Cerpen Fiksi Sejarah Jaman Penjajahan Jepang

March 21, 2018 | Author: Pauline | Category: N/A


Comments



Description

MencarinyaOleh: Gabriella Pauline Djojosaputro 11 Technology Kisah ini bercerita tentang perjuangan sepasang suami istri yang terpisah karena penculikan pada masa penjajahan Jepang untuk bersatu kembali. Sang suami dipekerjakan sebagai romusha, sedangkan sang istri dijadikan jugun ianfu, yaitu orang-orang yang dipaksa untuk melayani nafsu seksual para tentara. *** Angin malam yang beku menyapu wajah Aliyah. Ia berbaring di dalam lubang persembunyian yang gelap, menghiraukan dentuman meriam serta rentetan senjata. Pada hari-hari biasa, ia akan memeluk dirinya sendiri erat-erat hingga tertidur. Hari ini, ya hanya untuk hari ini, dia tidak akan memedulikan itu semua. Aliyah hanya ingin memejamkan mata dan segera menyambut hari esok, satu-satunya hari di mana ia bisa bahagia sejak Jepang datang. Sepi dan ngeri tidak akan menghampirinya lagi. Esok, Aliyah dan teman kecilnya, Hasan, akan mengucapkan janji suci dan mereka akan bersama hingga ajal menjemput mereka. *** Hasan tak memiliki baju yang bagus, tapi ia tak peduli. Kaos lusuh yang bolong di sanasini dan celana kain selutut peninggalan ayahnya ini satu-satunya baju layak yang ia miliki. Pada hari-hari biasa, ia hanya bertelanjang dada dan menggunakan celana dari karung goni yang gatal. Hari ini, ya hanya untuk hari ini, dia akan menggunakan baju ayahnya yang kebesaran itu. Hasan tak dapat bersabar menunggu melihat senyum Aliyah yang berseri, hingga rasanya seluruh dunia ikut tersenyum bersamanya. Hari ini, 23 Januari 1944, adalah hari yang bersejarah karena ia akan mengucapkan janji suci untuk menjaga Aliyah selamanya. Hanya maut yang dapat memisahkan mereka. *** “Sah?” Menangis. “Maafkan aku. Meratap. tapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena jumlah tentara yang berjaga terlalu banyak. Tertunduk lesu. Suara Budanco2 Nagata seolah merobek setiap harapan yang baru saja digantung di udara. 1 Bentuk kasar untuk menyuruh diam dalam bahasa Jepang 2 Panggilan untuk komandan regu 3 Panggilan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa . “Semua pria di bawah berusia 15 hingga 60 tahun. Aliyah membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya.” Hasan berujar di sela isaknya. ikuti saya!” “Tidakkk! Nduuukkk3!” teriak seorang bapak sembari berusaha mencegah saat anak gadisnya yang masih belia itu ditarik paksa oleh anak buah Budanco Nagata. Tangannya yang berbalut kulit sawo matang mendekap gadis yang lemas tak berdaya itu seolah mereka tidak akan pernah bertemu lagi. ini akhirnya. Isak tangis dan teriakan tidak rela itu tenggelam dalam bentakan tentara yang menggelegar. Aliyah. Di antara mereka. Maaf. ada sepasang manusia yang berpelukan dan menangis tersedu-sedu. pria paruh baya itu tak punya pilihan selain diam dan menuruti perintah tentara Jepang. Hasan mengecup lembut kening pujaan hatinya. Orang-orang berusaha melarikan diri. Mereka tahu. “Diam! Bapak ikut saya!” Budanco Akashi yang serak dan berat mengingatkan bapak tersebut akan banyaknya senapan yang mengarah padanya.“Saaahh!” Seiring dengan suara saksi yang membahana. “Damare1! Ada apa ini ribut-ribut?” Hening mencekam menjalari setiap manusia yang hadir di sana. ikut Budanco Akashi! Semua wanita berusia 10 hingga 30 tahun. Mereka tahu. senyum Aliyah dan Hasan merekah. Dia milikku.” Budanco Nagata memanggil pasukannya dengan siulan nakal. Tak berani bersuara. Namun. Aliyah tidak ada di sana. Aliyah hanya dapat memejamkan matanya. “Persetan dengan kau. dan ketakutan. Manusia-manusia berjejalan di mobil bak militer dengan tampang yang sama. Aliyah menepis tangan dingin yang bertanggung jawab atas kematian ratusan manusia sebangsanya. Aliyah dibawa oleh Budanco Nagata ke barak militer.” “Itu bukan namaku!” Dengan keberanian yang entah dari mana datangnya. Hime sayang. Raut-raut manusia yang putus asa. Dengan sekali sentakan. berusaha memberikan rasa aman di tengah situasi yang mencekam.