada helaian rambut yang menggantung di depan wajahnya. lalu kembali memandangku. Aku membaliknya dan melihat lembar kedua. “Entahlah. Smith. Dia mengenakan celemek hijau yang kuikatkan untuknya pada hari pertamaku. tata boga. Harris duduk di mejanya saat aku masuk ke kantornya. Mr. dan berjalan menyusuri lorong. Guru pengawas mengatakan sesuatu di belakangku. Yang paling depan adalah halaman sampul dengan namaku dan tulisan “RAHASIA” yang tertulis dengan huruf hitam besar. Di tengah-tengah pelajaran. “Oh. Dia berjalan lurus ke arahku dan memberikanku secarik kertas. Aku duduk. “Apa ini?” tanyaku. menerobos jendela kaca. Tidak. “KAU BAIK-BAIK SAJA. meluncur. Mataku menyipit. “Aku tidak sehat. atau setidaknya terasa begitu. Lima belas detik lagi Henri sampai di kantor ini. Warna merah muncul dari sudut lapangan parkir. Aku ingin tahu apakah sudah mendidih atau belum. terasa mulus di ujung jariku. Lalu ditutup. Aku berbelok ke kanan dan berlari melintasi halaman sekolah. sebelum guru pengawas muncul di kelas. Harris. Artikel itu diposting pukul 11:59. Aku membacanya lagi. awal baru lagi. senang. Dunia berhenti.perlu melihat nama penulis untuk mengetahui siapa yang menulisnya. SMITH?” TANYA Kepala Sekolah. Tapi bukan dia yang kulihat. Ruang- ruang kelas di sebelah kananku tampak kabur. Aku mendarat di rumput di luar. Aku tidak mengerti. Aku merasa mati di dalam. kenyataan bahwa aku akan pergi selamanya tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal tiba-tiba terasa begitu berat. bangga. Mr. Yang kuperlukan. Saat ini pasti Sarah sudah menaikkan puding ke kompor. Tapi aku juga merasakan perasaan lain. Kertas putih. Aku menunduk memandang kertas yang kupegang. pikirku. Lalu ke mana? Ke Maine? Missouri? Kanada? Sekolah lain. Dia datang secepatnya. Dia menginjak rem begitu kuat sehingga seluruh tubuhnya terloncat dan truk itu berdecit berhenti. Aku belum tidur sekejap pun selama tiga puluh jam terakhir.” kataku. lalu―tanpa berpikir. dan melayang ke lantai. Mr. Ban berdecit saat truk itu masuk ke halaman sekolah. uap mengepul dari knalpot. Aku heran Henri perlu waktu selama ini untuk tiba. atau kecepatan aman. pikirku. hampir dua jam yang lalu. alamat. Apakah Sarah memandang ke pintu. Melainkan apa yang di belakangnya. Jeritan kaget terdengar. aku sedih. Harris. Dalam waktu yang begitu singkat. yang langsung pecah berkeping-keping. bergerak lebih cepat daripada normal. “Perlu perawat?” tanya Mr. tanpa benar-benar tahu apa yang kulakukan―aku menerjang melompati meja Mr. Aku menutup mata. “Tidak. dan sekarang aku merasa lelah. Bunyinya: APAKAH KAU NOMOR 4? Kedua kertas itu terlepas dari tanganku. Lalu ke truknya. Harris. Harris.” Aku mengambil kertas-kertas yang jatuh. Aku kembali melihat monitor komputer. Aku mendengar pintu truk dibuka dari jendela. KEBAKARAN DI RUMAH JAMES: KISAH YANG TIDAK DIBERITAKAN Napasku tercekat. Aku menengadah dan memandang keluar jendela. Henri mencondongkan tubuh di setir seperti seorang maniak gila. Aku meletakkan kepala di tanganku. Mulutku terbuka. lalu diam di sana. bahkan nama. Tubuhku limbung. Dari mana datangnya? Tidak ada nomor telepon. Jantungku berdebar kencang. menantiku kembali? Gaung lemah pintu sekolah dibanting tertutup terdengar hingga ke kantor kepala sekolah. yang hanya bertahan satu detik sebelum seringai lebar kembali ke wajahnya. Tidak ada apa pun kecuali empat kata dan satu tanda tanya. Sebentar lagi Henri akan masuk ke kantor ini. Truk Henri diparkir. Aku . Aku merasa pusing. Lalu ke rumah. Bagaimana ini bisa terjadi? “Jadi apa benar?” tanya Mr. melalui jendela kantornya. aku tidak butuh perawat. Judulnya sudah cukup. Harris. Mr. adalah kembali ke sana. MR. Harris tersenyum. Dia mencoba memperlihatkan wajah khawatir. kembali ke lima belas menit yang lalu. Perawat. Aku mendongak memandangnya. Ruang kesehatan ada di sebelah dapur kelas tata boga. Kerikil berloncatan saat truk itu berbelok untuk kedua kalinya. nama baru lagi. Mereka mengakaliku sehingga aku sendirian. Masa mereka ingin kami menelepon? “Ya. Kamera itu goyang. di depan laptop Henri yang terbuka. Aku menatap komputer dan melihat bahwa Mark sudah membuka YouTube. Orang itu berbalik. Bernie Kosar tidak ada di mana pun. Di meja dapur. tanpa Henri.” kata Mark. lalu dia berlari keluar. Salakan anjing berhenti. Kemudian. berlari menembus lebarnya hutan hingga hutan itu berakhir dan tanah lapang terlihat. . Kami sudah melarikan diri selama sepuluh tahun. “Siapa sebenarnya kau?” “Apa yang kau bicarakan?” “Lihat. Terdengar suara kerikil dilindas ban truk di depan rumah saat Henri masuk. Nomor Empat. Paru-paruku terbakar. Tampaknya seseorang menggunakan telepon genggam untuk merekam peristiwa itu.” kata Mark. Kamera itu di-zoom ke jendela belakang tempat asal suara anjing menyalak. Kenapa Mogadorian mengirim faks? Kenapa mereka tidak langsung muncul? Itu kelebihan utama mereka.” Itu sama sekali tidak masuk akal. Aku berdiri tegak. siap berkelahi. Lalu aku melihat sesuatu yang lain. Tangan kananku masih membawa kertas tadi. Aku berbelok tajam ke kiri di tengah hutan. menuju samping rumah. Naluriku menyuruhku lari. Kertas itu sama dengan kertas yang ada di dalam sakuku. bagian depannya terbakar. Aku kembali ke rumah lebih dulu daripada Henri. tapi suara anjing dan seruan tertahan orang- orang bisa terdengar. tapi tolong. ada nomor telepon dengan tulisan yang sangat kecil. dan akhirnya ke belakang rumah. tiba tanpa diduga. rasa takut begitu jelas di matanya. “Bukan. Unsur kejutan. Aku mengepalkan tinju. dan kembali ke sekolah―Sarah ada di sana mencuci foto-foto. Aku di sini menantimu. Namun aku tidak melihat layar komputer dan justru menatap kertas putih yang ada di samping komputer. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku. Mark James. Aku berjalan ke arahnya. ini aku. Video itu kabur. Aku langsung mengenali rumah Mark. Lalu orang itu mulai berjalan menjauhi kerumunan. kualitasnya jelek. Di bagian bawah kertas Henri. Aku terus berlari. Wajah kami dapat dikenali. Kamera di-zoom. Dia mengklik tombol play. Aku mengabaikan pertanyaannya dan malah mengajukan pertanyaanku sendiri: “Siapa yang merekam ini?” “Entah. tapi kertas itu lebih tebal daripada faks. Sekitar dua puluh detik berlalu. Kami tidak akan melawan. Napasku tercekat.” jawab Mark. tanpa peringatan. “Kurir mengantarkan kertas itu saat aku tiba di sini.” katanya. Persetan dengan rasa sakitnya. Sepi memamah biak sambil memandang dengan tatapan kosong saat aku melintas. “Ini punyamu?” tanyaku. Aku memasukkannya ke dalam saku. duduklah seseorang yang langsung kuduga sebagai salah satu dari mereka. pada saat aku terbang melalui jendela dengan Sarah di tangan yang satu dan anjing di tangan yang lain. menunjuk ke layar komputer. Ayahmu membacanya saat aku memperlihatkan video ini. Mereka tiba lebih dulu daripadaku. Aku melewati pintu dan berhenti. menanti ujian mengemudi pada pukul empat tiga puluh. Dahi dan siku kiriku luka akibat kaca jendela tadi. keluar dari rumah.melewati tempat parkir dan masuk ke hutan yang ada di belakang lapangan bisbol. “Siapa kau?” tanya Mark. Mark menekan tombol pause video itu. Aku menutup mata karena tahu apa yang selanjutnya terjadi. “Aku mencari tahu apa yang terjadi. datanglah dan bunuh kami. “Lihat.” “Video apa?” tanyaku.” katanya. Ponselku. Saat Henri melangkah lagi. memandangku seakan ingin menangis. mengabaikan kertas dan Mark. suaranya terdengar terluka. “Ya. Walaupun saat ini baru pukul 3:30.” kataku sambil mencuri waktu untuk pergi. Tempat kita. Saat aku tiba di pintu kamar.” kataku. Itu sebabnya aku harus kembali ke sekolah. Aku melihat jam tangan. “Aku belajar itu darimu. Aku justru berjalan ke sisi lain meja makan dan menunggu.” “Kita tidak saling membohongi!” bentak Henri. Henri hanya menatapku. mata kami bertatapan lagi. Di depan sekolah. Sambil menahan Henri di sana. yang berarti dia juga dalam bahaya. Dia tidak mengatakan apa-apa. Henri mencoba berjalan tapi aku menahannya. Di tempat ini kami akan mengadakan piknik musim panas. begitu Sarah menyebutnya. Henri berhenti berusaha berjalan.” kataku. Mereka pasti mencari dan mengejar Sarah. “Ada apa?” tanya Mark. “Aku membohongi semua orang. Aku memperlambat napasku.” teriaknya dari pintu. Hobbs menutup lubang. Tapi sesuatu mencegahku lari. Aku bertanya-tanya apakah dia sudah diperingatkan mengenai diriku. “Kau membohongiku. hampir memohon. Rasanya begitu sakit sehingga aku membungkuk dan menggertakkan gigi. lalu kembali ke Henri. dengan kencang sesuai kemampuan paru-paruku. dan pergi. aku sudah melihatnya. Lima detik kemudian Henri berjalan ke dalam rumah. Henri!” Henri menggelengkan kepala. Aku tiba di sekolah saat bus-bus mulai keluar dari halaman. ada di dalam loker. “Sekarang bukan saatnya sentimentil. Hanya terdengar suara Bernie Kosar menyalak. . Hobbs sedang berdiri di luar jendela depan. lengannya tergantung lemas. apakah dia sudah diinstruksikan untuk menelepon polisi jika melihatku. tempat aku dan Sarah membuat malaikat salju. Pintu truk dibanting tertutup. Aku akan menyelamatkan Sarah. aku mengangkat tangan dan menghentikannya dengan telekinesis. aku berjalan mundur ke kamarku. John. “Dia dalam bahaya. Aku menatap mata Henri. “Menurutmu ini datang dari mana?” “Ada apa sebenarnya?” Mark hampir berteriak. wajahnya keras. Dia tampak seakan tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Aku berbalik dan berlari ke sekolah. mencoba sebaik mungkin untuk mengosongkan pikiran. bersama benda-benda lain yang kubawa ke sekolah. mengukur tripleks untuk menutup jendela yang kuterobos. John. membuka laci dan mengambil pisau yang biasa kugunakan untuk membersihkan ikan saat kami masih tinggal di Florida. tatapan yang membuatku merasa lebih buruk dari sebelumnya. Aku harus memalingkan wajah. sambil berjalan melintasi ruangan dan mengangkat kertas serta melambaikannya ke arahku.Wajah Sarah tampak sejelas wajahku dalam video itu. Kau tidak lihat ini?” tanyanya.” Henri berjalan ke arahku. Lalu aku berbalik dan lari ke kamarku. Aku berlari satu kilometer dan berhenti di tempat terbuka besar di hutan. Aku memandangi mobil-mobil meninggalkan sekolah hingga hanya tersisa beberapa buah. Dia hanya berdiri di sana. memandangiku dengan tatapan sakit hati. otot-otot rahangnya tegang. lalu menghilang ke dalam sekolah. Bahu Henri merosot. kegelapan tampaknya datang lebih cepat daripada biasanya. lalu melompat keluar jendela dan berlari ke hutan. Jika saja aku bisa menelepon Sarah dan menyuruhnya keluar dari sekolah. “Aku tak akan pergi sebelum menemui Sarah.” katanya. Mata kami beradu. Bernie Kosar berlari di depannya. Aku melihat bus-bus itu dari tepi hutan. “Maafkan aku. “Kita harus pergi dari sini. Aku berjongkok untuk melihat. suara alat penggosok lantai semakin keras. Dia mencuci foto hari ini sebelum ujian mengemudi. “Apa yang terjadi?” bisik Sarah. secepatnya. dan membuka kuncinya. mendesah lega. Hanya sebagian lampu lorong yang menyala. berjalan melintasi lapangan bisbol. Saat kami berjalan ke sana. Pintu sekolah sudah dikunci.Kegelapan yang kelam. Berat dan melelahkan. Aku lewat di lokerku dan membukanya. Ada sekitar sepuluh mobil. Aku tahu pasti ada yang salah. “Tak tahu. Di mana para atlet. Tidak ada jawaban. Sarah menengadah dan tersenyum. Saat tiba di kamar gelap. Aku berbelok ke lobi dan melihat pintu kamar gelap kelas fotografi. Dia memeluk dan mendekapku begitu erat sehingga aku pikir dia tidak akan melepaskanku. mereka akan segera tiba. Ponselku tidak ada. guru-guru yang biasanya tetap tinggal di sekolah untuk memeriksa ujian atau apa pun yang biasanya mereka lakukan? Firasat buruk menjalari tulangku. Aku menarik napas dalam. ketakutan. Ruangan itu gelap gulita. Aku menarik napas dalam dan mencoba membuka pintu. nggak berani bergerak. Di bawah konter. bergandengan tangan. mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang kutemukan di dalam ruangan itu. lalu masuk ke tempat parkir. terutama setelah aku dengar kau melompat menerobos jendela dan tidak mengangkat teleponmu. Aku menyalakan tanganku. Aku menempelkan telinga ke pintu kamar gelap untuk mendengarkan. Jadi. Terdengar suara alat penggosok lantai dari suatu tempat. berusaha untuk tetap tidak terlihat. Dari balik kegelapan. Kemudian aku menutup mata dan memusatkan perhatian. Aku memegang pintu. Suara-suara yang kami buat pun seolah berkurang. Loker itu kosong melompong.” Kami berjalan di lorong sepelan mungkin. aku tidak mendengar apa- apa selain bunyi alat penggosok lantai yang datang dari lorong. “Aku masuk ke sini setelah jam pelajaran kedelapan selesai. Begitu sekolah bubar. kan?” “Jika belum. “Mereka di sini. Apakah dia akan memukulku .” Kami keluar dari ruangan itu. Pasti dia tahu bahwa akulah yang merusak jendela. tapi tetap tampak suram dan redup.” Aku membantu Sarah berdiri. Aku tidak melihat apa pun dan berpikir bahwa ruangan itu kosong. Seluruh sekolah ditelan kegelapan. Aku keluar dari hutan. Kemudian aku menyapukan tangan yang satu ke salah satu sisi. Tapi aku mendengar bunyi gemeresik di balik sana. aku tidak melihat seorang pun. Kuharap orang itu Henri. Setelah sekitar sepuluh detik. ada Sarah. teredam. Lampu- lampu di tempat parkir menyala.” “Pintar. Aku berjalan ke dalam dan tidak melihat siapa pun. anggota marching band. Terkunci. Aku takut sesuatu yang buruk sudah menimpa Sarah. aku mengunci diri di sini dan diam di bawah konter. Aku meredupkan cahaya di tanganku sehingga dia bisa melihat diriku. suara-suara aneh mulai berdatangan dari lorong. Namun kemudian aku melihat gerakan di sudut sana. Tapi sekarang kita harus keluar dari sini. Aku menempelkan telingaku lagi dan mengetuk pelan. Kunci pun berbunyi ‘klik’. padahal matahari baru terbenam sekitar satu jam lagi. Seseorang menyimpan ponselku. dan tangan yang lain ke sisi lain. Namun. lampu kembali menyala. Lalu segalanya menjadi begitu gelap. Lampu di lorong berkedip padam. Aku menduga kami berjalan ke arah Hobbs. Sarah. Jalan paling cepat untuk ke luar adalah melalui pintu belakang yang mengarah ke tempat parkir para guru. Udaranya tenang dan sepi. terdengar suara pintu berderit terbuka. Sarah merapat kepadaku. Sarah terengah. Mesin itu diam. pikirku. Satu sosok dengan jubah panjang melambai ditiup angin dan topi yang ditarik begitu rendah sehingga hanya matanya yang terlihat. tapi pintu itu langsung terkunci di belakang kami. Tentunya tidak ada jendela yang terbuka. Tadi sosok itu hanya berdiri diam. bersandar di dinding. tak berawak. Di bawah lampu terdekat. Lampu-lampu masih menyala. Aku menemukan steker di dinding. “Sial!” teriakku. bunyinya digantikan dengan dengung pelan keheningan. Sarah melepaskan pegangannya dan berdiri di belakangku sambil memegangi pinggangku. Lalu ada satu lagi di belakangnya. “Ayo. Sarah dan aku harus keluar dari sekolah. Saat kami tiba di lorong belakang. Aku mendobrak pintu dengan bahu dan berlari ke luar ke tempat parkir.dengan gagang sapu dan menelepon polisi? Kurasa saat ini. tapi lampu tetap padam. masih dalam keadaan menyala. Aku merasakan para Mogadorian mendekat. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar. kami melihatnya. Aku pikir mungkin angin itu masuk dari jendela yang kurusakkan. Aku merasakan angin berembus lembut entah dari mana asalnya. aku melihat satu lagi. itu bukan masalah. Napasku tercekat di tenggorokan. Aku tidak bisa memusatkan perhatian untuk membuka kunci pintu itu. akhirnya mereka ada di sini. Sarah berdiri. Aku menarik tangan Sarah dan berlari menyusuri lorong. Aku mencoba memusatkan perhatian. Aku menyalakan tanganku. Sarah mencengkeram tanganku. Naluri membuatku menarik kabel untuk mematikan alat penggosok lantai itu. Aku tidak mau mati. Kami berdua beringsut mundur hingga menubruk pintu. berdengung mantap. mengepung. Kami berhenti dan menunggu lampu menyala. tapi aku tahu jika aku melakukan itu. Sarah memegang lenganku dengan erat. Jauh di lorong sana. Sarah menjerit. Aku panik. Aku merasa perlu memasangnya kembali. Aku menutup mata dan berusaha mendengarkan. Aku memandang sosok itu melangkah ke arahku. Alat penggosok lantai itu berhenti. Para Mogadorian. “John. Aku mencabut kabel dari steker. Kami berdua terlalu takut sehingga tidak bisa bicara. Aku tidak bisa melihatnya. tapi tanganku bergetar begitu kuat sehingga sulit membuka pintu. Setelah bertahun- tahun. Kupadamkan cahaya tanganku. Sosok itu mengangkat kepala dan menyeringai ke arahku.” kata Sarah. tapi jaraknya hanya sekitar enam meter di kegelapan yang begitu gelap gulita. Aku mencoba membuka pintu.” teriakku sambil berusaha berdiri. Kami berdua berhenti. Dingin merayapi tulang punggungku. mereka akan tahu kami ad adi tempat itu. Ada ketakutan di suaranya yang membuat mataku terbuka lebar. Aku merasa aneh karena mesin itu tetap berfungsi. Lalu terdengar suara pintu dibanting diikuti suara kaca pecah dan jatuh berkeping-keping di lantai. namun redup dan tampak mengerikan dalam keadaan yang gelap gulita. Punggungku menempel di dinding. Bunyi pintu berderit sudah tak terdengar lagi. Alat penggosok lantai terus berbunyi. Aku berjongkok. dan menguatkan . Kami berdua melangkah mundur dan terpeleset karena buru-buru ingin kabur. lalu menyusuri kabel hingga melihat mesin itu. lampu-lampu kembali padam. karena Hobbs tetap menggosok lantai di kegelapan. Dari sudut mataku. Apa yang terjadi pada ketenangan di bawah tekanan yang kupelajari dalam latihan di halaman belakang? Aku tidak mau mati. Sesuatu melewati kami tapi aku tidak bisa melihatnya dan juga tidak ingin mencari tahu benda apa itu. “Aku tak tahu. Kami harus mengambil risiko.” “Tapi bagaimana kita keluar?” Aku tidak tahu.tekadku. Kegelapan menekan jendela dengan kuat dan tidak ada cahaya yang masuk. Apa pun yang membuka pintu itu pastilah sudah pergi. Sarah. dank arena jaraknya sekitar enam meter dari tanah maka ada teralis di jendelanya.” “Tapi mereka ada di luar sana. jumlah mereka akan semakin banyak.” “Aku tahu. Sarah memegang tanganku. Ada bunyi bergedebuk di luar sana seolah salah satu dari mereka menendang pintu. memenuhi telinga kami. kita akan menghadapi mereka semua. Akhirnya kami melihat sebuah pintu terbuka. sepelan . dan itu dari tempat kami masuk tadi. agar kami tak terlihat. Pikiranku berpacu mengingat denah gedung sekolah agar aku tidak perlu menyalakan tanganku.” Sarah mengangguk setuju. Kami berlari lebih kencang. atau menunggu di lorong. Mereka tak akan ke mana-mana. Saat mereka menemukan kita. Diikuti suara-suara. Kami saling memeluk. Henri ada di rumah. Sarah menyandarkan diri ke arahku. Ruangan itu ada di bagian kiri sekolah. Tapi aku tahu. “Kita harus pergi. kita harus kembali. Aku menyorotkan cahaya di tanganku ke segala penjuru ruangan itu lalu langsung mematikannya. Aku membanting pintu tertutup. Keringat mengalir menuruni pelipis dan membuat mataku perih. Aku juga tidak tahu harus berkata apa. tapi semuanya terkunci. Apa mereka membawa para hewan buas. Terdengar suara-suara di belakang kami. Kunci berputar. Ruangan itu terbalut keheningan. Tanpa pikir panjang