Bandung lautan api

June 12, 2018 | Author: Hanisya 2406 24 | Category: Documents


Comments



Description

Bandung Lautan Api
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Bandung Lautan Api
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia

Monumen Bandung lautan api
Tanggal
23 Maret 1946
Lokasi
Bandung
Hasil
Tentara Rakyat Indonesia mundur dari Bandung

Pihak yang terlibat
 Indonesia
 Inggris
Komandan
Muhammad Toha
Brigadir MacDonald
Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung[1] membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Daftar isi
1 Latar belakang
2 Asal istilah
3 Lihat pula
4 Referensi
Latar belakang
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.
Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946[2]. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.[butuh rujukan] Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.
Asal istilah
Istilah Bandung Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
"Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, "Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api." Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air."-A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api". Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api".




February 17, 2014 by santi j n
Mengenang "Bandung Lautan Api"

Kota Bandung menjadi sunyi karena seluruh Bandung bagian selatan, sebagian di daerah Bandung Utara, tinggal puing-puing bagaikan patung-patung berhala. Dari Cimahi di sebelah Barat berbanjar hingga di Ujung Berung di sebelah Timur, dari pusat kota Bandung hingga ke Dayeuhkolot di sebelah Selatan menjelma sisa-sisa lautan api.
Istilah "Bandung Lautan Api" atau "Kobarkan Semangat Bandung Lautan Api" sering kita dengar. Tapi apakah kita mengetahui makna dari istilah tersebut, aku pikir masih banyak yang belum mengetahuinya. Adalah benar bahwa peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946 adalah bukti heroisme warga Bandung, tapi kita akan kesulitan ketika ditanya apa yang menyebabkan peristiwa tersebut. Mengapa warga Bandung harus mengungsi dan mengapa tentara sekutu menjadi begitu emosi sehingga memutuskan untuk mengusir warga Bandung sejauh 11 KM dari perbatasan kawasan mereka.
Peristiwa Bandung Lautan Api boleh dibilang hanyalah "klimaks" dari serangkaian pertempuran yang dilakukan warga Bandung terhadap NICA yang membonceng Sekutu. Peristiwa ini terjadi kurang lebih 8 bulan setelah proklamasi kemerdekaan, sehingga tidak bisa dilepaskan dari kejadian-kejadian sebelumnya.
Untuk bisa memahami proses gejolak revolusi di Bandung, ada beberapa buku yang cukup memadai, salah satunya "Bandung Awal Revolusi" buatan John W. Smail (Komunitas Bambu, 2011). Buku ini cukup baik mengungkap peristiwa tersebut karena dibuat ketika masih banyak saksi hidup yang bisa dimintai keterangan (buku aslinya dibuat tahun 1963-1964). Selain buku ini masih ada buku-buku utama lain, tapi nanti saja kubahas satu per satu. Saat ini aku akan membahas satu buku tipis saja yang berjudul "Sekilas Sejarah Peristiwa Perjuangan Bandung Lautan Api" karya Drs. HME. Karmas, yang dicetak dalam rangka memperingati 50 tahun peristiwa Bandung Lautan Api. Sesuai judulnya, buku ini hanya menyajikan kilasan kenangan seorang pelaku revolusi di Bandung, yaitu penulisnya sendiri, terhadap peristiwa-peristiwa yang berujung kepada Bandung Lautan Api.