“Aah. tubuh Hasan yang kurus kering tentu saja bukan tandingan untuk sang tentara Jepang yang kekar dan gagah. panik. Kita akan sampai di Surabaya sebentar lagi. sedih.” Budanco Nagata menerawang ke luar jendela mobil sambil bersiul riang. wanita-wanita juga dijejalkan dalam kondisi yang sama. Namun. “Oh. Sepanjang jalan. *** Bau apak dan keringat terus memenuhi hidung Hasan ke mana pun ia menoleh. itu namamu sekarang. utsukushii4 … kita dapat permata di sini. Dalam mobil khusus. Di mobil yang berbeda. “Sabar. menyusuri bibirnya yang mungil kemerahan. Semakin erat ia merengkuh istrinya. tak berani bergeming. kalut. Ia dapat merasakan jemari Nagata mengusap pipinya lembut. Budanco Nagata berhasil melepaskan Aliyah dari pelukan Hasan dan membawanya pergi. *** 4 Bahasa Jepang untuk “cantik” .” Mata Hasan bersinar nyalang penuh kemarahan. Kelembutan yang membuatnya semakin bergidik ngeri. Plak! Sebuah tangan yang kasar mendarat di pipi kiri Aliyah. Aliyah berharap ia mati saja. Aliyah terpaku. tapi tenaganya benar-benar bukan tandingan seorang yang mendapat pelatihan militer dan gizi tercukupi. tapi tak seorang pun datang menolong dirinya. Aliyah berteriak sekuat tenaga. *** . Saat itu. semakin ia menyadari bahwa tak ada jalan keluar. Tak ingin ia masuk ke barak militer yang berdiri tegak di hadapannya. Ia hanya bisa termenung. berusaha mencari celah untuk kabur. Sorot mata Budanco Nagata semakin liar. “Ikut saya.” Tatapan membunuh yang diberikan oleh pria paruh baya di hadapannya membuat sekujur tubuh Aliyah lemas. Bibir gadis itu terbungkam oleh bibir sesosok makhluk di hadapannya. Komandan itu menggiringnya ke arah tembok. Komandan itu mengunci pintu di belakangnya. Semakin keras ia mencoba menolak. tapi ia tak cukup kuat. tak ada manusia yang lebih membenci Aliyah daripada dirinya sendiri. Aku … tak layak mendampingimu lagi. Hasan. “Cepat! Apa yang sedang kamu lihat?!” Budanco Nagata menarik tangan Aliyah dengan kasar. Oh. tak pernah bapak dan ibunya menampar wajah Aliyah. Sekarang. “Lepaskan aku!” Dengan sekuat tenaga Aliyah menarik pergelangannya dari genggaman komandan Jepang di hadapannya. Aliyah berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman Budanco Nagata. tak ubahnya binatang bertemu mangsa. Seumur-umur. menjepit Aliyah di antara kedua tangan kokohnya. Dengan terseok-seok ia mengikuti langkah pria itu ke dalam sebuah kamar sederhana berisi sebuah ranjang. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Teriakan Aliyah seketika lenyap. Tuhan … jikalau boleh memilih.Menuruni mobil bak. Maafkan aku. Jepang pun tak peduli. Di tengah hiruk pikuk tentara Jepang yang sibuk bersiap-siap. Rasanya tak sanggup lagi ia memikul batu demi batu. Malam demi malam yang telah ia lewatkan untuk menggali lubang keluar dari barak rupanya tak sia-sia. sudahkah kaudengar beritanya?” ujar seorang tentara berkacamata. Tak henti-hentinya tentara-tentara Jepang silih berganti memasuki kamarnya. Ia harus menyelamatkan Aliyah. “Justru itu. Siang malam tak beda. mereka tetap bergeming. tak ada satu pun rusuknya yang mampu bersembunyi di balik dagingnya. Hasan berlari melalui hutan belantara. tapi Hasan tahu bahwa belum waktunya bagi dia untuk mati. Ia terlalu bahagia karena akhirnya dapat membebaskan diri. kelaparan. Seratus empat puluh tiga kilometer dari sana. kita mendapat perintah dari atas untuk menangkap mereka. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hanya ada dua pilihan – kerja atau mati. Rencana Syodanco5 Supriyadi untuk memberontak telah terbongkar sejak berhari-hari yang lalu. hingga makan yang dijatah sekali sehari pun sering tak sempat. seorang pria berhasil menyelinap ke luar barak. “Tentu saja sudah.Setiap hari. Kerikil-kerikil yang menusuk kaki telanjangnya tak ia pedulikan. Hasan sedang berpeluh mengangkut batu besar nan berat. Tubuh Hasan sesungguhnya telah meronta. *** “Budanco Akashi. Bagaimana hasilnya? Apakah anggota PETA yang memberontak telah ditangkap?” Budanco Akashi menjawab tanpa memalingkan mata dari koran yang ia baca. Tubuhnya yang kurus semakin terlihat ringkih.” Dengan sigap keduanya bangkit dari kursi dan menyiapkan regu masing-masing untuk melakukan penangkapan. rutinitas Aliyah tetap sama. Ia harus bertemu pujaan hatinya lagi. dan sebentar lagi ia 5 Komandan peleton . Melihat para romusha bergelimpangan karena sakit. Tugas-tugas melelahkan yang ia terima selama ini tak pernah diimbangi dengan makanan ataupun istirahat yang cukup. kurang istirahat. Ia harus bertahan. kau aman bersamaku. Mas6. Bila Aliyah tak ada di sini. “Aku sudah tak layak lagi jadi istrimu. Hingga akhirnya. samar-samar mata Hasan menangkap suatu pemandangan yang tidak asing – barak militer Jepang. Dengan segenap kekuatan yang tersisa Hasan berlari menuju barak tersebut. mengetahui bahwa itu adalah harapan terakhirnya. *** Pos informasi di seantero kota Blitar telah Hasan datangi tanpa membuahkan hasil.akan melihat istrinya tercinta. 15 Agustus 1945. pos-pos informasi Jepang ditutup. Kaki Hasan yang kurus memasuki barak dengan langkah gontai.” 6 Sebutan untuk laki-laki yang lebih tua 7 Aku mau mati saja . Pada tanggal 14 Februari 1945.” ujar sebuah suara sembari sesenggukan menangis. Hasan terus berlari dan mengetuk rumah penduduk pertama yang ia temui. Aku tak mati wae7. “Ini aku. tak tahu lagi ke mana ia harus mencari. Sayang. Memang sejak 2 hari yang lalu. Setelah berhari-hari berjalan. akhirnya Hasan dapat mengecap kembali manisnya kebebasan. sehingga mereka menarik pasukannya dari bumi Nusantara. “Hasan … maafkan aku. tetapi setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan. ia dapat melihat sebuah sosok yang terduduk di pojok ruangan. Barak militer yang gelap gulita membuatnya tak mampu melihat dengan baik.” Suara Hasan yang lembut dan penuh kasih sayang berusaha menenangkan Aliyah yang mulai meraung pilu. kabar burung tersiar bahwa pujaan hatinya berada di kota Surabaya. Hasan tidak membuang waktu untuk berjalan kaki ke sana. Kabar berkata bahwa Jepang telah menyerah pada Sekutu. “Aliyah! Kaukah itu?” Hasan memalingkan wajahnya ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara. Tenanglah. ataupun kelemahan yang melekat pada seseorang karena saat memberi cinta. itu adalah suatu pemberian yang cuma-cuma. Tak henti-hentinya pula. Berbulan-bulan dipaksa bekerja luar biasa keras tanpa makan dan istirahat yang memadai telah menggerogoti kesehatannya. Ia seolah raga yang telah kehilangan jiwa. rupa.“Hus. dan masalah yang harus dihadapi. dekapan Hasan mengendur. tak lama kemudian melupakannya. Tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Namun. Binar mata Aliyah telah lenyap. Sedikit-sedikit bilang cinta. Meninggalkan setiap harapan yang pernah tersemat untuk hidup mereka.” Hasan terus membelai rambut hitam Aliyah yang tergerai berantakan sembari memeluknya erat. dan sepanjang itu pula Aliyah tak henti-hentinya menangis dan meminta maaf. Nyawa Hasan telah meninggalkan tubuhnya. Nyawa perempuan itu telah meninggalkan tubuhnya. Tiba-tiba tangis Aliyah terhenti. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di sana. cinta yang sejati adalah suatu pemberian. Hancur hati Hasan melihat pujaan hatinya begitu rupa. Berbulan-bulan dipaksa melayani nafsu para tentara tanpa makan dan istirahat yang cukup telah menggerogoti kesehatannya. Mencintai sesungguhnya tidak mudah. perjuangan. Aliyah. bukan suatu keadaan. Jangan ngawur8 omonganmu. *** Cinta adalah hal yang begitu mudah kita obral saat ini. Aku sayang kamu. Ia tidak bergantung pada sikap. ada begitu banyak tantangan. Hasan menenangkan Aliyah dan mengatakan bahwa ia mencintai Aliyah. Meninggalkan Hasan yang menangis kencang dan mendekap tubuh Aliyah makin erat saat menyadari hal tersebut. 8 Sembarangan . Tak lama kemudian.
Copyright © 2026 DOKUMEN.SITE Inc.