kami bergegas masuk ke dalam. “Kita harus diam. Aku menutup pintu pelan-pelan dan berharap mereka tidak melihat kami. Kami sendirian. Kami harus pergi dari situ. Aku tidak tahu apakah ada Mogadorian di dalam gedung sekolah. Sebuah jendela pecah di samping dan Sarah menjerit kaget. Dia juga dalam bahaya seperti kita. Kami mencoba membuka pintu-pintu kelas. mengepung. Setidaknya kalau kita berusaha keluar akan menjadi elemen kejutan buat mereka. Aku menarik napas dalam dan keluar dari bawah meja. Terdengar suara pintu terbanting tertutup dari suatu tempat. Hanya ada satu jalan keluar. menghadap bukit kecil.” kataku.” bisikku. “Kalau terus di sini kita terjebak. Aku menahan napas. mendengarkan. pastilah mereka tidak semalas itu. entah dari depan atau dari belakang. Jika tidak bisa.” bisikku. Ruang kelas sejarah. Kami berlari di lorong. Bersama-sama kami melangkah. Mereka akan menemukan kita. atau bahkan Bernie Kosar. Pasti mereka tidak hanya bertiga. Aku berusaha bernapas. Sepertinya kami tidak akan punya cukup waktu untuk membuka salah satu pintu. “Apa yang harus kita lakukan?” bisik Sarah setelah tiga puluh detik. Aku meraih tangan Sarah dan dia berdiri bersamaku. Apa mereka hanya membuka pintu dan menjulurkan kepala ke dalam untuk melihat apakah kami ada di dalam? Apa mereka terus berjalan tanpa masuk? Mereka berhasil menemukanku setelah waktu yang lama. kurasa aku bisa menyalakan mobil. Sarah dan aku menerobos masuk. Jika kita bisa keluar dari sekolah. musang kecil yang ditakuti para penulis di Athens itu? Aku berharap Henri ada di sini. Kami bersembunyi di bawah meja guru. Aku menarik napas dalam. Sarah tetap memelukku. Pintu itu menutup dengan sangat pelan hingga akhirnya terdengar bunyi ‘klik’. “Tidak aman di sini. semakin lama kami diam di sana. Tidak terdengar langkah kaki. Pintu terbuka perlahan-lahan. Pintu terbuka. Berapa jumlah mereka? Aku melihat setidaknya tiga. Nanti akan kujelaskan semuanya. jangan meronta. Sekarang kita harus keluar dari sini. bahkan mungkin lebih kuat. Lalu melangkah lagi.” Aku tersenyum. “Aku berusaha tiba di sini sebelum mereka. Suara perempuan. begitu dekat dengan kenop pintu sehingga aku bisa merasakan aura dinginnya. dengan tangan menyala. pikirku. seolah mengerahkan kekuatan dari sesuatu yang tak terlihat. Aku telah gagal. aku bisa merasakan jantungku berdebar begitu keras sehingga aku khawatir para Mogadorian bisa mendengarnya.” terdengar bisikan di telingaku. Seseorang ada di sini. Seseorang selain para Mogadorian yang tahu bahwa kami ada.” Perempuan. tapi tidak bisa. “Siapa kau?” tanyaku. Perlu satu menit untuk melintasi ruangan dan tidak ada yang menyergap kami di kegelapan. Aku bisa merasakan Sarah berusaha membebaskan diri dari cengkeraman itu.” katanya. Aku menyalakan tanganku sedikit sehingga bersinar redup. kuharap kau memberikan perlawanan yang lebih hebat daripadaku.” Aku merasa gadis itu mengangguk di kegelapan. Tapi Sarah dan aku mengenal lingkungan ini. “Dia meninggal tiga tahun lalu. Kemampuan untuk membuat benda-benda yang disentuhnya juga tak terlihat.” E “BAGAIMANA KAU TAHU ITU AKU?” TANYAKU. Kalian berdua harus diam. “Kau punya Cêpan?” tanyanya. Rasa takut mencengkeramku. Aku mengenali hutan itu dan tahu jalan pulang. rambut hitam panjang diekor kuda. Ada banyak Mogadorian. Henri. Dengan seluruh kekuatanku aku mencoba membebaskan diri. Mata merah kecokelatan. Seorang teman. Seperti Pusaka kakekku. aku bisa melihat wajah yang agak lebih tua dariku. seperti rumah kami di Lorien. Sarah terengah-engah. menyusuri lorong. Kuat seperti aku. Sejak . “Sst. Gadis itu memandang ke arah pintu. tapi mulutku dibungkam. langsung ke hutan. Gadis itu memandang ke arah pintu. Aku mencoba berteriak. “Seberapa jauh rumahmu dari sini?” tanyanya. dan kulit berwarna zaitun. “Aku Nomor Enam. “Tentunya. Aku menutup mata dan perlahan-lahan meraih kenop pintu. dan itu keuntungan kami. Aku tidak mengerti. Kau juga punya. Dengan sinar dari tanganku. “Mereka menunggu di luar.” “Bagaimana kau bisa masuk tanpa terlihat mereka?” “Aku bisa membuat diriku tak terlihat. Kemudian aku berbalik dan memandangnya. Saat kami berada di dekat pintu. Aku menyesal. Aku menatap pintu. Aku akan membukanya lalu menggendong Sarah di punggung. mulut lebar dan hidung yang kokoh. mencengkeram tanganku sebisa mungkin. hanya cukup untuk menjaga agar kami tidak menabrak meja. Tapi cengkeraman itu terlalu kuat. “Lima kilometer. untuk membantu. Dia melonggarkan cengkeramannya. “Aku berusaha menemukanmu sejak Nomor Tiga dibunuh. Kemampuan untuk tak terlihat. “Dulu. jika gagal. tulang pipi tinggi. Kami saling menatap. Aku tidak pernah menduga bahwa para Mogadorian lebih kuat daripadaku. Sekarang tidak ada harapan. masih diam. kami berdua direnggut dari belakang lalu ditarik ke bawah. keluar dari gedung sekolah ke tempat parkir atau. Aku pun melakukan hal yang sama. kan?” Dia bergeser dan terdiam sejenak. Aku benar-benar salah karena meremehkan mereka.” katanya. hampir tak kentara. Sarah menegang. Kemudian aku akan berlari secepat yang kubisa.mungkin. Saat tanganku tinggal beberapa senti lagi. Aku gagal melindungi Sarah dan juga Henri. ” kataku. Terowongan itu menuju ke belakang sekolah.itu aku sendirian. Kemudian cahaya itu memelan. kalian tak akan terlihat. Mogadorian itu melemparkan . melewati jalan keluar. tapi bisa mendengar kita. Hening. Cahaya lampu depan mobil melintas di belokan ke arah sekolah. tapi bunyi gemeresik yang sebelumnya kudengar berhenti di luar pintu. lalu berbelok ke pintu masuk dan menghilang dengan cepat.” “Aku ikut berduka. “Siapa?” “Henri. “Itu artinya kau harus bertarung.” kata Nomor Enam.” kata Sarah. “Semua pintu dikunci.” katanya. Aku panik. Pintu itu terdorong lepas dari engselnya dan terbanting ke lorong. sebelum yang lainnya datang.” Aku berniat untuk menjawab. ya?” tanyaku. dan para prajurit dan hewan buas mungkin sudah di sana. Hewan-hewan buas ada di dekat mereka. Kemudian dia mengangkat kepala ke arah jendela yang berteralis. kulit pucat seolah tidak pernah terkena sinar matahari. Jika mereka ada di daerah ini. “Di panggungnya ada pintu lubang palka yang mengarah ke terowongan di bawahnya.” “Oh.” katanya. “Sekarang ini tidak mungkin melarikan diri dari mereka. Makhluk gua yang bangkit dari kematian. Lalu kenop pintu berguncang. Para prajurit sedang dalam perjalanan. Aku menyalakan tanganku. “Masing-masing pegang tanganku.” “Oke.” “Aku yakin dia baik-baik saja. Sarah mengangguk. Aku tidak mengerti apa yang dia tanyakan. Kita tidak akan bisa melarikan diri dari mereka karena mereka sudah menemukan kita. kita hanya punya satu hari. Aku menggelengkan kepala. Dari mana lagi kita bisa keluar?” Aku berpikir. Selama kalian memegang tanganku. Satu Mogadorian berdiri di tengah-tengah puing-puing pintu.” kataku. Yang kedua: Cêpan gadis ini meninggal tiga tahun lalu. itu berarti mereka sudah tahu tempat tinggalmu. orang bakal mati. Cêpan-ku. Kami ikut menengok ke sana. Begitu kit adi luar. “Sebisa mungkin jangan menimbulkan suara. di tempat yang dihantam pintu. Henri di rumah bersama Bernie Kosar. Itu artinya mereka sudah ada di sana. Mereka ini hanya pengintai. Sarah memegang tangan kirinya. Aku memegang tangan kanannya. Mereka tak akan bisa melihat kita. Waktu kita sedikit. Salah satu jendela tak berteralis di kelas lain bisa jadi jalan terbaik kami. “Ini perang.” Yang pertama terlintas di benakku: Mereka sudah tahu rumahku. Mereka tidak akan melakukan apa-apa kepadanya selama kau bebas. “Percuma mengendap-endap. Pecahan kaca. Serpihan kayu. Jadi percuma bersembunyi saat kita di luar sana. Paling banyak. sendirian di planet asing sejak itu. Sejak usia berapa? Tiga belas? Empat belas? “Dia di rumah. Nomor Enam kembali memandang kami. “Pertempuran dimulai sekarang.” kataku. Mata hitam.” kata Nomor Enam. Sekarang kita harus pergi dari sini atau kita juga bakal mati.” Dia bergegas maju dan menolakkan tangannya ke depan. Sejak saat itu Nomor Enam sendirian. “Kau tahu apa artinya itu?” tanya Nomor Enam. “Kita bisa keluar lewat gedung olahraga. Mereka akan menggunakannya untuk memancingmu. “Nyalakan tanganmu!” teriaknya. Nomor Enam menarik napas dalam dan melepaskan tanganku. darah menetes dari sudut mulutnya. Cahayanya sangat redup. Aku merasa bangga. Dia tersenyum. semuanya. kita lari secepat mungkin. Dan kemungkinan terburuknya mereka sudah di sini. Kaulah yang mereka inginkan. Prajuritlah yang membawa pedang. Satu-satunya cara untuk kabur adalah dengan membunuh mereka. Dadanya tersentak sekali lalu diam. Tubuhku menegang. bertanya-tanya bagaimana mungkin tubuhnya bisa langsung hancur seperti itu. Lalu suara lain memenuhi lorong. Namun cara berdirinya membuat dia tampak lima senti lebih tinggi. “Itu Henri. jeritan. Dua Mogadorian pengintai lain berjalan ke arah kami dari ujung lorong. “Apa-apaan?” heranku. Nomor Enam berdiri di depanku dengan gagah. Nomor Enam mengangkatnya lagi. Dia lima senti lebih pendek daripadaku. Kali ini dia melontarkan si Mogadorian sekuat mungkin ke dinding yang satu lalu ke dinding yang lain. dua letusan lagi meledak di lorong. Aku begitu senang melihatnya sehingga hampir lupa untuk memperkenalkan lelaki yang membawa senapan itu kepada Nomor Enam. Aku mendengar Nomor Enam mengerang di sampingku. tegap. Kesedihan. Kedua pengintai itu terlontar ke belakang. siap menghadapi apa pun yang datang. darah. Kedua Mogadorian menarik napas dalam dan serak. Mata Henri tampak liar. karena caraku meninggalkan rumah tadi. Kedua Mogadorian mengalihkan perhatian mereka ke arah suara itu. Si Mogadorian berusaha berdiri. Aku menatap mata si Mogadorian.” kataku. Satu atau dua detik berlalu. Nomor Enam mematahkan sihir itu dengan mengangkat si Mogadorian ke udara dan melemparkannya ke tembok. otot-ototku panas karena lelah. bukan suara mereka berjalan. Dia membawa senapan laras ganda yang belum pernah kulihat. Aku berlutut dan mengangkat Bernie dari lantai. Kedua Mogadorian itu tampak terkejut. Aku tak bisa membayangkan separah apa gambaran itu jika Nomor Enam tidak mematahkan sihirnya. dan dagu diangkat tinggi. bahkan mungkin menamparku. mengabaikan kebingunganku. Aku tidak tahu mengapa Henri membawa Mark. memandang pintu-pintu kelas saat melewatinya. diikuti dengan pintu sekolah yang ditendang hingga terbuka. Suara itulah yang kami dengar di luar pintu. Gambaran-gambaran kabur dari hari penyerbuan berkelap-kelip di benakku. Namun ternyata dia malah memindahkan senapan ke tangan . waspada. Tubuhku tegang. Sekarang aku mengerti apa yang dia alami saat melihat mata Mogadorian. menyambutnya untuk menyingkirkan gambaran- gambaran yang selalu muncul di benaknya. tak bisa bergerak. Kukira. Selubung kegelapan mengelilingi mereka. Dia terlihat lelah. Anjing itu menjilati wajahku dengan liar. Henri akan membentak.sesuatu yang tak terlihat olehku. diikuti suara yang mirip dengan karung pasir jatuh ke tanah. Lalu terdengar suara letusan senjata. Nomor Enam menegang di sampingku. Kegelapan merayap turun. Air mata. dengan badan meliuk dan patah. Di belakang Henri ada Mark yang membawa Peti Loric. takut serta khawatir. “Jangan lihat mata mereka!” teriak Nomor Enam. Kedua Mogadorian itu berhenti di persimpangan lorong. “Cêpanku. Kami mendengar suara sepasang sepatu mendekat dan bunyi cakar anjing. suara napas mereka. Bernie Kosar berjalan di sampingnya lalu berlari ke arahku. tumpukan tubuh terbakar. Aku teringat penulis They Walk Among Us. Aku bertanya-tanya apakah si penulis itu menyambut kematian ketika waktunya tiba. Menatap kami. Pengintai Mogadorian itu jatuh ke lantai. Henri! Yang kami lihat memasuki halaman sekolah itu lampu truk Henri. Rasa sakit menghunjamku sehingga aku terpaku di tempat. Seluruh tubuh si Mogadorian berubah menjadi tumpukan abu. Anak-anak dan wanita yang mati. kakek-nenekku. Pintu berguncang seolah seseorang berusaha membukanya. Sarah berdiri di belakangku.” Henri berjalan menghampiri. Mereka menyeringai mencemooh. Mereka tampak seakan mengisap segala yang ada di dekat mereka dan mengubahnya menjadi gelap. Saat mereka berbalik untuk lari. Mark mengambil senapan itu dengan tangannya yang bebas tanpa protes. dan mengeluarkan sebuah batu datar dengan aura gelap seperti yang mengelilingi para Mogadorian. Nomor Enam tampaknya tahu kegunaan batu itu. Mogadorian itu melemparkan belati ke arah Nomor Enam. dengan gigi terkatup rapat. Aku senang melihatmu baik-baik saja. Nomor Enam membungkuk dalam. Saat melihat apa yang Sarah lakukan. Lalu Henri berjalan. “Ini batu penyembuh. Mark menurunkan Peti Loric ke lantai dan mengambil pisau untuk dirinya sendiri. Aku menyalakan sinar redup dan melihat lengannya. luka itu sudah sembuh sepenuhnya. Henri menahan batu itu selama satu menit penuh. Di dekat bahunya ada belati kecil yang mencuat. Henri bergegas ke jendela dan menutup tirai. “Apa itu?” tanyaku sambil mengangguk ke arah batu. “Maafkan aku.” kata Henri. tanpa bekas. Henri menghunjamkan batu itu ke dalam luka. ya. “Kalian baik-baik saja?” tanya Henri.” kata Nomor Enam. Seluruh sekolah sialan ini dikepung. Aku menoleh ke Nomor Enam.” “Aku tahu kau tidak bermaksud buruk. Henri menekankan kain ke lengan gadis itu untuk memperlambat pendarahan dan Nomor Enam memegangnya. Itu sebabnya dia mengerang sebelum membunuh si Mogadorian pengintai. tapi Henri menyela.” katanya. “Ya. Aku memandang lengannya. sebelum mencabutnya. Dia melepaskan kemejanya. Di bawah kemejanya.kirinya lalu memelukku seerat mungkin. “Ayo.” Lalu Henri berkata. Dia membuka laci dan mengeluarkan pisau daging terbesar yang bisa dia temukan. Sarah berjalan ke dapur yang biasa kami gunakan.” Aku ingin bertanya kekuatan macam apa. Kemudian dia mengulurkan lengannya kepada Henri. “Sini. mengerang dan menggeliat kesakitan. Pakaian itu mirip dengan pakaian berwarna perak dan biru yang ayahku gunakan dalam kilas balik yang kulihat. John. dapur tata boga. “Pegang ini. Aku tak tahu kejadiannya bakal seperti ini. menarik napas untuk menenangkan diri.” kata Nomor Enam. Dia mengaduk-aduk laci-laci lain dan mengambil palu daging lalu menyelipkan palu itu di ikat pinggangnya. memandang takjub pada segala sesuatu yang ada di sekitarnya. “Benda seperti itu benar-benar ada?” . sambil memandangku. Kami mengunci pintunya. mengangkat Peti Loric dan meletakkannya di meja terdekat. Nomor Enam.” kataku. dia mengenakan pakaian karet berwarna hitam dan abu-abu. Dia tidak bercanda. Henri menghampiri dan mencabut belati itu. “Para prajurit memiliki pedang yang berkilau dengan berbagai kekuatan. Henri membuka Peti. tanpa apa pun selain sobekan kecil di pakaiannya. wajahnya merah karena tegang. aku membantu Henri membuka kunci peti itu. Sementara itu. Nomor Enam memindahkan tiga lemari es ke belakang pintu untuk barikade. Mark memandang Sarah. urat bertonjolan di lehernya. Nomor Enam mengerang. Selain sedikit darah yang masih tampak berkilauan. “Selain dari belati di lenganku.” katanya. Aku balas memeluknya. sambil menyodorkan senapan itu kepada Mark. kita harus keluar dari sini. meraih ke dalam. Aku bertanya-tanya seberapa banyak yang Henri katakan kepada Mark dan kenapa dia membawa Mark. Butiran keringat bercucuran di dahinya. Nomor Enam menarik napas dalam-dalam. Henri. Tanpa menunggu penjelasan.” Sarah memimpin kami ke ruangan teraman yang bisa dia pikirkan. “Untung hanya belati. aku baik-baik saja. “sekarang!” Aku menarik tali. Semua jam mati. tak bergerak. Dia berjalan melintasi ruangan menghampiri Bernie Kosar. Pertahanan dan Kemurnian.” “Diniatkan?” tanyaku. Aku menurut.” katanya.5 meter dari jendela. Dan batu penyembuh harus langsung digunakan. merasakan lengannya. “Aku tidak mengambil apa pun. Henri mengokang senapan lagi.” “Sangat senang. Lagi pula batu ini hanya berfungsi jika luka itu diniatkan untuk menyakiti atau membunuh. Bernie Kosar berdiri dengan kaki belakang dan mencoba mengintip melalui jendela. Bahkan udara pun seakan mati. Selain itu tak ada sinyal yang bisa menembus entah perisai apa yang mereka bikin. “Aku sudah lama mencari kalian. Dua Mogadorian pengintai terbaring di rumput. Nomor Enam mengangguk. batu itu tidak akan berfungsi jika aku tersandung dan secara nggak sengaja melukai kepalaku?” “Tidak. termasuk kalian. “Dia tidak berhasil. “Itulah kunci Pusaka. tampak bangga. Warna merah di wajahnya mulai hilang. Beberapa kali Bernie Kosar membuat gerakan seakan mencaplok sesuatu. Di belakangnya. “Saatnya pembalasan.” katanya. pikirku. “John. menggeram kepada apa pun yang ada di luar sana. Dia meninggal tiga tahun lalu. bahkan mungkin lega. tetap membidik. “Aku juga. Dari balik bahu Henri. bergaung di telingaku.” kata Henri. Bernie Kosar tampak seperti bertambah besar dan tinggi sehingga kepalanya bisa mengintip dari bawah jendela. Aku mengangguk ke arah Henri. Salah satu dari mereka berubah menjadi abu dengan bunyi gedebuk bergaung seperti yang di lorong tadi. padamkan sinarmu. Walaupun begitu. Dia berdiri tegak. “Aku ingat kau.” aku mengoreksi Henri. Mungkin bukan apa-apa. lalu. Henri mengambil senapan dari lantai dan berjalan sekitar 1.” kata Nomor Enam. “Jadi. Sejak saat itu aku mencari yang lain. Bernie Kosar berlari bolak-balik antara pintu dan jendela. sesuai aba-abaku.” “Kita tak punya banyak waktu. Nomor Enam menggelengkan kepala. Sekilas Henri tampak meringis saat melihat Nomor Enam.” jawab Henri.