Penyusunan buku ini kuanggap cukup serius karena menggunakan beberapa referensi atau narasumber yang sangat representatif. Wawancara-wawancara dilakukan oleh : Drs. PHS Marpaung bersama Sumarsono, Adoeng Adoerachman, Soesman, Soerat Mangoendjaja, kepada tokoh-tokoh seperti A.H. Nasution, Didi Kartasasmita, Syarifudin Prawiranegara, dan R.M. Achmad Sukarmadidjaya. Seluruh wawancara dilakukan pada tahun 1985. Selain itu banyak materi merupakan pengalaman HME Karmas selaku salah satu anggota laskar pada waktu revolusi berlangsung. Entah usianya berapa saat itu.
HME Karmas selaku penyusun sekaligus pengumpul materi buku ini tampak menonjolkan peranannya dalam peristiwa Revolusi di Bandung itu. Salah satunya pada peristiwa pengambilalihan Studio Radio Bandung (Bandung Hoshokyoku) dari tangan Jepang.
Pada saat direktur menyerahkan studio kepada pihak Indonesia, datanglah dari halaman depan Hey Tay pengawal Atazawa mengadakan aksi serangan mau membatalkannya, namun sempat digagalkan karena segera ditodong senjata tajam oleh pemuda E. Karmas, sehingga Hey Tay tersebut tidak berdaya. Akhirnya tepat pada pukul 19.00 waktu Jawa tanggal 17 Agustus 1945, pihak Indonesia menyiarkan isi teks Proklamasi di udara ke seluruh Tanah Air bahkan ke segala penjuru dunia.
Di bagian lain nanti akan dikisahkan kisah heroik E. Karmas lainnya. Tapi sebelum itu mari kita ikuti rangaian kisah pasca pembacaan proklamasi.
Pengumuman berdirinya BKR oleh Soekarno tanggal 23 Agustus 1945 segera disambut oleh para pemuda di Bandung yang dimotori alumni PETA. Mereka berduyun-duyun mendaftarkan diri ke markas BKR di Jl. Kepatihan dan Jl. Pasir Kaliki. Di samping BKR ini juga terdapat puluhan laskar lainnya yang biasanya dipimpin oleh orang-orang berpengaruh di masyarakat. Mereka semua bersiap siaga menyambut kedatangan kembali pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda.
Pada tanggal 15 September 1945 Sang Merah Putih dikibarkan di beberapa tempat di kota Bandung, sedangkan rakyat mulai mengenakan lencana merah putih di dadanya. Di antara mereka membawa senjata golok, bambu runcing, dan ada juga yang bersenjata bedil angin, bedil kumon hingga pistol colt. Semua orang siap siaga menunggu datangnya komando.
Selama menunggu kedatangan sekutu, rakyat berupaya mengambil alih bangunan-bangunan dan senjata yang masih dikuasai Jepang. Upaya ini seringkali berjalan lancar karena pada dasarnya Jepang yang morilnya telah hancur tidak keberatan untuk menyerahkan senjatanya asalkan penyerahan dilakukan baik-baik. Namun satu insiden berdarah di markas Kempetai Jepang di jalan Heetjansweg (Jl. Sultan Agung) perlu menjadi pelajaran berharga.
Peristiwa itu terjadi karena salah paham dimana salah seorang tentara Jepang tertembak. Tentara jepang mengerahkan kembali kendaraa lapis baja dan berhasil merebut kembali beberapa pucuk senjata dari pihak Indonesia. Hari naas itu berekor kesedihan dengan adanya kecaman pedas dari pejuang Surabaya yang memberi gelar pemuda Bandung adalah Pemuda Peyeum Bol.

Markas Kempeitai di Bandung, sekarang sekolah Aloysius (Sumber : Bandung Lautan Api, Djen Amar)
Sindiran dari arek Surovoyo itu memang menyakitkan hati para pemuda Bandung saat itu. Tapi alih-alih membalas sindiran dengan sindiran kembali, pemuda Bandung menjadi semakin bersemangat untuk membuktikan heroismenya.
Kedatangan tentara Sekutu bersama pasukan Belanda ke Bandung kembali memanaskan situasi. Mereka menempati bangunan besar seperti Hotel Homann, Preanger, Gedung DENIS di Braga (sekarang BJB), DVO, ITB, dan lain-lain. Sejak adanya pasukan Belanda, kota Bandung menjadi genting karena mereka kerap mengadakan provokasi dan mengganggu ketertiban massa. Saat itu terjadi lagi peristiwa heroik yang dialami oleh pemuda E. Karmas.
Dalam kesempatan mana, beberapa pemuda pejuang bertekad merampas senjata Jepang dan memasuki gedung Denis, terus melaju ke atas menerjang beberapa orang Belanda di sana. Dua orang pemuda TKR Mulyono dan E Karmas berhasil naik ke atas menara dan merobek-robek kain biru dari bendera Belanda, walaupun sesaat mendapat serangan tembakan dari Hotel Homann. Tidak terjadi pertempuran karena musuh yang berada di Hotel Homann itu menghentikan tembakannya setelah dibalas tembakan beberapa pejuang dari samping apotek Rathkamp di Jl. Braga.
Peristiwa yang tampaknya terinspirasi dari kejadian yang hampir sama di Surabaya ini nantinya akan diabadikan lewat pendirian sebuah stilasi (monumen) di depan Bank DENIS yang sekarang menjadi Bank BJB. Bagaimanapun ini menggambarkan adanya keresahan rakyat Bandung atas kedatangan kembali Belanda di kota yang sempat diwacanakan untuk menjadi ibukota Hindia Belanda itu. Kemarahan semakin menjadi-jadi ketika Inggris secara sepihak mengklaim kawasan di utara jalan kereta api sebagai kawasan mereka, tanpa menyebutkan batas-batasnya di utara sehingga Lembang diterobos kaki tangan NICA. Mereka pun mengusir penduduk Bandung yang tinggal di kawasan tersebut.

Stilasi BLA untuk mengenang peristiwa perobekan bendera oleh E. Karmas di depan Gedung Bank BJB Braga (Dok. Pribadi)
Pembuatan batas tersebut tidak lantas mendinginkan suasana karena pada dasarnya tidak semua penduduk Bandung yang tinggal di utara bisa diusir keluar. Masih banyak penduduk yang tinggal di kantong-kantong perkampungan di utara yang bisa melakukan serangan-serangan sporadis kepada pihak Belanda atau Inggris. Salah satunya yang paling menggegerkan adalah peristiwa pembantaian veteran perang Belanda di kawasan Bronbeek, Sukajadi. Peristiwa ini segera dibalas Belanda dengan tindakan brutal di beberapa kawasan penduduk.
Kawasan selatan jalan kereta api juga tidak berarti bebas gejolak karena ternyata di sana (di Ciateul) masih terdapat sebuah kamp tawanan Belanda Indo yang belum dibebaskan. Pasukan sekutu lengkap dengan kendaraan lapis baja dan panzer berusaha untuk membebaskan mereka, tak ayal pertempuran sengit pun terjadi di sepanjang jalan lengkong. Pasukan Inggris yang kewalahan menghadapi perlawanan pejuang bahkan hingga mendatangkan pesawat pemburu sehingga terjadilah belasan korban. E Karmas memiliki kenangan tersendiri terhadap peristiwa tersebut.
…Para pejuang berkesempatan meluruskan badan menarik tegangan urat darah, beristirahat sebentar saja, tiba-tiba datang seorang tua tersaruk-saruk menggusur kelombong berisi penuh bungkusan makanan, iapun membagi-bagikan makanan tersebut dengan wajah tulus penuh kasih sayang bagaikan mengasihi anaknya sendiri…