“Di Lorien ada. mengantisipasi letusan. “Sekarang. Henri mengokang senapan dan membidik.” “Turut berduka cita.” “Ponselku tidak ada di loker saat aku kembali.” “Tak apa. toh benda itu tak akan berfungsi. “Dan kuharap kita tidak perlu mencari tahu. aku bisa melihat Sarah menutup telinga dengan tangan. Tapi batu ini menyebabkan rasa sakitnya berlipat ganda dibandingkan rasa sakit yang asli.” Aku berjalan ke tepi jendela dan menggulung tali dua kali di tanganku.” jawab Henri. tapi dia mengabaikanku. Listrik padam. Suaranya menulikan. Henri menembakkan senapan.” jawab Henri. yang letaknya terlalu tinggi sehingga dia tidak bisa melihat keluar.” “Apakah batu itu bisa berfungsi pada Mark atau Sarah?” “Aku tak tahu. “Tidak. “Banget senang melihatmu lagi. tarik kerainya. Mereka melakukan sesuatu terhadap rumah kita dan juga sekolah.” sela Nomor Enam. “Kau mengambil ponselku waktu di sekolah tadi?” aku bertanya kepada Henri. Henri menembak Mogadorian yang satu lagi untuk kedua kalinya dan Mogadorian .” Nomor Enam menarik napas. Aku memuntir tubuh untuk melihat ke luar. yang mulai menggeram garang. Henri mengangguk.” Henri mengulurkan tangan dan Nomor Enam menjabatnya. Tirai langsung terbuka. “Di mana Katarina?” tanya Henri.” katanya. Wajahnya tampak berduka. Mark mengangkat bahu. Nomor Enam mengangguk menenangkan Sarah.” “Kita harus keluar dari sini. Sarah dan Mark saling berbisik. “Kita akan keluar dari sini. “Kenapa mereka hanya menunggu di luar sana?” tanyaku. Anjing itu siap.” kata Henri. Aku juga tak akan lupa dengan apa yang mereka lakukan terhadap Katarina.” Aku bisa melihat kengerian di wajah Henri karena dia juga lupa dengan hal itu. dia menyeringai memperlihatkan gigi-giginya. para prajurit dengan senjata.” katanya. Lagi pula aku bosan menunggu. “Kalian baik-baik saja?” tanyaku. Sarah mengangguk. Sekarang mereka menunggu yang lain tiba. Mereka tahu sekarang kita bisa melawan.” jawab Henri. Mereka tidak bisa mengacaukan segalanya dan membiarkan kita semakin kuat. “Mereka bisa membunuh kita tanpa harus sesuai urutan. apakah kami juga siap? “Yah. kita juga mati. pikirku. Sekarang semuanya kacau. keluarga kita. Kita semua siap untuk melawan. dalam gua di gunung Virginia Barat. Mark dan Sarah memandang kagum saat lemari es itu terbang ke arah kami dan turun di depan jendela untuk menghalangi para Mogadorian masuk atau melihat ke dalam ruangan. “Kita tidak bisa terus melarikan diri.itu berubah jadi abu juga. terjadi.” Bernie Kosar masih menyalaki jendela. yang terampil dalam membunuh. Mulutnya berbuih.” jawab Nomor Enam. Kita semua ada di satu tempat dan terkurung. Kemampuan kita semua sedang berkembang. suaranya lirih dan bergetar. Aku mencium pipi Sarah dan memegang tangannya. Kenapa kita diam dan membiarkan itu terjadi? Jika planet ini mati. teman-teman kita. “Sepuluh. Kalian berdua akan . Mereka sekarang putus asa karena tahu Pusaka kita mulai berkembang. Henri menoleh ke arah Enam. pindahkan lemari es itu ke sini. di dalam. kematian. “Jangan khawatir.” Aku berpaling ke arah Nomor Enam dan Henri. “Pos terdepan mereka sekitar tiga jam dari sini. melihat apa yang bisa dia lakukan.” kataku. Nomor Enam mengangguk. dan pembantaian yang sama.” kataku. “Lebih baik daripada tidak terhalang sama sekali.” “Mereka ingin agar kita tetap di sini. Aku hampir ingin membiarkannya keluar.” Henri membuka senapan. memasukkan dua peluru. “Enam. Mari berdoa semoga mereka bisa menjaga diri mereka. “Mari berharap semoga yang lainnya selamat. Ingat apa yang mereka lakukan terhadap kita pada hari itu. Kurasa mereka berencana untuk melakukan yang sama terhadap Bumi seperti yang dulu mereka lakukan terhadap Lorien. “Berapa peluru yang bisa masuk ke sana?” tanyaku. “Berapa lama waktu kita?” “Sedikit. Mereka berdua tidak tahu harus berkata apa dalam situasi mengerikan ini. Duduk dan tidak melakukan apa-apa sama saja dengan membiarkan kehancuran. sekarang kau di sini. Semua yang kita kenal sudah mati. Bayangan seolah berkerumun di sekitar mereka. dan mereka hampir siap. “Aku harus mengambil risiko. Lalu aku teringat sesuatu yang kulupakan dalam kegemparan itu. “Mereka sudah menempatkan kita di tempat yang mereka mau. Bulu di tengah punggungnya berdiri. dan menutupnya kembali. berarti mantra pelindungnya patah. Pertanyaannya. kita bersama. “Tunggu. “Kenapa mereka tidak memecahkan jendela dan masuk? Mereka tahu kita kalah jumlah.” kata Henri kepadanya.” pinta Sarah. kau ada di sini. Aku menghampiri mereka.” kata Henri.” katanya. “Itu satu- satunya harapan kita. mendengarkan suara-suara itu dengan konsentrasi tinggi. Kami semua bergegas ke jendela namun tidak dapat melihat apa yang terjadi. Karena sinar di tanganku menyala. Kemudian dia menghampiri dan berjongkok untuk mengelus Bernie Kosar. termasuk trukku. “Kau tak tahu?” “Tahu apa?” Seringainya semakin lebar. kita terpaksa jalan kaki. “Kau benar-benar tak tahu?” “Tidak. “Waktunya sudah tiba. Nomor Enam bisa melihat Bernie Kosar dengan baik. diremukkan. “Dengan atau tanpa strategi. gugup mendengar nada suara Nomor Enam yang mendesak. Sekarang Nomor Enam hanya mengenakan pakaian karet. Lemari es yang menghalangi tak bisa mencegah angin dingin masuk. Anjing itu berlari menjauhinya dan kembali ke jendela. dengan kekuatan penuh.” katanya. Nomor Enam menengadah melihatku. Aku merasa aneh melihat dia menyeringai. dan suara sesuatu dirobek.” kata Henri mengalahkan suara penghancuran itu. dan menyalak- nyalak frustrasi. lalu menyipitkan mata dan mencondongkan wajahnya. perang datang ke depan pintu kita. Kematian tak terelakkan.” kata Nomor Enam. Dia berdiri di tengah-tengah kami dengan tenang dan percaya diri.” Teror menyelimuti wajah Mark dan Sarah.” kata Nomor Enam sambil mengangguk ke arah Sarah. Bernie Kosar berdiri di dekat pintu. “Mereka menghancurkan semua mobil di luar sana. Dia satu-satunya yang tetap tenang dalam situasi penuh teror yang kami alami hingga saat ini. “Aku setuju denganmu.” E E ANGIN DARI JENDELA YANG TERBUKA BEREMBUS masuk ke dalam kelas tata boga. Kemudian dia mengangguk paham. “Kita tak bisa buang-buang waktu lagi. Aku menyalakan tangan dan menyorotkannya ke luar ke halaman. “Sinarmu.” Henri mengangkat kepala dan memandang kami. Aku berbalik dan memandang Nomor Enam. Enam.” “Namanya Sarah. menggaruk lemari es yang menghalanginya. Henri . Sekolah dikepung. Tampaknya dia orang yang paling mantap.langsung tahu jika mereka tidak selamat. Lalu Nomor Enam kembali memandang Bernie Kosar. Suara ledakan keras itu diikuti dengan sejumlah letusan. menggaruk- garuk jendela. Aku duduk di kursi di dekatnya. Kita tidak mengundangnya.” kataku. “Apa yang terjadi?” tanyaku. Itu membuatku kesal. Nomor Enam malah menyeringai.” katanya. Dia menatap Bernie Kosar.” katanya. hampir pasti terjadi. Seluruh pakaian itu berwarna hitam dengan sebuah garis abu-abu yang membelah miring di bagian depan. Melihatnya membuatku berpikir seandainya aku juga memiliki pakaian Loric. tapi disela oleh suara ledakan keras di luar. “Apa?” tanyaku. dan dihancurkan. menggeram-geram. Cahaya dari tanganku hanya bisa menyinari sejauh tiga meter sebelum akhirnya ditelan kegelapan. “Jika kita bisa bertahan hidup dan keluar dari sekolah ini. Henri mundur dan memiringkan kepala. Dia bilang kita bisa keluar lewat gedung olahraga. Dia membuka mulut untuk berbicara. kita tidak punya pilihan lain selain menyambutnya. dengan gagah. Aku memandang Henri. Dan bagi kita.” kata Henri. Bagian putih matanya berkilau di ruangan yang gelap. Tapi karena perang sudah ada di sini. “Anjingmu. Sekolah sendiri sudah terasa dingin karena listrik padam. menggeram dan mendengking tak sabar. kita harus pergi sebelum para prajurit dan hewan buas tiba. “Kau benar. Lalu. “Kita harus keluar dari sekolah sialan ini. Aku tidak mau dikurung di ruangan ini lebih lama lagi. Aku menutup mata dan menarik napas dalam. Lalu Henri menutup dan mengunci Peti. sebelum berhasil mengucapkan sepatah kata pun.” kataku. Mereka tidak menjaga lubang di panggung. melalui jalan yang tadi dilaluinya. Aku memadamkan sinar dan mengepalkan tangan. dan membuat rencana untuk menghancurkan kami. “Mereka sudah menghancurkan semua mobil di tempat parkir. Mobil di luar tadi mungkin prajurit Mogadorian pertama yang tiba di tempat ini. mungkin pelatih atau guru. lalu pergi cepat- cepat. Tapi. Sesuatu tentang mobil di luar membuat hatiku panas. tapi dia sudah dikalahkan. Henri menurunkan senapan. Aku tidak tahu kerikil apa itu. Kurasa itu berarti yang lainnya sudah di kota ini. Henri merogoh ke dalam dan mengeluarkan beberapa kerikil bulat kecil yang kemudian dimasukkannya ke dalam saku. Seperti sebelumnya. Henri mengangkat senapan dan mengokangnya. Aku menghitung ada tujuh pengintai di luar dan ada lima pengintai di dalam. dia memasukkan Peti Loric ke dalam oven dan menutup pintunya.” kata Henri kepada mereka berdua. Dia setengah tertawa lalu membuka mulut untuk berbicara. Nomor Enam berjalan masuk. Saat aku berpikir begitu. Mobil lain. Nomor Enam mengangguk tak tenang. Aku membantu Henri membuka peti itu.menggelengkan kepala ke arah Nomor Enam. “Apa?” Nomor Enam memandangku lalu Henri. . mereka memindahkan rongsokan- rongsokan mobil untuk memblokir semua pintu agar tidak bisa dibuka. Tiga ketukan ringan di pintu. Ada satu pengintai di luar pintu ruangan ini.” Henri berdiri dan meraih Peti Loric lalu mengangguk ke arahku. “Mungkin bukan apa-apa. dengan segala sesuatu yang terjadi sejak melompat menerobos jendela kepala sekolah. “Peti itu aman di sini. kami melihat sinar redup lampu depan mobil berbelok di jalan dan masuk ke halaman parkir sekolah. Sarah juga benar. Itu kode agar kami tahu bahwa Nomor Enamlah yang datang dan bukan Mogadorian pengintai yang berusaha masuk. menunggu.” kataku. Aku memindahkan lemari es ke depan oven agar tidak bisa dibuka. sih?” tanyaku.” kata Henri kepadaku. entah bagaimana. “Padamkan sinarmu. Kami tidak mengucapkan sepatah kata pun. Nomor Enam membuat dirinya tak terlihat dan menyelinap ke luar untuk menjelajah. walaupun tahu para Mogadorian ada di luar sana. Kami mengikuti. dengan senapan diarahkan ke pintu. Persetan dengan rasa lelah.” kata Henri. kalian berdua harus kembali ke sekolah ini dan bersembunyi. artinya mereka pasti tidak jauh dari sini. Tidak ada pilihan lain. Aku memindahkan salah satu lemari es untuk menghalangi pintu di belakangnya. enam meter dari pintu. Dia pergi selama sepuluh menit. Tapi jika keadaannya parah. Setelah itu. *** Henri duduk di kursi. “Apa. “Aku tak tahu apa yang akan terjadi di luar sana.” kata Henri. Peti itu berat.” katanya kepada Henri. Kami harus keluar dari sini dan tidak mungkin bertempur sambil membawa peti. lalu memandang Sarah dan Mark. menggelengkan kepala. dia melihat sesuatu dan berlari ke jendela. Bayangan Mogadorian mendapatkan Peti Loric mencemaskan mereka berdua. Kami hanya menanti hingga dia kembali. Dia bernapas dengan pelan walaupun tegang. “Aku tak suka meninggalkannya. berjaga di lorong. Tampaknya mereka mulai gelisah. Aku bisa melihat otot-otot rahangnya mengencang. “Ini bukan pertempuran kalian. kami melihat cahaya lampu mobil itu mundur dari tempat parkir. ” Nomor Enam memegang kenop pintu. Kami hanya bisa mendengar suara langkah kaki kami. “Aku tidak bisa membuat kalian semua tak terlihat. gunting. Lagi pula. “Aku tak akan jauh-jauh.Mereka tidak mengejar kalian. Gedung olahraga ada di balik pintu ganda sekitar dua belas meter di kanan.” Pintu mengayun terbuka. tapi bukan berarti mereka tidak akan ada di sana. Benda apa pun yang tadi menghantamku memukulku lagi. mengayunkan palu besar di atas kepalanya. aku melihat pengintai lain.” kata Henri. Suaranya terdengar panik. Nomor Enam memindahkan lemari es dari pintu. Aku mengikuti mereka. kupikir mereka tidak akan mau repot-repot mencari kalian jika mereka sudah menangkap kami. Namun Henri. meremas tanganku sekuat mungkin. Bernie Kosar berlari di depan kami semua. “Sialan.” kata Nomor Enam. memegang kayu sepanjang dua meter yang pastilah ditemukannya di kelas seni kerajinan. dan itu kesalahan pertama yang kubuat. lebih dulu menembakkan senapan. sambil menggeram. gemetar di sampingku. diikuti bunyi gedebuk di igaku dan aku tersedak. Aku memegang tangan Sarah. Pintu kelas di kananku berayun terbuka. Si Mogadorian menyerbu ke depan. dan lenyap dari pandangan. Bernie Kosar sudah tiba di persimpangan.” kataku.” kata Nomor Enam. Nomor Enam melompat keluar ke lorong. Henri mengarahkan senapan ke sisi lorong yang satu. Lalu dari sudut mataku. Pengintai itu berdiri di pintu yang tadi. “Aku tidak tahu. Sisa tubuhnya berubah menjadi abu sebelum jatuh ke lantai. Sarah menjerit. Bernie Kosar langsung mulai menggaruk pintu. Benda . Henri di depan. Sarah menarik napas panjang. Aku bisa melihat pisau di tangan kanannya bergetar. Kepalaku luka. Kepala si pengintai hancur. meledak berkeping-keping. Aku langsung terlempar dan menabrak kaca lemari pajang. Napasnya berat. lalu ke sisi yang lain. yang berdiri enam meter dari kami. “Pintunya ada di tengah-tengah panggung. Aku melakukannya. “Tapi. Henri menurunkan senapannya. “Tetap di dekatku.” kataku. aku masih ada di dekat kalian. “Nyalakan sinarmu!” teriak Henri. bahuku dihantam sesuatu yang berat. Sebelum aku sempat bereaksi. Segalanya terjadi begitu cepat.” “Jadi kita hanya perlu pergi keluar dan mencoba menghindari mereka?” tanya Sarah. Satu Mogadorian pengintai berdiri di depanku. Lorong itu kosong. Aku menyalakan sinar di tanganku untuk memandu jalan. Kami berlari ke arah gedung olahraga.” kataku. Mark sudah menghiasi ikat pinggangnya dengan berbagai benda dari laci dapur yang bisa digunakan―pisau- pisau. Dia mengangkat kayu itu untuk memukulku lagi. “Semua akan baik-baik saja. parutan keju. Dia berlari kencang dengan ganas. Nomor Enam mengikutinya dan membuat dirinya tak terlihat. Aku menyuruh Mark dan Sarah berlari di depanku. Henri berjalan menghampiriku. Aku melemparkan benda entah apa yang ada di dekatku dengan telekinesis. “Bagaimana kau tahu?” katanya menuntut. Dia gemetaran. “Dari sini kita ke kiri hingga tiba di ujung lorong. Keduanya memegang pisau erat-erat dengan tangan kanan hingga buku-buku jari mereka memutih. Henri mengikuti di belakangnya. palu daging. “Tertutup karpet biru. Tidak ada pengintai di gedung itu.” katanya saat melihat darah. Darah langsung mengalir di pelipisku. Sinarku padam. “Itu satu-satunya kesempatan kita.” kataku kepada Henri. berusaha keluar. jika aku tak terlihat. Kami tidak bisa melihat apa pun.” Baik Sarah maupun Mark tampak ketakutan. Kemudian Henri mengembalikan pisau itu kepada Sarah. Hanya angin. Nomor Enam memandang Henri dan mengangguk. Aku memadamkan sinarku. Aku tersenyum. Dia membuka pintu beberapa senti agar bisa menjulurkan kepala ke luar dan memandang . Ada tangga pendek yang mengarah ke sepasang pintu logam di atas. “Sebentar!” aku balas berteriak. “Kau duluan. Aku merangkak ke lubang lalu menurunkan kaki ke tangga. Mark membungkuk dan memungut benda yang tadi kulemparkan. Lalu dia membuat dirinya tak terlihat. Dan Nomor Enam membuat dirinya kembali terlihat.” Kami bergegas menyusuri lorong dan memasuki gedung olahraga. yang langsung berubah menjadi tumpukan abu.” kataku. lalu melompat ke panggung. “Tak jauh dari lapangan football. Wajah kami semua penuh keringat.” panggil Henri dari bawah. dengan ibu jari dan jari telunjuk. Kami tiba di ujung. Aku menunggu.” kata Sarah. aku baik-baik saja. “Aku mendapatkannya bulan lalu. menutup dan mengunci pintu. “Di mana kau?” Saat aku tak punya pilihan lain selain menyerah. sadar bahwa dengan begitu para Mogadorian bisa mengetahui posisiku. John. “Ini!” teriakku sambil memberikan Bernie Kosar ke Nomor Enam. berlari melintasi lapangan. Benda itu sudah pecah menjadi tiga bagian. Nomor Enam menggelengkan kepala.” kata Henri sambil menuruni tangga untuk memastikan keadaan aman.” Aku berdiri. Nomor Enam memimpin. “Pintu itu mengarah ke mana?” tanyaku. Mark. lalu menyalakan sinarku seterang mungkin. Aku menunggu. ngeri. Sarah memegang pisau itu di depannya. Henri.berkilat keemasan membelah udara dengan ganas dan menghantam si pengintai dengan sangat kuat sehingga tengkoraknya retak. “Ini piala football-ku. ketika aku beranjak turun. Lalu Sarah dan Mark turun. Nomor Enam turun. “Kau baik-baik saja?” tanya Henri sambil memandangi luka di kepalaku. “Oke. “Ayo. Bernie Kosar melompat ke panggung lalu ke pelukanku. dan rasa takut. Bernie Kosar muncul di ujung gedung olahraga dan berlari menghampiriku dengan telinga menempel di samping kepalanya. “Belakang tempat parkir guru. Bagian atas tubuhku masih di atas panggung. “Ayolah!” kataku kepada diri sendiri. Kemudian pintu di lantai panggung terbuka sendiri. Aku melompat turun. “Yeah. Si pengintai jatuh ke lantai dan diam tak bergerak. Nomor Enam menunggu hingga semuanya tiba.” Nomor Enam menempelkan telinga ke celah kecil di antara kedua pintu yang tertutup itu untuk mendengarkan suara di luar. “Apa yang tadi terjadi di sana?” tanyanya. Ternyata aku menabrak lemari piala. debu.” kata Nomor Enam. Dinding dari lantai lubang itu terbuat dari semen dan berbau jamur. Si pengintai masih hidup. Ayo jalan. dan Sarah bergegas menghampiri. Aku bersiul sekeras yang kubisa. Aku menyalakan sinarku dan melihat karpet biru bergeser sendiri. “Ayo!” kali ini Henri berteriak. Panjang terowongan itu sekitar tiga puluh meter dan aku tidak tahu apa kegunaannya. Kami harus berjalan sambil menunduk agar kepala kami tidak terantuk. Henri mengambil pisau Sarah lalu menghunjamkannya ke dada si pengintai. meninggalkanku sendirian di panggung. “Sedikit masalah. “Di mana Bernie?” tanyaku.” katanya sambil terkekeh sendiri. Kami keluar satu per satu. Henri menembakkan senapan beberapa kali. Mogadorian itu berubah menjadi setumpuk abu yang menyelimuti wajah Bernie Kosar. Namun geramannya semakin galak. Dia berdiri sekitar sembilan meter dari kami. dan melemparkan belati ke arahku. “Kembali ke terowongan!” teriakku kepada Mark dan Sarah. Bernie Kosar sudah menjatuhkan satu Mogadorian ke tanah dan menghunjamkan giginya ke leher si Mogadorian begitu dalam. Aku menangkis belati itu. Dia berlari menyerbu ke depan sekitar tiga puluh meter. suaranya bergaung.berkeliling. Aku khawatir ini terakhir kalinya aku melihat Bernie Kosar. Bunyi guntur memecah keheningan dan badai mulai terbentuk. Si pengintai berubah menjadi abu di dasar pohon itu. lalu melompat ke udara. kedua tangannya diangkat. Bahkan pepohonan di hutan di sebelah kanan kami pun diam tak bergerak. langsung berdiri. wajahnya penuh konsentrasi. Guntur berbunyi begitu keras sehingga Sarah terlompat setiap kali guntur berbunyi. menunggu. menghantam mati para pengintai di tempat mereka berdiri. lalu berlari dan mengejar pengintai terdekat hingga mereka berdua hilang di hutan yang jaraknya lima puluh meter dari situ. Bernie bersin sekali. Henri berdiri di samping. Halilintar mulai menyambar. membuat ledakan-ledakan abu di halaman. Aku hampir menangkisnya namun ternyata itu Sarah. Dia yang membuat badai itu. memasukkan peluru ke dalam senapan. Kami semua menoleh ke arah Bernie Kosar menggeram. Si pengintai yang dicekik Bernie Kosar akhirnya menyerah pada kematian. Namun kami tidak melihat sesuatu apa pun bergerak. Kilatan petir dan guntur membelah langit malam. tapi aku tahu jika aku melakukan itu mereka akan lebih mudah menemukan kami. Segera saja kami bisa melihat mereka semua. Dua tangan menarikku dari belakang. Tak kurang dari dua puluh Mogadorian mulai mendekat. matanya menatap langit. Dia jatuh ke tanah dengan bergedebuk. “Kau harus kembali ke sekolah. Aku maju ke depan Sarah. Bernie Kosar mulai menggeram. mendengarkan. Kemudian mengangkat si pengintai lagi dan melemparkannya lebih kuat lagi. mengguncangkan abu dari badannya. semakin mengancam. Nomor Enam muncul kembali. Salah satu pengintai Mogadorian menyerbu ke arahku. Dia mengendalikan cuaca. dia pun mendorong pintu itu hingga terbuka. Aku berpikir untuk menyalakan sinarku. yang langsung tampak seolah mantra tak terlihatnya rusak. “Kembali ke sekolah!” teriakku. lalu ke arah yang lain. Bernie Kosar berlari. Nomor Enam tak terlihat di mana pun. Awan gelap berkumpul di atas kepala. Matanya menyala-nyala. Bahkan tidak ada langit. Tiba-tiba.” kataku kepada . Dia langsung menembak jatuh dua pengintai. Nomor Enam melihat ke arah yang satu. Aku sadar dia merasakan sesuatu di luar sana. dan menancapkan giginya dalam-dalam ke salah satu pengintai tak terlihat. Aku memandang berkeliling. di bawah semacam kubah yang hanya berisi kegelapan. Aku mengangkat pengintai itu ke udara lalu melemparkannya sekuat mungkin ke pohon ek yang berjarak sekitar dua puluh meter. Kami seperti berada di dalam gelembung kegelapan. Kami semua memandangnya sambil menahan napas. Puas karena tidak ada yang melihat kami. Mereka mengepung kami. Aku bisa melihat siluet ujung tumpukan rongsokan mobil di depan pintu sekolah. Awalnya pelan sehingga kupikir dia hanya tegang. Tidak ada angin. Tidak ada bintang. Segalanya tampak gelap dan hening. “Ini perangkap!” teriak Henri. Tidak ada bulan. gelisah. Sarah tidak melepaskan pegangannya. “Aku mencintaimu. Sarah menatapku seperti aku menatapnya sebelum meninggalkan kelas tata boga. Si pengintai meledak. Aku mengulurkan tangan dan merenggut pisau itu pada detik terakhir sehingga hanya tinju si Mogadorian saja yang mengenai Henri. Mark! Berjanjilah kau akan tetap bersembunyi bersama Sarah!” Mark mengangguk cepat. sehingga Henri tidak bisa membidik dengan baik.” balasku saat mereka berdua tiba di tangga terowongan. Hujan mulai turun. Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu. Mulanya aku tidak mengerti kenapa. Henri mengerang.” katanya. tanpa kepala. Darah mengucur dari perut Henri. Badai membesar. Henri mengatakan sesuatu kepada Mark. “Kau harus membawa Sarah kembali ke sekolah. kilat. terengah-engah. Kami semua berusaha mendengarkan. “Kau harus pergi sekarang. Aku menengok berkeliling. Walaupun kami sudah membunuh setidaknya sepuluh dari mereka. Si pengintai jatuh.” “Aku bisa membantu.” kata Mark. Dia tampak kesulitan mengontrol badai itu. Berjanjilah.Sarah. Mata pisaunya berkilauan dengan darah Henri. Mereka tidak berminat lagi untuk menyerang karena tahu bahwa dua dari kami sudah mundur dan yang ketiga terluka. Henri menutup senapan. Si Mogadorian mencabut belati itu. Nomor Enam masih mengarahkan tangan ke langit. Aku tahu Sarah bisa terus seperti itu selamanya. Henri berteriak kesakitan. Aku berbalik. angin mulai menderu. Mereka bergulat. “Henri.” teriakku untuk menarik perhatiannya. mengumpulkan tenaga. Guntur. Tapi semua pengintai sudah pindah ke bagian yang gelap. Mark menendang belati si pengintai. Dia mengayunkan belati itu. yang masih mengisi senapannya. Sarah mencium bibirku. Aku menengadah tapi tidak melihat Mark. Secepat badai itu dimulai. namun Mark berhasil menerjangnya lebih dulu. “Aku juga mencintaimu. Mereka menginginkanku. apa pun yang terjadi!” Aku berteriak mengatasi gemuruh badai. lalu menekankan laras senapan ke dagu si pengintai dan menembak. jelas mengarah ke tempat kami. Angin berhenti bertiup. Kau harus sembunyi! Kembali ke sekolah dan sembunyi bersama Sarah!” “Oke. lalu aku melihat apa yang terjadi: Satu Mogadorian pengintai mengendap-endap menghampiri Henri tanpa dia sadari. Mark berlari menghampiri. tangannya memegang wajahku dengan kuat. Para pengintai keluar dari kegelapan dan mulai tertawa. Suara geraman itu membesar. Aku mengangkat tangan untuk menghentikan si pengintai yang mengacungkan belati tinggi di udara. “Aku berjanji!” Sarah menangis. “Kau harus tetap bersembunyi. Salah satu pengintai telah menghunjamkan belati ke perut Henri. Nomor Enam menurunkan tangannya. Guntur dan badai musim dingin di bulan Januari. “Ini bukan pertempuranmu.” kata Sarah. dan hujan berhenti. Bahkan para Mogadorian pun menoleh. jauh dari kami. . Aku berteriak kepada Mark lagi. Mark menarik Sarah. deras dan dingin. Tidak ada waktu untuk menenangkannya. Dia seolah berpikir bahwa ini terakhir kalinya dia melihatku dan ingin mengingatnya seumur hidup. Suara geraman itu terdengar seperti bunyi mesin. menuntunnya pergi. Henri menembak. ingin menikam Henri untuk kedua kalinya. secepat itu pula badai itu berhenti. Mark!” teriakku. Terdengar halilintar menyambar dan letusan senapan. Lalu dari kejauhan terdengar suara geraman rendah. Aku merasakan ngeri. Aku melihat Mark berlari ke arah Henri. Dia mengarahkan senapan ke kegelapan. Kau harus bersembunyi. Aku langsung basah kuyup. “Mereka tidak akan mengejar kalian. Saat Henri menutup Peti dan menyimpannya di tempat yang sama seperti sebelumnya. aku tidak tahu apakah itu mobil atau truk. Rasa sakitnya jauh lebih besar daripada apa yang pernah kurasakan sebelumnya. kemudian melaju kembali tanpa berbelok ke dalam. rambutnya basah dan menempel di samping wajahnya.” Henri mengokang senapan dan menarik napas dalam. Henri diam. Kemudian terdengar suara logam. Dia panik. ya?” Henri bertanya kepada Enam. Napasnya berat. Muatan hidup.” katanya. Para pengintai saling mengangguk. aku menggeser lemari es dan mengambil Peti Loric. Henri berjalan pincang. mengambil senapan. memaksa kami kembali ke sekolah. sehingga aku merasa lega. menaiki panggung. Kunci gerbang dibuka. Terdengar raungan dari luar. Aku berteriak memanggil Bernie Kosar. Saat sampai di ruang tata boga. aku memandang ke luar jendela. keningnya berkeringat. “Hewan buas. Asap itu masih membubung. Saat selesai. menyeberangi gedung olahraga.” katanya. Henri menghela napas. dan membentuk lingkaran mengelilingi kami. Mereka di sini. Nomor Enam menekankan batu itu ke luka di kepalaku. Lalu. Itu cara mereka mengangkut hewan buas. Tapi jika ini perang. Kuharap Mark memegang janjinya dan mereka tetap bersembunyi. senapannya tergantung lemah di sampingnya. Nomor Enam mengambil batu penyembuh dan menghunjamkannya ke perut Henri. menahan napas. “Kita tak bisa menunggunya.” katanya. asap membubung di atas pepohonan seolah ada sebuah mesin uap yang datang dari belokan. Raungan itu keras. celakalah jika aku mati tanpa perlawanan.” kata Henri. Nomor Enam menghampiri. “Tak ada waktu. Sepasang lampu depan mobil lewat di sekolah. “Apa itu?” tanyaku. “Para Lorien melawan hingga titik darah penghabisan. setiap otot di tubuhku tegang. kali ini…. Lampu itu melambat saat lewat di gerbang sekolah. aku membungkuk dan terengah-engah selama satu menit. tersenyum jahat. Aku mengerang dan merintih. Henri dan aku membukanya. pikirku. Kami bergegas menyusuri terowongan. Henri menurunkan kemejanya. dengan menggunakan truk besar. Dari kejauhan. maka terjadilah. Suara sesuatu dibanting menyadarkan . Di luar. Tapi dia tak terlihat.” Nomor Enam mengangguk. seperti raungan hewan dan mengancam. Luka Henri sembuh. Kami tidak melihat satu pengintai pun. Aku tidak bisa bernapas hingga semuanya selesai. sebuah suara membuat kami bertiga terpaku. Seperti sebelumnya. Kami juga tidak melihat Mark dan Sarah. Satu menit berlalu.” Aku memandang berkeliling sekali lagi.” katanya. bunyi mesin itu sudah berhenti. “Yah. Aku. “Itu yang lainnya. “Perang yang sesungguhnya dimulai. berharap melihat Bernie Kosar. dilepaskan. Nomor Enam memandang Henri. Kuharap mereka bersembunyi dengan baik. tidak seperti apa pun yang pernah kudengar. tapi anjing itu tak tampak. Begitu juga aku. “Aku tidak tahu dengan kalian berdua. tapi dia tidak bersuara sedikit pun. Saat kami berjalan ke pintu. “Dan para prajurit. Truk pengangkut itu tidak terlihat. Wajahnya merah karena sakit. Dan jelas hanya itu satu-satunya yang bisa kami lakukan. lalu membanting pintu hingga tertutup. Ada luka di pipi di bawah mata kanannya dan ada lingkaran darah di sweater abu-abunya akibat belati tadi.jumlah mereka saat ini lebih banyak dibandingkan tadi. dan gerbang pun dibuka. Nomor Enam dan aku mengikuti Henri kembali ke tangga. Lalu giliranku. Nomor Enam mencabut batu itu. matanya tertutup. lalu suaranya melirih. harapan itu selalu ada. seolah kalah dalam pertempuran. Musang-musang. “Dengar. Aku menggelengkan kepala. Tanah bergetar diinjak para hewan buas yang sekarang pastilah sudah dilepaskan. Bukan hanya satu hewan buas.” kata Nomor Enam. “Hewan buas itu berhenti bergerak. “Pegang tanganku.” kata Henri. membekukan darah. Pintu itu melonjak-lonjak. “Apa itu?” tanyaku. Saat tiba di tengah lapangan. Aku menoleh tapi tidak bisa melihat. perkembangan terbaru yang kurasa tidak pernah terbayangkan baik oleh aku ataupun Henri. Suara salakan bernada tinggi yang tampaknya berasal dari hewan-hewan berukuran kecil. “Sepelan mungkin. “Demi teman-temanmu dan kita. menyalakan tanganku. Dia mengutip kata- kata yang sama seperti yang pernah dikatakannya kepadaku saat aku putus asa. kita mungkin bisa kabur jika kita tetap tak terlihat. “Selalu ada harapan. terdengar raungan lain. Pada hari itu aku bertanya bagaimana mungkin kami bisa memenangkan pertarungan melawan para Mogadorian. yang tampaknya menyukai peperangan dan kematian padahal kami sendirian dan kalah jumlah. Henri memandang Nomor Enam. Henri menggelengkan kepala dan mendesah putus asa. Tidak ada tanda-tanda adanya pengintai.” kata Henri. Kami berhenti.” Henri mengangguk. Saat raungan itu masih terdengar. Jangan putus asa.” kata Henri. Tampaknya sesuatu berusaha mendobrak pintu tapi tidak cukup kuat. “Sst. ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia.kami kembali.” Aku berusaha mendengarkan. Namun aku tidak mendengar apa pun selain dengungan darah di telingaku. “Kenapa kita berhenti?” bisikku. Aku menarik napas dalam.” kata Henri. Aku melihatnya sedikit tersenyum.” Nomor Enam mengangguk. Raungan lagi.” “Tepat. Kita belum mendapatkan semua informasi. Henri membidikkan senapan. Aku melepaskan tangan Nomor Enam. bergerak secepat mungkin dengan sehening mungkin.” Tanpa perlu disuruh lagi. “Apa pun yang kita hadapi. walaupun jelas semakin keras. “Jangan pernah berputus asa. Saat kau pikir semua telah berakhir. Lorong itu gelap dan hening. “Nyalakan sinarmu. “Di luar sana ada yang lain. “Harapan kita satu-satunya hanyalah masuk ke hutan. serta jauh dari rumah.” kataku. hewan .” Lalu aku mendengarnya. segalanya pun musnah. F RAUNGAN LAIN MEMBELAH MALAM. tapi dua. pikirku. Siapa tahu lebih banyak dari kami yang juga saling mencari? Lalu Henri melanjutkan kata-kataku. “Kita belum melihat perkembangan terbaru.” kataku. “Saat kau kehilangan harapan. Sesuatu mulai membentur-bentur pintu di panggung. Henri dan aku memegang tangan Nomor Enam. Dari kenangan tentang kilas balik perang di Lorien. Henri. MENEMBUS dinding-dinding sekolah. “Lalu?” “Sst. aku tahu pasti sebesar apa hewan-hewan itu. pintu yang kami harap bisa kami gunakan untuk kabur.” Kami saling mengangguk.” kata Henri. “sebaiknya kita pergi dari sekolah selagi masih ada waktu. Kami berjalan pelan- pelan. Henri menoleh memandangku. Suara itu teredam.” katanya. Henri berhenti.” katanya. Mereka akan menghancurkan seluruh gedung ini demi menangkap kita. dan mengarahkannya ke panggung. Kami terus berjalan dan masuk ke gedung olahraga. ke Henri!” Aku meronta dalam cengkeraman Nomor Enam. Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi. Hewan buas itu meraung keras menenggelamkan suara apa pun. Henri hilang. “Ke Henri. “Lari!” teriak Henri sambil memuntahkan semua peluru di senapan itu ke arah di hewan buas raksasa. “Henri!” teriakku. Aku berdiri dan berlari secepat mungkin ke bagian belakang gedung olahraga. Salah satu dari mereka menghantam pintu begitu keras sehingga pintu itu terlontar dari panggung dan jatuh berdebam di lantai. Ke hutan. mereka berlari ke arah kami dengan begitu cepat sehingga aku tidak bisa melihatnya. Nomor Enam tetap tak terlihat. jika memang Henri menjawab. membuatku tak terlihat. mengikuti bagaikan hantu . yang satu ke arah Henri. “Ke Henri. Dampak hantamannya membuat aku dan Henri terpental ke belakang. lalu melompat dari jarak enam meter. Hewan itu langsung mati. membuatku terlontar ke tribun yang jaraknya enam meter. Aku melompati tumpukan puing-puing dan berlari menjauhi sekolah. Sebuah tangan meraih dan memegangku. “Tidak!” jeritku. Yang kutahu hanya sekarang ini aku sendirian. menjulang di atas Henri. Aku hanya bisa memandang. “Yah. kata Nomor Enam. Henri berdiri memandangi sambil membidikkan senapan. seluruh dinding di sepanjang panggung dihantam oleh tinju seekor hewan buas. musang itu ditangkap oleh tangan Nomor Enam yang tak terlihat dan dihantamkan ke lantai seperti menghunjamkan bola football. Hewan buas itu mencondongkan tubuh ke depan dan meraung sangat keras sehingga aku bisa merasakan bajuku berkibar. itu tak terlalu buruk. Henri menembak satu kali. Tinjunya yang besar dan berotot diayunkan tinggi ke udara. yang hanya berdiri diam dan memandanginya. berlari lurus ke arah Henri. Akhirnya aku berhasil memegang kemudian mendorongnya. Pergi ke hutan. Musang itu meledak dan menutupi Henri dengan darah dan isi perutnya. Henri mengokang senapan. mungkin dua belas meter. Kemudian tinju itu turun. Tak ada peluru. Dia berdiri di sana dengan senapan tergantung di sampingnya. begitu tinggi sehingga menerobos kasau dan atap gedung olahraga. Hewan itu melangkah ke arahku. menghancurkan panggung sehingga kami bisa melihat langit malam. Hewan buas itu menyerbu ke arah Henri. Hewan itu berdiri setinggi sembilan. Sebelum aku bisa menjawab. Tidak. Kegelapan merubungiku. “Ke Henri!” teriakku lagi. Mungkin Nomor Enam melakukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.” katanya. Kedua hewan itu berlari ke arah yang berbeda. berlari secepat mungkin ke hutan. yang tadi dihancurkan hewan itu. Kedua musang itu melompat ke depan. Aku tidak bisa berpaling.kecil bertubuh gemuk yang ditakuti para penulis di Athens. satu lagi ke arahku. dengan begitu cepat sehingga tampak kabur bagaikan baling-baling kipas angin yang berputar. tahu bahwa Henri akan dihancurkan. Hewan itu mundur dan meninju lagi. matanya penuh kemarahan. Padahal kupikir mereka kurang kuat. menghalangi pandanganku ke tempat Henri tadi berdiri. Hewan itu meraung. meringis senang. Aku menjadi terlihat kembali. Hewan buas itu menyerbu ke depan. Begitu melihat kami. Aku menoleh untuk melihat apakah hewan itu mengikutiku. menghancurkan kayu hingga berkeping-keping. Tak ada pilihan. Hewan buas itu berbalik ke arahku. Aku menjerit ngeri. Enam!” “Ke hutan!” balas Nomor Enam. Henri tampak begitu kecil. Tinju itu menghantam lantai gedung olahraga. Pada saat aku akan merobek musang kedua menggunakan telekinesis. Tidak ada pengaruhnya. Saat tinju hewan buas itu hampir mengenainya. Prajurit. Namun kemudian sesuatu melangkah keluar dari kegelapan dan menyeringai. sesuatu yang keras memukul belakang kepalaku. tampak seperti belati kecil. Kami saling tatap. Aku mencapai pepohonan. mengumpulkan kekuatan. satu-satunya warna abu-abu di dunia yang putih. Aku berbalik. Pepohonan berdiri bagai patung-patung kuno yang berbisik bahwa dulu dunia pernah berada di suatu alam lain yang hanya dihuni kegelapan. Aku sudah pernah mengangkat benda yang jauh lebih berat daripada ini. Seluruh gedung olahraga sudah hancur. Hewan buas itu meraung dan terdengar suara dinding lain hancur. terbuat dari suatu logarn yang belum pernah kulihat baik di Bumi ataupun di Lorien. Mark dan Sarah ada di suatu tempat di sana. Sepatu bot hitam. Aku jatuh ke lumpur dengan wajah terlebih dahulu.jahat. Untuk sesaat pohon itu beriak seolah terbuat dari cairan. Kerumunan kegelapan seolah hilang. Tidak ada suara. Jadi seperti ini tampang prajurit Mogadorian. Sinarnya memantraiku sehingga aku tidak bisa mengalihkan pandangan. Matanya menyipit. Seperti raksasa. Seringai percaya diri. yang berjarak enam atau sembilan meter. mungkin malah dua setengah meter―dengan otot-otot yang menonjol dari balik jubah hitam. Aku menarik napas dalam. meninggalkan jejak di belakangnya seperti asap pesawat. Tanganku berlumuran darah. Awalnya aku tidak melihat apa- apa. Aku memandang belati itu melengkung. Tidak ada dinding. Kulit pucat dan licin seperti pengintai. Aku tidak mengira bahwa hewan buas itu akan tetap menghancurkan sekolah walaupun aku tidak ada di sana. Salah satu tangannya memegang pedang. Prajurit itu berjarak tiga meter. Dunia menjadi hampa dan tanpa suara. Kuhirup napas dalam-dalam. menetes dan ujung jariku. Di sini ada angin! Aku berhasil kabur dari kubah apa pun yang dibuat para Mogadorian. Lebih tinggi daripada pengintai―dua meter. Aku mulai merangkak menjauh. Dia tidak mengenakan penutup kepala. Bayangan hewan buas itu menjulang di atas puing-puing kantin. seakan-akan hidup. Perlahan-lahan berbagai bentuk mulai terlihat kembali. Pepohonan bergoyang ditiup angin. Rambut panjang menjuntai ke bahu. Aku juga sudah pernah membelah pohon dan . aku bisa melihat bentuk prajurit itu. Tidak ada lantai atau langit-langit. Siluet sekolah tampak suram dari tempatku berdiri. Aku mengulurkan tangan untuk meraba pohon terdekat. Lalu suatu benda keluar dari ujung pedang. Aku menyuruh mereka kembali dan sekarang aku sadar betapa bodohnya diriku. Begitu melangkah. Tanganku kembali mengepal. Prajurit itu menggerak-gerakkan pedang dengan acuh tak acuh ke arahku. Aku tahu aku bisa berlari lebih cepat daripada mereka. Luka di punggung akibat peristiwa di rumah Mark James terbuka lagi. Panjang dan berkilau. Yang tersisa hanya tumpukan batu. Saat mengembuskan napas. rasa sakit kembali terasa di luka di kepalaku serta luka di lengan dan tubuhku akibat kebakaran di rumah Mark James. bertekad bulat. Kenapa hewan itu tidak mengejarku? Dan di mana hewan buas kedua yang suaranya kami dengar tadi? Hewan itu menghantamkan tinjunya lagi. Aku mengepalkan kedua tanganku. Tanganku menembus pohon itu. Perlahan-lahan. Pedangnya bersinar lebih terang di dunia baru ini. Kilatan cahaya terang meniadakan segalanya. dan satu ruangan lagi hancur. Suara air menetes datang dari suatu tempat. Aku harus melakukan sesuatu untuk mengusirnya. Darah menetes ke leherku. Aku berhenti dan mendengarkan. Urat-urat bertonjolan di sepanjang masing-masing lengannya. Hewan buas di sekolah meraung lagi. Sesuatu yang hangat berkumpul di pinggang celanaku. Aku meraih dahan pohon yang ada di dekatku dan menarik diriku berdiri. Pedang itu juga tampak berdenyut. Kusentuh kepalaku yang barusan dipukul. Tempat ini menguntungkan si Mogadorian. Orang lain pasti terbakar. Aku menghabiskan berjam-jam di halaman belakang dengan Henri untuk menghadapi ini. Aku menegangkan tubuh. Aku bisa melakukan ini. dan aku memukul tanganku ke depan. Tanpa si prajurit ketahui. tapi jari-jari itu keras bagai besi. lalu belati lain terbang dari ujungnya. Prajurit itu mengayunkan pedang ke arahku. mengayunkan pedang ke kepalaku. bersiap menghadapi sesuatu yang tak kuduga. namun tak terjadi apa pun. Saat aku akan menangkisnya. Lalu dia melemparku. Aku mencoba mengangkatnya menggunakan telekinesis. Prajurit itu menertawakanku. Pada saat yang sama. Aku mengeluarkan pisau dari saku belakangku. Mata merah si prajurit mulai berbinar. Prajurit itu mengangkat tangannya yang tidak memegang pedang. Dia bernapas dengan mulut. Aku bisa bernapas. hingga aku merasa seolah akan meledak. tidak berarti. dan lidah apinya meloncat ke arahku. Pedang yang berkilau karena tenaga. membesar dan diselubungi api. Lengan dan senjata itu menjadi satu. lalu diam. Aku berdiri. lurus ke arahku. Dengan sikap menantang si prajurit meraih ke belakang bahunya. Wajah si prajurit berubah marah. Pada hari penyerbuan Lorien. “Hanya itu yang kau bisa?” teriakku. Aku diselubungi bola api. Lalu muncullah sebuah senjata seperti meriam yang mulai menyatu dengan tubuhnya. Di dunia lain ini. berputar seakan matanya penuh dengan lava. Aku meronta. hampir tak berguna. Lalu tanpa mengerti apa yang terjadi. walaupun aku tidak pernah melihat belati di kilasan citra penyerbuan Mogadorian di Lorien. Prajurit itu tersenyum melihat kegagalanku dan mengangkat pedang dengan kedua tangan. membelit lengan si prajurit. tapi aku tidak. Apa Henri tahu para Mogadorian akan menggunakan belati? Pasti dia tahu. Prajurit itu menyerbu. Tapi aku juga tidak pemah melihat makhluk ini. kilauan berwarna perak berubah menjadi biru es. Aku mendorong semua yang kurasakan ke inti diriku. Pedang itu menjadi hidup. belati itu meledak menjadi bola api. Kami selalu menggunakan pisau.menghancurkan benda. Jarak yang memisahkan kami berdua hilang dalam sekejap mata. menyerbu ke arah si prajurit. Aku terjebak di dalamnya. Punggungku menghantam tanah dua belas meter jauhnya. aku bisa mencium bau napasnya yang busuk. Kecil. leherku ada di cengkeramannya. pikirku. kekuatanku berkurang. membuat pohon-pohon menari-nari sebentar seperti rumput tertiup angin. tapi lebih baik daripada tidak sama . mengejek. Apakah Bumi memulihkan kesehatan mereka? Apakah sumber daya Bumi membuat mereka menjadi lebih kuat dan lebih sehat? Belati itu benar-benar memekik saat menyerang ke arahku. si prajurit mengayunkan pedang di depan tubuhnya seolah memukul lalat. mereka tampak sakit dan kelaparan. “Yahhhh!” teriakku. Prajurit itu mengangkatku dengan satu tangan. semua yang merupakan diriku saat ini dan semua yang merupakan diriku nanti. pisau yang kuambil dari rumah sebelum kembali ke sekolah. kurang lebih sama dengan belati. Prajurit itu terhuyung mundur tapi tetap berdiri. Lalu entah kenapa kekuatanku kembali. Kekuatanku ditangkis ke pepohonan. Pasti aku bisa mengimbangi kekuatannya. Aku menunduk dan melawan dengan mendorongnya sekuat mungkin. seperti yang dikatakan Nomor Enam. tawanya serak dan dalam. Api biru menjilat-jilat bilah pedang itu. dunia dalam cengkeraman kekuatan kegelapan Mogadorian. Sekarang giliranku tersenyum atas kegagalannya. berusaha melepaskan jari- jarinya dari leherku. bola api itu membuatku lebih kuat. Makhluk yang kulihat di Lorien rasanya tidak seseram ini. Kekuatan meninggalkan tubuhku. Tinjuku menghantam perut si prajurit. Si prajurit mengambil ancang-ancang dan menghantamkan pedang sekuat tenaga. Rasanya seolah disambar kilat. Warna putih yang mengelilingi kami mulai memudar. Dia terhuyung. Pedang menghantamku. Dunia lain ciptaan si Mogadorian mulai runtuh. Satu demi satu pohon-pohon roboh dan berubah menjadi tumpukan abu. Berapa kali dia bisa menembak dengan itu? Angin bertiup dan debu mulai menyebar di antara kami. Aku berusaha memahami kenapa aku tidak terluka. Sarah―mereka semua mati di dunia lain ini. yang dimunculkan dengan menghancurkan elemen-elemen di dunia. Tubuhku terlempar lima belas meter ke belakang. Prajurit itu mengayunkan pedang dengan lemah. Senjata itu perlu mencuri sari pati Bumi agar bisa digunakan. mencoba membawaku bersama mereka. masih bersinar. warna-warna muncul kembali.sekali. Bola api itu ikut bersamaku. Aku berusaha berdiri. Sekarang kehidupan pohon itu dicuri. Ras alien yang menghabisi sumber daya planet mereka demi kemajuan. Tidak ada waktu untuk diam. Senjata itu. Senjata itu bersinar semakin terang. kematian yang satu untuk kematian yang lain. Lalu meriam itu ditembakkan. Bernie Kosar. Aku menjatuhkan sisa pisauku dan mengayunkan tinju sekuat mungkin. Senjata itu harus diisi sebelum bisa ditembakkan. Api di sekelilingku membakarnya di tempat dia berdiri. memanipulasi rasa takut. Senjatanya siap. Prajurit itu tahu. Si prajurit kembali tegak dan mengacungkan meriam ke udara. Warna abu-abu dari pohon ditarik dan diisap ke dalam senjata itu. Aku menghunus pisau dan berlari menyerbu. tidak cukup kuat untuk melukaiku. Kami dikelilingi tiga puluh tumpukan debu pohon yang gugur. Saat keduanya bersentuhan. Warna abu-abu itu adalah nyawa pohon itu. Pasti begitulah cara meriam itu bekerja. Sam. Prajurit itu menurunkan meriam dan membidik. Lalu aku mengerti. Mulanya aku bingung. Aku menyerbu. tapi berat pedang itu menyebabkan pisauku terbelah dua. Tubuhku gemetar seolah baru terkena setrum. Aku merunduk dan menubruk si prajurit. Aku memungutnya. Para pengintai telah belajar . terdapat belati yang tadi dilontarkan ke arahku. Namun dia langsung tegak kembali dan mengayunkan pedang itu lagi. Tidak ada waktu untuk bereaksi. Tubuh prajurit itu menegang dan dia mengerang kesakitan. tapi aku tidak bisa mengelak. Bulan kembali terlihat. namun bola energi itu terlalu besar. menyerbu ke depan dalam bentuk bola energi yang semakin lama semakin besar. Entah bagaimana. diisap oleh para Mogadorian. Alasan yang sama untuk menyerang Bumi. Bola api sudah padam. Meriam itu menghantam bahuku. menyelamatkanku dan kematian yang tak terhindarkan. Tergeletak beberapa meter di dekatku. Aku mengerang dan terlempar ke belakang. Aku mencoba menangkisnya. begitu terang sehingga mata terasa sakit saat memandangnya. Aku merunduk di bawah bilah pedang pada detik terakhir. Cahaya itu begitu terang sehingga aku bisa melihat mereka semua. terjadi ledakan yang menyebabkanku terlempar ke belakang. inti Sarinya. Pedang itu berdesing di atas rambutku. Aku mengangkat kepala. Tapi pertahananku jadi terbuka. Inilah alasan mengapa mereka menyerang Lorien. bola api itu menyerap bola energi. Warna putih terang bola energi menghantam bola api yang mengelilingiku. Si prajurit tetap mengarahkan senjata itu ke langit dan mengayunkan pedang. Meriam menyusul. Tampak kilatan cahaya terang berisi wujud mengerikan dari orang-orang yang pernah kukenal―Henri. Kekuatan pengendalian pikiran. Warna abu-abu dari pohon itu bukanlah bayangan. Aku menangkisnya dengan pisau saku itu. Aku mendarat dengan bergedebuk. Aku berbaring di sana. sekarang melakukan hal yang sama di sini. Sam. Secara naluriah tubuhku tersentak. Semua pohon yang ada di sekitar kami sudah berubah menjadi tumpukan abu seperti yang terjadi di dunia lain. Sesaat sebelumnya. Satu prajurit. di tempat itu ada sesuatu yang lain. ada sebuah lubang sebesar uang logam. Aku memandang berkeliling. Si prajurit menarik semacam tuas di samping meriam. Belati itu menancap dalam di jantungnya. Begitu cukup dekat. Prajurit itu roboh dan hancur. Aku melangkah mundur dan jatuh. Peralihan yang memusingkan. Dia menurunkan senjatanya. Di sana. Warna oranye menyerbu kencang ke arahku. Aku mendengar raungan hewan buas. Belati dan rudal itu saling melintas di udara. Tapi aku baik-baik saja. aku membidik jantungnya dan melemparkan belati sekuat mungkin. memegang pistol perak di tangan kanannya.melakukannya dengan pikiran mereka. Lalu lengan si prajurit mengejang dan suara tembakan bergema di udara. Mata si prajurit menjadi kosong. aku melihat Sam dalam wujud mayat membusuk yang bangkit dari kegelapan neraka untuk membawaku. Aku berlari ke arahnya. gagangnya berdenyut-denyut berwarna oranye di bawah sinar bulan. Aku berdiri. Aku meletakkan tangan di pohon terdekat untuk menenangkan diri dan menarik napas. Belati bersinarlah yang ikut. Belatiku menancap duluan. Dia jatuh ke tanah. jaraknya lima meter dariku. Para prajurit menggunakan senjata yang menghasilkan efek yang lebih besar. Ledakan meriam itu tidak ikut bersama kami. Meriam itu sudah diisi. Dan sekarang Sam menyelamatkanku. Aku berbalik. Saat kupikir tembakan kedua itu mengenaiku. dalam bola energi si prajurit pertama. “Aku tahu itu mereka begitu melihat truknya. persis seperti para Mogadorian saat mereka mati. Tidak ada yang bisa kulempar. di dahi prajurit itu. bersinar penuh kekuatan. berdiri tegak dengan pedang di tangan yang satu dan meriam di tangan yang lain. Aku tersenyum kepadanya. berpikir bahwa meriam itu akan membelahku jadi dua. berbaring tak bergerak. Prajurit itu terhuyung-huyung. terjadi sesuatu yang tak terduga. belati itu masuk lebih dalam dan menghilang. Darahnya yang menjijikkan menyembur dan lubang itu. tampaknya untuk mengisi meriam itu. Tapi selain gedung sekolah. Aku memandang bingung. Meriam itu meletus untuk kedua kalinya. Kemudian. walaupun efeknya lemah. lalu berputar ke dalam kepalanya. Kurasa aku tidak punya kekuatan untuk melawan yang satu ini.” katanya. . F1 Dunia ciptaan prajurit Mogadorian itu lenyap. Meriam itu dibidikkan ke jantungku. namun pohon itu tidak lagi ada di sana. Jarak di antara kami terlalu besar sehingga aku tidak mungkin berlari menyerbunya sebelum meriam itu ditembakkan. kematian menghampiriku. “Itu untuk ayahku. Darah hitam menyembur dari lukanya. tanpa bersentuhan. Si prajurit mengerang. lalu meledak menjadi awan abu yang menyelimuti sepatuku. Kuangkat kepalaku melihat sisa-sisa bangunan sekolah yang masih berdiri. Aku menatap sosok prajurit yang gelap dan menjulang di atasku. tidak terluka. Berada di dunia lain tadi membuatku lemah. “Mereka lewat tengah kota. Mungkin bukan yang terakhir. memandang kagum ke arah Sam.” terdengar suara di belakangku. mengantarkan kematian. Aku sudah membunuh satu prajurit. Mataku menyesuaikan diri dengan kurangnya cahaya. masih memegang belati yang bersinar. Dingin dan gelap kembali seolah tak pernah hilang.” Aku berusaha menarik napas. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. Prajurit lain. Dunia itu memudar. Awan mulai berdatangan dari segala penjuru. Kami berjalan tidak lebih dari lima langkah sebelum akhirnya angin bertiup menderu. Raungan kemarahan dan malapetaka. “Aku harus kembali ke sekolah!” teriakku. Dunia tampak terang dengan cahaya merah. Sekolah tampak seperti terselubungi badai. Aku memandang berkeliling tapi tidak melihat Sam. mendorong kami ke belakang. Jadi aku pergi dan parkir di tanah lapang sekitar satu kilometer dari sini. Lalu turunlah hujan yang begitu lebat sehingga aku harus memicingkan mata agar bisa melihat Sam yang berada 1. Wajah itu mulai hidup. Tapi jika aku menggigil. “Mark dan Sarah ada di suatu tempat di dalam sana. Namun kemudian aku dikerumuni para Mogadorian yang sudah ada di sini. Aku mendarat dengan bergedebuk. gelap. itu artinya aku hidup. Badai mulai terbentuk. dan biru. Wajah itu tua. Lalu aku melihat hewan buas Mogadorian disambar kilat. dan matanya dipicingkan dengan penuh kebencian. Kemudian hujan berhenti. Matanya membuka. dan kedinginan. Sam berlutut. Aku merasa lega karena itu berarti Nomor Enam masih hidup. Di bagian tengah awan itu―yang kulihat dengan susah payah―sebuah wajah mulai terbentuk. mengerikan―berputar dalam lingkaran kecil.5 meter dariku. Sesaat dunia tampak terang. Lalu mulut awan itu membuka. apa pun itu―raungan lain atau senapan Henri. Namun. Turun dengan cepat. Awan semakin rendah. Wajah itu menyeringai. Bangun. Aku berbaring di lumpur. mendengarkan detak jantungku. lalu berjalan menembus hutan. Ledakan itu mengenai sekolah. perlahan-lahan turun mendekati tanah dan mengisap segalanya. Anginnya terlalu besar. Kilat menyambar membelah langit.” jawab Sam sambil berteriak mengatasi gemuruh badai. Ledakan sonik menggetarkan tanah. tidak terdengar apa pun. Dahan-dahan dan lumpur menimpaku. “Kau datang dari mana?” “Aku membuntuti dengan truk ayahku setelah mereka melewati rumahku. Aku terlempar ke belakang. lalu tiarap agar tidak diterbangkan angin ke belakang. begitu gelap dan tak bisa ditembus cahaya sehingga sulit membayangkan bahwa di suatu tempat di sana rnasih ada matahari. Apa itu awan buatan Nomor Enam? Wajah itu tampak bagaikan perwujudan kemurkaan. menggigil. dan tenang seolah sedang tidur.” “Kalau kau pergi. menarik bibirnya sehingga giginya tampak. membersihkan lumpur dan ranting-ranting sebisa mungkin dan keluar dari hutan. Lalu wajah itu menyentuh tanah. . berkeriput. Awan menyingkir. Hari menjadi semakin gelap. Aku mencoba berdiri tapi langsung dihantam angin. Tidak ada embusan angin sedikit pun. perwujudan balas dendam. oranye. lapar. Aku bangkit dari tanah. Hujan lebat menyengat wajah kami. Aku membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Wajah yang tampak lebih tua daripada Bumi.” Lampu mobil kedua yang tadi kami lihat dari jendela di sekolah ternyata berasal dari truk Sam. Ledakan itu begitu kuat sehingga pastilah terdengar hingga delapan puluh kilometer. Tanah bergetar. Aku berteriak memanggilnya tapi tak ada jawaban. Dunia menjadi gelap. Pepohonan patah jadi dua. tapi guntur mengguncang langit. Kami basah kuyup. Aku masuk sekitar lima belas menit yang lalu. Segala sesuatu seolah di ujung tanduk.Aku mengangguk. memperlihatkan bulan. Telingaku berdenging begitu keras. Dengan mata terpicing aku melihat awan―berat. Kemurkaan luar biasa. Raungan lagi. Aku berusaha mendengar sesuatu. berjanggut. berkumpul membentuk satu awan besar. Lalu sebuah kilat besar menyambar. Raungan kesakitan terdengar. Aku melakukan yang sama. Segalanya hening. Wajah itu. aku juga pergi. Aku mendengar suara tembakan membelah malam. menghampiri. Rasanya begitu sakit sehingga aku lumpuh. Di antara kami. Raungan lain. Raungan lagi. sakit sekali. tidak salah lagi. segalanya tampak kabur. masih melawan.Bintang-bintang bermunculan kembali. Sarah dan Mark rnasih di dalam. Aku bisa merasakan belati menancap di antara tulang belikatku. Aku memandang berkeliling dan melihat sosok para Mogadorian di halaman sekolah. tapi aku tahu itu sia-sia. ke arahku. Belati itu terasa seolah bergerak. Belati itu berputar saat menancap dalam dagingku. Si Mogadorian mengangkat kakinya dan punggungku. Perutku. Tanah mulai bergetar. bahwa dia masih hidup. jauh. Si prajurit mengacungkan pedang ke udara. Pisau lain berdesing di sampingku. Kucoba meraih belati itu untuk mencabutnya. dan saat itu aku mendengarnya. Aku berharap dengan segenap hatiku bahwa suara itu berasal dari senapan Henri. membungkuk. Aku memancing hewan itu menjauhi yang lain. Jika yang lain aman. Aku berbelok ke kanan dan berlari di sepanjang jalan dengan pohon di pinggirnya yang mengarah ke lapangan football. Aku tidak bisa mencabut belati itu dengan telekinesis. Pohon-pohon hancur dan direnggut dari akarnya di belakangku. Hutan itu mengarah ke rumah kami. Aku mengangkat tangan ke depan ke arah si prajurit untuk memindahkannya. Para pengintai. Hewan buas itu membuntuti jejakku. Aku akan . Segalanya kembali seperti sebelum badai. berdiri menjulang dan tersenyum penuh rasa benci. Aku masih bisa merasakan keberadaannya dan berusaha telentang untuk menghadapinya. rnasih bersembunyi. Apakah hewan ini lebih besar dari yang satu itu? Aku tidak ingin tahu. Aku berlari ke sekolah. masuk lebih dalam. aku tidak tahu―menginjak punggungku. Entah kenapa kekuatanku seakan hilang. kali ini biru. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Belati itulah yang tadi kurasakan. Kegelapan mengikuti. belati ketiga menancap. jutaan bintang berkelap-kelip tinggi di langit malam. Saat rasa kemenangan mekar di dadaku. pedang itu mulai bercahaya dengan latar belakang kegelapan malam. Aku memiliki keuntungan di dalam hutan itu karena aku mengenalnya. pikirku. Apa kami pernah benar-benar yakin bisa menang? Sebuah belati terbang melewatiku. datang dari hutan di belakangku. Hewan itu menyusul. Hewan buas berlari. Wajah yang sama seperti prajurit sebelumnya. Aku harus kembali ke sekolah. Namun kemudian aku sadar bahwa itu tempat terburuk yang bisa kutuju. Pedang yang serupa. tapi rasa sakitnya tetap ada. bergaung begitu rupa sehingga aku tidak bisa menduga dari mana asalnya. Prajurit lain. mungkin aku bisa. tugasku selesai. Belati yang tadi menancap di punggungku sekarang ada dalam genggamannya. Belati itu hilang. namun letaknya terlalu tinggi. Salah satu prajurit―atau mungkin itu pengintai. berlari melintasi tengah lapangan. Belati itu menancap di batang pohon di sampingku dan pohon itu terbakar. Apa aku bisa melarikan diri darinya? Jika bisa mencapai hutan di seberang lapangan ini. Aku kenal hutan itu. siapa yang lebih kuat? Aku masuk ke stadion. Aku melangkah ke depan. Saat akhirnya berlari kencang ke dalam hutan. Kilatan warna merah meleset hanya beberapa senti dari wajahku. Hutan sudah dekat. Aku mengerang. dan mencabut belati. Seakan mengecap kematian. Atau setidaknya kuharap begitu. Aku mulai merangkak maju. aku tersenyum. Para prajurit. Apakah sudah berakhir? Apakah kami menang? Atau ini hanyalah ketenangan sesaat? Sekolah. Hewan-hewan itu tampaknya tidak memelankan larinya. Aku jatuh ke lumpur dengan wajah terlebih dahulu. Jumlah rnereka terlalu banyak. Kami kalah jumlah. Rasa sakitnya menyebar seolah aku diracuni. Napasku tercekat menyakitkan di tenggorokan. Lengan yang panjang dan besar tergantung 30 atau 60 senti di atas tanah saat hewan itu berdiri tegak. Hewan buas itu tidak berhenti hingga seluruh gigi-geliginya mengatup. Hewan besar dengan mata jahatnya menjulang di atas kami. pikirku. Lingkaran-lingkaran di samping kepalanya berdenyut sesuai denyut jantungnya. dan langsung berubah jadi abu. Aku mengumpulkan segenap kekuatan untuk meraih dan merenggut belati yang jatuh di kakiku. Sebuah tangan dengan jari-jari gemuk pendek dan cakar elang. Aku merasakan hewan buas itu berdiri menjulang di atasku. lalu meraung. Menanti saat gigi dan cakarnya mencabik-cabik tubuhku. Kepalanya condong ke depan sehingga rahang bawahnya lebih maju daripada rahang atasnya. Panjang setiap giginya sama dengan tinggi si prajurit. Kaki si prajurit jatuh bergedebuk ke tanah. Aku bisa merasakan napasnya di tengkukku. yang lainnya jatuh ke kiri. Hewan buas itu berdiri di tengah-tengah lapangan. Hewan buas itu lebih dulu menyerangnya. Tangannya yang satu lagi diayunkan dan menyebabkan semua pohon. Prajurit itu menyeringai ke arahku. Belati itu masih terselip di pinggang celana jinsku. hanya menyisakan sepasang kaki yang masih berdiri tegak.mati. Tubuh si prajurit terbelah dua tepat di bawah pinggulnya. Menunggu kemurkaan hewan buas. Mulutnya membuka. Sepasang taring lain mengarah ke tanah. pikirku. memperlihatkan sekitar lima puluh lebih gigi-geligi. Tak ada yang bisa kulakukan. Hewan itu akan menghabisi kami berdua. Sepuluh tahun melarikan diri. Sesuatu yang lebih ganas daripada sejuta prajurit dengan sejuta pedang. Lebih tinggi dan lebih besar daripada hewan buas yang tadi ada di sekolah. Tangan dan kakiku gemetar. Aku menarik diriku ke depan hingga tidak bisa bergerak lagi. yang masing- masingnya sangat tajam. terbelah. Mataku melotot karena ngeri. Untuk pertama kalinya. Hewan itu mengendusku. Bau kematian dan daging busuk. Tubuhnya tegang saat mulai mengayunkan pedang itu ke bawah untuk membelahku menjadi dua. Tidak bisa melarikan diri lagi. Kulit tebal dan berwarna abu-abu membalut otot yang menonjol. Hewan itu tak berleher. tampak kabur di malam yang dingin dan gelap. Aku tiba di tempat terbuka kecil dalam hutan. berdiri tegak dengan kedua kaki belakangnya. satu-satunya tanda bahwa hewan itu memiliki jantung. berfungsi untuk mencabik apa pun yang disentuhnya. Tapi gerakannya terlalu lambat. meneteskan darah dan liur. Hewan itu mencondongkan tubuh ke depan sehingga tangan kirinya menyentuh tanah. Tidak bisa bertempur lagi. Aku memandang mata si prajurit. Betapa mudahnya ini berakhir. Hewan buas itu mengunyah dua kali dan menelan. yang satu jatuh ke kanan. Aku menyelipkan belati itu ke pinggang celana jinsku dan mulai merangkak