Peta Bandung zaman revolusi, bagian utara rel kereta api merupakan kawasan sekutu, sedangkan selatan kawasan pribumi
Situasi di Bandung saat itu sebenarnya cukup unik karena pada dasarnya pertempuran tidak terjadi setiap hari melainkan hanya terjadi insiden-insiden provokasi yang cukup mengganggu baik bagi kedua pihak. Pertempuran langsung memang dihindari pejuang karena mereka sadar kekuatan yang dimiliki tidak akan sebanding dengan pasukan Inggris, Belanda dan Gurkha yang memiliki persenjataan lengkap. Tapi dalam satu peristiwa di Ciroyom, persenjataan canggih ini ternyata bisa "kalah" juga.
Pertempuran makin besar, dim mana sebuah tank baja Inggris dapat dibakar dan dihancurkan sehingga tak dapat dipergunakan lagi. Keberhasilan ini ternyata ada keterlibatan seorang penarik becak bernama Emen yang dengan keberanian dan rela berkorban demi kemerdekaan negara dan bangsa Indonesia ia melompat ke atas tank seraya menumpakan bensin dan melemparkan obor api ke dalam kokpit sehingga tank tersebu meledak tampak menghamburkan api sehingga tank hangus berkeping-keping. Emen sendiri tewas seketika dan jenazahnya tidak menentu.
Tidak hanya rakyat kecil seperti Emen tadi dengan segala keterbatasannya berusaha melawan kekuatan sekutu, kaum wanita pun berupaya menunjukkan sumbangsing mereka terhadap perjuangan kemerdekaan.
Di tempat lain beberapa pejuang berhasil membunuh seorang serdadu Gurkha dan menebas lehernya dengan samurai. Seorang di antara pejuang terdapat gadis bernama Susilawati, seorang perwira dari polisi (Polisi Tentara) yang bermarkas di Jl. Pajagalan, beliau yang kemudian mengangkat kepala Gurkha tadi lalu menjinjingnya bahka dibawa diperlihatkan di sepanjang jalan Sudirman, jalan Cibadak menuju pulang ke markasnya di Jalan Pajagalan…
Perjuangan ini bukan hanya dilakukan oleh pemuda bersenjatakan senjata sederhana saja, para pedagang pasar hingga pedagang asong pun turut berjuang dengan memboykot pembeli dari kawasan Bandung Utara. Walaupun tampaknya tidak seberapa tapi aksi ini ternyata sangat merepotkan karena akibatnya Inggris harus mendatangkan bahan makanan dari Jakarta. Itu pun tidak mudah karena konvoi logistik seringkali mendapatkan serangan di sepanjang jalan provinsi menuju Bandung. Satu peristiwa yang paling bersejarah adalah ketika konvoi Inggris berkekuatan besar bisa dihancurkan oleh pejuang dan rakyat Sukabumi di Bojong Kokosan.
Peristiwa itu membuat malu kerajaan Inggris, hal mana dikemukakan dalam sidang Parlemen Inggris, yang langsung memecat menteri Pertahanan Inggris. Mereka kehilangan muka di dunia internasional, mengingat pasukan Inggris yang dikirim ke Indonesia tersebut, adalah pemenang Perang Dunia ke-II yang baru saja mengalahkan pasukan Jerman pimpinan Hitler di medan perang Afrika Utara, tapi terkalahkan oleh yang mereka sebut gerombolan ekstrimist.
Pasukan Inggris yang diantaranya terdiri dari Pasukan Gurkha sedikit banyak membantu perjuangan karena tidak jarang diantaranya yang bersimpati kepada perjuangan pemuda.