menjauh. Betapa sepinya. Kusandarkan punggungku ke pohon ek. Rahang si hewan buas mengatup bagai perangkap beruang. Gigi-geligi putih berkilau dalam mulut yang terlalu kecil untuk menampung semua gigi itu. sekitar sepuluh atau lima belas pohon. tapi buat apa meraihnya? Bagaimana mungkin sebuah belati sepanjang sepuluh senti bisa melawan seekor hewan buas setinggi dua belas meter? Belati itu hanya seperti . sembilan meter dariku. Matanya berwarna kuning. membuatnya terkesan bungkuk. Darah dari luka akibat belati mengalir menuruni punggungku. Sepasang taringnya mengarah ke langit. aku menatap hewan buas itu dengan saksama. Tapi di belakang si prajurit ada sesuatu yang lain. Si prajurit tidak sadar. Raungan yang memekakkan telinga dan bisa membuatku terdorong ke belakang jika saja tidak ada pohon di belakangku. Tingginya dua belas meter. Sosok gelap. Bernie Kosar. Aku di sini. Tubuhnya ratusan kali lebih kecil daripada si hewan buas itu. tidak ada gunanya jika Bernie Kosar juga mati. Jangan ke sini. “Tidak. BARU SEKARANG AKU mengerti. Nomor Enam langsung tahu begitu melihatnya. Pergi. Pergi sejauh mungkin dari sini. aku mendengar suara di benakku. tapi semakin lama geramannya semakin besar dan semakin ganas seperti raungan si hewan buas itu. Lalu sesuatu itu muncul. menenangkan. Bukan hanya itu. John. Kau harus pergi. dan segalanya akan berakhir. Aku bisa berkomunikasi dengan semua hewan. keberaniannya hampir membuatku menangis. Aku merasa kenal dengan suara napasnya. Cecak di Florida. Bukan. saat aku berlari terlalu cepat sehingga Bernie Kosar tak bisa mengimbangi. Tapi kau harus pergi sekarang juga. Bulu-bulu di tengah punggung Bernie Kosar berdiri. dan Henri. Ini saatnya pulang ke rumah. Cecak yang biasa memandangi dari dinding saat aku sarapan. Namun kemudian aku tahu dugaanku salah. Jika perlu. Jika aku akan mati.” kataku keras-keras. Melindungiku. Anggap saja kau baru selesai lari pagi denganku ke sekolah. Dia menyuruhku lari. Aku tersenyum. Aku mendengar gerakan di belakangku dan membuka mata. Telinganya yang cokelat menempel di kepalanya. bersumpah untuk melawan. merangkaklah. Aku menutup mata menyambut kematian. Dia mulai menggeram. Bernie Kosar seakan berkata seperti itu. Cukup sapuan cepat si hewan buas. Sejak kejadian dengan rusa di Florida pada hari ketika kami pergi. Bernie Kosar. Aku tidak mau melihat apa yang akan terjadi. mengendus tanah. Itu yang tadi ingin dikatakan Nomor Enam. Bernie Kosar berhenti cukup lama untuk menjilat tanganku. Bernie Kosar mulai membesar. Harapanku satu- satunya hanyalah mati kehabisan darah sebelum dibunuh dan dimakan. Bulu kudukku meremang saat rusa itu menyampaikan sesuatu . Lari secepat mungkin. hewan yang kulihat dimasukkan ke dalam roket kedua―apakah mereka berhasil mencapai Bumi? Bernie Kosar terus membesar. Mencari tanda-tanda Mogadorian. Belati itu hanya akan membuat hewan itu semakin marah. Dia memandangku dengan matanya yang besar dan cokelat. Bernie Kosar memandangku sambil berjalan. Seandainya aku bisa berdiri dan meraih lalu membawanya pergi. Aku di sini dan aku akan mendampingimu. pikirku. Aku mengulurkan tangan ke arah Bernie Kosar. namun dia berdiri dengan gagah. atau aku hanya berkhayal? Bernie Kosar berdiri di depanku seakan ingin melindungiku. berpatroli di halaman. Geraman Bernie Kosar begitu ganas sehingga seluruh tubuhnya bergetar. Kesetiaannya. awalnya pelan. Hewan buas itu menatap Bernie Kosar. Kenapa dia menghilang ke dalam hutan dan beberapa detik kemudian muncul kembali di depanku. Namun senyumku langsung pudar. Cahayaku padam. G SETELAH BEGITU LAMA. Saat kami lari pagi. Jangan. Menunduk menatap Bernie Kosar. Aku merasa kenal dengan cara berjalannya yang melompat- lompat. Bernie seolah berbicara denganku. Ketika kami lari pagi. Bernie Kosar masuk ke dalam hutan dan berubah wujud menjadi burung. Kehilangan darah membuatku berkhayal. Pastilah salah satu Mogadorian mendekat agar bisa melihat lebih baik. Lalu sesuatu mulai terjadi. Caranya bergegas ke luar setiap pagi. Aku bisa berkomunikasi dengannya. Pusaka lain. Sudah berapa lama dia bersama kami? Chimæra.serpihan kayu bagi hewan itu. Apakah Bernie Kosar benar-benar ada di sini. Dia sekarat.” kataku. saling meraung. tangannya menarikku berdiri. Kau bisa. Aku berusaha menepisnya. Entah bagaimana. Pergi dari sini. Bernie Kosar menundukkan kepala. tapi tanpa sayap. Bernie Kosar memukul ke atas. Waktu itu aku mengira perasaan itu disebabkan rasa sedih karena harus pergi. tapi tak kuasa. lalu menerjang sebelum hewan itu bisa mengayunkan tinju lagi. tapi telekinesisku masih tidak berfungsi. Hewan buas itu balas memukulnya. menancapkan giginya di samping tubuh lawanya. Entah bagaimana aku meraih kakiku. Bernie Kosar sudah selesai membesar. Bernie Kosar menahan pukulan si hewan buas dengan tanduknya. tapi tidak bisa membebaskan diri. Tapi aku tidak bisa melakukan apa pun. Padahal begitu jelas. tapi hewan buas itu tetap tidak melepaskan gigitannya. Dia tampak seperti naga. Mereka bertubrukan. Hanya mata Bernie Kosar yang tetap tampak jelas. Lebih gemuk daripada hewan buas itu. Aku bisa merasakan kesadaranku memudar. Anjing-anjing Mark James. hewan buas itu ada di atas Bernie Kosar. Pergi. Bernie Kosar mencakar-cakar lawannya. Darahku seakan berubah jadi timah.kepadaku. Dia menggeliat di bawah rahang si hewan buas. Hewan buas Mogadorian itu mengayunkan tangan. Darah masih mengalir di punggungku. digantikan sisik-sisik. Aku berusaha memberitahunya bahwa aku tidak bisa. Tak banyak waktu. katanya. tenggorokannya tertarik. Dua raksasa berhadapan di tempat terbuka. dengan tanduk melingkar seperti tanduk biri-biri jantan. “Kita harus pergi dari sini. Mereka bertabrakan keras di tengah-tengah lapangan. selagi bisa. tapi jauh lebih pendek. Mereka berdua bergerak sangat cepat sehingga tak terlihat jelas.” “Bernie Kosar. menderita. Lalu sebuah tangan meraih dari belakangku. Otot-otot bertonjolan di tubuhnya. katanya. Tapi Henri tahu. Dia menghunjamkan giginya dalam-dalam ke leher Bernie Kosar. tepat di depan hidungku. sekarang. Dia menyerbu. Bernie Kosar menatap mataku. Harus. berusaha mencabik leher Bernie Kosar. dunia di sekelilingku tampak kabur. “Bernie Kosar!” Bernie Kosar digigit dan dicekik. Aku rela mengorbankan nyawaku demi nyawanya. tidak bisa bernapas. Wajahnya mengernyit karena sakit. katanya. Gigi dan cakar bergerigi. “Kita harus pergi!” teriak suara di belakangku. menggoyang-goyangkan kepala. Hewan buas Mogadorian berdiri dengan dua kaki sementara Bernie Kosar bertarung dengan empat kaki. Rambutnya rontok. Sapi-sapi yang kulewati saat lari pagi. dan juga karena merasakan ajalnya segera tiba. “Ayo!” teriak seseorang di belakangku. Sama. Mata Bernie Kosar menutup rapat. Aku tidak tahu apakah dia bisa memahamiku. suatu kilasan perasaan. Lari. memegang lenganku. pukulan yang seakan berawal dari langit dan meroket turun dengan brutal. Aku merasa begitu bodoh karena baru menyadarinya sekarang. “Tidak!” teriakku. Aku menonton dengan punggung bersandar ke pohon. Tangan dan kakiku terasa berat. menabrak pohon di kananku. Dan aku pun akan segera menyusulnya. Seperti pepatah yang biasa diucapkan Henri: Sesuatu yang tampak sangat jelas adalah sesuatu yang sering kali kita abaikan. . Matanya menjerit “Tolong!” meskipun pikirannya berkata lain. Aku melolong pilu. Tubuh mereka berdua luka-luka. tapi aku salah. Dia tampak sangat ganas. Aku ingin membantu. Itu sebabnya Henri melarang Enam memberitahuku. Bernie Kosar menggeliat di bawah gigitannya. Pusing. tidak tahu suara siapa itu. Bernie Kosar menoleh memandangku. Dia menyelamatkanku. Pilihan yang mudah. Belati itu juga sama. Dia tidak lagi bersembunyi di sekolah. yang langsung . Dia terduduk. Aku meronta membebaskan diri. Aku tidak akan bisa melemparkan belati ke tubuh si hewan buas. Setiap bagian tubuhku terasa sakit. seperti dalam suatu mimpi heroik yang kuharap tidak pernah berakhir. Segalanya hening. Saat ini hanya ada satu hal penting. berlari ke arah si hewan buas. Aku memegang belati itu erat. seakan menanti apa yang akan terjadi. tapi perasaan itu langsung lenyap. Si hewan buas terdiam saat awan hitam besar terakhir berpusar masuk ke dalam tengkoraknya bersama belati itu. menarik belati dari pinggang celana jinsku. nyeri karena kelelahan. tapi tangannya terlalu besar dan belati itu terlalu kecil. Hewan buas itu menarik napas dan menahannya seolah bermeditasi. hewan buas itu terhuyung-huyung di atasku. tapi aku tahu suara siapa itu. berbaring miring. daging. Si hewan buas melepaskan leher Bernie Kosar dan bergerak untuk menggigitku. Darah di sekitarnya tampak berkilauan di bawah sinar bulan. pikirku. dan tengkorak. Aku melangkah terhuyung-huyung. Getaran itu begitu hebat sehingga membuat seluruh tubuhnya yang besar berguncang. Gigitan si hewan buas semakin kencang. Bernie Kosar. si hewan buas terhuyung lalu jatuh dengan punggung menubruk pepohonan. Sembilan meter lagi. Dia akan pergi. kataku. Aku bersedia melihat apa pun di dunia ini. “Tidak!” teriak Mark di belakangku. Mata si hewan buas terbuka tepat saat aku melompat.“Kita harus pergi!” kata suara itu lagi. Bilah belati itu bersinar menyambut apa yang akan terjadi. Rahangnya mencengkeram tenggorokan Bernie Kosar. Tiba-tiba kepalanya meledak. Kurasa mereka yang sudah mati pun bisa terbangun karenanya. Aku juga tidak bisa menggunakan Pusakaku. Aku menarik napas dalam dengan bergetar. Dengan sia-sia dia berusaha menarik belati dari matanya. Kuayunkan tubuh ke belakang. dan berupaya menyelamatkanku dari kehancuran ini. menghujani segala yang ada di sekitarnya dengan serpihan otak. Terdengar bunyi senapan ditembakkan satu kali. Tangannya mulai bergetar. Mark mengulurkan tangan ke depan dadaku. Dia menarikku ke belakang. Saat getaran itu berhenti. Lengannya tergantung lunglai di samping badannya. Tidak ada pilihan selain menyerang. tapi aku tidak mau melihatmu mati. Aku tidak mau melihatmu mati. Aku menghunjamkannya ke mata si hewan buas dalam- dalam. Itu berarti Sarah baik-baik saja. sangat dekat sehigga telingaku berdenging. menjauhi pertempuran. Mata kuning itu murka begitu melihatku. Aku terbang di udara sambil memegang belati tinggi di atas kepala dengan kedua tangan. Mata Bernie Kosar perlahan-lahan mulai menutup. Belati itu hidup dan mulai bersinar. tapi tetap menjulang sekitar dua puluh lima meter di atasku. Mata si hewan buas Mogadorian itu tertutup. Aku tidak menoleh untuk melihat. Aku jatuh telentang. karena ada gerbang mistik antardunia. Sekarang giliranku menyelamatkannya. Luka yang disebabkan belati itu menarik kegelapan memasuki mata si hewan buas dalam bentuk pusaran awan. Bernie Kosar bisa merasakan maut mendekat. Mark ada di sini. Seluruh tubuhku tegang. walaupun tahu bahwa dia terlambat menyadari keberadaanku. Senjata Mogadorian berfungsi dengan suatu cara yang kurasa tak akan pernah kupahami. Untuk sesaat aku merasa lega. Tidak ada jawaban. memandangku dengan tatapan kosong. Cairan langsung muncrat dan dia pun mengeluarkan lolongan sangat keras yang membekukan darah. Mark James. Enam meter. Saat kuangkat kepala. pergi dari lapangan. Aku menyerbu ke depan. angin topan kematian. ” “Aku tak melihatnya. Kaki dan tanganku sakit karena lelah. “Sudah berakhir?” tanyaku. “Dia menyelamatkan nyawaku. kaki pendek. Jadi. kemeja dan jinsnya compang- camping. tidak tampak jelas di bawah sinar bulan. sakit. berharap melihat Mark James. tidak asin seperti garam―sebenarnya malah tidak berasa sama sekali. dan ngeri.” kata Henri. Saat aku memandangnya. “Kupikir kau itu dia. Dia merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kerikil bundar kecil yang tadi diambilnya dari Peti Loric sebelum kami meninggalkan kelas tata boga. Henri. Wajahku terasa hangat. merasa lega.” kataku. Sepertinya batu itu menyembuhkanku. “Tahan di bawah lidah. Dia masih terbaring miring tak bergerak. Kemudian Sam akan menyetir truk ke sekolah untuk menjemput kita semua. Tangannya gemetar. “Bernie Kosar. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup. Hutan sunyi senyap. Aku berpaling dan memandang Bernie Kosar. “Apa ini?” “Garam Loric. terkoyak di sepanjang kedua lengan dan lehernya. Bernie Kosar berubah wujud lagi. “Buka mulutmu.” Henri meletakkan tangannya di bawah ketiakku dan mengangkat tubuhku. *** SOSOK SAMAR ITU SEMAKIN JELAS. Jangan ditelan. Mataku membelalak ngeri. “Sstt. “Apa salah satu belati mereka mengenaimu?” “Punggungku.” katanya. Henri memegangiku hingga aku bisa berdiri dengan seimbang. tapi itu tidak bertahan lama. menutupi bulan. Bernie Kosar masih mengerut. Memperlambat dan mengurangi efek belati itu. tapi kekuatanku pulih. ya?” “Tentu saja aku tahu. Henri menutup mata dan menggelengkan kepala. kita harus kembali ke sana. Aku harus mengerahkan seluruh kekuatan hanya untuk mengangkat kepala dua senti dari tanah. Anjing beagle dengan hidung dingin dan basah yang selalu siap untuk lari. AKU MERASA lelah.” kataku. Aku menunduk dan berusaha memaharni apa yang terjadi. tubuh panjang. sisik- sisiknya menghilang―digantikan bulu berwarna cokelat dan hitam―kembali ke wujud yang langsung aku kenali.” “Kau lihat Sarah?” “Tidak” “Mark James tadi di sini.” Aku melihat Bernie Kosar di belakang Henri. Napasku tercekat. Wajahnya berdarah.” jawab Henri. Henri memasukkan batu itu. lalu memandang Henri. “Nomor Enam luka parah. Lalu sosok itu melangkah ke depan. Aku berdiri. kemudian mengibaskan sisa-sisa abu si hewan buas yang mati.” kataku. Terdengar bunyi derak dedaunan dan gemeretak ranting-ranting di dekatku. Sosok gelap. “Apa semuanya baik-baik saja?” tanyaku. “Kau akan merasa bertenaga. Kita harus kembali ke sekolah secepat mungkin. mengecil ke ukuran normalnya. Namun akhirnya aku tersenyum.” katanya.” “Tapi kenapa dia ada di sini?” . Dia memutar tubuhku untuk melihat luka di punggungku.” Kerikil itu terasa dingin di mulutku. Kau sudah tahu. Tapi bukan Mark James yang berdiri di dekatku. Matanya tertutup. Kubuka mata dan mengintip ke kegelapan malam.” “Kenapa nggak bilang?” “Karena dia mengawasimu saat aku tidak bisa. Telinga terkulai. Dia melemparkan senapan ke semak-semak lalu berlutut di sampingku.berubah menjadi debu dan abu. tapi tetap tak bergerak. “Sam sedang membawanya ke truk. namun matanya berpendar ngeri saat melihat luka-luka di tubuhku. serta tak memiliki senjata selain keberanian kami.” kata Henri. aku bisa mendengar jantungnya berdetak. “Bisa lari?” tanya Henri. Belum. dikerumuni kegelapan. Aku bertanya- tanya apakah kerikil garam itu satu-satunya yang membuat Henri berdiri. Kami berdua berdiri goyah. Aku menggerakkan tangan ke dada si anjing. “Yang terakhir. Henri dan aku menoleh ke belakang. “Jangan gunakan Pusakamu. Hewan buas di satu arah. mereka langsung menghunuskan pedang. walaupun dulu namanya Hadley.” katanya. Ranting patah di belakang kami. sejumlah geraman diikuti gemerincing rantai. Kami berjalan menghampiri anjing itu. “Pelurunya habis. Tidak terdengar suara lain selain suara hewan buas yang tak sabar untuk dilepas dari rantainya di depan kami. menunggu para prajurit berlari menyerbu ke arah kami.” Terdengar keributan di depan kami. serta bau daun basah dan membusuk di belakang kami. Bernie Kosar tidak bergerak. “Kita harus cepat. mainanku.” kataku. meninggalkan ranting-ranting yang bergantungan. Aku berpaling untuk melihat. tapi hutan itu terlalu lebat sehingga kami tidak bisa melihat. tidak seganas raungan yang lain. G1 “Jangan!” teriak Henri. tapi aku bisa merasakan kehidupan belum meninggalkannya. Sekitar tujuh atau delapan prajurit berdiri di tepi hutan. Henri tampak tenang.” kata Henri lagi. menggendongnya seperti menimang bayi. semak-semak. Lalu kami mendengar raungan.” Kami berjalan meninggalkan tempat terbuka itu. tapi aku tak peduli. Bernie Kosar tidak bergerak di tanganku. Luka berwarna biru tua berkilau dan dikelilingi darah. dari hutan. Tapi mereka tidak bergerak. dan memasukkannya ke dalam mulut. Kaki depannya bengkok tidak wajar. Artinya hanya satu. “Tapi aku akan tetap lari. Tapi dia masih hidup.“Dia ikut naik pesawat bersama kita. tapi aku kembali merasa pusing dan lemah. Sembilan prajurit bersenjata dan kuat melawan kami bertiga yang sudah kepayahan. Masih ada kehidupan. luka- luka. Henri membantuku berdiri. Salah satu prajurit tertawa percaya diri. Aku mengangkat Bernie Kosar selembut mungkin. seperti halnya diriku. walaupun samar. Kupadamkan sinarku. “Senapannya?” tanyaku. Aku berjongkok dan mengusap samping tubuh Bernie Kosar. tapi cukup keras sehingga kami tahu artinya hanya satu: hewan buas lain. Kami keluar dari hutan. Itulah pilihan yang kami hadapi saat ini. serta sakit. Lalu aku melihat sesuatu di paha Henri. Saat sinarku mengenai mereka. Aku menahan napas. Walaupun lemah. Aku bertanya-tanya apakah dia berbicara mengenai dirinya sendiri saat mengatakan tidak banyak waktu. Henri juga ditikam belati prajurit Mogadorian. nanti kau jadi lemah. Aku menyalakan sinar di tangan kiriku dan menyorotkannya ke pepohonan. “Yang benar saja. Sebenarnya aku bermain dengan Bernie Kosar. Lalu dia merogoh saku. Dia mengeluarkan dua kerikil dari sakunya dan memberikan satu untukku.” Lalu aku teringat benda yang dulu kusangka boneka. suaranya bergetar. patah. Pedang-pedang Mogadorian mulai berkilauan dihunus para prajurit di belakang kami dan bergerak maju. Tampaknya dia harus mengerahkan banyak tenaga . yang menjadi hidup dan bersinar dengan berbagai warna. darah merembes dari segala tempat.” Terlambat. dengan perlahan. Lalu di belakang terdengar suara pekikan perang. “Nggak. para prajurit di arah yang lain. Tubuh Bernie Kosar penuh dengan luka. mengambil kerikil garam lain. Hutan itu hidup. Aku pikir hewan itu akan menerkam kami kapan saja. Kekuatan baru menjalari tubuhku. menangkapnya. Aku tahu kau pasti bisa. “Tak masalah. Yang terjadi. setelahnya masih ada para prajurit. Aku menarik napas dalam dan menerima yang tak terhindarkan. Aku menutup mata dan membenamkan wajahku di lehernya. Hewan buas itu mulai tampak. Kami akan berjalan melintasi lapangan dengan gagah menuju apa pun yang ada di sana. Kami terkepung.” katanya. Kami melangkah dengan terhuyung-huyung. Belati itu meleset sekitar tiga meter. Beberapa prajurit berdiri di samping si hewan buas.” Aku menundukkan kepala. Henri masih gemetar. Tidak ada pilihan lain. melihat hewan buas membunuh. yang berdiri dengan pedang terhunus. Yang jelas. Bernie Kosar. Bahkan seandainya kami bisa melewati si hewan buas. Kami berdiri saling bersandar. pikirku. dan menyampaikan satu kata kepadaku. baru kali ini Bernie Kosar memperlihatkan tanda-tanda kehidupan. Aku memasukkan kerikil itu ke dalam mulut dan menahannya di bawah lidahku. berdiri di hadapan kami. rasa tenang seolah dia tahu segalanya akan segera berakhir. Mereka berhenti. Hanya satu kata. Setidaknya kami melakukannya dengan bermartabat.” kata Henri. Keberanian. Ini dia. tapi aku melihat rasa lega. Jarak mereka sekarang hanya enam meter. Saat tinggal lima belas meter lagi dari si hewan buas. Jantung di dadaku berdegup. Henri. Kuharap