"Dalam hal ini terpihak Indonesia mendapat bantuan pula dari seorang bangsa Pakistan bernama Tabib Hardin untuk membujuk serdadu India dengan mempergunakan bahasa India. Usaha ini ternyata cukup memuaskan karena sejak itu masuk ke pihak Indonesia, di mana pelaksanaanya dilakukan seketika terjadi pertempuran, atau dengan perjanjian rahasia waktu malam di sekitar perbatasan utara-selatan. Tidak sedikit yang menjadi anggota TRI, misalnya di Markas Batalyon II Sumarsono dapat dibentuk satu Kompi India yang terdiri dari 90 orang serdadu India bersenjata modern lengkap dengan pelurunya yang mana siap membantu kita."
Sikap beberapa serdadu Gurkha itu malah bertolak belakang dengan sikap warga keturunan Tionghoa yang seringkali lebih bersimpati kepada pihak Sekutu.
Orang-orang Cina sudah lama mejnadi perhatian bangsa Indonesia karena sikapnya yang kurang simpatik. Dalam pertempuran beberapa kali di sekitar Stasiun orang Cina memberi tanda dengan menembakkan pistol ke atas tempat yang banyak pejuang Indonesia, lalu ia sendiri menyelinap menjauhkan diri. Sesaat kemudian berjatuhanlah peluru mortir dari tentara Inggris tepat di daerah tersebut. Atas seringnya kejadian tersebut, beberapa pejuang mencoba mengintai, dan berhasil menangkap seorang pemuda Cina yang baru saja memberi tanda kepada musuh, lari dan dikejar kemudian tertangkap oleh Letnan Wisnu dan Karmas di Hotel Sumatra depan Stasiun. Dari padanya dirampas sebuah pistol FN.
Dimikianlah sedikit kejadian yang mengantar kepada peristiwa Bandung Lautan Api tanggal 24 Maret 1946. Emosi Sekutu yang kewalahan atas serangan sporadis pejuang akhirnya memuncak dan mengultimatum masyarakat bersenjata untuk mundur sejauh 11 KM dari batas yang ditentukan. Ultimatum ini didukung oleh pemerintah pusat yang menginginkan agar pejuang "mengikuti" saja keinginan sekutu guna menghindari jatuhnya korban. Seruan ini direspon TRI dan majelis satuan perjuangan dengan keputusan melakukan strategi bumi hangus yang dikenal sebagai "Bandung Lautan Api". Keputusan yang disiarkan TRI pukul 14.00 itu sebagai berikut :
1. Semua pegawai dan rakyat harus keluar kota sebelum pukul 22.00
2. Tentara melakukan bumi hangus terhadap semua bangunan yang ada
3. Sesudah matahari terbenam, supaya Bandung Utara diserang dari pihak Utara dan dilakukan pula bumi hangus sedapat bisa. Begitu pula selatan harus ada penyusupan ke utara.
Hari minggu tanggal 24 Maret 1946 itu mejadi hari bersejarah bagi warga Bandung karena walaupun diiringi hujan rintik-rintik mereka mulai mengungsi dengan membawa barang sedapatnya. Menjelang magrib makin banyak sehingga berbondong-bondong rakyat mengungsikan diri ke arah Selatan dan Timur, ke jurusan Cilampeni, Dayeuh Kolot, Buahbatu dan Ujung Berung.
Bagaikan semut merdesakan layaknya, bergerak dengan perlahan di bawah hujan deras hingga malam hari.
Di saat yang sama pejuang melaksanakan tugasnya membumihanguskan bangunan yang ada di Bandung "biar hangus mejadi abu daripada diserahkan bulat-bulat kepada penjajah". Pembumihangusanberlangsung hingga larut malam, sehingga segenap pelosok kota Bandung dipenuhi kobaran api.
Seluruh permukaan yang ada mejadi berwarna merah, bahkan langit pun diliputi udara kemerahan. Terjelma ucapan Mayor Rukmana, bahwa Bandung menjadi Lautan Api.
.