dia bersembunyi dengan aman di sekolah yang jaraknya sekitar dua ratus meter di depan kami. Selalu.hanya untuk berbicara. Aku yakin tubuhku pun tidak lebih kuat. kami berhenti. aku melihat para prajurit berjalan mendekat. Kekuatanku langsung hilang walaupun kerikil di mulutku baru larut setengahnya. Aku takut. Kuangkat kepalaku.” kataku sambil memandangnya. lalu memegang pinggangku dengan tangan kanannya. walaupun sisa kerikil pertama masih ada. Juga Bernie Kosar. tapi sekarang dia tidak ada di mana pun. “Kita sudah melakukan apa yang bisa kita lakukan. Yang tersisa hanyalah Sarah. Seakan tenaganya hanya cukup untuk itu. Henri mengulurkan tangan dan meremas bahuku.” Apa yang Henri lakukan selanjutnya membuatku kaget: dia tersenyum. . Aku meremas Bernie Kosar. Aku tidak mau Henri melihatku menangis. Dari balik bahu Henri. “Tindakanmu hari ini luar biasa. Aku membuka mata. “Tapi sekolah di depan kita. “Bagaimana menurutmu?” tanya Henri. di tengah- tengah lapangan football. Ajal segera tiba. Salah satu dari mereka memegang belati yang berdenyut-denyut dengan warna perak dan abu- abu. Henri memegang tanganku yang bebas dan mengalungkannya ke pundaknya. Tapi tidak terjadi apa-apa. Aku senang karena tidak perlu menghadapinya sendiri. tubuhnya terasa rapuh dan lemah di pelukanku. Tapi Henri di sini. Kami sampai di lapangan. Nomor Enam luka parah dan dibawa pergi oleh Sam. Tak pernah sekali pun aku ragu. dan sebentar lagi Sam tiba di sana. Matanya lelah dan merah. Henri melangkah ke depan dan memelukku. Mungkin mereka ingin melihat hewan buas beraksi. Dia mengangkat kepala cukup tinggi sehingga bisa menjilat wajahku. terjadilah. “Tindakanmu sangat hebat. dan aku adalah yang tersisa dari kami semua. Prajurit itu melemparkan belati itu ke udara. Para Mogadorian membuntuti kami. Henri. aku benar-benar bangga kepadamu. Aku mengangkat tangan dan menangkis belati itu. Tadi Mark ada di sini. Setiap kali melangkah tenagaku semakin berkurang. Sejak aku menggendongnya. lalu melemparkannya ke punggung Henri. disiksa. Si hewan buas tidak berpaling. tapi pelurunya hanya lewat di atas kepala kami.Ukuran hewan buas itu hanya setengah dari hewan buas yang lain. selalu dingin dan basah. Henri melepaskan pegangannya. dan dibuat kelaparan. Para Mogadorian. Aku memperlihatkan neraka yang terjadi setelah itu. Hewan itu bisa merasakan kami di depannya dan menggeram. hutan yang lebat. Aku melangkah ke depan dan jatuh berlutut. Aku tidak bisa memegang Bernie Kosar lebih lama lagi. dan bukit-bukit hijau yang dipenuhi kehidupan. Kau dan aku memiliki ikatan yang sama. Rasa senang dan bahagia. Tolong aku. . Aku memperlihatkan Lorien. perempuan. Aku melihat penyiksaan dan kelaparan. hal-hal yang kulihat dan kurasakan. semua karena para Mogadorian. Aku turut berduka. untuk membuat hewan buas itu beraksi. Tak ada makhluk hidup yang patut menerima perlakuan seperti itu. Kulitnya pucat. Aku tidak merasakan kemarahan dan kedengkian seperti pada hewan buas lainnya. Dengan segenap tenaga. mencapainya. memperlihatkan semua emosi yang kurasakan saat bersama dengannya. Mogadorian menghancurkan apa pun yang merintangi jalan mereka akibat keyakinan menyedihkan dan kesembronoan mereka sendiri. Lalu kapan semua itu akan berakhir? Aku memperlihatkan Sarah. hingga tingkat tertentu. untuk menjadikan mereka kuat dan kejam. Itulah yang kurasakan saat bersamanya. Aku melihat hewan buas itu dikurung sepanjang hidupnya di Bumi. Belati kedua membelah udara dan mengenai hewan buas itu. Menggigil sepanjang malam agar tetap hangat. Hewan-hewan minum dari air biru yang segar. Yang kurasakan hanyalah rasa takut. Aku tetap berlutut dan menengadah memandang hewan buas yang menjulang di atasku. memaksa mereka bertempur untuk melatih mereka. Semacam senjata ditembakkan. di gua yang lembap dan gelap. Hewan buas itu gemetar. Laki-laki. tapi dari nada suara mereka aku tahu mereka tidak sabar. kilatan warna putih lewat dan bagian depan kemejaku berkibar serta robek. Aku melihat para Mogadorian mengadu hewan-hewan buas itu satu sama lain. Dipukuli. rasa sedih. laut yang luas. Pikiranku. menutupi tulang rusuk dan sendi-sendi yang menonjol. Tembakan peringatan. Hewan itu memindahkan berat badannya. Kita berdua diperlakukan dengan buruk oleh monster-monster ini. Kau diperlakukan dengan buruk. Salah satu prajurit mengayunkan pedangnya dan sebuah belati melesat tanpa mengenaiku. dan anak-anak dibantai. Aku turut berduka atas hidup yang harus kau jalani. Kau dipaksa hidup di neraka. Para prajurit di sekeliling kami berteriak. aku mencoba mengirimkan citra-citra. Ada banyak bekas luka berwarna merah muda di lengan dan samping badannya. tidak ada rasa haus terhadap darah dan kematian. diculik dari planetmu untuk bertempur dalam perang yang bukan peperanganmu. lalu merunduk. Aku tidak merasakan gerakannya dan aku tidak tahu apakah dia masih hidup. Hewan itu mendongak dan meraung kesakitan. Para Loric hidup dalam kerukunan. Matanya putih dan buta. Bahkan menghancurkan planet mereka sendiri. Pembunuh kejam. hampir transparan. Aku membuka diriku terhadap perasaan itu. Para pembunuh berdarah dingin. Lalu rasa sakit yang kurasakan karena harus meninggalkan Sarah. Perlahan- lahan aku meletakkan Bernie Kosar di rumput di kakiku. di bawah siku tangan kirinya. Segala rasa sakit dan penderitaan yang kau alami adalah tanggung jawab mereka. namun masih cukup besar untuk membunuh kami semua tanpa perlu menghabiskan banyak tenaga. Kemudian dia menundukkan kepala ke rumput untuk membaui apa yang tidak bisa dia lihat dengan matanya. aku berusaha memberitahunya. Aku tidak memahami bahasa mereka. Sesuatu mendorongku.” Aku menariknya lebih erat. Lebih banyak darah. Aku bisa merasakan dia sekarat. bukan kebetulan.” “Sstt. Suratnya. Darah mengalir dari mulutnya. sembilan meter jauhnya. Aku menoleh. “Semua yang perlu kau ketahui ada di Peti. Tubuh Henri mulai mengendur. Hewan buas itu mendongakkan kepala ke langit dan meraung. Harapan satu-satunya yang ditinggalkan planet kita. Panik dan rasa ngeri menghantamku. Raungan lagi. “Kau itu Pusaka Lorien.” Aku bisa merasakan Henri mulai pergi. Henri memandangku. Aku memeluk dan menarik Henri ke pangkuanku. juga tak bergerak. “Kau luar biasa. semoga kau membunuh mereka semua. Tubuhnya terbaring di lumpur. Henri memekik kesakitan di belakangku. “Bukan salahmu. Bernie Kosar tak bergerak di rumput. bergetar. “Maafkan aku. “Petinya. tapi langsung dihancurkan. Tubuhnya rapuh dan lemah. Pemberontakan.” katanya berbisik. dengan terhormat. Wajahnya mengernyit kesakitan. melintasi lapangan.” “Ini belum berakhir. Matanya dipejamkan dengan kuat. Kau dan yang lainnya. Pembalasan. Senjata-senjata ditembakkan. Aku tidak tahu apa yang mengenai Henri. wajah menengadah. mata Henri terbuka sedikit. Saat tiba di sana.” kataku di antara isakan tangis. tapi langsung kembali terbuka. Aku meletakkan tangan di rumput dan menarik diriku ke depan. aku menangis. mengangkat tangannya. John. John. Henri. Raungan yang panjang dan dalam. Rahasianya.” aku berkata. Salah satu meriam dibidikkan tepat ke arahku. Begitu dia melakukan itu.” “Maafkan aku. tapi jika kau menolongku.” “Henri.” “Dengar. Tolong jangan Henri. Hewan itu melihat ke arahku sekali kemudian berlari mengejar para penangkapnya. pikirku. Namun hewan buas itu menundukkan kepala tepat pada waktunya dan menyerap tembakan itu. Semua.” katanya. Matanya membuka kembali. lalu memegang pipiku. Jangan.” katanya.” kata Henri. pelan. Aku menengadah dan melihat mata si hewan buas berubah menjadi merah. Mari bertempur bersama. merengkuhnya. Aku jatuh dengan wajah terlebih dahulu ke rumput. “Kau luar biasa.” Aku tidak mengerti apa maksudnya. senti demi senti. Para Mogadorian bisa merasakan apa yang terjadi dan telah menyaksikan cukup banyak. “Sam pasti sudah di sana. Meriam itu ditembakkan. Kita masih bisa. berkobar-kobar dengan kemarahan. Kematian putih menyerbu. “Baca suratnya. Kali ini aku melihat kemarahan. Jangan Henri. Aku selalu tahu kau bisa” “Kita harus ke sekolah” kataku. Sesuatu yang besar dan mematikan. “Ke sini. Mereka mulai menembakkan senjata. Matanya menutup lagi. Setiap tarikan napas dilakukan dengan susah payah. Napasnya begitu pendek.kataku. Bunuh rnereka semua.” kataku. Tenagaku tinggal sedikit. ke Paradise. pikirku. Hewan buas itu menyapukan tinju dengan kuat.” kataku. Henri. lalu dia batuk-batuk. menghabisi sejumlah prajurit dan menghancurkan senjata mereka. John. Bertarunglah dengan gagah. aku akan menolongmu. Bantu aku mengakhiri kematian dan pembantaian ini. menyeret tubuhku ke Henri. . Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. lalu dia terlempar sejauh sembilan meter. Henri menatap mataku. “Aku di sini. “Maafkan aku. Matanya membuka. Aku mengangkat kepala. berasap. Aku mengguncangnya. Henri berusaha tersenyum. lalu aku mengulurkan tangan dan mengelap darah dari dagunya. Harusnya kita pergi saat kau bilang pergi. Lalu langkahnya terhenti. lalu suaranya melirih. “Perang ini. Berhenti . Aku mendengar suara tawa dingin terbawa angin. Keduanya tampak silih berganti seolah disorotkan proyektor yang terus menerus djalankan oleh suatu tangan tak kasat mata.. Yang terburuk adalah citra hitam gelap gulita tanpa cahaya. Bulan dan bintang bersinar di atas.. dan yang terbaik adalah citra kebahagiaan yang begitu menyilaukan mata. kemudian terguling ke samping.” katanya. memegang pisau dengan tangan kanan gemetar. Mengatasi rasa pusing dan pandangan yang kabur. Cari yang lain. mungkin di jantungnya. Rasa sakit meninggalkan tubuhku. hingga akhirnya hanya tinggal satu. topi diturunkan ke mata. Aku duduk di rumput dan memeluk Henri. pepohonan tumbang. Jubah panjang. Si pengintai itu telah begitu dekat sehingga aku bisa mencium baunya. lalu yang lain. Aku mengendorkan pelukanku. Aku mengenali suaranya. sambil menangis sejadi-jadinya. Nak. sekolah hancur. saat dentuman meriam terakhir menghilang. Tetapi semakin lama semakin sedikit meriam yang ditembakkan. Napas serak si pengintai menghampiriku. Bunyi penutup lensa. Aku menoleh. Satu citra.. Saat kata-kata terakhir itu meninggalkan mulutnya. Aku janji. aku bisa melihat satu pengintai Mogadorian lima meter dariku. Meriam-meriam masih ditembakkan. Henri. Si pengintai jatuh berlutut. Aku memeluknya dengan erat. “Kau harus kuat. dan meledak jadi abu. Dia meraih ke belakang ikat pinggangnya lalu mengeluarkan pisau berburu. Pisau berburu itu lepas dari tangannya. “Kita akan kembali sama-sama. Pisau itu dicabut.. Di dadanya. bahkan untuk bernapas. Pertempuran berakhir. dengan air mata di matanya.. Aku memegang kepala Henri dengan kedua tangan dan memeluknya di dadaku. Bisa menang. Lalu berhenti. Mogadorian itu mengerang kesakitan.. Walau ditukar dengan seluruh dunia. Kuletakkan tangan di wajahnya dan dia membuka mata.. Di belakangnya. tumpukan abu di rumput di lapangan football. Aku dan kau. lalu meredup dan kembali normal. Aku masih memeluk Henri. Mogadorian itu menjatuhkan jubah dan melepaskan topinya.” kata Henri sambil terbatuk-batuk. lalu menutup mata perlahan- lahan... Kemudian Sarah memelukku. Aku membuka mata. tapi aku tidak punya tenaga lagi. suara dan cahayanya mencapai tempat duduk stadion. Lengan Henri jatuh lunglai ke rumput. Seiring dinginnya malam. Dadaku dipenuhi rasa putus asa dan hilang harapan. walaupun dia berusaha untuk terus berbicara. Dunia berubah hampa. Menangis. Henri menarik napas pendek dan mengembuskannya. Tak peduli lagi. Aku masih memeluk Henri dan kepalaku terkulai. Aku menutup mata.” kataku sambil memejamkan mata pedih.. Aku mendengar si hewan buas meraung di kejauhan. Dan Sarah memelukku. lalu satu setengah meter. aku tahu Henri telah pergi. berdirilah Sarah. Kekuatan. menjadi berat selama sepersepuluh detik. membawa kesedihan dan kebahagiaannya masing-masing.” katanya. tiga meter. menyembul ujung pisau tukang daging. “Aku tidak akan menyesali apa yang terjadi walau hanya sedetik. Aku mengguncang-guncangnya. Terkadang keduanya. H CITRA-CITRA TAMPAK SILIH BERGANTI. Enam.seakan dia tidak bernapas sama sekali. Dia menjatuhkan pisau itu dan bergegas menghampiriku. panjang bilahnya tidak kurang dari tiga puluh senti. aku merasakan diriku sendiri mulai memudar. Gemetaran. Aku mencoba berdiri sambil tetap memeluk Henri. Walau ditukar dengan seluruh Lorien. melihatku untuk terakhir kalinya. Jimat di leherku bersinar biru.. memperlihatkan kepala pucat dan tak berambut. di citra yang satu ini. Ambil dan pegang citra itu dekat-dekat. Lihatlah. Henri selalu berkata: Nilai sebuah ingatan adalah kenangan akan kesedihan dan emosi yang ditimbulkannya. Suatu hari di musim panas yang hangat, rumput yang sejuk, dan matahari bersinar tinggi di langit tak berawan. Angin bertiup dari perairan, membawa kesegaran laut. Seorang lelaki berjalan ke rumah, membawa tas kantor. Lelaki itu masih muda, dengan rambut cokelat dipotong pendek, baru bercukur, berpakaian santai. Dia tampak gugup, terlihat dari caranya memindahkan tasnya dari tangan yang satu ke tangan yang lain dan keringat yang mengalir di dahinya. Dia mengetuk pintu. Kakekku menjawab, membuka pintu dan mempersilakan lelaki itu masuk, lalu menutup pintu. Aku kembali bermain di halaman. Hadley berubah wujud, terbang, lalu menghindar, lalu berlari. Kami bergulat dan tertawa hingga sakit perut. Hari berlalu. Aku masih terlalu kecil untuk memahami waktu. Lima belas menit berlalu. Mungkin kurang. Pada usiaku itu, sehari bisa berlangsung selamanya. Pintu terbuka lalu tertutup. Aku mendongak. Kakekku berdiri bersama si lelaki tadi. Mereka berdua memandangku. “Ada orang yang ingin kukenalkan kepadamu,” katanya. Aku berdiri dari rumput, menepukkan tangan untuk membersihkan kotoran. “Ini Brandon,” kata kakekku. “Dia Cêpanmu. Kau tahu apa artinya?” Aku menggelengkan kepala. Brandon. Itu namanya. Setelah bertahun-tahun berlalu, baru kali ini aku mengingatnya. “Itu artinya mulai sekarang dia akan menghabiskan banyak waktu bersamamu. Kalian berdua. Itu artinya kalian terhubung. Kalian terikat satu sama lain. Kau mengerti?” Aku mengangguk dan berjalan menghampiri lelaki itu. Aku mengulurkan tangan meniru sikap orang-orang dewasa yang sering kulihat. Lelaki itu tersenyum dan berlutut. Dengan tangan kanannya, dia meraih tanganku yang kecil dan menggenggamnya. “Senang bertemu denganmu, Pak,” kataku. Matanya yang penuh semangat hidup, ramah, dan riang menatap mataku seolah memberikan janji, suatu ikatan. Namun, aku terlalu muda untuk memahami apa arti janji atau ikatan itu. Lelaki itu mengangguk dan meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanannya, tanganku yang kecil lenyap di antara keduanya. Dia mengangguk ke arahku, masih tersenyum. “Anakku sayang” katanya. “Aku yang senang.” *** Aku tersentak bangun. Aku berbaring telentang, jantungku berdegup kencang, napasku terengah- engah seolah baru berlari. Mataku tetap menutup tapi aku tahu matahari telah terbit dengan adanya bayangan panjang dan udara segar di ruangan itu. Rasa sakit terasa kembali. Tungkai dan lenganku masih berat. Seiring dengan itu, aku merasakan rasa sakit lain. Rasa sakit yang jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik yang pernah kurasakan: ingatan dari beberapa jam sebelumnya. Aku menarik napas dalam dan mengembuskannya. Sebutir air mata bergulir di wajahku. Aku tetap menutup mata. Aku berharap―harapan tak masuk akal―bahwa jika aku tidak menyongsong hari ini maka hari akan melewatiku, dan hal-hal yang terjadi tadi malam akan terhapus. Tubuhku bergetar, isakan berubah menjadi tangisan. Aku menggelengkan kepala dan menahannya. Aku tahu Henri sudah meninggal. Aku tahu bahwa hal itu tidak akan berubah. Aku merasakan gerakan di sampingku. Aku tegang, mencoba tetap tak bergerak agar tak terlacak. Sebuah tangan terjulur dan menyentuh pipiku. Sentuhan lembut penuh cinta. Mataku terbuka, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi hingga langit- langit suatu kamar yang tak kukenal tampak jelas. Aku tidak tahu di mana aku berada, atau bagaimana aku bisa tiba di tempat itu. Sarah duduk di sampingku. Dia memegang pipiku dan mengusap alisku dengan ibu jarinya. Dia membungkuk dan menciumku, ciuman yang lembut dan lama sehingga aku berharap bisa memasukkannya ke dalam botol dan menyimpannya. Lalu dia mengangkat wajahnya. Aku menarik napas dalam dan menutup mata, lalu mencium keningnya. “Kita di mana?” tanyaku. “Hotel, lima puluh kilometer dari Paradise.” “Bagaimana aku bisa sampai di sini?” “Sam yang mengantar kita,” jawab Sarah. “Maksudku dari sekolah. Apa yang terjadi? Aku ingat kau bersamaku tadi malam, tapi aku nggak ingat kejadian setelahnya,” kataku. “Rasanya seperti mimpi.” “Aku menunggu di lapangan bersamamu sampai Mark datang. Lalu dia membawamu ke truk Sam. Aku nggak bisa sembunyi lebih lama lagi. Di sekolah, tanpa tahu apa yang terjadi di luar, justru membuatku khawatir. Lagi pula kurasa aku bisa membantu, entah bagaimana.” “Kau sudah membantu,” kataku. “Kau menyelamatkan nyawaku.” “Aku membunuh alien,” kata Sarah, seolah masih belum percaya. Sarah merangkulku, tangannya memegang belakang kepalaku. Aku mencoba duduk. Aku bisa bangkit hingga setengah jalan, kemudian Sarah membantuku, mendorong punggungku dengan hati-hati agar tidak menyentuh luka akibat belati. Kuayunkan kaki ke lantai dan kuulurkan tangan, meraba goresan di sekeliling pergelangan kakiku dengan ujung jari dan menghitungnya. Masih tiga. Dengan begitu aku tahu Nomor Enam selamat. Aku telah menerima nasib bahwa aku akan menghabiskan sisa hidupku sendirian, menjadi pengembara kesepian tanpa tempat tujuan. Tapi ternyata aku tidak sendiri. Nomor Enam masih ada, masih bersamaku, mengikatku dengan duniaku yang dulu. “Enam baik-baik saja?” “Ya,” jawab Sarah. “Dia ditikam dan ditembak, tapi sepertinya sekarang dia baik-baik saja. Kupikir dia tak akan selamat seandainya Sam tidak membawanya ke truk.” “Di mana dia?” “Di kamar sebelah, dengan Sam dan Mark.” Aku berdiri. Otot dan sendiku terasa nyeri sebagai protes. Seluruh tubuhku terasa kaku dan sakit. Aku mengenakan kaus bersih dan celana pendek. Tubuhku segar dan berbau sabun. Luka-luka di tubuhku sudah dibersihkan dan diperban, ada beberapa yang dijahit. “Ini semua kerjaanmu?” tanyaku. “Sebagian besar. Menjahitnya susah. Kami cuma punya satu contoh jahitan, yang Henri buat di kepalamu. Sam membantu menjahit.” Aku memandangi Sarah yang duduk di tempat tidur, dengan kaki dilipat. Mataku melihat sesuatu, sesuatu yang kecil dan bergerak di bawah selimut di ujung tempat tidur. Badanku menegang. Aku langsung teringat akan musang-musang yang berlari di gedung olahraga. Sarah melihat apa yang kulihat dan tersenyum. Dia merangkak ke ujung tempat tidur. “Ada yang ingin menyapamu,” kara Sarah. Lalu dia memegang ujung selimut dan membukanya perlahan- lahan, memperlihatkan Bernie Kosar yang sedang tidur. Kaki depannya dipasangi pelat logam. Tubuhnya dipenuhi luka-luka yang, seperti punyaku, sudah dibersihkan dan mulai sembuh. Matanya perlahan- lahan terbuka dan menyesuaikan diri. Lingkaran merah ada di sekeliling matanya, dan dia tampak sangat lelah. Bernie tidak mengangkat kepala tapi ekornya dikibas-kibas pelan, menepuk kasur dengan lembut. “Bernie,” kataku, lalu aku berlutut di depannya. Kusentuh kepalanya lembut. Aku tidak bisa berhenti tersenyum dan air mata kebahagiaan merebak di mataku. Tubuh kecilnya dilingkarkan membentuk bola, kepalanya diletakkan di kaki depannya, matanya memandangku, dengan bekas luka akibat pertempuran tapi masih mengisahkan cerita. “Bernie Kosar, kau selamat. Aku berutang nyawa kepadamu,” kataku, lalu mencium kepalanya. Sarah membelai punggung Bernie Kosar. “Aku membawanya ke truk saat Mark membawamu.” “Mark. Aku menyesal karena pernah meragukannya,” kataku. Sarah mengangkat salah satu telinga Bernie Kosar. Bernie Kosar menoleh, mengendus tangan Sarah lalu menjilatnya. “Kata Mark, Bernie Kosar membesar hingga sembilan meter dan membunuh hewan buas yang ukurannya dua kali lipat. Apa benar?” Aku tersenyum. “Tiga kali lipat.” Bernie Kosar memandangku. Pembohong, katanya. Aku menunduk dan mengedip ke arahnya. Aku kembali berdiri dan memandang Sarah. “Semua ini,” kataku. “Semua ini terjadi begitu cepat. Bagaimana kau menerimanya?” Sarah mengangguk. “Menerima apa? Kenyataan bahwa aku jatuh cinta dengan alien, yang baru kuketahui sekitar tiga hari yang lalu, lalu tiba-tiba saja berjalan masuk ke kancah peperangan? Yeah, aku menerimanya dengan baik.” Aku tersenyum. “Kau malaikatku.” “Ah,” katanya. “Aku cuma seorang gadis yang gila karena cinta.” Sarah turun dari tempat tidur dan memelukku. Kami berdiri di tengah ruangan, saling berpelukan. “Kau benar-benar harus pergi?” Aku mengangguk. Sarah menarik napas dalam. Saat mengembuskan napas, badannya bergetar. Dia berusaha menahan tangis. Selama dua puluh empat jam terakhir ini aku melihat lebih banyak air mata daripada yang pernah kulihat sepanjang hidupku. “Aku tak tahu ke mana kau harus pergi atau apa yang harus kau lakukan, tapi aku akan menunggumu, John. Segenap hatiku adalah milikmu, baik kau minta ataupun tidak.” Aku menarik Sarah. “Dan hatiku milikmu,” kataku. *** Aku berjalan melintasi ruangan. Di atas meja ada Peti Loric, tiga buah tas, komputer Henri, dan semua uang yang dia ambil dari bank untuk terakhir kalinya. Sarah pasti menyelamatkan Peti itu dari kelas tata boga. Aku meletakkan tanganku di peti itu. Semua rahasia, kata Henri. Semua rahasia ada di dalam sini. Pada saatnya nanti, aku akan membuka Peti dan mengungkap rahasia itu. Yang jelas, itu bukan sekarang. Dan apa maksud Henri bahwa kedatangan kami ke Paradise bukan kebetulan belaka? “Kau mengemas tasku?” aku bertanya kepada Sarah yang berdiri di belakangku. “Ya, dan itu mungkin hal paling sulit yang harus kulakukan.” Aku mengangkat tas dari meja. Di bawah tas itu ada amplop manila dengan namaku di depannya. “Apa ini?” tanyaku. “Aku tak tahu. Aku menemukan itu di kamar Henri. Kami pergi ke sana setelah meninggalkan sekolah dan mengambil semua benda yang bisa kami ambil. Setelah itu, kami ke sini.” Aku membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya. Semua dokumen yang sudah Henri buat untukku: akta kelahiran, kartu jaminan sosial, visa, dan serta noda-noda darah. Dia tidak lagi mengenakan pakaian karet. “Makasih. Aku kagum karena dia masih hidup. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Nomor Enam. Itu belum termasuk luka-luka lain di sekujur tubuhnya dan luka akibat tembakan di paha kanannya―sekarang sudah dibalut erat kain kasa dan plester―yang menyebabkan dia pincang. Sebuah surat. “Kamu?” “Baik. “Hanya ada satu hal yang belum . wajahnya melembut.” Mark mengangkat bahu. Mark berdiri di belakang Sam. Aku menghitung semuanya. Lalu kau menyelamatkan kedua anjingku hari Sabtu kemarin.” kataku. Mereka berdua tampak sangat mengantuk seperti yang belum sempat tidur. Pasti surat yang Henri bicarakan sebelum meninggal. “Seandainya aku tahu kau itu alien dan bisa menghajarku kapan pun kau mau. Di lembar terdepan ada sticky note dengan tulisan tangan Henri. Aku mengangkat bahu. “Kita harus pergi. “Aku baik-baik saja. Nomor Enam terpincang- pincang di belakang mereka.” Aku melihat Mark melewati bahu Sam. Saat ini Nomor Enam mengenakan celana jins yang dipakainya saat pertama kali bertemu denganku dan salah satu kaus olahraga Henri. Tujuh belas identitas berbeda. Dia mengatakan bahwa saat kami berhasil kembali. aku pasti bersikap lebih baik kepadamu sejak hari pertama.sebagainya. “Aku hanya senang mengetahui kau bukan orang berengsek seperti yang kuduga.” “Seberapa parah lukamu?” tanyaku. “Sarah bilang kau menggendongku dari lapangan tadi malam.” Nomor Enam berjalan melintasi ruangan dan melihat tasku di atas meja. Tapi nanti juga hilang sendiri.” Dia menatap mataku. Mobil Sarah dan truk biru ayah Sam diparkir berdampingan di tempat parkir. Aku tidak sanggup membacanya sekarang. Dia tertawa ragu. Tanah terlalu hangat sehingga salju langsung meleleh.” kataku.” “Rasa berat itu akibat belati. Sakit dan kaku. memindahkan berat badannya dengan tidak nyaman. Sam dan Mark berjalan masuk ke kamar. Bunyinya. mengucapkan turut berduka cita. *** Aku memandang ke luar jendela kamar hotel. Dia menceritakan semua. Keduanya tampak kotor dan berlumuran lumpur.” Di belakang lembar terakhir ada sebuah amplop tertutup lagi. tujuh belas usia berbeda. sudah terlalu terlambat untuk menggunakan batu penyembuh. Nomor Enam mengangkat kaus dan menunjukkan luka di samping tubuhnya.” Aku tersenyum. Badanku terasa berat. “Aku senang bisa membantu. Aku rasa kita impas.” Mark setengah meringis. Sam memelukku. “Sam. sejak dulu aku tahu kau memang hebat. Salju lembut turun dari awan abu-abu yang melayang rendah di atas kepala.” “Kau menyelamatkan nyawaku. Saat aku berdiri memandangi mobil. “Jika perlu. Mark.” kataku.” katanya. dengan namaku. “Cukup adil. tanah. “Kau baik-baik saja?” “Yeah. lalu luka di punggungnya. Kemudian dia memandangku dengan agak khawatir. Sarah membukanya. Dia ditikam tiga kali tadi malam. Sam dan Mark mengenakan pakaian yang kemarin mereka pakai. terdengar suara pintu diketuk.” kataku. “Aku rasa kita semua saling menyelamatkan tadi malam. aku baik-baik saja. Nomor Enam menyelamatkanku tiga kali. ” “Bukan cuaca. mengikuti jejak kaki berlumpur yang mereka buat beberapa jam lalu. walaupun kita sering bercanda tentang itu.” “Bagaimana cara kita mengkremasinya?” “Aku bisa membuat api. di tengah- tengahnya tubuh Henri sudah dibaringkan di atas kayu. ayah terbaik yang pernah kumiliki. Setelah kembali. Bagiku kau adalah ayahku. Aku menghampirinya. “Apa yang ingin kau lakukan. “Kita bisa menguburkannya jika kau mau. Aku akan memindahkannya ke tempat yang lebih baik begitu kami berhenti. Bahkan Mark pun menangis. Ini terjadi lebih cepat dari yang kuduga. Selain barang-barangku dan Nomor Enam. dan bibirnya biru akibat dingin. Sarah mengikuti dan meletakkan tangan di bahuku. Kami tidak tahu kau ingin kami melakukan apa. Kami berjalan menembus hutan tanpa berbicara. Aku menghapus air mata dengan punggung tangan lalu mengangguk ke arah Nomor Enam. Aku menutup mata.” Kulepaskan pelukanku. Aku tidak akan melupakanmu. tidak semenit pun selama aku hidup. Aku merasa tenang karena tahu bahwa Henri masih bisa bepergian bersama kami. Tapi elemen. Sarah mengulurkan tangan dan memegang tanganku. “Aku menyayangimu. “Di mana dia?” *** Tanah lembap akibat salju yang meleleh. Entah bagaimana caranya. aku akan membawamu kembali ke Lorien. Aku tidak perlu bertanya untuk mengetahui apa yang dia bicarakan. wajahnya berubah menjadi kelabu pucat. “Aku akan membawamu kembali. Yang lainnya berdiri di belakangku.” Aku memandang wajah Nomor Enam yang lembut. Kita juga bisa mengkremasinya.” kataku. satu kilometer dari hotel. Aku merasa seakan ingin muntah. Aku berdiri dan memeluk Sarah. Selalu. wajahku menempel ke wajahnya. Matanya tertutup. Sam membantuku menyingkirkan ranting-ranting dan dedaunan.” bisikku di telinganya. Perutku mual. Tidak akan.” Aku mengangguk. Aku mencium keningnya. Kualihkan pandang dan memeluk Henri untuk terakhir kalinya. Kami semua memandangnya terbakar. aku mengumpulkan dan memasukkan abunya ke dalam kaleng kopi yang Mark bawa dari hotel. “Maafkan aku. Setelah itu.” “Kukira kau cuma bisa mengendalikan cuaca. Henri. Aku memegang tangan Sarah. Sam membakar ujung selimut dan Nomor Enam membuat api itu membesar. Aku tidak menjawab. Dia tampak khawatir tapi juga stres karena kami hanya punya sedikit waktu sebelum bala bantuan Mogadorian tiba. kutarik selimut kembali menutupi wajahnya. Dan . aku meletakkan kaleng itu di dasbor truk ayah Sam. Sam juga memasukkan dua tasnya. Aku tidak akan melupakanmu sedetik pun. Aku memandang Sarah. Dia memelukku hingga aku berhenti menangis. Henri. Aku menurunkan selimut itu untuk melihat Henri. Kami memasukkan barang-barang ke belakang truk. ‘Tubuhnya dibungkus dengan selimut abu-abu yang diambil dari tempat tidurnya. Aku melihat tempat terbuka di depan. dan aku membaringkannya dengan lembut di atas kayu. dengan mata basah. Sam dan Mark berjalan di depan. Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. kami membaringkan tubuh Henri di tanah agar abunya tidak bercampur dengan apa pun. Mulanya aku bingung. John?” tanya Nomor Enam.dilakukan. Aku larut dalam kesedihan. Aku menyayangimu. Saat api padam. bahwa dia masih bisa memandangi jalan saat kami meninggalkan kota seperti yang sering kali kami lakukan. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia dan Nomor Enam sepakat bahwa Sam akan ikut bersama kami. ” Aku mencium kepalanya. Air mata mengalir di kedua pipi Sarah. Nomor Enam menghidupkan truk dan membiarkannya menyala. Satu-satunya hal yang membuatku kuat adalah pikiran bahwa jika para Mogadorian kembali sebelum kami pergi. begitu kataku kepada Henri. semakin lama semakin kecil hingga tampak kabur di kejauhan.” kataku. Sarah mendekatkan wajahnya ke wajahku. Sam dan Mark berjabat tangan. Sam naik ke dalam truk dan menunggu bersama nomor Enam. Sarah dan aku masuk kembali ke kamar hotel. Kalau tidak. tapi hatiku sakit setiap kali teringat bahwa kau akan pergi. tapi aku tidak mendengar apa yang mereka ucapkan. “Aku akan terus menunggu sampai kau kembali. jendela rusak. “Suatu hari nanti aku akan membalasnya. Dan aku akan berusaha menelepon jika aman.” kataku. Dia menutup pintu. Aku menoleh dan mengangguk ke arah Nomor Enam. kemudian memasukkan gigi maju.” Aku memeluk Sarah erat. “Nggak juga. Tapi itu tidak lagi benar. Tekadku tergantung di seutas tali tipis. “Aku ingin kuat demi dirimu. Dia naik ke dalam truk. Sarah memegang tanganku dan menarikku agar menghadap ke arahnya. aku akan kembali untukmu. aku pasti pingsan. Aku menutup mata dan . Dinding kayu dengan cat yang terkelupas. tak mau rnelepaskan.aku senang karenanya. Nomor Enam memasukkan gigi mundur lalu memundurkan truk dari tempat parkir. Aku mengangkat tangan dan melambai. Begitu pintu ditutup. “Kita benar-benar harus pergi. sirap hitam yang bengkok akibat sinar matahari dan hujan. Sarah mengangguk. “Sampai bertemu lagi. Aku melepaskan pelukanku dan membuka pintu truk.” kata Mark. Surga sudah hilang.” katanya. Kami berdua tidak bisa mengalihkan pandangan. Aku mengangguk. “Kau tidak berutang apa-apa kepadaku.” Wajahnya dibenamkan di leherku. “Aku janji.” kataku kepada Mark. “Hatiku juga sakit. “Aku akan menulis surat begitu tiba di suatu tempat. Aku kembali menghadap ke depan dan memandangi ladang- ladang yang kami lewati. Hatiku hancur berkeping karena perpisahan ini. Aku berbalik dan memandang dari jendela belakang. Aku menjabat tangan Mark.” Nomor Enam menjulurkan kepala dari pintu. berhenti. Mereka berdua hilang dari pandangan. Mark dan Sarah berjalan ke ujung tempat parkir dan memandang kami pergi. dan menunggu.” katanya. Bernie Kosar masih berbaring menunggu di ujung tempat tidur. lebih dari apa yang bisa kubalas. aku pasti tinggal di sini selamanya.” katanya. Tampak seperti Paradise―Surga. “Aku akan kembali untukmu. Mataku terus menatapnya. Aku berpaling memandang hotel. Kupandangi Sarah selama mungkin.” karaku. Dia mengibaskan ekor saat aku mengangkatnya pelan-pelan ke pelukanku dan membawanya ke luar ke truk.” “Hati-hati. Ciuman terakhir. Sarah menutup mulut dan hidungnya dengan kedua tangan.” Aku berpaling. Jika itu hal terakhir yang kulakukan. Truk melambat dan berbelok. menutup pintu. Aku sedih karena ini bukan rumah kami dan tahu bahwa aku tidak akan pernah melihat rumah kami lagi. “Aku berutang banyak kepadamu. Aku menutup pintu. Mark balas melambai tapi Sarah hanya menatap. Kami berdiri dan berciuman di kamar hotel. Aku mengangguk. Kalau tidak. Sarah akan berada dalam bahaya lagi. “Hatiku sakit. Kami mengirim pesawat pengintai ke Bumi dan menemukan lingkungan yang hijau. Bernie Kosar mengangkat kepala dan meletakkannya di pangkuanku. Kamilah yang mengenalkan bahasa. mengarah ke selatan. Kamilah yang mengajari kalian cara membangun perahu. termasuk aku. dan sering kali mengirimkan orang-orang Loric untuk tinggal di antara kalian tanpa kalian sadari. dan banyak lagi. Truk bergoyang-goyang di sepanjang jalan. dan menggunakan bintang sebagai pemandu arah. candi. Kadang demi kedamaian. dan pantai. Tujuh Tetua kami. Namun sayangnya. Manusia saat itu hidup bersuku-suku di gua. AKU ADALAH TETUA Loric dari Planet Lorien. dan membangun dasar-dasar pemerintahan. Aku membawa kemenangan atas pasukan Athena. kuil. Masyarakat pun terbangun. saat salah satu pesawat angkasa kami yang menuju ke sebuah sistem tata surya lain mengalami kegagalan mesin. berkomunikasi dengan binatang. Aku sudah ratusan kali berkunjung ke Bumi. menuju kota berikut. yang sangat mirip dengan bangsa Loric. dan Eropa. TAMAT H1 Kepada Penduduk Bumi NAMAKU PITTACUS LORE. Kita akan bersatu kembali. memberi alat-alat sederhana. dengan menantang duel Jenderal Athena. Afrika. tahan panas dan dingin.membayangkan wajah Sarah dan tersenyum. dan juga menguasai beberapa Pusaka minor lainnya. kau perlu . membentuk armada. Kami berempat. Dan yang paling luar biasa. tepi sungai. Aku pertama kali muncul di Kota Mytilene dan kemudian dikenal sebagai Pittacus dari Mytilene. yang jauhnya lima juta kilometer dari Bumi. Pesawat itu terombang- ambing di antariksa dan akhirnya terdampar di sistem tata surya kalian. kerajaan Yunani terus-menerus terlibat peperangan. Aku adalah salah satu dari sepuluh Tetua Planet Lorien. Pesawat kami sedang mengorbit di Mars sambil diperbaiki. indah. kami melihat kalian. Mengajarkan dasar-dasar bertani. dan keahlian mengolah logam. Kami selalu mengawasi dari kejauhan. Sebagian besar bangsa Loric terlahir dengan satu Pusaka Utama. Sedangkan para Tetua menguasai semua pusaka yang ada. membantu membangun piramid. Kami secara reguler berkunjung ke masyarakat-masyarakat baru manusia. Dan kalian pun mulai menyebar ke seluruh penjuru Bumi. Peranku di Yunani adalah sebagai pemimpin militer. Dan kami memutuskan untuk membantu. manusia. dan damai. Legenda-legenda kalian tentang orang-orang dengan kekuatan luar biasa sebenarnya bukanlah mitos. Pemenang dan pasukannya akan dianggap memenangi pertempuran sehingga banjir darah bisa terhindarkan. dataran terbuka. kemampuan mengendalikan elemen. kami melihat adanya potensi yang luar biasa. dan aku berada di sini sekarang. Yunani terletak di pertemuan antara benua-benua besar. Yunani berhasil mengembangkan bahasa dan aksara. bersama- sama. Kami kemudian dikenal sebagai Tujuh Orang Bijak dari Yunani dan menjadi bagian dari sejarah. kau akan selalu ada di hatiku dan di setiap pikiranku. Saat kerajaan Yunani Kuno berkembang. Orang-orang dalam legenda yang kalian turunkan dari generasi ke generasi itu sebenarnya berasal dari bangsa Loric. berlayar. Bumi adalah planet yang mirip dengan Lorien sebelum planet kami itu hancur. Di mana pun itu. Bangsa kami terlahir dengan kekuatan yang disebut Pusaka: kemampuan untuk tak terlihat. Asia. kataku kepadanya. Aku memenggal kepalanya dengan pedangku. Kami menemukan Bumi secara tak sengaja. saat warna biru laut Bumi menarik kami. Dan hingga hari itu tiba. tetapi jauh lebih muda. pergi ke Yunani dan mengenalkan cara berpikir yang lebih maju untuk menghentikan peperangan. Perang kami telah menyebar ke planet kalian. tanpa pengaruh kami. kecuali sembilan anak dan sembilan penjaga mereka. dan menentukan takdir mereka sendiri. dan Einstein. tumbuh. Juga Mozart. di Bumi. ataupun filosofi. kami bukan manusia. sehingga kalian tahu apa yang terjadi. menunggu hari ketika mereka akan saling bertemu. Mereka memburu sembilan anak itu dan berhasil membunuh tiga di antaranya. Winston Churchill. dan tanpa ampun. Ghandi. dan penjaga mereka tahu bagaimana melatih dan melindungi mereka. Meski kami berusaha sekuatnya untuk melindungi manusia. Sesekali. kami akan terselamatkan dan kalian juga terselamatkan. Mereka terus berlatih. Kami kalah. Mereka saat ini mungkin sedang berjalan melewatimu. haus darah. dan sistem politik di Bumi sepertinya didasarkan pada penaklukan. Picasso. duduk di dekatmu. Semua akan ditentukan di sini. Aku juga tak akan mengisahkan bagaimana aku bisa sampai di sini. kami pergi. Sembilan anak ini lari ke Bumi. Aku berada di sini sekarang karena planet kami telah dihancurkan. Sembilan Penerus Pusaka. Agar kalian bisa ikut mencegah kehancuran Bumi. Joan of Arc. untuk bersembunyi. Kami. Saat itu kami akan maju ke pertempuran terakhir bersama-sama. Penampilan mereka tak jauh beda dengan anak manusia. dan mulai membusuk. Masyarakat yang kami bangun hancur. kaum Mogadorian juga bukanlah manusia. TTD Pittacus Lore love this car ▶ . Seperti yang kukatakan. para Tetua. korban pasti berjatuhan. atau mengawasimu saat kau membaca ini. Kami menang. Mereka kejam. tereksploitasi. Aku tak akan bercerita tentang hidupku di Bumi. Enam anak yang tersisa kini berusaha melawan. Di sekolah anak-anakmu. Dan aku minta maaf karenanya. Agar mereka belajar mengambil keputusan. dan aku. Mengalahkan mereka tak akan mudah. dan mengembangkan Pusaka mereka. teknologi. Bersatu. Kami mampu melakukan hal-hal luar biasa. Bumi―planet yang dulu murni―menjadi tercemar. dan perang kami dengan Mogadorian. Namun. atau di manakah aku saat Lorien dihancurkan.melakukan tindak kekerasan asalkan bisa menyelamatkan nyawa banyak orang. Kuil dan monumen-monumen lain runtuh. Leonardo Da Vinci adalah salah satu dari kami. baik dengan seni. Akan ada pembantaian besar-besaran. dan semua akan musnah. Seluruh populasi kami tewas dibantai ras Mogadorian. Setelah Yunani berkembang. memutuskan bahwa manusia perlu menjalani hidup mereka sendiri. keenam anak itu bisa mengalahkan pasukan perang mana pun di Bumi ini. ras Mogadorian mengejar hingga ke Bumi. agar suatu hari nanti mereka bisa membalas atas kekalahan Lorien. Aku mengisahkan cerita tentang Lorien. Akan tetapi. salah satu dari kami datang dan mencoba dengan cara-cara tersamar untuk membantu manusia. Thomas Edison. Mereka mungkin di kotamu. Perang dan kekerasan bagaikan candu bagi pemerintahan manusia. Aku akan berusaha menemukan dan menyatukan enam anak yang tersisa.