***
Demikianlah "Bandung Lautan Api" menjadi klimaks perjuangan rakyat Jawa Barat dalam babak pertama awal Revolusi Kemerdekaan RI. Peristiwa tersebut membuktikan tekad segenap penduduk Bandung untuk menolak kembali berada dalam genggaman penjajah. Dengan itu, semangat Bandung Lautan Api menurutku harus dipandang sebagai Semangat Mempertahankan Bandung dari Cengkeraman Asing.
"Lebih baik membumihanguskan Bandung daripada menyerahkannya kembali kepada penjajah".




DUNIA MAYA
JAGAD
MEDIA
OTOMOTO
PERISTIWA
TOKOH
BUDAYA BLOG
DAFTAR 10+
Trending: 10 Bahasa yang paling banyak digunakan di dunia
Sejarah Bandung Lautan Api
Do you like this story?
SUATU hari di Bulan Maret 1946, dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk mengukir sejarah dengan membakar rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan di selatan. Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo-Halo Bandung" ditulis untuk melambangkan emosi mereka, seiring janji akan kembali ke kota tercinta, yang telah menjadi lautan api.

Insiden Perobekan Bendera

Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan harus dicapai sedikit demi sedikit melalui perjuangan rakyat yang rela mengorbankan segalanya. Setelah Jepang kalah, tentara Inggris datang untuk melucuti tentara Jepang. Mereka berkomplot dengan Belanda (tentara NICA) dan memperalat Jepang untuk menjajah kembali Indonesia.

Berita pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan dari Jakarta diterima di Bandung melalui Kantor Berita DOMEI pada hari Jumat pagi, 17 Agustus 1945. Esoknya, 18 Agustus 1945, cetakan teks tersebut telah tersebar. Dicetak dengan tinta merah oleh Percetakan Siliwangi. Di Gedung DENIS, Jalan Braga (sekarang Gedung Bank Jabar), terjadi insiden perobekan warna biru bendera Belanda, sehingga warnanya tinggal merah dan putih menjadi bendera Indonesia. Perobekan dengan bayonet tersebut dilakukan oleh seorang pemuda Indonesia bernama Mohammad Endang Karmas, dibantu oleh Moeljono.

Tanggal 27 Agustus 1945, dibentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), disusul oleh terbentuknya Laskar Wanita Indonesia (LASWI) pada tanggal 12 Oktober 1945. Jumlah anggotanya 300 orang, terdiri dari bagian pasukan tempur, Palang Merah, penyelidikan dan perbekalan.

Peristiwa yang memperburuk keadaan terjadi pada tanggal 25 November 1945. Selain menghadapi serangan musuh, rakyat menghadapi banjir besar meluapnya Sungai Cikapundung. Ratusan korban terbawa hanyut dan ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal. Keadaan ini dimanfaatkan musuh untuk menyerang rakyat yang tengah menghadapi musibah.


Berbagai tekanan dan serangan terus dilakukan oleh pihak Inggris dan Belanda. Tanggal 5 Desember 1945, beberapa pesawat terbang Inggris membom daerah Lengkong Besar. Pada tanggal 21 Desember 1945, pihak Inggris menjatuhkan bom dan rentetan tembakan membabi buta di Cicadas. Korban makin banyak berjatuhan.

Bandoeng Laoetan Api

Ultimatum agar Tentara Republik Indonesia (TRI) meninggalkan kota dan rakyat, melahirkan politik "bumihangus". Rakyat tidak rela Kota Bandung dimanfaatkan oleh musuh. Mereka mengungsi ke arah selatan bersama para pejuang. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan, pada tanggal 24 Maret 1946.

Kolonel Abdul Haris Nasution selaku Komandan Divisi III, mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan rakyat untuk meninggalkan Kota Bandung. Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota.

Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakannya lagi. Di sana-sini asap hitam mengepul membubung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TRI bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota. Dan Bandung pun berubah menjadi lautan api.

Pembumihangusan Bandung tersebut merupakan tindakan yang tepat, karena kekuatan TRI dan rakyat tidak akan sanggup melawan pihak musuh yang berkekuatan besar. Selanjutnya TRI bersama rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini melahirkan lagu "Halo-Halo Bandung" yang bersemangat membakar daya juang rakyat Indonesia.

Bandung Lautan Api kemudian menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembakaran itu. Banyak yang bertanya-tanya darimana istilah ini berawal. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution teringat saat melakukan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk memutuskan tindakan apa yang akan dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris.
Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, "Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api." Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air"
A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.

Setelah tiba di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat segera menulis berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.


Copyright © 2024 DOKUMEN.SITE Inc.